
Di kota, baik Sinta maupun Naura merindukan sosok Arshad yang biasanya hadir menemani hari-hari mereka. Apalagi Naura sangat merindukan ayahnya itu.
Tentunya hal ini membuat Faishal merasa tak nyaman dengan sikap cucu dan istrinya.
"Kalian ini terlalu berlebihan. Arshad itu tidak pergi kemana-mana. Mama kan tahu jika putra kita itu memang sangat suka berpetualang. Sudahlah, jangan terlalu dibesar-besarkan."
Sinta mengusap dadanya. "Firasat seorang ibu tidak pernah salah, Pa. Mama yakin terjadi sesuatu dengan Arshad."
Faishal menggelengkan kepalanya. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh Ma. Karena itu bisa saja terjadi nantinya."
"Oma, bagaimana kalau kita susul papa di desa? Aku juga belum pernah ke desa kan?"
Naura menatap kakek dan neneknya meminta persetujuan.
"Hmm, idemu boleh juga sayang. Opa, boleh kan kalau aku dan Naura mengunjungi Arshad?" Kini berganti Sinta yang memohon pada Faishal.
Pria itu hanya menghela napas melihat kelakuan nenek dan cucu itu.
"Ya ya, baiklah. Kalian boleh pergi kesana. Tapi kalian jangan menyusahkan Arshad. Dia disana itu sedang melakukan misi mulia."
Sinta dan Naura mengangguk mantap dengan senyum sumringah.
#
#
#
Hari itu Sinta dan Naura pergi ke Kota S melalui jalur darat. Cukup melelahkan tapi mereka menyukai perjalanan mereka.
Saat memasuki kawasan pedesaan, Naura takjub dengan suasana dan pemandangan di sekitar kanan dan kirinya.
"Wah, disini masih sejuk dan asri ya, Oma. Aku pasti bakal betah tinggal disini. Apalagi papa," celoteh Naura yang diiringi tawa.
"Lihatlah, sayang. Para gadis-gadis desanya juga cantik-cantik ya. Pantas saja papamu betah tinggal disini. Dia sampai melupakan kita."
Naura mengangguk setuju. "Jangan-jangan papa sudah kecantol gadis desa, Oma!"
"Apa?!" Sinta tampak berpikir sejenak. "Apa kamu berpikir begitu, sayang?"
"Iya, Oma. Kasihan papa sejak dulu terus sendiri. Sudah saatnya papa memiliki seorang istri, Oma."
Sinta merasa terharu dengan kalimat Naura. Rasanya cucunya itu terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"Kita doakan yang terbaik untuk papa Arshad ya!"
"Iya, Oma!"
#
#
#
Akhirnya Naura dan Sinta tiba juga di desa C. Hawa dingin mulai membelai kulit mereka karena desa ini memang terletak di lereng gunung.
"Oma, ini rumah Papa?" tanya Naura sambil menunjuk rumah minimalis yang hanya ada satu disana.
"Iya, sayang. Ini rumah papamu. Sama persis dengan yang ada di foto yang papamu kirim."
"Kok sepi ya? Apa papamu belum pulang?" Sinta tak yakin jika Arshad ada dirumah.
"Coba ketuk pintunya, Oma."
Baru saja Sinta akan mengetuk pintu rumah Arshad, tiba-tiba dari arah dalam pintu terbuka dan menampakkan sosok yang asing di mata Naura dan Sinta.
"Eh? Ada tamu? Ibu dan adek nyari Pak Dokter ya?" tanya Amanda sopan.
Sinta menelisik penampilan Amanda yang terlihat sederhana. Sinta memposisikan dirinya menyamai tinggi badan Naura.
"Ternyata benar jika papamu kepincut gadis desa," bisik Sinta.
"Maaf, kalian siapa ya? Apa kalian tamunya pak dokter?" ulang Amanda.
"Ah, hehehe. Iya benar. Kami adalah tamunya dokter Arshad. Apa dia ada?" Sinta berusaha bersikap senormal mungkin di depan Amanda.
"Mohon maaf, Pak Dokter belum pulang, Nyonya, Adek. Mungkin sebentar lagi, soalnya biasa jam seginian beliau pulang. Silakan tunggu di dalam saja, Nyonya."
Amanda dengan ramah mempersilakan Sinta dan Naura untuk masuk.
"Silakan duduk!"
Sinta dan Naura mengangguk lalu mendaratkan bokongnya di sofa empuk milik Arshad.
"Saya buatkan minum dulu ya, Nyonya!"
"Tidak perlu! Kamu duduklah disini!" Sinta menyuruh Amanda untuk ikut duduk dengan mereka.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Amanda was-was.
"Kamu ini sangat ramah terhadap orang asing, apa kamu tahu siapa kami?" tanya Sinta.
Amanda mengulas senyum. "Saya hanya berusaha jadi baik saja, Nyonya. Meski saya tidak mengenal Nyonya dan adik, tapi saya yakin kalau kalian adalah orang yang baik."
Sinta suka dengan gaya bicara Amanda.
"Siapa namamu, Nak? Dan kenapa kamu bisa ada di rumah Arshad?"
"Umm, saya Amanda, Nyonya. Saya bekerja disini sebagai ART dokter Arshad.
Sinta dan Naura manggut-manggut. Tak pernah mereka duga jika pemilik rumah akhirnya datang.
" Lho?! Mama? Naura?" Arshad terkejut karena melihat kedua wanita berbeda generasi itu ada di rumahnya.
"Papa?!" Naura memekik kegirangan dan langsung berhambur memeluk Arshad.
"HAH?! Papa?!" Sontak saja Amanda terkejut mendengar panggilan yang disematkan Naura pada Arshad.
Arshad memeluk dan menggendong putri tunggalnya itu.
"Nah Manda. Kenalkan, ini adalah keluarga saya. Ini ibu saya, dan ini putri saya!"
Perkenalan singkat itu membuat Amanda masih terngiang dengan celotehan Naura yang menggemaskan.
"Aku tidak menyangka ternyata pak dokter itu seorang duda," gumam Amanda ketika dirinya berjalan pulang menuju rumahnya.