Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
61 - Home For Naura



Arshad sudah bertekad untuk mengambil hak asuh Naura. Untuk itu kini ia sedang mengurus ke pengadilan untuk perwalian Naura. Sebagai ayah kandung Naura, pastinya Arshad ingin tinggal bersama Naura. Ditambah lagi, dirinya adalah seorang dokter anak. Ia sangat menyukai anak-anak.


Setelah proses pendaftaran perwalian selesai, pihak pengadilan memberikan surat panggilan untuk keluarga Shady agar menghadiri sidang yang akan digelar minggu depan. Arshad sendiri yang mengantarkan surat itu ke rumah Shady beserta seorang petugas dari pengadilan.


"Selamat pagi, bisa saya bertemu dengan bapak Shady Hutama?"


Rosi yang membukakan pintu menjadi bingung. Tapi ia tetap melaporkan apa yang diminta oleh tamunya. Kebetulan hari ini Shady memilih cuti bekerja, karena kondisi Clara yang masih belum stabil pasca penangkapan Rasya.


Shady menemui Arshad dan petugas pengadilan bersama Dea.


"Perkenalkan, saya Pandhu, saya ditugaskan dari pengadilan untuk memberikan surat panggilan ini pada bapak Shady."


Shady menatap tajam surat yang kini ada ditangannya. Ia juga tak kalah tajam menatap Arshad. Shady tahu apa maksud surat panggilan ini.


"Apa yang kau lakukan, Arshad?" tanya Shady.


Arshad tersenyum seringai. "Naura adalah putriku. Jadi, aku ingin mengambil hak asuh Naura dari kalian."


Tangan Shady mengepal. "Kau! Tega sekali kau melakukan ini pada kami!"


"Dokter..." Dea menghampiri Arshad. "Tolong jangan lakukan ini, Dokter. Jangan ambil Naura dari kami..."


Mata Dea berkaca-kaca saat bicara dengan Arshad. Sungguh Dea sangat menyayangi Naura meski ia tidak melahirkan Naura.


"Sudahlah, Dea. Sebaiknya kalian datang di persidangan nanti. Biarkan pengadilan yang memutuskan siapa yang berhak mengasuh Naura."


"Hentikan semua ini!" teriak seseorang dari dalam rumah. Itu adalah Nilam.


Nilam sangat geram dengan tingkah Arshad yang menurutnya sudah keterlaluan.


"Cukup kataku!" Nilam berjalan mendekati Arshad dan Pandhu.


"Kalian orang dewasa hanya memikirkan diri kalian sendiri saja! Apa kalian pernah berpikir bagaimana perasaan Naura? Pernahkah?" bentak Nilam.


"Yang kalian pikirkan hanya ego kalian saja! Naura itu masih kecil. Usianya belum genap 3 tahun. Tapi kalian sudah memperebutkannya dengan cara seperti ini! Naura itu bukan barang! Dia manusia!


Lebih baik kau pergi dari rumahku sekarang juga! Pergi!" teriakan Nilam menggelegar di seluruh ruangan. Rupanya Nilam sudah menahan semua ini sejak tadi. Ia tak terima jika cucunya harus menjadi layaknya barang yang dipertaruhkan.


Tak memiliki pilihan lain, Arshad dan Pandhu memilih pergi. Sementara Nilam tampak mengatur napasnya.


Dadanya terasa sesak. Tubuhnya mulai limbung.


"Ibu!" Dea segera memegangi tubuh Nilam.


"Ayo kita ke kamar, Bu." Dea membawa Nilam ke dalam kamarnya.


Shady sendiri masih diam dengan memegangi surat panggilan yang mulai diremasnya. Emosi Shady juga tidak tertahankan lagi. Tapi ia tidak ingin memperumit keadaan dengan kemarahan.


...***...


Keesokan harinya, Shady mengumpulkan semua orang untuk bicara serius. Pastinya ini tentang Naura.


Sebelum bicara, Shady sudah memikirkan semua ini semalaman. Kini sudah saatnya ia memutuskan.


"Ada apa, Bang? Apa ini tentang Naura?" tanya Nilam. Kondisinya sudah lebih baik sekarang.


Shady mengangguk. Ia mengatur napas sebelum bicara. Berat rasanya memutuskan hal ini didepan Dea dan Nilam.


"Aku ingin memberikan Naura kesempatan untuk memilih."


Dea dan Nilam saling pandang.


"Memilih apa, Mas?" tanya Dea penasaran.


"Aku tahu kalian pasti kecewa dengan keputusanku ini. Tapi ... Aku rasa ini adalah jalan tengah yang terbaik. Kita biarkan Naura sendiri yang memilih dimana dia ingin tinggal."


"Tapi, Mas..."


"Dea, aku tahu kau menyayangi Naura. Aku juga menyayanginya. Tapi dari pada kita memaksakan kehendak kita, bukankah lebih baik jika Naura sendiri yang memutuskan? Aku yakin pengadilan akan menghargai itu."


"Tentu saja, Bu. Ini adalah kehidupan Naura. Jadi, biarkan dia yang memilih."


Dea dan Nilam tidak berkomentar lagi. Shady sendiri juga amat bersedih dengan keputusannya. Tapi dia yakin jika Naura akan memilih dirinya dan Dea untuk menjadi orang tua Naura.


Sementara itu di rumah keluarga Huda,


Arshad bersiap untuk pergi setelah mendapat panggilan telepon dari seseorang.


"Arshad, mau kemana?" tanya Sinta yang melihat putranya pergi terburu-buru.


"Barusan Shady meneleponku, Ma. Dia memintaku untuk menjemput Naura," jawab Arshad dengan raut wajah sumringah.


"Apa maksudmu?"


"Shady memberikan aku kesempatan untuk bisa dekat dengan Naura. Kalau begitu aku pergi dulu! Mama siapkan saja kamar untuk Naura!"


Sinta masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Raut bahagia juga ia tampakkan, hingga membuat sang suami bingung.


"Ada apa? Kau terlihat sangat senang."


"Sayang, Arshad akan membawa Naura kemari. Cucu kita! Dia akan tinggal disini!" seru Sinta dengan gembira.


"Kenapa kalian sangat bersemangat untuk mengambil hak asuh anak itu?"


Sinta mendelik. "Apa maksudmu berkata begitu? Naura adalah anak kandung Arshad, dia itu cucu kita! Tentu saja dia harus tinggal bersama kita."


Faishal menggeleng lemah. "Ma, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan? Kalian hanya akan menyakiti anak itu. Arshad bahkan belum menikah, bagaimana bisa ia mengasuh seorang anak? Anak itu butuh keluarga yang utuh! Harusnya kau pikirkan juga perasaan anak itu."


Sinta memalingkan wajah. Ia tidak peduli dengan semua ocehan suaminya. Ia malah sibuk membuat daftar belanja untuk menyambut Naura. Faishal hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya.


...***...


Naura tiba di rumah Arshad setelah sebelumnya di bujuk oleh Dea dan Shady agar bersedia ikut dengan Arshad. Meski Naura mengenal Arshad sebagai dokter yanh ramah, tapi tentu saja Naura tidak pernah berpikir akan tinggal dengan Arshad.


"Nah, ayo masuk! Ini rumah om dokter!" Arshad menggandeng tangan Naura.


Kedatangan Naura disambut oleh Sinta dan Faishal. Sinta sangat senang melihat Naura.


Sinta bahkan langsung memeluk dan menciumi Naura.


"Kau anak yang sangat manis. Ayo ikut dengan Oma! Oma punya banyak mainan untuk Naura!" Sinta mengajak Naura menuju kamarnya.


Naura memang anak yang penurut. Naura mengikuti langkah kaki Sinta menuju ke sebuah kamar yang sudah di desain khusus untuk Naura.


"Lihat! Kau suka boneka barbie kan? Oma punya banyak bonek barbie disini."


Naura tetaplah anak-anak. Diberikan mainan yang begitu banyak, tentu saja ia tak menolak. Naura bahkan asyik bermain dengan semua mainan barunya.


Sinta tersenyum lega karena cucunya sudah mulai kerasan tinggal di rumahnya. Sinta berpamitan pada Naura karena ia harus menyiapkan makan siang. Naura mengangguk patuh dan terus bermain dengan mainannya.


Di ruang keluarga, Faishal kembali menanyakan tentang keseriusan Arshad untuk mengambil hak asuh Naura dari tangan Shady.


"Aku serius, Pa! Naura adalah putriku, dia cucu papa! Jadi, kuharap papa bisa menerima keputusanku ini."


Faishal tidak bisa berkata-kata lagi. Keinginan putranya sudah bulat. Kini tinggal menunggu keputusan dari pengadilan dimanakah Naura akan tinggal.


...***...


Sudah tiga hari Naura tinggal dengan Arshad, hati Dea makin tidak tenang. Dea takut jika Naura akan memilih tinggal bersama keluarga Huda.


"Sayang, jangan khawatir. Naura pasti akan memilih kita. Sidang perwalian akan dimulai dua hari lagi. Kita harus bersiap." Shady memeluk Dea dan menenangkannya.


"Aku takut, Mas. Aku takut mereka akan mengambil Naura dari kita." Dea menangis sesenggukan.


"Tidak! Kita tidak akan kehilangan Naura! Percayalah!" Meski dalam hati Shady juga cemas, tapi sebisa mungkin ia meredamnya perasaannya. Ia yakin jika Dea dan dirinya akan menang di persidangan nanti.