
Arshad sengaja tak mengucapkan kata apapun kepada Rosid dan Amanda karena ia masih diliputi perasaan kesal. Ia tak menyangka akan ada praktek lintah darat di jaman yang sudah modern ini. Dan yang lebih membuatnya heran, tak ada satupun aparat yang berani menindak tindak kejahatan seperti tadi.
Arshad memilih untuk bertanya pada Mang Oding tentang siapa yang harus bertanggung jawab dengan praktek peminjaman ilegal di desa itu. Arshad mengenal Mang Oding saat mereka tak sengaja bertemu di sebuah acara di kota.
Arshad mendengar cerita Mang Oding tentang desa tempat kelahirannya yang memang masih tertinggal dari desa-desa yang lain. Makanya Mang Oding memilih hijrah ke kota dan memperbaiki nasib disana.
Setelah pertemuan itu Arshad ingin memulai sebuah proyek mulia dengan membangun klinik di desa asal Mang Oding itu.
"Mamang tidak paham dengan apa yang dilakukan Juragan Sodik di desa ini, Pak Dokter. Yang jelas juragan Sodik banyak membantu perekonomian warga desa sini. Selebihnya saya tidak tahu kalau juragan Sodik mengambil sistem bunga yang memberatkan warga."
Jawaban Mang Oding membuat Arshad bertambah geram. "Ya sudah. Terima kasih infonya ya, Mang. Apa lebih baik saya menemui pak kades saja?"
"Waduh, Pak Dokter sebaiknya jangan ikut campur. Nanti bisa panjang urusannya. Saya tidak mau terjadi sesuatu sama Pak Dokter."
"Kamu terlambat, Mang. Saya memang sudah ikut campur dalam masalah ini. Jadi, saya tidak bisa kabur lagi."
Mang Oding hanya melongo mendengar penejelasan Arshad yang berlalu pergi. Arshad memilih untuk kembali ke rumahnya saja.
...***...
Keesokan harinya, Arshad yang hendak bersiap untuk berangkat ke lokasi proyek, dikejutkan dengan kedatangan pria paruh baya dan anak gadisnya yang kemarin ditolong oleh Arshad.
"Maaf, kalau kedatangan kami mengganggu Pak Dokter. Nama saya Rosid. Dan ini putri saya, Amanda. Saya sengaja mencari informasin tentang pak dokter pada penduduk desa. Saya kemari karena ingin berterimakasih pada pak dokter."
Arshad merasa tak enak hati. Ayah dan anak itu datang dengan membawa berbagai macam hasil bumi dari kebun mereka.
"Ah, kalau begitu silakan masuk dulu, Pak." Akhirnya Arshad mempersilakan tamunya masuk.
"Silakan duduk!" ucap Arshad.
"Terima kasih, pak dokter. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan hati pak dokter. Kami sungguh tak enak hati karena pak dokter sudah menolong saya."
"Jangan bicara begitu, Pak. Saya hanya membantu orang yang sedang kesusahan saja. Saya tidak suka ada orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Meski bapak Rosid memiliki hutang pada mereka, hasrusnya bapak jangan mau ditindas seperti itu. Bapak bisa laporkan si juragan itu pada pihak berwajib atau aparat desa. Tindakan mereka itu sudah keterlaluan."
Mendengar penuturan Arshad, membuat Amanda tidak terima. "Mungkin bagi pak dokter yang memiliki banyak uang dan kekuasaan, semua hal itu adalah hal yang mudah. Tapi jangan samakan kami dengan pak dokter. Kami terpaksa meminjam uang karena hasil panen kami gagal. Lalu, siapa yang harus disalahkan disini? Pak dokter jangan sembarangan bicara!" Amanda mengatur napasnya yang memburu.
Rosid memegangi tangan Amanda agar tidak kelepasan bicara. Putrinya itu memang dikenal sebagai gadis yang pemberani. Ia tak segan bicara menentang jika memang apa yang terjadi tidak sesuai fakta.
Arshad cukup terkejut dengan keberanian Amanda. Gadis desa itu memang memiliki pesona tersendiri sejak pertama Arshad melihatnya.
"Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud mencela ayah Nona. Saya hanya..."
"Ah sudahlah! Orang kota seperti Anda memang susah diajak bicara. Makanya lebih baik jika desa ini tidak didatangi oleh orang-orang seperti Anda!"
"Apa katamu?!" Arshad sangat tidak terima dengan tuduhan Amanda. Padahal Arshad datang kesini dengan misi mulai yaitu ingin membangun klinik kesehatan yang bisa digunakan oleh warga desa untuk berobat jika sakit nantinya.
"Amanda, jangan emosi, Nak. Kita datang kesini untuk berterimakasih. Bukan malah berdebat dengan pak dokter," bisik Rosid pada Amanda.
Amanda mencoba mengatur napas dan menekan egonya. Meski tak suka dengan cara bicara Arshad yang terkesan merendahkan ayahnya, tapi kenyataan jika Arshad adalah penyelamat mereka, tak bisa Amanda ia pungkiri.
"Sudahlah! Jika kalian ingin berterimakasih, saya sudah menerimanya. Sekarang saya ingin pergi ke lokasi proyek. Maaf, bukan saya mengusir kalian. Tapi, saya memang harus pergi."
Rosid melirik Amanda dan mengangguk pelan. Rosid memilih untuk pamit undur diri begitu juga dengan Amanda.
Arshad menatap barang bawaan Rosid dan Amanda yang begitu banyak memberinya hasil kebunnya.
"Astaga! Akan aku gunakan untuk apa ini semua? Sebaiknya aku menghubungi Mang Oding saja." Arshad memutuskan untuk menelepon Oding dan meminta pria itu membawa semua pemberian Rosid.
...***...
Tak patah semangat karena sikap Arshad terhadapnya, Amanda kembali mendatangi kediaman pria itu. Arshad yang baru saja tiba di rumah, dikejutkan dengan kehadiran Amanda disana.
"Kamu? Mau apa lagi datang kesini?" tanya Arshad dengan memalingkan wajahnya.
Jujur saja, wajah putih alami Amanda mengingatkan Arshad pada seseorang. Arshad tak ingin terbawa suasana.
"Maaf, Pak Dokter jika saya lancang datang kesini. Saya sangat berterimakasih karena pak dokter mau membantu ayah saya." Amanda berkata dengan lembut dan mengulas senyumnya.
"Bukannya tadi pagi kalian sudah berterimakasih ya? Lalu untuk apa kamu mengulanginya lagi?"
Amanda meringis menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Memang benar, pak dokter. Tapi, saya masih merasa tidak enak hati dengan pak dokter. Saya ingin bekerja di tempat pak dokter. Saya bisa bekerja apa saja kok! Jadi pembantu juga tidak masalah!"
Arshad mengernyit bingung dengan permintaan gadis di depannya ini. "Kalau begitu, kita bicara di kursi teras. Tidak enak jika dilihat orang-orang."
Amanda mengangguk. Mereka duduk di kursi teras rumah Arshad. Amanda dengan wajah cerianya menceritakan tentang kehidupannya yang terbiasa melakukan banyak pekerjaan rumah.
Arshad merasa jika Amanda memiliki kepribadian yang menarik. "Jadi, apa kau tidak berminat untuk merantau ke luar dari desa ini?"
Entah kenapa Arshad ingin mengetahui kehidupan Amanda lebih banyak.
Amanda menggeleng. "Tidak, Pak dokter. Jika saya keluar dari desa, lalu siapa yang akan menjaga ayah saya? Saya tidak tega membiarkan ayah bekerja sendirian di kebun. Takutnya orang-orang jahat seperti juragan Sodik akan mengganggu ayah saya."
Arshad tertawa karena melihat cara bicara Amanda yang lucu dan menghibur. Sepertinya Arshad sudah menemukan cara agar hidupnya tidak hampa lagi.
"Baiklah. Saya menerima kamu untuk bekerja disini. Kamu bisa bekerja mulai besok. Kamu cukup membersihkan rumah dan mencuci pakaian mungkin." Arshad menimbang-nimbang.
"Apa tidak sekalian memasak, pak dokter? Saya juga bisa masak lho! Nanti saya bawa ke lokasi proyek juga untuk para pekerja disana. Bagaimana?"
Arshad mengangguk-anggukkan kepalanya. "Boleh juga ide kamu."
Kemudian keduanya tertawa bersama. Amanda adalah gadis yang cukup menyenangkan dan apa adanya.
Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan interaksi antara Amanda dan Arshad. Ia mengepalkan tangan melihat kedekatan mereka.
"Sialan! Awas saja kau gadis kampungan sok cantik! Aku akan membuat perhitungan denganmu!"