Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
51 - Rahasia Rasya



Arshad memandangi berkas-berkas yang ia terima dari kawannya di kepolisian. Ia tak percaya jika seseorang yang ia cari sebenarnya sangat dekat dengannya.


Arshad kembali mengusap wajahnya kasar. Seharian ini ia meminta izin untuk libur kerja. Pikirannya sedang tidak fokus dan pasti berimbas kurang baik bagi pasiennya.


"Mobil yang bertabrakan dengan mobil Nola adalah milik Shezi Kalendra, gadis yang dijodohkan denganku. Kenapa bisa kebetulan begini?" gumam Arshad yang tak bisa menemukan apapun dari kecelakaan itu. Seolah-olah ada seseorang yang sengaja menutupi semua fakta itu.


"Tapi siapa? Apakah Dea dan Shady bersekongkol dalam hal ini? Dea adalah tersangka utama dalam kematian Nola, tapi kenapa Shady malah menikahinya? Ada yang aneh disini. Aku harus memastikan jika Naura memang benar putriku." Arshad segera menghubungi seseorang untuk dimintai bantuan.


...***...


Dea menghampiri Shady yang nampak banyak melamun usai malam itu menemui Rasya. Dea tahu Shady masih kecewa dengan apa yang dilakukan Nola padanya. Ini tidak semudah yang dibayangkan.


Dea duduk disamping Shady yang terlihat mengusap kasar wajahnya. Dea mengusap lembut punggung Shady.


"Aku tahu ini berat untukmu, Mas. Tapi jangan lupa, kamu punya aku di sisimu, Mas. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Dea dengan suara lembutnya.


Shady menatap Dea. Ia bisa merasakan binar cinta di mata Dea.


"Terima kasih. Aku pikir ini akan mudah karena aku menuduh Rasya. Tapi ternyata tidak. Kita bahkan harus menyiapkan hal yang lebih besar jika ayah kandung Naura muncul dan meminta putri kandungnya."


Dea terbelalak. "A-apa? Jadi, Naura akan diambil dari kita?"


Shady mengangguk. "Ya, aku sudah berkonsultasi dengan pengacara. Ini posisi yang sulit untuk kita. Apalagi kita tidak memiliki hubungan darah dengan Naura."


Dea memeluk lengan Shady. "Jangan biarkan dia mengambil Naura dari kita, Mas. Naura adalah putri kita."


Shady membalas pelukan Dea. "Iya, sayang. Naura adalah putri kita. Aku janji kita pasti mendapatkan hak asuh atas Naura."


Dea tersenyum senang dan menatap suaminya. Seakan sudah lama Dea tidak melihat wajah sang suami dari jarak sedekat ini.


Shady yang juga sudah lama tidak memperhatikan Dea, akhirnya meminta maaf.


"Maafkan aku. Aku terlalu egois dengan selalu mengabaikanmu." Shady mengusap lembut pipi Dea yang memerah.


"Tidak apa, Mas. Aku bisa memahami sikapmu akhir-akhir ini."


Secara alami, mereka saling terpaku satu sama lain selama beberapa saat. Shady yang membutuhkan Dea saat ini, dengan pelan mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Dea.


Dea memejamkan mata ketika merasakan sentuhan lembut yang diberikan Shady. Mereka duduk di sofa kamar dan saling bertautan selama beberapa menit.


Shady melepaskan Dea sejenak kemudian melanjutkan aksinya. Saat ini keduanya sama-sama sedang saling mendamba. Dengan berani Dea bahkan sudah duduk dipangkuan Shady. Shady memeluk erat tubuh Dea yang dirindukannya. Mereka masih saling terpaut satu sama lain. Saling menumpahkan rasa yang selama ini tertahan.


"Mama! Papa!" Panggilan lucu dari Naura membuat Dea segera melepaskan diri dari Shady.


"Hei, sayang..." Dea membenahi penampilannya sedang Shady menyapa Naura dan menggendongnya.


"Papa, Naula pengen pelgi ke taman hibulan. Naula mau main sama mama dan papa."


"Tentu, sayang. Kita akan pergi ke taman hiburan saat sekolahmu libur." Shady membawa Dea dan Naura dalam pelukannya. Ia akan melindungi kedua bidadari yang sudah menerangi hidupnya.


...***...


Clara merasa yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan Rasya darinya. Clara harus mencari tahu rahasia yang disembunyikan suaminya.


Setelah mendengar percakapan antara Shady dan Rasya, Clara semakin yakin jika banyak hal yang ditutupi Rasya darinya, terutama tentang apa yang ada di kamar gudang apartemen mereka.


Clara mendatangi kamar gudang yang dimasuki Rasya tempo hari. Clara hendak membuka knop pintu, tapi ternyata pintunya terkunci.


"Kenapa dikunci? Terakhir kali aku kemari kamar ini tidak dikunci. Apa yang sebenarnya kak Rasya sembunyikan?"


"Aku harus menemukan kuncinya!" gumam Clara.


Clara tidak berputus asa. Ia ingin menemukan kebenaran yang tersembunyi di rumah yang ditinggali Rasya.


Tidak menemukan apa-apa di walk-in-closet milik Rasya, Clara menuju ke ruang kerja Rasya. Kembali ia menggeledah disana.


"Dimana kau sembunyikan kuncinya, Kak? Itu hanya gudang dan kau sampai melindunginya begini!" kesal Clara.


Namun ketika matanya tertuju ke sebuah rak di ruang kerja Rasya, matanya membulat sempurna. "Itu kuncinya!"


Clara segera mengambil kunci itu dan bergegas menuju gudang. Clara langsung masuk dan mengedarkan pandangan. Gudang itu berisi barang-barang bekas dan buku-buku milik Rasya.


Ada sebuah meja di pojok kanan, Clara segera menggeledah meja itu. Ia membuka laci dan mencari sesuatu yang penting disana.


Clara menemukan sebuah foto yang membuatnya mengerutkan dahi.


"Foto apa ini?" Terlihat jika Rasya bersama seorang gadis yang tak dikenalnya ada di foto itu.


"Ini kan foto pernikahan," gumam Clara sambil menutup mulutnya.


"A-apa maksudnya ini?" Mata Clara berkaca-kaca.


"Jadi ... Kak Rasya pernah menikah? Dan aku bukanlah istri pertamanya!"


Tubuh Clara langsung merosot ke lantai. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia sangat syok melihat foto pernikahan Rasya di masa lalu dengan wanita lain.


Tiba-tiba saja perut Clara mengalami kram. "Akh! Sakit!" Clara memegangi perutnya.


Clara segera keluar dari gudang dengan berpegangan pada dinding. Tak lupa ia mengunci gudang itu kembali. Ia membawa foto itu bersamanya.


Clara duduk di sofa dan menangis. Rasa sakit dari perutnya tak ia hiraukan. Rasa sakit dihatinya lebih menusuk meski tak berdarah.


"Kak Rasya... Tega sekali kau melakukan ini padaku!" Clara tak menyangka jika Rasya menyembunyikan rahasia sebesar ini dalam hidupnya.


...***...


Arshad yang ingin segera menemukan jawaban dari semua hal, kini sedang melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat. Arshad tak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia harus memastikan jika semua firasatnya benar.


Arshad tiba di tempat yang dituju. Ia turun dari mobil dan menatap bangunan itu sejenak. Ia disambut oleh satpam yang menyapanya ramah.


Arshad menuju ke pintu utama dan menekan bel. Dengan menghela napas terlebih dahulu Arshad menunggu seseorang untuk membukakan pintu.


Bunyi pintu terbuka membuat Arshad menyiapkan diri dan mentalnya. Arshad menarik sudut bibirnya saat melihat orang yang ingin ditemuinya membuka pintu.


"Dokter Arshad?" Dea terperangah menatap Arshad yang berdiri di ambang pintu.


Ya, tempat yang didatangi Arshad adalah rumah keluarga Hutama. Ia ingin menemui Dea untuk suatu tujuan.


"Selamat siang, Dea," sapa Arshad.


"Se-selamat siang, Dok. Ada keperluan apa dokter datang kemari?" tanya Dea bingung.


"Saya kesini untuk bertemu dengan Naura."


Dea mengerutkan dahi. "Naura?"


"Benar! Saya adalah ayah kandung Naura!" ucap Arshad to the point hingga membuat Dea terlonjak kaget.