
Sesuai dengan janji yang ia buat pada Dea, Arshad datang kembali ke rumah keluarga Hutama. Arshad ingin bicara empat mata dengan Shady.
Dea sudah mengatakan pada Shady mengenai pernyataan Arshad yang mengaku sebagai ayah kandung Naura. Permintaan Arshad untuk bicara empat mata, ternyata ditolak oleh Shady.
"Jika kau ingin bicara, maka Dea dan ibuku juga harus mendengarnya. Mereka adalah keluargaku. Dan aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari keluargaku."
Arshad tersenyum getir. Ia tak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.
"Baiklah. Kita bicara dimana?" tanya Arshad.
"Ke ruang kerjaku saja!" ucap Shady kemudian beranjak dari ruang tamu.
Suasana mendadak mencekam karena pembicaraan yang akan diungkapkan Arshad. Baik Dea maupun Shady tidak akan rela jika Arshad ingin mengambil Naura dari hidup mereka.
Kini mereka berempat sudah duduk di sofa ruang kerja Shady. Arshad memulai percakapan. Ia membuka bukti-bukti yang sudah ditemukannya.
"Maaf jika apa yang kulakukan membuatmu kecewa, Shady. Tapi sungguh, saat itu aku benar-benar tidak tahu jika Nola sudah bersuami."
Shady terlihat membuang muka.
"Tapi, kurasa kau sudah lama melupakan Nola. Terbukti sekarang kau sudah hidup bahagia dengan Dea," lanjut Arshad.
"Lalu apa yang kau inginkan? Jika kau memang ayah kandung Naura, apa kau ingin mengambilnya dari kami?" tanya Shady yang sudah resah. Dea mengusap pelan lengan Shady. Sementara Nilam sedari tadi hanya diam dan tak bersuara.
"Ada masalah yang lebih penting dari itu, Shady. Mengenai kecelakaan Nola, bukankah Dea adalah..."
"Dokter!" protes Dea.
Arshad mengangkat tangan. "Oke! Tenang! Aku tidak ingin berdebat. Aku tanyakan padamu, Shady. Apa kau tidak ingin menangkap pelaku sebenarnya atas kecelakaan Nola? Meski kau membencinya, dia tetaplah ibu kandung Naura."
Kalimat Arshad membuat Shady bungkam. Saat itu Shady memang sangat bersemangat untuk mencari bukti keterlibatan Shezi dalam kecelakaan itu.
Namun Dea menghalangi dan tak ingin memperpanjang masalah itu. Toh bagi Dea yang terpenting adalah kepercayaan Shady dan keluarganya.
Shady menatap Dea. Shady berharap Dea bersedia menyetujui usulan Arshad.
"Jika kalian tidak bersedia bekerjasama, tidak apa. Aku bisa melakukannya sendiri."
Dea menautkan kedua tangannya. Meski Shezi sudah menyakiti hatinya, tapi ia tak memungkiri jika selama ini Shezi adalah teman yang baik. Ia selalu membantu Dea ketika dalam kesulitan.
"Kebenaran harus ditegakkan, Dea!" tegas Arshad.
Setelah berpikir sejenak, Dea pun menjawab.
"Baiklah. Silakan selidiki kasus ini dengan tuntas, dan pulihkan nama baikku."
Arshad tersenyum lega. Ia yakin jika Dea mudah untuk diajak kerjasama.
"Baiklah. Aku akan menghubungi kalian jika mendapat informasi. Oh ya, apa aku bisa bertemu dengan Naura?"
Dea menatap Nilam dan Shady meminta persetujuan.
"Naura sudah tidur, Dok!" ucap Dea.
"Aku tidak akan mengganggu tidurnya. Aku hanya ingin melihatnya saja. Aku janji!" ujar Arshad.
Dea mengantar Arshad ke kamar Naura. Arshad begitu terharu melihat putri kecilnya yang sedang terlelap.
"Putriku..." lirihnya.
Arshad mendekat dan mengusap puncak kepala Naura. Pemandangan haru itu tak luput dari penglihatan Dea dan Shady juga Nilam.
...***...
"Ada apa, Ma?" tanya Rasya.
"Kau masih ingat dengan Mariana? Gadis yang pernah mengaku sebagai istrimu." Diana berucap tanpa berbasa basi.
Rasya mengerutkan dahi. "Lalu? Ada apa dengan Mariana?"
Diana merasa geram dengan putranya yang tampak santai. Diana memukul lengan Rasya.
"Apa kau memberitahu Clara mengenai dia?"
Rasya menggeleng.
"Apa gadis itu menemui Clara?" tanya Diana.
"Ma, sebenarnya apa yang ingin mama bicarakan?" kesal Rasya.
"Sayang, kau tidak serius kan saat mengatakan kau menikahinya?"
Rasya mengusap wajahnya. Ia tidak ingin membahas masa lalu yang sudah ia lupakan.
"Saat itu aku masih 20 tahun, Ma. Aku menjalani program kuliah kerja nyata di sebuah desa terpencil di daerah Bandung."
"Iya, Mama ingat. Apa gadis itu berasal dari sana?" Diana mulai memasang mimik wajah serius.
"Disana adat istiadat masih dipegang teguh kala itu. Aku yang sedang ngobrol berdua dengan Ana dianggap melakukan hal tidak senonoh. Kami diarak menuju ke rumah kepala desa. Dan disana diputuskan jika kami harus dinikahkan."
Cerita Rasya membuat Diana lemas. Ia terduduk di tepi ranjang. Selama ini Rasya tidak bercerita apapun soal kejadian itu. Diana juga percaya jika sang putra tidak akan melakukan hal yang mencoreng nama baik keluarga.
"Aku menikahi Ana secara hukum agama saja. Dan memang aku menyukai Ana. Dia cantik dan lugu. Aku terpikat dengannya."
Diana memegangi kepalanya yang terasa pening. "Lalu kenapa kau meninggalkannya? Dia datang kesini dalam keadaan hamil besar untuk mencarimu. Tapi mama pikir dia hanya seorang penipu."
Rasya terlihat mulai menyesali perbuatannya. "Aku tidak tahu jika dia hamil, Ma. Aku meninggalkannya sebelum dia hamil."
Diana makin tak percaya dengan kelakuan putranya.
"Saat itu, aku mendapat telepon dari kak Raffa. Keadaannya kacau karena baru saja melakukan hal terlarang dengan kak Vanes. Dan setelah itu ... Aku tidak pernah lagi menemui Ana." Rasya tertunduk malu karena baru saja mengakui dosa-dosanya pada sang mama.
"Astaga! Kenapa jadi begini?" Diana memegangi kepalanya.
"Jadi, Ana benar-benar hamil, Ma? Kenapa mama tidak mengatakan apapun padaku? Mama hanya bilang ada seorang gadis datang mengaku sebagai istriku." Rasya mondar mandir di depan Diana.
"Sudahlah! Semua itu hanya masa lalu. Lagipula gadis itu tidak pernah datang lagi kesini. Pasti dia sudah melupakanmu. Sekarang fokuslah pada Clara! Dia sedang mengandung anakmu."
Rasya menatap tajam Diana. "Asal mama tahu, dia mendapatkan bayi itu dengan cara licik. Sama seperti yang kak Vanes lakukan pada kak Raffa! Aku tidak bisa menerima perbuatan licik seperti itu, Ma! Aku akan mencari Ana! Harusnya sejak dulu aku mencari Ana. Harusnya aku tidak mendengarkan kata-kata Mama! Mama selalu saja memaksakan kehendak Mama!"
Rasya mengatur napasnya. Diana tidak percaya jika putra kebanggaannya akan membentaknya begini.
"Kali ini jangan lagi halangi aku untuk mencari Ana!" Rasya segera keluar dari kamar Diana. Langkahnya yang lebar segera menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah.
Tanpa Rasya sadari, sejak tadi Clara menguping perdebatan antara suami dan ibu mertuanya. Clara syok. Ia diam membisu tanpa bisa berkata-kata.
Clara kini sadar jika sikap tak acuh suaminya adalah karena ada wanita lain dalam hidup Rasya. Tak terasa buliran bening jatuh ke pipi Clara.
Tubuh lemahnya segera pergi dari depan kamar Diana. Ia menuju ke kamar Rasya dan mengambil tas. Clara tidak sanggup lagi jika harus hidup dengan bayang-bayang masa lalu Rasya. Clara memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Clara tidak lupa mengirim pesan kepada Diana jika dirinya pergi tanpa berpamitan. Clara beralasan jika dirinya ada keperluan mendesak.
Clara tiba di rumah keluarga Hutama dengan disambut oleh Rosi. Clara langsung melenggang menuju kamarnya. Rosi yang bingung tak sempat bertanya apapun pada Clara.
Di dalam kamar, Clara menumpahkan segala kesedihan dengan menangis bersembunyi dalam bantal. Setelah ini, entah akan seperti apa kehidupan rumah tangganya bersama Rasya.