
Malam ini Sinta mengajak Arshad untuk bicara setelah Naura tertidur. Arshad sebenarnya masih kaget karena ibu dan putrinya datang berkunjung tanpa pemberitahuan.
"Kalau mama kasih tahu dulu, itu namanya bukan kejutan dong, Ar. Lagian kamu betah amat tinggal di desa begini. Jangan-jangan... Karena ART kamu yang cantik itu ya?" Sinta mulai menggoda Arshad.
"Apaan sih mama? Gak jelas! Amanda itu kerja disini karena ingin balas budi. Aku udah nolong dia dan bapaknya dari rentenir jahat di desa ini."
Sinta mulai tertarik dengan kisah Amanda. "Oh ya? Memang mereka punya masalah sama rentenir? Mereka berhutang?"
"Iya, singkatnya begitu. Dan ketika ditagih, bunga pinjamannya sudah membengkak."
"Trus kamu bantu dia?"
"Iya, aku bayar semua hutangnya."
Sinta melongo mendengar cerita Arshad.
"Sejak kapan kamu peduli sama perempuan, Ar?"
"Ma, aku bukan peduli pada Amanda. Mama jangan salah paham deh! Aku hanya menolong karena perikemanusiaan. Itu aja kok!"
Sinta geli menahan tawanya. Putranya ini memang sangat kaku terhadap wanita. Tidak pernah ada yang mengisi hatinya sejak memilih mengasuh Naura sendiri.
"Ar, kamu tahu gak sih? Naura itu kelihatannya selalu ceria dan tertawa. Tapi... Apa kamu tahu, dia juga memendam perasaannya sendiri."
"Kok jadi bahas Naura?" Arshad masih tak mengerti dengan maksud ibunya.
"Naura butuh sosok seorang ibu, Ar. Dia selalu murung kalau melihat teman-teman sekolahnya diantar jempu orang tuanya ke sekolah. Naura hanya memiliki kamu saja." Sinta menunjukkan raut kesedihan. Ia ingin menguji Arshad, apakah pria itu masih punya rasa terhadap wanita atau tidak.
"Maksud mama apa sih? Kita kan udah sepakat gak bahas masalah ini. Aku baik-baik aja kok mengasuh Naura sendirian. Kalau mama keberatan buat ngasuh Naura, aku akan sewa pengasuh untuknya."
Sinta kesal lalu memukul lengan Arshad. "Kamu ini! Dikasih tahu malah bercanda. Mama serius, Ar! Menikahlah, Nak! Sampai kapan kamu mau jadi orang tua tunggal tanpa menikah?" geram Sinta.
"Sampai aku menemukan sosok yang tepat untuk pengganti Nola."
Arshad menatap Sinta, memintanya untuk berhenti.
"Saat ini fokusku cuma tentang pembangunan klinik aja, Ma. Belum yang lain. Oke?"
Sinta mengangguk lalu melenggang pergi masuk ke kamar yang didalamnya ada Naura.
...***...
Pagi-pagi sekali Amanda sudah tiba di rumah Arshad. Seakan lupa dengan kondisi yang ada, Amanda terkejut karena yang membuka pintu adalah Sinta.
"Lho?! Kamu sudah datang? Cepat sekali datangnya!" Sinta masih melongo ketika Amanda memasuki rumah.
"Wah, benar-benar menantu idaman." Sinta mengekori langkah Amanda menuju dapur.
"Kamu mau apa?" tanya Sinta.
"Saya mau masak, Nyonya. Pak Dokter terbiasa sarapan dulu sebelum berangkat." Sinta manggut-manggut mendengar jawaban Amanda.
Sinta memperhatikan Amanda yang dengan lincah memasak sarapan untuk putranya.
"Ah, dia adalah wanita yang tepat untuk Arshad. Tapi... Bagaimana caranya membuat Arshad dekat dengannya? Sementara Arshad selalu menolak untuk menikah." Pikiran Sinta melayang-layang memikirkan cara yang bisa ia lakukan untuk menjodohkan Arshad dengan Amanda.
"Nak, berapa usiamu? Sepertinya kamu sudah terbiasa memasak." Sinta mengusap lembut lengan Amanda.
"Saya 20 tahun, Nyonya. Iya, saya sudah terbiasa melakukan ini, Nyonya."
"Jangan memanggilku Nyonya, panggil saja Ibu atau... Mama..."
"Mama!" Arshad tiba-tiba datang menghampiri dengan tatapan tak bersahabat pada Sinta.