Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
52 - Kebenaran (1)



Dea masih syok setelah mendengar pengakuan Arshad yang secara terang-terangan mengakui jika Naura adalah putrinya. Dea yang sempat tertegun, akhirnya kembali ke alam sadarnya.


"Apa maksud dokter bicara begitu?" Dea langsung bertanya.


"Aku serius dengan ucapanku!" tegas Arshad.


Dea menatap kesungguhan di mata Arshad.


"Ikut denganku! Kita bicara diluar!" ajak Arshad. Dea pun setuju.


Arshad membawa Dea ke sebuah private room resto langganannya. Dead duduk berhadapan dengan Arshad.


"Mau minum apa?" tanya Arshad.


"Teh saja," jawab Dea singkat.


Arshad mengangguk dan memesan dua cangkir teh dan camilan. Ia ingin mengobrol santai dengan Dea.


"Sebaiknya cepat katakan apa yang dokter inginkan!" ucap Dea yang tak ingin berlama-lama dengan Arshad.


"Baiklah, jika itu maumu!"


Arshad membuka tasnya dan menyodorkan beberapa lembar kertas ke hadapan Dea. Pertama-tama ia menunjukkan foto Nola yang terekam kamera CCTV hotel. Di hotel itulah kisah cinta satu malam Arshad dan Nola terjadi.


"Sebelum aku melakukan program keliling daerah, aku mengikuti pelatihan terlebih dulu. Dan di hotel itulah aku menginap. Aku bertemu dengan Nola yang sepertinya salah memasuki kamar. Kondisinya sedang mabuk, jadi kurasa itu wajar."


Jantung Dea berdetak sangat cepat mendengar cerita Arshad.


"Aku tidak tahu jika dari hubungan satu malam itu, Nola ternyata hamil. Aku juga tidak tahu jika dia sudah menikah."


Dea menelan salivanya. "Tapi itu tidak membuktikan jika Naura adalah putrimu, Dokter!" seru Dea.


Arshad tersenyum tipis. "Kau benar! Aku tidak akan yakin jika saja Shady tidak melakukan tes DNA dengan Naura." Arshad kembali menyodorkan kertas yang berisi hasil pemeriksaan DNA Shady dan Naura beberapa waktu lalu.


Mata Dea membulat sempurna. Ia tak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.


"Dan yang ketiga!" Arshad melanjutkan. Ia menyerahkan sebuah kertas pada Dea.


"Kau adalah tersangka utama dalam kecelakaan yang menewaskan Nola. Tapi kau justru menikahi Shady yang istrinya telah kau bunuh. Apa kau pikir ini tidak aneh?"


Dea sontak berdiri dari duduknya. "Aku bukan pembunuh! Dan bukan aku yang mengendarai mobil itu!" seru Dea dengan napas tersengal. Ia tak terima dituduh begini oleh Arshad.


"Duduklah dulu, Dea. Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi 2 tahun lalu!"


Dea menggeleng. "Aku tidak tahu! Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di jok pengemudi. Padahal aku sama sekali tidak bisa menyetir mobil. Shezi! Dia yang menabrak mobil itu!" terang Dea dengan suara bergetar.


Baru saja Dea merasakan kebahagiaan bersama Shady untuk bisa menerima Naura, kini ia harus berhadapan dengan masalah di masa lalunya.


"Shezi Kalendra?" tanya Arshad.


Dea mengangguk. "Kumohon percayalah padaku, Dok! Aku tidak membunuh nyonya Nola!" tegas Dea dengan mata berkaca-kaca.


"Aku akan menyelidikinya, Dea. Sekarang tugasmu adalah katakan pada Shady jika aku akan datang berkunjung untuk membahas masalah Naura." Usai mengatakan maksudnya, Arshad meninggalkan Dea yang masih gemetar ketakutan.


...***...


Clara terdiam usai menangis sesenggukan selama beberapa saat. Ia memandangi foto pernikahan yang ada di tangannya.


Clara berpikir sejenak. Ia tak boleh lemah demi sang buah hati. Clara memutuskan untuk mengembalikan foto itu ke tempat semula. Namun sebelumnya, Clara memotret foto itu dengan ponselnya.


Kini Clara memiliki sebuah rencana. Clara meraih tas dan segera pergi dari apartemennya. Ia berencana menemui Diana, ibunda Rasya.


Tiba di rumah keluarga Kalendra, Clara disambut hangat oleh Diana. Tentu saja Diana sangat senang karena sebentar lagi ia akan memiliki cucu dari Clara.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Diana dengan ramah. Mereka kini duduk di sofa ruang tamu.


"Baik, Ma. Mama sendiri?"


"Mama juga baik. Bagaimana kabar kandunganmu?" Diana mengusap pelan perut Clara yang mulai membuncit.


Clara mengangguk setuju. Ia memang berencana tinggal di rumah mertuanya hingga malam nanti. Diana mengantar Clara ke kamar Rasya untuk beristirahat.


"Terima kasih, Ma." Clara mengulas senyum karena mendapatkan perhatian dari ibu mertuanya.


"Ma..." panggil Clara sebelum Diana melangkah pergi.


"Ada apa? Apa ada yang kamu butuhkan? Mama akan meminta bibi untuk membawakan makanan untukmu."


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mama." Clara meminta Diana untuk kembali duduk.


"Soal apa?" Diana menatap Clara lekat.


"Ini tentang kak Rasya," lirih Clara.


Diana mengerutkan keningnya.


"Apa kak Rasya pernah memiliki kekasih sebelum kami menikah?"


Pertanyaan Clara membuat Diana tersenyum. Wanita yang sedang hamil memang lebih sensitif dari biasanya. Makanya Diana berusaha maklum.


"Tentunya Rasya pernah dekat dengan beberapa gadis. Tapi, tidak ada yang serius dengan hubungan mereka."


Clara tak ingin berbasa basi lagi. Ia segera menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


"Siapa perempuan ini, Ma? Ini adalah foto pernikahan. Apa kak Rasya pernah menikah sebelum menikah denganku?"


Diana terhenyak dengan pertanyaan Clara. Tiba-tiba ia gugup harus menjawab apa pada Clara.


"Ah, foto ini?" Diana mencoba tertawa. Meski terdengar aneh di telinga Clara.


"Kamu tahu kan, Rasya memiliki banyak teman di dunia hiburan. Bahkan teman dekatnya juga seorang model. Ini ... Pasti foto yang sengaja dibuat saat pemotretan. Jangan dipikirkan." Diana mencoba menjawab dengan sangat tenang.


Namun Clara bisa menangkap ada yang tak beres dengan ibu mertuanya.


"Sekarang istirahatlah! Mama tinggal dulu ya!" Tak ingin mendapat banyak pertanyaan dari Clara, Diana memilih untuk segera pergi.


Diana segera masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ia memegangi dadanya yang berdegup.


"Astaga! Bagaimana Clara bisa mendapatkan foto itu? Apa mungkin Rasya yang memberitahunya?" gumam Diana. Sedetik kemudian Diana menggeleng.


"Tidak! Rasya tidak akan seceroboh itu menceritakan masa lalunya. Apa jangan-jangan gadis itu datang menemui Clara? Ini tidak bisa dibiarkan!"


Diana mulai mengingat kisah masa lalu putranya yang ia tutup rapat-rapat dari dunia luar. Bahkan Diana merahasiakannya dari sang suami.


Malam itu, hujan turun dengan cukup deras. Diana membuka pintu rumahnya tanpa menyuruh asisten rumah tangganya. Ia pikir itu adalah suaminya yang pulang kerja.


Diana terkejut melihat seorang perempuan dengan perut buncit dan seorang lelaki tua.


Siapa kalian?" tanya Diana heran.


"Apa benar ini rumah Rasya Kalendra?" tanya pria tua itu.


"Iya, benar. Ada perlu apa dengan anak saya?" tanya Diana lagi.


"Nyonya, saya Heri dan ini putri saya, namanya Mariana. Dia adalah istri dari putra Anda," jelas si pria tua.


"Apa katamu?!" Diana naik pitam. "Anakku masih 20 tahun dan dia tidak mungkin menikah! Apalagi dengan..." Diana melirik penampilan Ana yang lusuh.


"Rasya tidak akan tertarik dengan gadis desa sepertimu!" tegas Diana.


"Tapi saya adalah istrinya, Bu! Dan saat ini saya sedang mengandung anak kak Rasya!" Ana akhirnya ikut angkat bicara.


Diana menggeleng kuat. "Tidak! Pergi kalian dari sini! Kalian pasti hanya ingin memeras anak saya kan? Berapa uang yang kalian minta? Saya akan berikan!" seru Diana.


Karena tidak berhasil bertemu dengan Rasya, Ana dan Heri memilih pergi dari rumah besar itu. Dengan hati yang kecewa dan sakit, Ana memilih untuk membesarkan anaknya sendiri.


Diana memeluk tubuhnya sendiri ketika harus mengingat masa yang kelam itu. Bahkan ketika dirinya bertanya pada Rasya, putranya itu menjawab jika memang benar bahwa Rasya sudah menikah dengan gadis bernama Ana.