Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
50 - Titik Terang



Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi Rasya masih berkutat di ruang kerjanya.


Getaran di ponsel membuatnya mengalihkan perhatian. Rasya melirik ponselnya sebentar. Sebuah pesan dari Shady membuatnya mengernyit heran.


"Temui aku di rooftop apartemenmu. Ada yang harus kita bicarakan. Penting!"


Rasya menghela napas sejenak. Tak ada alasan untuk menolak permintaan Shady. Rasya segera beranjak dari kursi kebesarannya dan keluar dari ruang kerja.


Secara tak sengaja Clara yang haus keluar dari kamar dan melihat Rasya keluar dari apartemen.


"Mau kemana kak Rasya malam-malam begini?" gumam Clara.


Kemudian Clara mengikuti kemana Rasya pergi karena penasaran. Rasya yang memakai sweater untuk menutupi piyamanya naik lift dan menuju ke lantai paling atas.


Clara yang sedari tadi memperhatikan arah lift semakin heran dengan sikap suaminya.


"Rooftop? Mau apa kak Rasya ke rooftop?" batin Clara. Ia lalu masuk ke dalam lift dan mengikuti Rasya.


Rasya tiba di rooftop dan melihat Shady sedang berdiri menunggunya. Rasya mendekat. Shady berbalik badan begitu tahu ada seseorang yang datang.


"Ini kejutan, Shady. Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Rasya santai.


Shady mengepalkan tangannya. Tak ingin semuanya runyam, Shady mencoba menahan gejolak amarah di dadanya. Ia mengeluarkan kertas hasil tes DNA dan menyerahkannya pada Rasya.


Rasya mengernyit bingung. Ia membaca kertas yang menyebutkan nama dirinya disana.


"Apa ini?" tanya Rasya dengan melambaikan kertas itu kehadapan Shady.


"Kau sendiri bisa membaca itu apa." Shady berusaha santai.


"Tes DNA? Kau melakukan tes DNA pada Naura dan diriku! Apa maksudnya ini, Shady?" Kini malah Rasya yang terlihat marah.


Clara yang mencuri dengar perdebatan suami dan kakaknya hanya bisa menutup mulut. Ia mempertajam telinga agar bisa mendengar lebih jelas.


"Naura bukanlah anakku!" seru Shady.


Rasya terbelalak. Meski terkejut tapi Rasya bersikap biasa.


Shady tersenyum seringai. Ia bisa melihat jika Rasya sudah mengetahui hal ini.


"Dan kau curiga jika Naura adalah anakku?" tebak Rasya. Lalu ia mengangguk-anggukan kepala.


"Siapa ayah Naura?" tanya Shady.


Rasya mengedikkan bahunya.


"Kau sudah tahu mengetahui hal ini dari awal kan? Hanya aku yang seperti orang bodoh yang mempercayai jika Naura adalah putriku." Shady mengusap wajahnya kasar.


Kekecewaan yang dalam kembali merasuk dirinya. "Katakan siapa ayah kandung Naura?!"


Shady menarik kerah piyama Rasya. Malam ini juga ia harus tahu yang sebenarnya.


Dengan santai Rasya melepas tangan Shady. "Aku tidak tahu siapa pria itu, Shady. Tapi Nola memang pernah bercerita jika dia melakukan sebuah kesalahan."


Tubuh Shady meluruh lemas. Rasanya ia tak sanggup mendengar penjelasan Rasya.


"Dia bilang ia melakukan hubungan satu malam dengan pria yang tidak ia kenal. Saat itu ia dalam keadaan mabuk usai pesta bersama kawan-kawan modelnya. Ia salah memasuki kamar, dan mengira jika pria itu adalah kau."


Shady meremas rambutnya. Ia ingat tentang itu. Nola ada pekerjaan di kota Bandung, dan Shady berjanji akan menyusul istrinya kesana. Namun karena ada pekerjaan mendesak, Shady membatalkan kedatangannya.


Shady berteriak histeris. Ini adalah salahnya. Ini salahnya karena tidak menepati janji.


Shady merutuki dirinya sendiri. Jika saja saat itu Shady datang, mungkin benih yang dikandung Nola adalah benihnya.


"Maafkan aku, Shady. Aku tidak pernah mengatakan apapun padamu. Nola sudah tiada, kuharap kau bisa menjadi ayah yang baik untuk Naura dan melupakan masa lalu itu."


Shady hanya diam. Tidak mudah menerima semua ini. Tidak mudah menerima kebohongan dari seseorang yang amat dia percayai.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku permisi." Rasya meninggalkan Shady yang masih tergolek lemah di lantai rooftop.


...***...


Pagi hari itu Arshad menemui Saif dengan datang ke rumahnya. Tatapan mata Arshad menyiratkan sebuah kekecewaan pada sang paman.


Saif menepuk bahu Arshad. "Maafkan Om, Nak. Om tahu kamu akan kecewa. Tapi ini adalah yang terbaik. Sebaiknya kamu tidak perlu mencari tahu soal wanita itu lagi."


Arshad menatap nyalang. "Nola meninggal saat dia sedang mengandung, Om! Bisa saja bayi itu adalah bayiku!" seru Arshad.


Saif memejamkan mata. Arshad pasti sudah mendapat info dari Nur, si ibu panti.


"Nak, bukankah ayahmu sudah menjodohkanmu dengan putri dari keluarga Kalendra? Sebaiknya kau lupakan saja wanita itu dan menata hidupmu dengan gadis pilihan ayahmu. Itu adalah masa lalu, Nak." Saif berusaha menasehati Arshad.


"Tidak, Om. Aku tidak bisa membiarkan ini sebelum aku mengetahui kebenarannya."


Arshad pergi meninggalkan Saif yang masih mematung. Saif segera menghubungi Sinta mengenai kedatangan Arshad.


...***...


Arshad berpikir keras untuk bisa menemukan titik terang mengenai kehidupan Nola. Ia bahkan mencari si internet mengenai Nola.


Beberapa foto terpampang disana. Tertulis juga bahwa Nola menikah dengan Shady Hutama. Arshad melakukan pencarian mengenai kecelakaan yang menimpa Nola.


Tidak banyak yang bisa Arshas dapatkan mengenai informasi kecelakaan itu. Arshad mengumpat kesal.


Namun Arshad ingat jika dirinya memiliki seorang teman di kepolisian. Arshad segera menghubungi temannya dan menggali informasi darinya.


Arshad mendesak sang kawan karena ia sangat butuh informasi mengenai kecelakaan Nola. Hingga akhirnya sebuah file dikirimkan oleh si teman.


Arshad membuka file itu dan membacanya dengan seksama. Disana tertulis jelas jika mobil Nola bertabrakan dengan mobil milik wanita bernama Shezi Kalendra.


Namun yang menjadi tersangka adalah gadis bernama Midea Lestari. Gadis itu dipenjara selama kurang lebih satu bulan sebelum akhirnya Shady membayar jaminan atas kebebasan Dea.


Arshad mengepalkan tangan. "Jadi ... Naura adalah anakku?" gumamnya.


"Dea dan Shady..." Mata Arshad menyalang dengan tatapan bengis.


"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan? Apa kalian sengaja melenyapkan Nola?" monolog Arshad.


...***...


Rasya kembali ke apartemen lebih cepat dari biasanya. Setelah semalam ia bicara dengan Shady, Rasya mulai mengingat sesuatu yang penting.


Rasya menuju ke sebuah kamar yang ia jadikan sebagai gudang. Ia mencari barang yang menjadi barang bukti kuat dalam kecelakaan Nola.


"Shady sudah tahu jika Naura bukanlah putri kandungnya. Tidak menutup kemungkinan jika dia akan menyelidiki soal kecelakaan Nola. Aku harus musnahkan barang bukti itu."


Rasya memegang sebuah kartu memori yang bisa membahayakan hidupnya. "Aku sembunyikan dimana ya? Apa aku hancurkan saja?"


Ketika Rasya ingin memotong kartu memori di tangannya...


"Kak Rasya? Kakak sudah pulang?" Suara Clara membuat Rasya mematung.


"Kak!" Suara Clara semakin dekat.


"Sial! Aku harus menyembuyikannya dulu!" Rasya membuka laci dan meletakkan kartu memori itu disana.


"Kak Rasya!" seru Clara lagi.


"Ada apa?"


Clara berbalik dan menemukan sosok Rasya.


"Kakak sedang apa disini?" tanya Clara.


"Umm, aku sedang mencari sesuatu."


"Di gudang?" Clara mengerutkan dahi.


"Ah, iya! Aku baru ingat jika sepertinya ada berkas yang tidak sengaja terbuang ke gudang. Sudahlah, ayo kita ke ruang makan. Apa kau memasak?"


Rasya merangkul bahu Clara dan membawanya keluar dari area gudang. Untuk saat ini Rasya bisa bernapas lega karena Clara mempercayainya.


"Aku harus segera menyingkirkan barang bukti itu!" batin Rasya.