Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
S2 - Calon Suami?



Karisa merasa sangat terpukul dan malu akibat perbuatannya sendiri. Bahkan ayahnya kini tak peduli lagi padanya.


Dengan menebalkan mukanya di depan Ardian, Karisa kembali menemui pria yang adalah ayah kandung bayi yang diperutnya. Karisa harus tetap memperjuangkan haknya untuk mendapat pengakuan Ardian mengenai anaknya.


"Mau apa lagi hah?! Sudah kubilang anak itu bukan anakku! Lagi pula kemarin kau mendatangi dokter itu dan mengatakan anakmu adalah anaknya. Lalu, kenapa sekarang kau memintaku bertanggung jawab lagi? Sudah betul kau menggugurkannya saja. Itu akan menyelesaikan masalahmu. "


Karisa sungguh kesal dengan sikap Ardian. "Brengsek kau, Ardian! Jelas-jelas aku hanya melakukannya denganmu! Dan kau juga tahu aku menyerahkan yang pertama padamu!"


"Aaaah! Terserah kau saja! Pokoknya anak itu bukan anakku!"


"Baiklah! Kalau begitu mari kita lakukan tes DNA!" tantang Karisa. "Jika benar terbukti anak ini bukanlah anakmu, maka aku akan berhenti untuk mengganggumu. Bagaimana?" Karisa harus menguatkan hati untuk melawan Ardian.


"Omong kosong! Kau pasti ingin menjebakku!"


Karisa berdecih. "Jika kau tidak berani melakukannya, itu artinya kau mengakui jika anak ini adalah anakmu."


Kini Ardian yang merasa terpojok. Tak ingin terus berdebat, Ardian memilih pergi.


"Awas saja kau! Aku pasti akan tetap meminta pertanggungjawabanmu!"


...***...


Sudah kepalang malu dengan Arshad, Karisa yang ingin minta bantuan pria itu akhirnya menemui Mang Oding.


"Mau apa lagi kamu menemui Pak Dokter? Apa kamu belum puas mempermalukan dia?" geram Mang Oding.


"Aku minta maaf, Mang. Tapi kali ini aku benar-benar butuh bantuan Dokter Arshad. Tolonglah aku, Mang..."


Melihat kesungguhan di wajah Karisa, Mang Oding akhirnya setuju untuk membantunya. Malam itu dengan mengendap-endap, Karisa menemui Arshad di sebuah tempat yang agak jauh dari desa.


Bersama dengan Mang Oding akhirnya Arshad setuju. Jika tidak ada Mang Oding mana mungkin Arshad mau menemui Karisa.


"Cepat katakan ada apa? Jika bukan karena Oding, saya tidak bersedia bertemu dengan kamu lagi," ucap Arshad dengan suara tegasnya.


Karisa menekuk lutut dan bersimpuh di depan Arshad.


"Tolong saya, Dokter!"


"Bangunlah! Tolong jangan begini!" Arshad merasa tak enak hati.


"Saya tidak akan bangun sebelum Dokter setuju untuk membantu saya!" kukuh Karisa.


"Haaah! Baiklah! Apa yang bisa saya bantu?"


"Di usia berapa saya bisa melakukan tes DNA terhadap janin ini? Saya akan membuktikan pada ayah bayi ini jika dia adalah ayah biologisnya!" Karisa meneteskan air mata ketika bercerita tentang penolakan Ardian terhadap bayinya.


Arshad tersentuh untuk menolong Karisa. "Di usia sekitar 10-12 minggu. Kamu yakin akan melakukan ini?"


"Karisa, maaf kalau Mamang ikut campur. Sebenarnya siapa ayah bayimu ini?"


Karisa menatap Oding dan Arshad bergantian. "Kalian tidak akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya."


"Katakan saja! Dan jangan berbohong lagi!" tegas Arshad.


"Ardian, anak kepala desa."


"Ardian tak sebaik yang terlihat di depan. Dia adalah pria brengsek!" Karisa berucap dengan berapi-api.


"Sudah, ayo bangun! Mamang akan bantu kamu untuk mendapatkan keadilan."


"Terima kasih, Mang."


"Saya juga akan bantu kamu."


"Terima kasih, Dokter."


...***...


Usai bertemu Karisa, Arshad melajukan mobilnya kembali ke rumah. Di perjalanan, sepintas Arshad melihat sosok yang dikenalinya berjalan terseok bersama seorang pria.


"Itu kan... Amanda? Apa yang dia lakukan malam-malam begini? Dan dengan seorang pria?"


Arshad menggeleng pelan. Ia tak ingin ambil pusing dengan kehidupan Amanda. Tentu saja gadis itu bukanlah siapa-siapanya.


Namun baru saja mobil kembali melaju, Arshad merasa jika bisa saja ada yang tidak beres dengan Amanda. Arshad menghentikan laju mobil lalu turun.


Arshad melangkahkan kakinya mengikuti arah kemana Amanda pergi bersama pria itu. Suasana malam sudah cukup sepi.


Di desa ini setelah malam tiba, tak banyak orang beraktifitas di luar rumah. Makanya Arshad penasaran dengan apa yang dilakukan Amanda dengan pria itu.


"Tidak, Kak! Tolong lepaskan aku!"


Arshad mendengar suara Amanda yang cukup keras. Arahnya menuju ke sebuah gubug dekat hutan.


"Sialan! Apa pria itu akan..." Tak ingin berpikir lebih jauh, Arshad mempercepat laju langkahnya.


"Jangan, Kak! Jangan lakukan ini! Aku tidak mencintai kakak. Tolong lepaskan aku!"


Suara Amanda terdengar ketakutan. Arshad mendengar suara itu berasal dari sebuah gubug reot yang ada di depannya.


π˜½π™π˜Όπ™†!


Arshad mendobrak pintu dan terlihatlah tindak asusila yang akan dilakukan pria yang adalah Ardian terhadap Amanda.


Dengan marah Arshad menarik kerah belakang baju Ardian lalu melemparkan tubuh pria itu ke tanah.


Ardian meringis kesakitan. Sorotan tajam ia arahkan pada Arshad dan Amanda. Dengan kekesalan yang sampai ke ubun-ubun, Ardian bangkit dan menunjuk Arshad.


"Kau! Berani sekali kau ikut campur urusanku. Memangnya siapa kau?!"


Arshad menyembunyikan tubuh Amanda di belakang tubuhnya.


"Jangan pernah mendekati Amanda lagi. Atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Arshad tak mau kalah.


"Cih! Memangnya kau siapanya Amanda?"


"Aku adalah calon suaminya! Jadi jangan ganggu dia lagi!"


Amanda tersentak kaget mendengar penuturan Arshad. "Calon suami? Sejak kapan Pak Dokter adalah calon suamiku?"