
Clara memarkirkan mobilnya di depan sebuah apotek. Sudah sepuluh menit berlalu tapi ia masih diam dan belum keluar.
Banyak hal yang dia pikirkan setelah mendapatkan saran dari Vanessa. Pastinya Clara tak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan. Apalagi ini mengenai rumah tangganya bersama Rasya.
Hingga akhirnya, Clara keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam apotek tersebut. Clara memandangi seluruh isi ruangan apotek itu.
Sepi. Hanya dia saja pengunjung yang ada di sana.
"Nona, ada yang bisa kami bantu?" Seorang karyawan apotek bertanya pada Clara.
"Eh? Itu..." Clara ragu untuk mengucapkannya.
"Katakan saja, Nona."
Clara menautkan kedua tangannya. Rasanya sangat gugup ketika akan melakukan sebuah kejahatan. Meski ia melakukan ini untuk rumah tangganya.
"Saya butuh obat perangsang!" ucap Clara pada akhirnya.
Dua karyawan apotek saling pandang dan tidak percaya dengan apa yang diinginkan oleh gadis cantik itu.
"Saya wanita yang sudah menikah. Ini kartu identitas saya!" Clara memberikan kartu identitasnya untuk membuktikan jika dirinya bukan berstatus single.
"Baiklah. Silakan kemari, Nona!" jawab si karyawan.
Clara mendengarkan penjelasan si karyawan dengan seksama tentang kegunaan dan efek dari obat perangsang yang akan dibelinya.
"Aku pasti sudah gila seperti kak Vaness! Tapi aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku, kak Rasya. Aku harus melakukan cara seperti ini untuk mendapatkanmu," batin Clara.
Sementara itu di tempat berbeda, Dea sedang melamun memikirkan banyak hal. Kepulangan Shezi pastinya akan berdampak juga bagi dirinya.
Dea ingin sekali membuat Shezi mengakui perbuatannya dan bertanggungjawab atas itu. Tapi satu bukti saja ia tak punya.
Ketika otaknya berputar memikirkan sebuah strategi, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk disana.
"Temui aku di kafe XYZ. Kita harus bicara. Shezi."
Dea memejamkan matanya. Kemudian ia membalas pesan yang dikirim oleh Shezi.
"Baik. Aku pasti datang."
Dea bertekad tidak akan jadi gadis lemah seperti yang dulu. Dea harus bisa melawan Shezi jika mantan temannya itu kembali memojokannya.
#
#
#
Kini Dea sudah duduk berhadapan dengan Shezi. Dua tahun tidak bertemu harusnya mereka saling melepas rindu jika saja mereka masih sebagai sahabat seperti dulu. Namun yang kini terlihat, mereka saling tatap dengan datar dan tak ada kerinduan sedikitpun.
"Aku senang kau hidup dengan baik selama ini, Dea." Shezi menyeruput kopi yang di pesannya.
"Iya, aku hidup dengan nyaman berkat dirimu," jawab Dea santai.
Shezi tertawa getir. "Bagaimana bisa kau berakhir menikah dengan bang Shady? Kau adalah pembunuh istrinya. Mana mungkin bang Shady menikahi seorang pembunuh."
Dea menggebrak meja. "Aku bukan pembunuh! Harusnya kau malu dengan perbuatanmu sendiri yang kabur seperti pengecut! Aku tidak percaya kau melakukan hal rendah seperti ini!"
"Apa katamu?! Pengecut?" Shezi tersenyum sinis.
"Dulu aku sangat menghormatimu karena kau sangat baik padaku. Tapi sekarang semua rasa itu sudah hilang! Aku pasti akan membuatmu membayar semua perbuatanmu padaku. Kita lihat saja nanti!" Dea beranjak dari kursinya dan bersiap pergi.
Namun langkah Dea terhenti dan kembali menatap Shezi.
"Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk bisa bahagia bersama Mas Shady."
Shezi mengepalkan tangannya menatap kepergian Dea.
#
#
#
Malam harinya, Clara menyiapkan makan malam romantis untuknya dan Rasya. Senyum mengembang tak hentinya Clara sunggingkan.
Malam ini akan jadi malam bersejarah untuknya dan Rasya. Meski agak gugup, tapi Clara sudah menyiapkan batinnya untuk melepas kegadisannya malam ini.
Clara juga sudah memastikan jika minuman milik Rasya sudah ia campur dengan obat yang tadi dibelinya.
Deru suara mobil membuat Clara begitu senang. Ia menyambut Rasya dengan senyum yang lebar.
"Selamat malam, Kak."
"Hmm." Tidak ada jawaban dari Rasya. Pria itu langsung melenggang memasuki kamar.
"Kak, aku sudah siapkan air mandi untuk kakak. Selesai mandi, kakak bisa langsung ke meja makan. Aku membuat menu kesukaan kakak."
"Iya aku tahu. Cerewet sekali sih!" kesal Rasya.
"Ma-maaf, Kak." Clara menundukkan kepalanya.
Lima belas menit kemudian, Rasya datang ke meja makan. Dengan penuh perhatian, Clara melayani Rasya dengan baik.
Sebenarnya selama ini Clara yang dulunya anak manja sudah banyak berubah sejak menikah. Ia jadi lebih dewasa dan juga memahami jika dirinya sudah berubah status. Cintanya terhadap Rasya tidak pernah berubah sejak dulu.
Clara juga ingin Rasya merasakan hal yang sama dengannya. Clara ingin bersabar menunggu Rasya membuka hati untuknya. Tapi desakan dari keluarga Rasya membuat Clara tak bisa menunggu. Ia harus melakukan hal ini malam ini juga.
Clara tersenyum penuh kepuasan ketika Rasya menghabiskan air minum yang ia siapkan. Clara tinggal menunggu reaksi dari obat yang dibelinya.
Seperti biasa, usai makan malam Rasya memilih untuk berada di ruang kerjanya. Ia berdalih ingin menyelesaikan pekerjaan yang masih belum selesai.
Sementara itu, Clara mempersiapkan dirinya dengan memakai gaun malam tipis berwarna hitam. Sengaja ia memakai itu agar membuat Rasya terpesona padanya.
BRAK!
Pintu kamar dibuka dengan kasar. Clara terlonjak kaget dengan kehadiran Rasya.
"Kakak? A-ada apa, Kak?" tanya Clara gugup.
"Apa yang terjadi dengan tubuhku? Rasanya panas! Aku tidak tahan!" ucap Rasya yang mulai mengibas piyama tidurnya.
"Ke-kenapa memangnya?" Clara makin gugup karena Rasya mulai membuka piyamanya.
"Argh! Aku tidak tahan! Rasanya aku..."
Rasya menatap Clara dengan penuh gairah. Matanya memerah. Keringat mulai membasahi pelipisnya.
Dengan gerakan satu tangan Rasya menarik tubuh Clara dan mendaratkan sebuah ciuman yang cukup kasar padanya. Clara yang tidak siap awalnya ingin berontak.
Namun ini adalah rencananya. Dan ia tidak akan bisa lari malam ini. Clara mulai membalas ciuman Rasya. Mereka saling bertukar rasa cukup lama.
Hingga akhirnya Rasya membawa Clara ke atas ranjang yang akan menjadi saksi bisu bersatunya pasangan suami istri itu. Rasya menarik paksa gaun tipis milik Clara. Otaknya tak bisa lagi berpikir. Saat ini ia harus menuntaskan apa yang sedang dirasanya saat ini.
Meski dalam pengaruh obat, Rasya masih bisa bertindak lembut pada Clara. Bahkan ketika pusakanya ingin meminta masuk, ia lakukan dengan perlahan. Karena tentunya ini adalah yang pertama untuk Clara.
Clara meringis merasakan sesuatu yang mendesak masuk di bawah sana. Tangannya meremas sprei ketika akhirnya pertahanannya telah bobol. Air mata kebahagiaan menetes di kedua pipinya.
"Maafkan aku. Apa terasa sakit?" tanya Rasya.
Clara menggeleng kemudian tersenyum. "Aku akan memberikan semuanya untuk kakak."
Rasya kembali mencium bibir mungil Clara agar istrinya tidak merasakan sakit. Rasya bergerak pelan dan teratur. Mereka menikmati malam hangat ini dengan berjuta kebahagiaan di hati Clara.