
Hari persidangan pun akhirnya tiba. Baik Dea maupun Shady sudah menyiapkan hati mereka jika saja terjafi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Pertemuan dua orang ini dengan Naura terjadi dengan cukup dramatis dan mengharukan.
Betapa Dea sangat merindukan putri kecilnya. Dea juga bertanya-tanya kenapa Naura tidak kembali setelah menginap beberapa hari di rumah Arshad. Apakah Naura sangat menyukai keluarga barunya?
Dea dan Nilam sempat merasakan kesedihan karena hal itu. Arshad mengklaim jika ia memberikan kebebasan penuh pada Naura untuk memilih rumah mana yang akan menjadi tempat tinggalnya.
Persidangan pun di mulai. Tampak Sinta dan Faishal Huda juga ikut menghadiri jalannya sidang. Sinta sangat berharap jika putranya akan mendapatkan hak asuh atas Naura.
Keputusan sidang berjalan dengan alot. Karena masing-masing pihak memiliki argumennya sendiri. Arshad yang berstatus ayah kandung memang unggul. Karena bagaimana pun juga Naura lahir dengan situasi yang cukup membingungkan.
Dikatakan Nola selingkuh pun tidak. Itu hanya kesalahan satu malam yang memang bisa dibuktikan. Arshad tidak pernah lagi bertemu dengan Nola setelah kejadian itu.
Namun pihak Shady juga cukup kuat. Selama ini Naura mengenal Shady dan Dea sebagai orang tua kandungnya. Jadi, Shady memohon pada majelis hakim untuk menjadikannya wali Naura hingga ia dewasa dan bisa menentukan kehidupannya sendiri.
Para hakim berdiskusi cukup ketat. Kenyataan bahwa Arshad belum menikah pastinya akan menyulitkan dalam mengasuh Naura. Anak seusia Naura butuh kasih sayang dari kedua orang tua lengkap.
Setelah hakim berdiskusi, akhirnya hakim memutuskan untuk mengambil langkah tengah. Yaitu keinginan Naura sendiri sebagai anak yang diperebutkan.
Dengan didampingi oleh seorang psikolog anak, Naura di beri arahan yang mudah dimengerti untuk anak seusianya.
"Naura sayang, Ibu Hakim yang ada disana, bertanya pada Naura. Naura ingin tinggal di rumah siapa? Papa Arshad atau papa Shady? Naura sekarang pilih." Kalimat sang psikolog membuat Naura sedikit bingung.
Naura menatap Shady dan Dea bergantian dengan Arshad. Sang psikolog meyakinkan Naura untuk tidak perlu takut dalam mengambil keinginan hatinya.
"Naula sayang semuanya!" Seru Naura dengan suara menggemaskannya.
"Naula sayang papa Shady. Naula juga sayang papa doktel."
Sontak semua orang yang tadinya tegang kini menjadi riuh dengan gelak tawa. Ternyata Naura tidak bisa memutuskan.
Hingga akhirnya, pengadilan memutuskan untuk memberikan hak asuh Naura pada keluarga Shady dan Dea. Mengingat Naura akan memiliki keluarga yang lengkap jika bersama mereka.
Namun pengadilan juga memberi hak kepada Arshad untuk menemui Naura kapanpun dirinya mau. Arshad tidak boleh dihalangi oleh Shady maupun Dea. Semua orang akhirnya sepakat.
Arshad yang tadinya menggebu ingin merebut Naura, kini mulai luluh karena sikap gadis kecil itu yang terlihat sangat menyayangi Shady dan Dea. Ia tidak bisa menampik karena Naura sudah bersama mereka sejak lahir.
Satu-satunya orang yang kecewa hanyalah Sinta. Ia gagal untuk menjadi nenek bagi Naura. Tapi Arshad membesarkan hatinya. Mereka masih bisa bertemu dengan Naura saat Arshad libur kerja atau hari libur. Arshad janji akan membawa Naura ke rumah saat akhir pekan.
Arshad menatap penuh haru pada keluarga kecil Shady yang kini sedang berpelukan. Arshad beruntung karena putrinya begitu di sayangi keluarga itu. Setidaknya ia bisa tenang karena sudah menepati janji yang ia buat pada Nola.
...***...
Tiga tahun kemudian,
Dea dan Shady sepakat untuk memberitahu Naura jika ia bukanlah anak kandung mereka. Mereka sengaja melakukan itu di saat usia Naura masih kecil, agar saat dewasa Naura tidak kecewa dengan kenyataan yang ada.
Kini mereka sedang mengunjungi makam Nola. Dea memperkenalkan Nola pada Naura.
Bocah lima tahun itu mulai paham apa yang dibicarakan oleh orang tuanya. Dea juga menjelaskan jika Arshad adalah ayah kandung Naura.
Meski di usianya masih belum memahami kata-kata Dea, tapi Dea percaya jika mereka terus melakukan hal itu, maka lama kelamaan Naura pasti akan mengerti.
Kini setelah usia Naura mulai memasuki lima tahun, Dea dan Shady juga mulai program kehamilan untuk memberi adik pada Naura. Hingga akhirnya, kini Dea mulai mengalami gejala-gejala yang dirasakan oleh ibu hamil.
Dea merasakan morning sickness dan juga apa disebut 'ngidam'. Dengan telaten Shady menuruti semua ngidam Dea. Kini Shady dan Dea menjadi keluarga kecil yang bahagia bersama Naura dan anak yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Sementara itu, Clara menjalani hari-harinya selama tiga tahun ini dengan berat. Clara memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga Rasya setelah melahirkan putra pertamanya.
Clara mulai menerima takdir yang sudah digariskan padanya. Bersama dengan Diana, Clara dibantu untuk merawat si kecil yang diberi nama Varo.
Clara juga sudah menerima Vano sebagai anak sambungnya. Bocah lelaki itu sudah mengerti akan kondisi yang terjadi di keluarganya. Bahkan Vano tahu jika sang ayah kini sedang menebus kesalahannya dari balik jeruji besi.
Clara sesekali mengunjungi Rasya dengan membawa kedua putranya. Rasya sangat menyesali semua perbuatannya pada Clara. Rasya juga sangat mencintai Clara meski sebelumnya ia sangat membencinya.
"Tebuslah kesalahanmu, Kak. Lalu setelah itu kembalilah kepada kami. Aku dan anak-anak akan menerimamu begitu kamu keluar dari sini."
Kata-kata Clara membuat Rasya terharu dan menangis sesenggukan.
Di tempat berbeda, Shezi sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Sejak meringkuk di tahanan, jiwa Shezi jadi tergoncang. Setiap hari hanya bisa berteriak dan mengutuki semua orang terutama Dea. Hingga akhirnya, keluarga memutuskan untuk memindahkan Shezi. Kini Shezi ditempatkan di ruang isolasi karena sering mengamuk.
Tidak jauh berbeda dengan Shezi. Vanessa juga menjadi depresi karena balas dendamnya tidak berhasil. Setelah tiga tahun berada di rumah sakit jiwa, Vanessa memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Ia tidak tahan karena tidak memiliki siapapun dalam hidupnya. Miris memang. Tapi itulah kehidupan.
...***...
Sejak pagi Dea merasakan mules terjadi di perutnya. Dea mengira jika dirinya akan melahirkan.
Dengan sigap Shady membawa Dea ke rumah sakit. Dan benar saja, tiba di rumah sakit Dea sudah mengalami pembukaan lima.
Langsung para dokter mengambil tindakan. Dea akan melahirkan secara normal.
Dengan harap-harap cemas, Shady, Nilam dan keluarga Dea menunggu di depan ruang bersalin. Hingga terdengar suara bayi menangis, semua orang berseru lega dan bahagia.
"Selamat, Pak. Bayinya perempuan," Ucap seorang perawat yang mendatangi Shady.
Naura yang kini memiliki adik perempuan bersorak gembira. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adik bayinya.
Beberapa jam setelahnya, kondisi Dea berangsur pulih. Kini ia sedang mendekap bayi mungilnya dalam gendongan.
Shady berulang kali mengucap rasa terima kasih pada Dea. Karena telah melahirkan putri yang cantik untuknya.
"Sayang, kau ingin memberi nama siapa pada putri kecil kita?" Tanya Shady.
Dea tersenyum. "Aku sudah memikirkannya sejak lama, Mas. Aku ingin memberi nama putri kita dengan nama mendiang ibu kandung Naura. Nola! Aku ingin memberinya nama itu. Bagaimana, Mas? Apa kamu setuju?"
Awalnya Shady agak syok mendengar nama Nola. Tapi karena itu adalah keputusan Dea, maka Shady menghargainya. Shady menganggukkan kepala tanda setuju.
"Nola! Namamu adalah Nola. Kau akan menjadi putri yang membanggakan kami, Nak!" Dea menciumi wajah mungil putrinya.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih karena sudah memberikan cintamu padaku, Mas Duda..."
...T A M A T...