
Dea membuka matanya dan merasakan tubuhnya remuk redam usai semalaman di gempur oleh Shady. Dua hari sudah Dea berada di Maldive bersama dengan Shady.
Dea melirik Shady yang masih terlelap. Pastinya Shady juga sangat kelelahan karena pria itu sudah bekerja keras untuk menggapai surga dunia.
Dea berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, tapi rasa sakit di bagian intinya membuatnya harus bersusah payah untuk bangun.
Suara rintihan Dea membuat Shady terbangun. Ia melihat istri kecilnya kesusahan untuk bangkit dari tempat tidur.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Eh, Mas? Kamu sudah bangun?" Dea merasa risih dengan kondisinya yang masih polos sekarang. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kamu ingin ke kamar mandi?"
Dengan malu-malu Dea pun mengangguk.
"Kalau begitu biar aku bantu. Aku akan siapkan air hangat dulu untukmu mandi." Shady mengambil kimononya yang teronggok di kursi dekat tempat tidur. Ia menuju kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk sang istri.
Beberapa menit kemudian, Shady kembali menemui Dea dan menggendong tubuh mungil istrinya.
"Mas! Aku bisa berjalan sendiri! Turunkan aku!" seru Dea.
"Jangan cerewet! Aku yang sudah membuatmu jadi begini. Jadi aku akan bertanggung jawab!" Shady mengerlingkan sebelah matanya.
Dea hanya menunduk malu. Rasanya kegiatan semalam masih terngiang dalam ingatannya.
Lima belas menit berlalu, Dea keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah segar. Ia melihat Shady baru saja selesai memasak sarapan untuk mereka.
"Kamu memasak, Mas?"
"Iya. Kemarilah sayang! Kau makan dulu saja. Aku akan mandi sebentar."
Dea tersenyum merasakan kehangatan dari sikap Shady. Dea memutuskan untuk menunggu Shady selesai membersihkan diri.
...****************...
Kediaman keluarga Hutama,
Clara berkunjung ke rumah ibunya karena merindukan keponakannya. Nilam menyiapkan makan siang untuk Clara dan Naura.
Clara begitu bersemangat untuk melahap makanan yang disiapkan ibunya. Nilam tersenyum melihat tingkah putrinya yang banyak makan. Biasanya Clara sangat membatasi porsi makannya.
"Sepertinya Nona Clara sangat merindukan masakan Nyonya," ucap Rosi.
"Iya, Bi. Aku sangat kangen dengan masakan Ibu." Clara menjawab dengan mulut penuh makanan.
"Kalau melihat porsi makan Non Clara, jangan-jangan Nona sedang hamil," celetuk Rosi lagi.
"Hamil?" Nilam berbinar senang. Ia menatap sang putri.
"Nak, apa mungkin yang dikatakan Rosi itu benar? Apa kamu sudah memeriksakan dirimu?" tanya Nilam.
Clara menghentikan makannya. Ia berpikir sejenak. Dirinya memang belum kedatangan tamu bulanan setelah malam panasnya bersama Rasya waktu itu.
"Umm, aku tidak tahu, Bu. Aku sendiri tidak menghitung masa suburku."
"Kalau begitu coba kamu lakukan testpack. Siapa tahu kamu memang benar hamil, Nak."
Clara tersenyum getir. Ia sendiri tidak yakin jika memang dirinya hamil, Rasya akan menerima anak yang ada dalam kandungannya.
"Ante, Naula juga mau makan banyak sepelti Ante." Celotehan Naura membuyarkan lamunan Clara.
"Iya sayang. Kamu boleh makan apa saja selama papamu tidak ada, hehehe." Clara mengambil es krim dari dalam lemari es. Clara memakan es krim bersama Naura. Saat ini ia tidak akan memusingkan apakah dirinya hamil atau tidak. Yang jelas ia ingin menyenangkan diri dengan makan sepuasnya di rumah sang ibu.
...****************...
Kepulauan Maladewa,
Dea dan Shady memilih untuk berdiam diri di cottage yang Shady sewa. Kondisi Dea tidak memungkinkan untuk berjalan-jalan. Karena usai sarapan tadi, Shady kembali menggempur Dea. Sepertinya sudah terlalu lama sang duda tidak merasakan kenikmatan surgawi yang di berikan oleh seorang wanita. Hingga ia tidak rela jika harus meninggalkan Dea barang sebentar saja.
"Mas, aku merindukan Naura." Dea memandangi foto sang putri di ponselnya.
Dea menatap sang suami. "Kenapa kita harus bulan madu jauh-jauh ke Maldive sih? Yang dekat saja kan bisa. Kepulauan seribu, Bandung atau puncak."
Mendadak suasana menjadi tidak menyenangkan. Shady terdiam dan menjauh dari Dea.
Dea merasa ada yang salah dari kata-katanya terhadap Shady.
"Mas..."
"Ini adalah bulan madu pertamaku."
Dea terkesiap mendengar pengakuan Shady.
"Memangnya dulu Mas pergi kemana setelah menikah dengan nyonya Nola?"
Shady menggeleng. "Kami tidak pergi kemanapun. Karena Nola langsung disibukkan dengan jadwal pekerjaannya."
Dea memeluk Shady. Ia merasa bersalah pada sang suami.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu jika..."
"Sudahlah. Tidak apa." Shady mengurai pelukan Dea. Ia memegangi kedua tangan istrinya.
"Makanya aku sangat senang ketika kamu setuju untuk berbulan madu. Aku sangat menginginkan hal ini sejak lama. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan istriku."
Dea membalas dengan sebuah senyuman.
"Jika kamu khawatir dengan Naura, kamu bisa meneleponnya."
Dea menggeleng. "Aku yakin Ibu menjaga Naura dengan baik. Mungkin firasatku terlalu berlebihan, Mas."
"Wajar jika kamu merasa begitu. Kamu adalah ibunya Naura."
Hati Dea menghangat ketika mendengar kata 'ibu Naura' dari bibir Shady. Itu artinya Shady benar-benar sudah menerima Dea sebagai bagian dari keluarganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Keluarga Hutama,
"Permisi, Nyonya. Non Naura badannya demam," lapor pengasuh Naura.
Nilam saling pandang dengan Clara dan Nana. Pasalnya pagi tadi kondisi Naura baik-baik saja.
"Kalau begitu coba beri dia obat penurun panas. Aku akan menghubungi dokter keluarga." Nilam segera meraih ponselnya.
"Mbak, apa kita perlu mengabari mbak Dea dan mas Shady?" tanya Nana pada Clara.
"Sebaiknya jangan dulu. Mereka sedang berbulan madu. Aku takut nanti mengganggu acara mereka."
Nana mengangguk patuh. Ia memilih untuk melihat kondisi Naura di kamarnya.
"Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya Nana membelai puncak kepala Naura.
"Badanku tidak enak, Ante. Aku mau mama!" lirih Naura.
Nana mendadak galau karena Naura pastinya membutuhkan sosok Dea sekarang. Mata Nana membola ketika melihat tubuh Naura yang mulai dipenuhi bintik merah.
"Ibu! Mbak Clara!" teriak Nana memanggil kedua wanita itu.
"Ada apa, Nana?" tanya Nilam.
"Badan Naura dipenuhi bintik merah. Bagaimana ini?" tanya Nana panik.
Clara dan Nilam saling pandang.
"Kita bawa Naura ke rumah sakit sekarang!" putus Nilam.
#bersambung...