Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
57 - Dibalik Kebenaran



"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Silakan hubungi beberapa saat lagi."


Begitulah bunyi suara yang terdengar ketika Nilam mencoba menghubungi Clara. Hatinya tidak tenang karena membiarkan Clara kembali ke rumah Rasya.


Nilam masih tidak rela jika sang putri memilih Rasya yang banyak menyimpan rahasia.


"Bagaimana, Bu?" tanya Dea yang juga ikut panik.


"Tidak dijawab." Nilam terduduk lesu.


"Biar aku coba hubungi ya, Bu. Tadi di televisi menampilkan berita kecelakaan anak-anak sekolah. Sepertinya itu adalah sekolahnya Vano, keponakan pak Rasya. Mungkin saja mbak Clara sedang bersama mereka, Bu."


Dea kembali menghubungi Clara melalui ponselnya. Dan ternyata berhasil tersambung. Clara menjelaskan jika dirinya sedang berada di rumah sakit bersama dengan keluarga Kalendra. Ia meminta Nilam untuk tidak khawatir padanya.


Shady yang melihat kecemasan di wajah ibu dan istrinya menjadi urung untuk mengatakan kebenaran mengenai Rasya. Meski Shady ingin Rasya mendapatkan hukuman, tapi ia juga masih memiliki hati nurani. Saat ini keluarga Rasya sedang berduka, rasanya kurang pantas jika Shady membahas soal kejahatan Rasya sekarang.


Shady memutuskan untuk menunda mengungkap segalanya di depan keluarganya. Ia akan menunggu hingga situasi kondusif.


Sementara itu di rumah sakit, seluruh anggota Kalendra sudah diperiksa agar bisa memberikan donor darah untuk Vano. Namun sebuah hal mengejutkan kembali terjadi.


"Maaf, diantara semua anggota keluarga ... Tidak ada yang cocok untuk menjadi donor pasien."


Pernyataan si perawat membuat Rasya, Diana dan Deddy tercengang hebat. Bagaimana tidak? Mana mungkin Vano yang notabene anak dari Raffa tidak memiliki golongan darah yang sama dengan anggota keluarga Kalendra yang lain.


"Bagaimana bisa, Sus?" Hanya Rasya yang berani bertanya.


"Golongan darah pasien bisa dikatakan langka. Dan sepertinya ini diturunkan dari gen ibunya."


Seketika Diana langsung teringat dengan Vanessa.


"Dimana Vaness? Cepat hubungi dia!" perintah Diana.


Rasya segera meraih ponselnya dan menghubungi Vanessa. Belum sampai Vanessa menjawab, ternyata wanita itu sudah tiba di rumah sakit.


"Papa! Mama! Bagaimana kondisi Vano?" tanya Vanessa dengan raut wajah cemas.


"Kau! Kemana saja kau, hah?! Kau sama sekali tidak pernah peduli dengan anakmu!" sewot Diana. Ingin rasanya menampar Vanessa, tapi ia masih tahu tempat.


"Cepat ikut dengan perawat untuk melakukan pemeriksaan," ucap Deddy yang menghadapi situasi dengan tenang.


"Pemeriksaan? Pemeriksaan apa, Pa?" Vanessa yang baru tiba di tanah air langsung mendapat kabar jika putranya mengalami kecelakaan. Secepat kilat ia langsung datang ke rumah sakit.


"Vano butuh darah, Kak! Dan hanya kakak saja yang bisa menolongnya. Kami sudah melakukan tes, tapi tidak ada yang cocok dengan Vano. Harapan kami hanya tinggal kak Vaness saja." Rasya masih pucat mencoba bersikap lembut pada Vanessa. Saat ini yang ia pikirkan hanya soal Vano.


Raut wajah Vanessa mendadak panik ketika mendengar kata pemeriksaan. Ia ragu untuk melakukan itu.


"Kak Vaness!" panggil Rasya.


"Umm, baiklah. Aku akan ikut!" Tak memiliki pilihan lagi, Vanessa pun ikut dengan perawat.


Setelah menunggu selama lima belas menit, perawat itu datang dengan wajah bingung.


"Bagaimana, Suster? Vano bisa diselamatkan kan?" tanya Rasya yang berhadapan dengan si perawat.


"Umm, maaf Tuan. Saya tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Tapi ... Hasil tes nyonya Vanessa juga tidak cocok dengan pasien. Ini hal yang cukup mustahil jika memang benar nyonya Vanessa adalah ibu kandung pasien." Si perawat nampak takut saat menjelaskan fakta yang ada.


Semua orang sontak menatap Vanessa yang terduduk dengan menunduk.


"Kak Vaness! Apa ini? Kenapa hasil tes kakak tidak cocok dengan Vano?" seru Rasya mulai emosi.


"Sudah, Rasya! Jangan membuat keributan disini. Suster, saya minta tolong untuk menyediakan satu kamar VVIP untuk kami. Kami harus bicara dengan menantu kami," ucap Deddy yang masih tetap tenang.


Si perawat merasa tidak enak dengan situasi yang ada.


"Ba-baiklah, Tuan." Si perawat bernama Mitha segera berlari dan mencarikan kamar rawat inap kosong di bagian VVIP.


"Kau! Berani sekali kau melakukan ini pada kami!" Diana yang tidak bisa lagi menahan emosinya mengacungkan jari telunjuknya pada Vanessa.


"Sudah, Ma. Kita bicarakan lagi nanti!" Deddy membawa Diana dalam pelukan. Rasanya hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk keluarga mereka.


Kini semua orang sudah berada di ruang VVIP rumah sakit. Deddy yang memiliki kekuasaan tentu saja dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau.


"Sekarang katakan! Vano bukan anak Raffa kan? Sejak awal aku sudah curiga jika kau hanya menjebak Raffa! Kau hamil dengan lelaki lain dan kau menuduh Raffa. Cepat katakan!" Diana sudah kalap. Matanya menatap tajam kearah Vanessa.


"Cepat bicara! Dasar ja..."


"Iya!" Vanessa yang sedari tadi diam akhirnya memotong kalimat Diana. Sudah cukup ia mendapat hinaan dari keluarga mendiang suaminya. Sudah cukup semua penderitaan yang ia alami karena telah menjebak Raffa.


"Vano memang bukan anakku! Dan dia juga bukan anak Raffa!" seru Vanessa yang membuat semua orang terbengong.


Kaki Diana terasa lemas. Ia terduduk di sofa. Clara tak lepas memeluk Diana.


"Keterlaluan! Bagaimana bisa kau..."


"Ini semua karena mama!" Vanessa menuduh Diana.


"Mama yang sudah membuatku harus melakukan ini!" ucap Vanessa lagi. Kali ini diiringi dengan isak tangis.


"Tolong jelaskan pada kami!" Deddy masih tetap bersuara tenang meski hatinya sangat kecewa dengan sang menantu.


Vanessa mulai bercerita tentang kejadian sekitar tujuh tahun yang lalu itu...


Malam itu, aku dan Raffa bertengkar hebat. Aku tidak menyangka jika dia akan mengatakan hal buruk itu kepadaku.


"Aku akan menceraikanmu begitu anak ini lahir. Aku akan kembali mengejar cintaku untuk Nola," ucap Raffa.


"Tidak! Kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja, Raffa!" Aku memegangi tangan Raffa yang akan beranjak pergi.


"Lepaskan! Kau pikir aku tidak tahu jika kau sudah menjebakku! Kau melakukan hal kotor untuk menjebak Shady dan malah aku yang terjebak dengan permainan kotormu! Aku jijik melihatmu, Vanes! Kau hanya butuh pengakuan untuk anak ini, bukan? Aku akan memberikannya! Tapi aku akan tetap menceraikanmu!"


Raffa menepis tanganku dan mendorong tubuhku hingga terjerembab ke lantai. Ia pergi tanpa menoleh padaku.


"Raffa! Jangan pergi!" Aku berteriak memanggilnya, tapi ia tidak mendengar dan tetap pergi.


"Raffa!" Aku meratapi nasibku yang buruk.


"Akh!" Kau merasakan sakit di area perutku. Tanpa sadar air ketubanku telah pecah.


"Tidak! Aku akan melahirkan. Bagaimana ini?"


Aku panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan mencari siapa. Hujan mulai turun mengguyur bumi.


Aku menyeret tubuhku untuk mengambil ponsel. Saat itu yang terlintas dalam benakku hanyalah menghubungi mama.


"Halo, Mama! Ma, tolong aku! Aku akan melahirkan! Tolong datang kemari dan bawa aku ke rumah sakit!"


"Apa katamu?! Kau sendiri yang mau melahirkan kenapa meneleponku? Telepon ambulans atau naik taksi saja!"


"Akh! Aku sudah tidak kuat lagi, Ma. Aku mohon tolong aku!"


"Untuk apa aku menolong wanita yang sudah menghancurkan kehidupan putraku! Jangan menghubungiku lagi! Aku sedang pusing!"


Tubuhku lemas tidak berdaya. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku bangkit dan mencari taksi di luar. Tubuhku basah kuyup terguyur air hujan.


Aku tidak peduli. Yang aku tahu aku harus menyelamatkan putraku. Tapi ternyata ... Itu sudah terlambat.


Empat orang yang ada di ruangan itu tertegun mendengar cerita Vanessa.


"Apa mama sudah ingat semuanya?" tanya Vanessa dengan mata merah dan derai air mata.


Diana hanya diam dan menelan salivanya.


"Aku tidak pernah melupakan kejadian itu barang sedetikpun. Bagaimana kalian selalu menghinaku dan menganggapku kotor! Aku akui aku memang menjebak Raffa. Tapi anak yang kukandung benar-benar darah daging Raffa! Dan anak itu telah mati dibunuh oleh kalian!" Tangan Vanessa terkepal kuat. Selama tujuh tahun ia menutup rapat rahasia ini sendirian.


"Lalu ... Siapa orang tua kandung Vano?"


Setelah keheningan memenuhi ruangan selama beberapa saat, akhirnya Rasya kembali bersuara.