Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
S2 - Masalah Clear



Arshad yang baru saja tiba di rumahnya dan hendak membersihkan diri ke kamar mandi dikejutkan dengan kedatangan para warga yang menyerukan namanya.


"ARSHAD! KELUAR KAMU! DASAR DOKTER GADUNGAN!"


Sontak saja Arshad merasa terganggu dengan kalimat yang dilontarkan oleh para warga.


"Ada ap ini? Kenapa ribut sekali di luar?"


Arshad keluar dari kamar dan bertemu dengan Amanda.


"Pak Dokter, ada banyak orang di depan rumah. Bagaimana ini, Pak Dokter?"


"Aku tahu ada banyak orang diluar. Coba kau bukakan pintu. Mereka mau apa sebenarnya ribut-ribut di rumahku?"


"Baik, Dokter."


Amanda membuka pintu. Ternyata warga berdesakan ingin masuk ke rumah Arshad. Namun urung karena adanya penjagaan dari Mang Oding.


"Tenang dulu semuanya! Jangan main hakim sendiri!" teriak Mang Oding.


"Astaga, Mang! Ini orang-orang ada apa ya? Kok pada datang kemari?" tanya Amanda polos pada Mang Oding.


"Hei, Manda! Cepat panggilkan majikan kamu itu! Dia itu penipu! Dia itu dokter gadungan!" seru salah seorang warga.


Mendengar kata yang kurang mengenakkan, akhirnya Arshad keluar. Tentunya ia tak terima karena gelar dokternya di sebut gadungan. Padahal dia benar-benar mengabdi untuk masyarakat di desa ini.


"Siapa yang berani menyebut saya dokter gadungan? Silakan maju!" Gelegar suara Arshad membuat nyali para warga menciut. Tatapan setajam elang Arshad membuat semua orang takut padanya.


"Apa ada yang bisa jelaskan kenapa kalian datang ke rumah saya dan membuat keributan disini?" seru Arshad lagi.


Semua orang saling sikut dan tak berani menjawab. Hingga akhirnya...


"Kamu telah menghamili anak saya!" Juragan Sodik maju dan mengarahkan jari telunjuknya kearah Arshad.


"Apa?! Menghamili? Apa saya tidak salah dengar?" Arshad malah tersenyum remeh di depan juragan Sodik. Baginya pria gempal di depannya ini tak ada apa-apanya jika harus adu argumen lagi dengannya.


"Atas dasar apa Anda menuduh saya menghamili anak Anda? Apa Anda punya bukti?"


Juragan Sodik menyeringai. "Karisa! Kesini kamu!" perintahnya.


Dengan langkah pelan dan perasaan takut, Karisa maju sambil menundukkan wajahnya. Ia berdiri disamping ayahnya.


"Cepat jelaskan semuanya! Benar kan jika saat ini kamu sedang hamil anak dokter gadungan ini?"


Arshad mengepalkan tangannya mendengar kalimat hinaan dari Juragan Sodik. Tapi Arshad sadar, menggunakan kekerasan bukanlah cara elegan untuk menghadapi orang licik seperti Sodik. Arshad tahu jika Sodik dan putrinya sedang memainkan sandiwara yang konyol.


"Cepat jawab!" bentak Juragan Sodik karena Karisa tak kunjung menjawab.


Semua orang yang ada disana juga menunggu jawaban dari Karisa.


"Tidak perlu memaksanya, Pak Sodik. Jika memang benar putri Anda sedang mengandung anak saya, maka bisa dibuktikan dengan melakukan tes DNA. Jika benar anak itu adalah anak saya, maka saya akan bertanggung jawab. Tapi... Jika terbukti anak itu bukan anak saya, maka saya akan tuntut kalian semua yang ada disini!"


Sontak saja ancaman Arshad membuat wajah Karisa mendongak dengan pucat. Bayangan bagaimana kehidupannya nanti jika Arshad menuntutnya sudah terpampang nyata di benak Karisa.


"A-aku..." Karisa tak bisa melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kelu. Ia terlalu malu karena sudah memfitnah Arshad. Bahkan ia tak berpikir jauh sebelum melakukan hal ini. Arshad bukanlah sembarang orang. Pastinya ia memiliki banyak koneksi dengan orang-orang penting.


Karisa meremat kedua tangannya sambil menundukkan wajahnya.


"Ma-maafkan aku, Pak..." lirih Karisa.


Para warga yang datang mulai berbisik-bisik dengan tingkah aneh Karisa.


"Jangan-jangan dia berbohong jika telah dihamili oleh dokter Arshad."


"Benar, dia sendiri gak berani mengaku!"


"Lagian dokter Arshad itu orang baik. Dia membangun klinik di desa kita. Harusnya kita berterima kasih padanya."


"Iya, benar juga."


"Si Karisa dan bapaknya memang biang kerok di desa ini!"


"Bagaimana kalau kita usir saja dari sini?"


"Wah, ide bagus tuh!"


"Sekarang semuanya bubar!" seru Mang Oding. "Kalau masih ada yang bikin keributan di rumah pak dokter, maka akan berhadapan dengan hukum!" tegas Mang Oding menakut-nakuti.


Akhirnya satu persatu warga pun pergi dari rumah Arshad. Tersisa Sodik dan Karisa yang harus meluruskan semua ini.


"Jadi, apa maksud kalian kali ini?" Suara Arshad terdengar melembut tapi tetap tegas dan dingin.


Sodik bingung harus menjawab apa. Ia tak mau berurusan dengan hukum jika benar Arshad melaporkannya ke polisi.


Tiba-tiba Karisa berlutut di depan Arshad. "Maafkan aku, Dokter. Ini semua salahku! Tolong jangan hukum kami! Aku janji tidak akan mengganggumu lagi dan juga Amanda."


Arshad tersenyum seringai mendengar pernyataan Karisa. "Bangunlah! Kau sedang hamil, jadi jangan melakukan ini."


Karisa menurut. Arshad adalah orang yang baik. Andai saja dulu ia tidak gegabah melakukan hubungan terlarang dengan Ardian, pasti sekarang ia akan sibuk mengejar cinta Arshad. Ia tidak akan membiarkan Arshad diambil oleh Amanda.


"Terima kasih, Dokter."


"Siapa orang yang sudah melakukan ini padamu? Aku akan membuatnya bertanggung jawab kepadamu!"


"Eh?!" Karisa terhenyak dengan ucapan Arshad. Pria ini bersedia membantunya meski tadi sudah ia fitnah.


"Katakan saja!" desak Sodik. Ia sebenarnya geram dengan putrinya yang mengatakan kebohongan di depan semua orang. Tapi demi harga dirinya sebagai juragan di desa itu, Sodik harus menekan emosinya. Mungkin nanti saat di rumah, ia akan lampiaskan kepada Karisa.


Karisa masih bungkam seribu bahasa. Ia menimbang-nimbang haruskah dirinya berkata jujur di depan Arshad.


"Jika tidak bisa mengatakannya, sebaiknya kau pulang saja. Jangan banyak pikiran karena itu bisa berakibat fatal untuk ibu hamil sepertimu. Pulang dan istirahatlah!"


Karisa mengangguk.


"Dan kau! Jangan menekan putrimu untuk melakukan hal yang kamu inginkan. Jangan juga memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya," tunjuk Arshad pada Sodik.


Tanpa menjawab, Sodik pergi menyusul langkah Karisa yang sudah lebih dulu meninggalkan rumah Arshad.