Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
48 - Titik Terang yang Masih Buram



Nilam menyiapkan makan siang istimewa untuk sang putri, Clara. Meski pikirannya sedang terbagi, sebisa mungkin ia tak ingin Clara mengetahui apa yang sedang dirasakannya.


Nilam melihat jika Clara makan dengan lahap. Memang sudah dari beberapa waktu lalu Nilam perhatikan jika pola makan Clara berubah.


"Sayang, pelan-pelan saja makannya. Ibu tidak akan minta kok!" ucap Nilam terkekeh kecil.


"Ibu! Aku hanya sangat menyukai masakan Ibu. Aku ingin memakannya tiap hari kalau bisa." Clara merengek.


Nilam mengulas senyumnya. "Apa ada yang terjadi?"


Sebagai seorang ibu tentu saja Nilam tahu apa yang sedang dirasakan oleh anaknya.


"Bu, aku hamil!" ucap Clara dengan mata berbinar.


"Hah?! Benarkah?" Nilam menutup mulutnya. "Syukurlah! Selamat ya sayang." Nilam memeluk Clara.


"Iya, Bu. Terima kasih."


Meski wajahnya menunjukkan sebuah senyum kebahagiaan, tapi dalam hati Nilam terus merasa cemas. Tapi sebisa mungkin Nilam mengukir senyum di depan Clara.


Usai makan siang, Nilam mengantar Clara ke apartemen Rasya. Sejak menikah, Clara memilih untuk tidak bekerja dan menjadi istri yang baik untuk Rasya.


Nilam sengaja mengajak Clara masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, kau harus banyak istirahat. Sekarang ayo tidur!" Nilam meminta Clara untuk merebahkan diri di tempat tidur.


"Bu, aku baik-baik saja." Clara menatap Nilam dan memegangi kedua tangan ibunya.


"Apa Nak Rasya memperlakukanmu dengan baik?" tanya Nilam.


"Ibu! Tentu saja!" Clara merasa harus merahasiakan kesakitannya dari sang ibu.


Nilam mengusap puncak kepala putrinya. Clara yang dulu manja kini sudah banyak berubah.


"Baiklah! Sekarang tidurlah! Kau pasti lelah kan?" bujuk Nilam. Sebenarnya ia punya maksud tersembunyi dengan menyuruh Clara untuk tidur.


"Terima kasih, Bu. Iya, aku cukup lelah. Aku akan rebahan sebentar."


Nilam mengangguk. Kemudian ia mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan sampel DNA.


"Aku harus cepat!" batin Nilam.


Mata Nilam mengarah pada kamar mandi. Ia melirik Clara sekilas yang sudah memejamkan mata. Nilam segera menuju ke kamar mandi.


Nilam mencari sikat gigi milik Rasya. Ia paham betul sifat Clara. Putrinya itu selalu tertib memilah barang.


"Ini pasti milik Rasya!" Nilam mengambil sikat gigi berwarna biru. Ia yakin itu milik Rasya karena sikat gigi lain berwarna merah muda. Dan itu pasti milik Clara.


Usai mendapatkan apa yang dicarinya, Nilam keluar dari apartemen Rasya dengan meninggalkan secarik kertas pesan untuk Clara.


Nilam segera menuju ke rumah sakit dengan perasaan yang cemas tidak menentu. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika firasatnya benar tentang Rasya.


"Hasilnya akan keluar besok, Nyonya. Kami akan menghubungi Nyonya jika hasilnya sudah keluar," ucap petugas medis yang di temui Nilam.


"Baik. Terima kasih, Dokter."


Nilam segera pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumah. Ia merasa harus menyembunyikan ini dari Shady dan Dea hingga semuanya jelas.


...***...


Sesuai dengan perintah ayahnya, Shezi pergi ke sebuah resto yang sudah disiapkan oleh keluarga Huda. Malam ini Shezi dan Arshad akan makan malam bersama.


Namun hingga setengah jam menunggu, Shezi tak juga mendapati sosok Arshad datang menemuinya. Shezi bahkan sudah menghabiskan satu gelas air putih untuk menemani kesendiriannya.


Shezi menggerakkan kakinya kesal. Ingin sekali ia pergi dari sana. Namun orang kepercayaan ayahnya selalu mengawasi pergerakannya.


"Maaf, aku terlambat." Sebuah suara dari sosok yang ditunggu Shezi.


Arshad langsung memposisikan diri duduk di depan Shezi. "Apa kau sudah menunggu lama?" tanyanya berbasa-basi.


Shezi memutar bola mata malas. "Tidak apa, Dokter. Aku tahu pekerjaanmu memang tidak mengenal waktu."


Arshad tersenyum kecut. Ia tahu jika Shezi marah.


"Oke! Kita langsung makan saja ya!" Arshad yang sudah lapar tak ingin berdebat lagi dengan Shezi.


Mereka berdua makan dalam diam. Shezi tak berniat ingin membuka obrolan, begitu pula dengan Arshad. Hingga akhirnya satu jam berlalu begitu saja.


"Lain kali jangan membuat sebuah janji jika kau tidak bisa menepatinya," ketus Shezi.


Arshad menatap bingung. "Aku tidak membuat janji. Ayahku yang melakukannya."


Arshad menggeleng pelan. Ia tahu tidak akan mudah untuk membujuk ayahnya.


"Kau tidak mau? Apa kau benar-benar ingin kita menikah?" geram Shezi.


"Kau tidak mengenal ayahku, Shezi. Semuanya tidak semudah yang kau pikir."


Shezi berpikir keras. Ia juga tidak mau buru-buru menikah apalagi dengan pria yang tidak dicintainya.


"Baiklah. Waktu itu kita sudah sepakat untuk membuat sebuah perjanjian. Maka, aku akan memperjelasnya. Kita lakukan pernikahan kontrak saja."


Arshad menimang sejenak. "Oke, aku setuju denganmu."


"Apa kau tidak memiliki kekasih?" tanya Shezi yang membuat Arshad bungkam.


Malam itu, Arshad berkendara sendiri usai makan malam dengan Shezi. Pikiran Arshad berkelana entah kemana.


Sejak kembali ke kota ini, ingatannya terus tertuju kepada seorang gadis di masa lalunya.


"Dimana kau, Nola? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu?" Arshad memijat pelipisnya pelan.


Hingga mobilnya tiba di halaman depan rumah keluarga Huda yang megah itu. Arshad turun dari mobil dan bertemu dengan Saif, pamannya yang sedang menunggunya.


"Om? Apa yang Om lakukan disini? Kenapa tidak masuk?" tanya Arshad.


Saif segera menarik tangan Arshad untuk kembali masuk ke dalam mobil. Saif memberi kode untuk tidak bersuara.


"Ada apa, Om?" tanya Arshad yang sudah berada di dalam mobil bersama Saif.


"Jalankan mobilnya! Ada yang harus kubicarakan denganmu!" ucap Saif.


Arshad melajukan mobil hingga menuju ke sebuah taman yang pastinya sudah sepi.


"Arshad, aku menemukan jejak dari gadis yang kau cari."


Kalimat Saif membuat mata Arshad membola.


"Katakan, Om!"


Saif memberikan sebuah amplop kepada Arshad.


"Bukalah dan kau baca sendiri. Aku tahu ini tidak mudah, sebaiknya kau cari tahu sendiri setelah ini."


Usai memberikan amplop pada Arshad, Saif segera berlalu. Arshad memandangi amplop coklat pemberian Saif.


...***...


Keesokan harinya, Arshad mendatangi sebuah tempat yang disebutkan dalam amplop yang diberikan Saif. Arshad memandangi tempat itu.


Bangunan tua yang sudah direnovasi itu membuat wajah Arshad menatap sendu. Di depan bangunan terdapat papan besar yang bertuliskan 'Panti Asuhan Kasih Bunda'.


Arshad melangkah memasuki halaman panti yang cukup luas itu.


"Permisi, ada yang bisa dibantu, Tuan?" Seorang wanita paruh baya menyapa Arshad.


Di sisi lain, Sinta menemui Saif untuk mengetahui kabar terbaru dari gadis yang sedang dicari putranya. Saif tidak bisa menolak keinginan sang kakak ipar.


"Umm, semalam aku baru saja memberikan informasi pada Arshad. Aku memintanya untuk mengecek sendiri kebenaran tentang gadis itu."


Sinta menatap penuh selidik. "Katakan padaku!"


"Gadis itu..." Saif bingung harus bicara apa.


"Ayo katakan!" desak Sinta.


"Gadis itu sudah meninggal, Kak."


Sinta menutup mulutnya tak percaya. "Kau yakin?"


Saif mengangguk mantap. Tubuh Sinta limbung dan terduduk lemas di kursi.


Di tempat berbeda, Nilam sudah menerima hasil tes DNA terhadap Naura. Jantungnya berpacu lebih cepat ketika perlahan ia mulai membuka amplop yang ada di tangannya.


Nilam memejamkan mata sejenak. Ia berusaha tenang untuk menerima takdir yang terjadi.


Selembar kertas yang ada di tangannya membuat Nilam menutup mulutnya tak percaya. Tangannya gemetar setelah membaca hasil tes DNA itu.


"Naura bukanlah anak Rasya!" serunya dalam hati.