Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
44 - Kejujuran



Pagi itu Clara sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Rasya. Ponselnya berdering dan melihat nama ibunya tertera di layar. Ia segera menjawabnya.


Rasya yang baru keluar dari kamar segera menuju ke ruang makan untuk sarapan. Ia melihat Clara sedang bicara di telepon dengan seseorang.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Rasya usai panggilan itu berakhir.


"Ibu menelpon. Dia bilang jika Naura sudah keluar dari rumah sakit."


"Oh, syukurlah." Rasya menarik satu kursi dan mendudukinya.


Clara yang ingin jujur mengenai kehamilannya menjadi urung karena sikap Rasya masih dingin padanya. Tapi Clara juga tak bisa menutupi kehamilannya terus menerus. Cepat atau lambat Rasya akan mengetahui hal ini.


"Umm, Kak. Aku lihat kakak sangat menyukai anak-anak. Kakak bahkan terlihat sangat dekat dengan Naura. Jika kita memiliki anak sendiri, aku yakin kakak pasti akan menyayanginya juga kan?"


Pertanyaan Clara membuat Rasya menghentikan suapan makanan ke mulutnya.


"Apa maksudmu bertanya begitu?"


Clara terkejut dengan tatapan tajam Rasya.


"Jangan bilang karena malam itu kau sekarang hamil?"


Clara tersentak. Sebelum ia berkata ternyata Rasya sudah lebih dulu menebaknya.


"Benar, Kak. Aku hamil!" Clara tak mau lagi menutupi kebenarannya.


Rasya bangkit dari duduknya dan menunjuk Clara.


"Kau! Kau sengaja melakukan ini padaku kan? Kau ingin mengikatmu dengan bayi yang kau kandung!"


"Apa salahnya jika aku hamil! Ini anakmu, Kak!" Clara tak mau kalah dengan Rasya.


Rasya menggeleng pelan. "Kau memakai cara licik untuk memiliki bayi itu! Kau licik, Clara! Aku sudah tak berselera untuk makan. Aku berangkat!"


"Kak! Kak Rasya!" teriakan Clara sama sekali tidak digubris oleh Rasya.


Clara yang kesal mengepalkan tangannya.


"Awas saja kamu, Kak! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini padaku!"


Clara meraih ponselnya dan mendial nomor seseorang.


"Halo, Ma..."


".........."


"Apa mama sibuk hari ini? Clara ingin ajak mama ke suatu tempat."


"........."


"Baiklah. Kalau begitu siang nanti Clara jemput mama."


Panggilan berakhir.


"Kita lihat saja, Kak! Aku akan membuatmu menyesal dan bertekuk lutut di hadapanku!" gumam Clara dengan hati bergemuruh.


#


#


#


Shady terbangun dari tidurnya dan memegangi kepalanya yang terasa masih berdengung. Ia mengingat jika semalam ia berada di klub malam.


Namun kini dirinya ada di kamar miliknya. Shady mengerjapkan matanya berkali-kali. Hingga sebuah siluet dilihat olehnya.


"Dea?" gumam Shady.


"Kamu sudah bangun, Mas? Bersihkan diri kamu dulu, lalu turunlah untuk sarapan bersama." Dea langsung melenggang keluar setelah bicara.


"Tunggu!" cegat Shady.


Dea membalikkan badan dan menatap Shady.


"Siapa yang membawaku pulang ke rumah?" tanya Shady. Bahkan dirinya tidak meminta maaf pada Dea atas apa yang terjadi kemarin.


Dea masih diam dan tidak menjawab.


"Katakan siapa yang mengantarku ke rumah!" Shady seakan tidak sabar menunggu jawaban Dea.


"Roni," jawab Dea singkat kemudian benar-benar berlalu dari dalam kamar.


Dea menghela napasnya dan memejamkan mata. Rasanya menyakitkan ketika Shady bersikap seolah tak terjadi apapun dengan hubungan mereka.


"Mbak!" Suara Nana membuat Dea terkejut.


"Nana?"


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Nana yang melihat ada yang tidak beres dengan sikap kakaknya.


"Tidak ada. Ayo kita ke ruang makan. Ibu pasti sudah menunggu disana."


"Mbak!" Nana mencekal lengan Dea.


Dea tersenyum getir. "Tidak! Mas Shady hanya pergi ke acara jamuan makan bersama rekan bisnisnya. Ya sedikit ada alkohol kurasa itu wajar, hehe. Ini kota besar, Dek. Jadi jangan samakan dengan kota asal kita." Dea menepuk bahu Nana lalu berjalan meninggalkan gadis itu.


#


#


#


Shady datang paling akhir di ruang makan. Ia menyapa sang ibu dengan mencium pipi wanita paruh baya itu.


Nilam hanya diam dan memperhatikan interaksi antara anak dan menantunya. Firasatnya sebagai seorang ibu tak bisa dibantah lagi. Ia bisa merasakan jika ada yang disembunyikan oleh putranya.


Sarapan pun usai. Nilam mengelap mulutnya kemudian meminum segelas susu untuk usia 50+. Sebelum beranjak, Nilam berpesan pada anak dan menantunya.


"Kalian berdua ikut Ibu ke kamar selesai kalian menghabiskan sarapan!" Nilam berdiri dan menuju ke kamarnya. Sementara Shady dan Dea hanya saling pandang.


Mau tak mau Dea dan Shady menyudahi sarapannya.


"Akh! Kepalaku masih sakit. Kenapa ibu meminta kita menemuinya?" tanya Shady.


Dea mengedikkan bahunya. Ia memilih untuk segera menuju ke kamar sang ibu mertua.


Tiba di kamar, Dea dan Shady duduk berhadapan dengan Nilam. Seakan sudah mencium gelagat tidak enak dari pasangan suami istri ini, Nilam tak ingin masalah semakin berlarut.


"Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Terutama kamu, Bang! Kamu seakan menghindari sesuatu. Katakan yang sejujurnya, Bang!"


Shady melirik Dea seolah bertanya, haruskah semuanya harus terbongkar sekarang?


"Jawab, Bang! Ada apa denganmu? Kamu pergi meninggalkan Naura di saat anak itu membutuhkan kehadiranmu sebagai ayahnya. Dea tidak mau bercerita dan memintaku untuk menunggumu. Sekarang, katakan dengan jujur!" Sorot mata Nilam sudah menunjukkan kekecewaan.


"Ibu ingin aku jujur?" Shady balik bertanya.


"Iya. Aku ini ibumu, jadi tolong jangan membuatku cemas dengan keadaan kalian!" Suara Nilam terdengar putus asa.


"Baiklah!" Shady beranjak dari duduknya. "Tunggu sebentar aku akan mengambilkan sesuatu untuk Ibu."


Dea melihat kepergian Shady dengan pikiran yang cemas. "Apa mas Shady akan mengatakan kebenarannya pada ibu? Apakah harus secepat ini? Tapi, jika tidak sekarang, kapan lagi semuanya terbongkar? Cepat atau lambat ibu harus tahu mengenai hal ini," batin Dea.


Tak lama Shady kembali ke kamar Nilam. Ia membawa sebuah amplop dan menyerahkannya pada Nilam.


"Apa ini?"


"Ibu buka saja. Ibu akan tahu alasanku seakan menghindar dari Naura."


Dea meremas pakaiannya. Sungguh ia tak tahu apa yang akan terjadi setelah Nilam mengetahui kebenarannya. Lalu Naura? Apa yang akan terjadi bocah kecil itu? Ya, Dea memikirkan nasib Naura setelah ini.


"Tunggu, Bu!" cegah Dea.


Nilam menatap Dea. "Ada apa, Dea?"


"Umm, sebaiknya ibu jangan membuka amplop itu!"


Shady menatap tajam Dea. "Biarkan ibu membukanya!"


"Mas!"


"Ibu harus tahu kebenarannya!" Shady membentak Dea.


"Abang! Kenapa membentak istrimu? Baiklah, jika isi amplop ini membuat kalian jadi bertengkar, ibu tidak akan membukanya!"


"Ibu! Ibu harus membukanya! Bukankah ibu ingin tahu alasanku? Bukalah!" perintah Shady.


Dea menggeleng pelan saat Nilam menatapnya.


"Huft! Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku? Sulit sekali dipercaya jika kalian akan saling bertengkar gara-gara isi sebuah amplop." Nilam meraih amplop itu dan membuka isinya.


Dea menelan salivanya berkali-kali karena merasa sangat cemas.


SREEET!


Mata Shady membola sempurna ketika Nilam menyobek isi amplop itu. Begitupun dengan Dea.


"I-Ibu..." gumam Shady tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Masalah sudah selesai. Dan kamu, Bang. Jangan lagi bersikap aneh terhadap istrimu dan Naura."


"Tidak, Bu. Aku tidak bisa!" Shady menatap Nilam dengan mata memerah. Ia menyimpan kekecewaan dan kesedihan atas fakta yang sedang dijalaninya.


"Aku tidak bisa bersikap baik lagi pada Naura."


"Abang!"


"Naura bukan putriku!" Bibir Shady bergetar ketika mengatakan kebenarannya.


"Apa?!" Nilam memegangi dadanya yang terasa nyeri. "Kamu pasti bohong kan, Bang?"


"Tidak! Aku tidak berbohong! Surat itu adalah buktinya. Jika saja ibu tidak menyobeknya, ibu akan lihat buktinya jika Naura..." Shady tak mampu melanjutkan lagi kata-katanya.


"Ini tidak mungkin!" seru Nilam sebelum akhirnya wanita paruh baya itu tidak sadarkan diri.