
Suasana pagi di keluarga Hooda diawali dengan sarapan bersama seluruh anggota keluarga. Biasanya terjadi obrolan ringan juga disana.
Namun pagi ini, belum ada yang mau berceloteh lebih dulu kecuali Naura. Gadis kecil itu kini telah berusia 6 tahun.
Sejak Dea dan Shady memiliki anak sendiri, Naura memilih tinggal bersama dengan ayah biologisnya yaitu Arshad. Meski Dea dan Shady tidak keberatan tetap mengasuh Naura, dan hak asuh juga masih di tangan mereka, tapi keinginan Naura untuk tinggal di rumah ayah kandungnya tidak dapat Dea tolak.
Apalagi Sinta dan Faishal begitu menyayangi Naura dan memanjakannya. Begitu juga dengan Arshad yang rela mengurus Naura sendiri tanpa bantuan pengasuh. Menurutnya Naura adalah anak yang penurut dan tidak banyak menuntut.
"Arshad, apa kamu sudah yakin untuk membangun klinik di kota S?"
Akhirnya Faishal membuka perbincangan.
"Iya, Pa. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Mungkin tiga hari lagi aku pindah kesana." Arshad menjawab santai sambil menyantap sarapannya.
Sinta terlihat sedih dengan keputusan Arshad.
"Kalau kamu pergi, bagaimana dengan Naura?"
Bocah kecil itu paham jika papanya sedang membicarakan dirinya.
"Aku sudah bicara dengan Dea dan Shady. Mereka tidak keberatan kok untuk merawat Naura jika mama kerepotan."
"Ck, kamu ini! Naura kan cucu mama, Ar. Jadi mana mungkin mama kerepotan."
"Oke, itu artinya aku bisa pindah dengan tenang."
"Papa mau kemana?" Giliran Naura yang bertanya.
Arshad menyelesaikan sarapannya dan menatap Naura.
"Naura sayang, Papa mau melakukan tugas mulia. Papa mau bantu orang-orang susah disana. Naura disini yang nurut ya sama Oma dan Opa." Arshad memberi pengertian pada Naura dengan kalimat yang lembut.
Naura mengangguk. "Terus kalau Naura kangen papa gimana?"
"Hmm, Naura bisa telepon Papa atau video call papa. Ya?"
Naura kembali mengangguk. Arshad mencium Naura dengan gemas.
"Papa pasti bakal merindukan Naura." Arshad memeluk Naura dengan erat. Baginya, Naura adalah segalanya. Egonya menurun ketika melihat Naura yang begitu mirip dengan mendiang ibunya.
#
#
#
Arshad memberikan surat pengunduran dirinya ke direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Ia tidak mungkin bekerja di dua tempat seperti ini.
Abraham hanya menghela napas. Bagi rumah sakit miliknya, Arshad adalah dokter yang berbakat. Dan dia juga disukai oleh pasiennya.
"Saya tahu sejak dulu kamu selalu melakukan misi mulia kemanusiaan, yah apa boleh buat. Saya tidak bisa menahan kamu untuk tidak pergi. Tapi, ada satu orang yang akan sedih jika kamu pergi."
Arshad tahu maksud Abraham. Putri Abraham yang bernama Mirna, menyukai Arshad sejak lama. Tapi Arshad tak pernah menanggapi perasaan Mirna.
"Berpamitanlah dulu dengan Mirna. Dia pasti sedih kehilangan rekan kerja sepertimu."
Arshad mengangguk. Kemudian ia undur diri dari ruangan Abraham.
Arshad berjalan menuju ruang kerjanya. Ruang kerjanya yang dipenuhi ornamen anak-anak membuatnya sedikit tak rela meninggalkan tempat itu.
Tak lama pintu ruangannya diketuk, dan muncullah Mirna dari balik pintu.
"Mas Arshad!" panggil Mirna dan langsung memeluk Arshad.
"Apa benar kamu akan pindah ke Kota S? Kok secepat ini, Mas?" Mirna terisak dalam pelukan Arshad.
"Mirna, tolong jangan seperti ini. Tidak enak kalau ada yang melihat."
Mirna menggeleng. "Aku sedih, Mas. Bagaimana bisa kamu ninggalin aku begini?"
Mirna mengurai pelukannya. "Baiklah, aku mengerti. Tapi, kamu akan kembali kemari kan setelah misi selesai?"
Arshad mengedikkan bahunya. "Entahlah. Jika disana masih membutuhkanku, yaa apa boleh buat."
Mirna menekuk wajahnya. Mas duda yang satu ini sudah mengoyak hatinya seperti ini. Mirna tidak ingin menyerah begitu saja.
"Nanti malam datanglah ke resto X, aku mengadakan pesta perpisahan untukmu. Awas saja kalau tidak datang!" ancam Mirna.
Arshad tersenyum. "Ya baiklah."
Arshad menggaruk tengkuknya ketika suster Ani memasuki ruangannya.
"Semoga sukses selalu dengan misi mulianya ya, Dok. Kami semua pasti akan kehilangan dokter. Tapi, misi mulia ini juga penting untuk dokter. Jadi, kami hanya bisa berdoa yang terbaik untuk dokter."
"Terima kasih, Suster Ani."
#
#
#
Hari keberangkatan Arshad akhirnya tiba. Sinta menangis haru karena akan kehilangan putranya lagi.
"Ma, sudah dong. Jangan menangis terus. Putra kita tidak pergi berperang kok. Dia hanya ingin membantu orang lain dengan kemampuannya." Faishal mengusap punggung istrinya.
"Iya, Pa. Tapi rasanya mama masih tidak rela Arshad pergi. Sejak dulu dia selalu begini."
Faishal tertawa. "Itu artinya putra kita adalah orang yang berjiwa baik, Ma. Dia rela membantu orang lain tanpa pamrih."
Sementara Sinta masih terisak menangis, Arshad justru sedang mengobrol dengan Dea dan Shady juga Naura. Arshad meminta tolong Dea dan Shady untuk mengasuh Naura.
"Mas dokter tenang saja. Kami pasti akan menjaga Naura dengan baik," ucap Dea dengan mengulas senyumnya.
"Aku bisa tenang jika kalian yang mengasuh Naura. Kalau begitu aku harus pergi sekarang. Timku sudah menunggu."
Dea dan Shady mengangguk. Dea bersyukur karena hubungannya dengan Arshad sudah membaik.
Arshad melakukan perjalanan melalui jalur darat. Karena memang jarak ke kota S sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja desa yang akan ia datangi memang cukup terpencil dan berada di lereng gunung. Arshad dan timnya harus menggunakan mobil besar sejenis jeep yang bisa tahan dengan jalur ekstrem yang nanti mereka lalui.
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, Arshad dan timnya tiba di sebuah desa yang cukup asri dan sejuk. Udara disana masih sangat sejuk karena pastinya jarang ada polusi yang masuk kesana.
Tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Arshad mengedarkan pandangan dan menatap pemandangan di sekelilingnya.
"Sepertinya aku akan suka tinggal disini."
"Pak Dokter, mari saya antar ke rumah Anda." Seorang kepala Desa bernama Kardi menyapa Arshad.
Usai dilakukan penyambutan untuk Arshad dan timnya, Arshad diantar ke sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya. Arshad sengaja menyewa satu rumah untuk ia tempati. Tak lupa ia juga meminta kepada mandor proyek untuk merenovasi rumah tersebut sebelum ditempati.
Arshad tetap ingin merasa nyaman dengan tempat tinggalnya nanti.
"Silakan, Pak Dokter. Ini rumah Anda. Sudah selesai di renovasi dan di cat ulang."
"Wah, bagus sekali Pak Lurah. Kalau begini saya lebih baik membelinya saja dari Pak Lurah."
"Hahahah, tidak perlu. Saya senang melakukan ini untuk Pak Dokter."
"Sekali lagi terima kasih, Pak."
Arshad memasuki rumah yang masih berbau cat itu. Arshad menyukai rumah minimalis yang tentunya tidak terlalu luas itu.
Tim Arshad yang terdiri dari mandor dan anak buahnya, tinggal di rumah yang berbeda dengan Arshad.
Arshad segera menghubungi Sinta dan Naura untuk mengabari jika dirinya sudah tiba di desa C ini. Lagi lagi Arshad melihat Sinta yang menangis karena harus ditinggal olehnya. Sangat berbeda dengan Naura yang terlihat antusias dengan cerita sang papa.