Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
46 - Keputusan



Usai melakukan pergumulan panas dengan Clara, Rasya segera bangkit dan membersihkan diri. Ia membiarkan Clara yang masih terisak dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Lima belas menit kemudian, Rasya keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah rapi. Ia memakai kemeja dan celana kainnya.


"Bangun dan bersihkan dirimu! Kita akan pulang sekarang!" perintah Rasya.


Tak ingin mendapat perlakuan kasar lagi dari suaminya, Clara segera bangkit dan berjalan tertatih menuju kamar mandi. Clara menguatkan diri dan tidak boleh lemah demi sang janin yang kini tumbuh di rahimnya.


Rasya dan Clara keluar dari kamar lalu berpamitan pada Diana dan Deddy yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Lho? Kalian mau pulang? Ini sudah malam, kenapa tidak menginap saja?" tanya Diana.


"Tidak, Ma. Aku ada pekerjaan penting besok pagi. Lagipula Clara sepertinya lebih nyaman di rumah kami sendiri. Iya kan, sayang?" Rasya merangkul bahu Clara dengan sedikit menekannya.


"I-iya, Ma." Clara hanya menjawab lirih dan sedikit gugup.


"Hmm, ya sudah. Kalau begitu kalian hati-hati di jalan ya!" Diana memeluk anak dan menantunya.


Vanessa tersenyum seringai melihat kepergian Rasya dan Clara. Ia yang hendak keluar juga tidak menyangka bertemu dengan mereka di halaman depan.


"Ma, aku juga pergi dulu ya! Ada pekerjaan penting yang harus kulakukan," pamit Vanessa.


Diana hanya mengangguk lalu melengos pergi. Diana tetap tidak menyukai Vanessa yang dianggapnya sudah merusak kehidupan putra sulungnya.


Vanessa sendiri sudah terbiasa dengan sikap Diana yang tak acuh padanya. Ia bahkan terlihag santai melangkah menuju mobilnya.


"Kak Vaness mau kemana?" tanya Shezi yang ternyata ikut mengantar kepergian Rasya dan Clara.


"Aku ingin melepas penat. Kau mau ikut?" aja Vanessa.


Shezi menggeleng.


"Aku tidak menyangka ternyata Clara mengikuti cara licik yang kusarankan padanya." Tanpa sadar Vanessa bergumam.


"Maksud kak Vaness?" Shezi yang biasanya berotak licik, kini mendadak salah fokus dengan kalimat Vanessa.


Vanessa memutar bola mata malas. "Sudahlah, kau tidak akan mengerti. Dan harusnya kau juga tahu kan, kalau kakak Rasya tersayangmu itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku pergi ya! Bye!"


Vanessa melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobilnya.


"Apa maksud kak Vaness berkata begitu? Memangnya kak Rasya kenapa?" batin Shezi.


#


#


#


Pagi hari di rumah Hutama,


Kondisi Nilam sudah membaik. Ia bahkan ikut menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


Dea yang melihat Nilam sudah beraktifitas segera menghentikan kegiatan mertuanya itu.


"Ibu! Ibu istirahat saja. Biar Dea yang menyiapkan sarapan, Bu.


" Tidak, Nak. Ibu sudah lebih baik. Mana Shady? Apa dia sudah bangun?" tanya Nilam.


"Sudah, Bu. Mas Shady sedang bersiap." Ada raut kesedihan di wajah Dea. Dan Nilam bisa melihat itu.


"Nak, apa Shady bersikap buruk padamu?" tanya Nilam hati-hati.


"Eh? Tidak, Bu. Sama sekali tidak." Dea tidak akan membiarkan ibu mertuanya ikut bersedih karena ulah putranya.


"Dea, ibu tahu seperti apa putra ibu. Dia itu ... terkadang suka meledak-ledak. Ibu akan bicara padanya mengenai masalah ini. Ibu tidak ingin masalah ini mempengaruhi rumah tangga kalian!"


Nilam segera beranjak dari ruang makan dan menuju ke kamar Shady. Dea yang ingin mencegah pun tidak bisa. Karena wanita paruh baya itu tidak suka jika keinginannya di bantah.


Nana yang sudah rapi akan berangkat ke kampus, akhirnya mendengar perbincangan sang kakak dan ibu mertuanya.


"Ada apa ini? Apa mbak Dea sedang ada masalah dengan mas Shady?" batin Nana.


"Mbak!" sapa Nana yang melihat Dea melamun.


"Nana? Kamu sudah siap?" Dea terkejut.


"Mbak kenapa melamun? Apa ada yang..."


"Tidak ada. Ayo makan! Kamu kan berangkat kuliah pagi. Jadi, kamu harus sarapan sebelum pergi."


Dengan menyembunyikan seluruh kegelisahannya, Dea melayani sang adik dengan telaten.


Sementara itu di dalam kamar, Nilam melihat Shady telah rapi dengan setelan jas kantornya.


"Bicara apa, Bu?" tanya Shady malas. Ia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh ibundanya.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini, Bang? Apa kamu tidak kasihan pada Naura? Atau setidaknya kasihan pada Dea!"


Shady menghindari tatapan tajam sang ibu. Rasanya malas berdebat di pagi hari begini. Ditambah lagi dengan sang Ibu. Tentu saja Shady tahu batasannya sebagai seorang anak.


Selama ini Shady selalu hormat pada Nilam. Ia adalah putra yang berbakti.


"Apa keputusanmu, Bang?"


Pertanyaan Nilam membuat Shady akhirnya mau berhadapan dengan sang Ibu.


"Keputusan apa maksud ibu?"


Nilam menghela napasnya sejenak. Hatinya juga begitu sesak memikirkan apa yang sudah dilakukan Nola pada Shady.


Nilam tidak mengira jika wanita yang dicintai putranya akan menyakiti hati keluarganya seperti ini.


"Apa yang akan kamu lakukan pada Naura?" Pertanyaan itu akhirnya muncul dari bibir Nilam.


"Naura?" gumam Shady.


"Naura sudah tinggal bersama kita sejak dia lahir. Ibu tahu ini menyakitkan untukmu, untuk ibu juga. Tapi apa kita akan mengabaikan dia hanya karena sebuah status hubungan darah yang diberikan oleh dokter? Sejak lahir dia menganggapmu sebagai ayahnya. Dan Dea sebagai ibunya. Apa kita harus mengubah semua itu, Bang?"


Suara Nilam terdengar bergetar. Hatinya terasa sakit harus mengatakan semua itu pada Shady.


"Apa kamu akan mengirimnya ke panti asuhan? Sama seperti ibunya yang besar di panti asuhan? Apa kamu akan melakukan itu, Bang?"


Shady masih diam. Hati kecilnya mengatakan jika ia menyayangi Naura. Namun bayang-bayang pengkhianatan Nola selalu terlintas saat melihat wajah Naura.


"Nola sudah meninggal dan kamu juga sudah menikah dengan Dea. Harusnya kamu bisa lupakan masa lalumu dan menata masa depanmu dengan Dea."


Shady sadar jika akhir-akhir ini dirinya sudah menyakiti Dea.


"Maafkan abang, Bu." Sebuah kata maaf kembali terucap.


"Jawab, Bang! Apa yang kamu inginkan tentang Naura?" tanya Nilam sekali lagi.


Shady menarik napas kasar. "Aku ... Aku akan mencari siapa ayah kandung Naura."


#


#


#


Pagi itu di kediaman keluarga Huda,


Tiga orang kini sedang duduk bersama untuk menyantap sarapan. Faishal Huda menatap sang putra yang nampak santai menyantap makanannya.


"Ehem!" Faishal berdeham agar perhatian putranya teralihkan.


Dan benar saja. Arshad langsung mengarahkan pandangan pada sang ayah.


"Ada apa, sayang? Apa ada lagi yang kau butuhkan?" tanya Sinta, sang istri.


"Arshad!" panggil Faishal.


Sinta sontak menoleh pada putranya.


"Papa sudah membuat keputusan kalau malam ini kamu akan makan malam dengan Shezi. Papa sudah pesankan tempat untuk kalian," ucap Faishal.


Arshad menatap ayahnya jengah. "Pa, sudah kukatakan jika..."


"Apa susahnya menuruti keinginan ayahmu? Hubungan kalian masih tidak ada kemajuan. Papa harap kamu tidak mengecewakan papa!" tegas Faishal.


"Sayang, apa salahnya menuruti keinginan papamu." Sinta menengahi perdebatan ayah dan anak itu. Ia menatap penuh harap pada Arshad.


"Baiklah. Aku setuju! Katakan saja dimana aku harus menemui gadis itu!" ucap Arshad kemudian berlalu dari meja makan.


Faishal mendengus kesal menatap kepergian putranya.


"Kau harus bisa mengawasi putramu itu! Makin hari tingkahnya semakin tidak terkontrol!" Faishal menatap tajam sang istri.


"Apa?! Jadi papa menyalahkan mama?" protes Sinta.


"Kamu adalah ibunya. Harusnya kamu bisa membujuk dia agar menuruti apa yang sudah kuatur." Faishal ikut meninggalkan meja makan.


Sinta melongo melihat kelakuan ayah dan anak ini. "Kenapa jadi aku yang salah?" gumamnya.