Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
42 - Kenyataan Pahit



Dea berjalan gontai kembali ke kamar rawat inap Naura setelah tadi ia tidak berhasil mengejar Shady. Hatinya begitu cemas memikirkan apa yang akan Shady lakukan terhadap Naura.


Dea mendekati brankar Naura dan menatap putri kecilnya itu.


"Dea..." Suara Nilam membuat Dea menahan segala gejolak dalam hatinya.


"Iya, Bu."


"Dimana Shady? Bukankah kalian menemui dokter bersama-sama?"


Dea merasa bersalah karena harus berbohong pada Nilam.


"Umm, mas Shady ada urusan mendadak, Bu."


Nilam nampak kecewa. "Oh begitukah? Sekarang sebaiknya kau istirahat saja. Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh."


"Iya, Bu. Aku akan membersihkan diri dulu." Dea langsung menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.


Dea menatap pantulan dirinya di cermin.


"Apa yang akan dilakukan oleh mas Shady? Apa dia benar-benar akan melakukan tes DNA pada Naura?"


Dea memegangi dadanya. "Ya Tuhan, masalah apa lagi ini? Kenapa jadi begini? Apa benar Naura bukan darah daging mas Shady? Lalu siapa ayah kandung Naura?" Dea memejamkan matanya dan tak berani berspekulasi lebih lanjut.


Di tempat berbeda, Clara sedang menikmati es krimnya di rumah. Es krim yang sama yang dia nikmati bersama Naura beberapa hari lalu.


"Ukh, bau apa ini?" Rasya yang baru datang langsung menutup hidungnya.


"Hei, Kak. Kakak sudah pulang?" tanya Clara.


"Aku hanya ingin mengambil berkas yang tertinggal. Kau sedang makan apa?"


"Ini adalah es krim rasa pisang, Kak. Rasanya enak! Cobalah sedikit!" Clara menyendok satu suap dan disodorkan pada Rasya.


"Tidak! Aku tidak menyukai es krim. Kulihat sejak kemarin kau selalu makan es krim. Ada apa denganmu?"


Clara mengedikkan bahunya. "Entahlah, Kak. Rasanya aku ingin terus memakan ini."


Rasya menggeleng pelan kemudian menuju ke ruang kerjanya. Tak lama kemudian Rasya kembali menemui Clara.


"Bagaimana kabar Naura? Apa kondisinya sudah membaik?" tanya Rasya.


"Ya, Ibu bilang kondisinya membaik. Hari ini bang Shady dan Dea juga sudah kembali dari bulan madunya."


Rasya tidak menjawab kemudian berlalu dari hadapan Clara.


"Kenapa sih dia? Selalu saja bersikap aneh."


Clara kembali memakan es krim yang memang sedang sangat disukainya itu.


#


#


#


Keesokan harinya, Clara yang sudah membeli beberapa merk alat tes kehamilan, akhirnya mencoba menggunakan alat itu. Kata-kata yang diucapkan Rosi ketika dirinya berkunjung ke rumah ibunya membuat Clara penasaran dengan perubahan yang terjadi dengan dirinya.


Dengan menarik napas secara berulang, Clara menguatkan hati untuk melihat hasil tesnya itu.


Mata Clara membola melihat dua garis merah yang ada di alat berbentuk pipih itu.


"Ya Tuhan! Apakah ini mimpi? Aku hamil?"


Clara keluar dari kamar mandi dan berniat memberitahukan hal ini pada Rasya. Tapi sekali lagi Clara ragu jika Rasya bisa menerima kehamilannya.


"Apa kak Rasya akan menerima anak ini?" Clara mengelus perutnya yang masih rata.


"Tidak! Sebaiknya aku sembunyikan dulu hal ini darinya. Dia pasti akan membenciku dan anak ini jika mengetahuinya."


Air mata Clara mengalir tanpa permisi. Kebahagiaan yang tadi dirasakannya seketika sirna.


Sementara itu di rumah keluarga Hutama, Shady memotong sedikit rambutnya lalu menyimpannya di sebuah kantong plastik bening. Lalu ia menuju ke kamar Naura dan mengambil sikat gigi milik gadis kecil itu.


Sejak meninggalkan rumah sakit kemarin, Shady malah menuju ke sebuah klub dan pulang dalam keadaan mabuk. Shady tertidur di kamarnya hingga pagi hari. Sedangkan Dea dan Nilam masih menjaga Naura di rumah sakit.


"Setelah hari ini, semua tidak akan lagi sama, Nak. Kau sudah membuat papa kecewa dengan semua yang dilakukan oleh ibumu. Apa salahku hingga ibumu melakukan ini padaku?" Shady bicara pada satu buah foto Naura yang terpasang di dinding kamar itu.


Shady keluar dari kamar Naura kemudian keluar dari rumah. Shady bahkan mengabaikan Rosi yang terus memanggilnya.


Shady melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Ia harus bisa memecahkan kecurigaannya ini. Ia tak mau terus-terusan terjebak dengan masa lalu yang tidak pernah ia ketahui.


Tiba di rumah sakit, Shady segera mendaftarkan sampel dirinya dan Naura untuk dilakukan sebuah tes DNA. Shady meminta petugas medis agar lebih cepat dalam memproses permintaannya. Shady tidak mempermasalahkan soal biaya.


"Hasilnya akan selesai dalam 24 jam, Tuan. Itu sudah yang paling cepat," jelas petugas medis itu.


"Ya, baiklah. Aku tunggu kabar dari kalian!"


Shady keluar dari ruang laborat kemudian akan menuju ke kamar Naura. Di perjalanan, Shady bertemu dengan Dea yang baru saja membeli makanan untuknya dan Nilam.


"Mas Shady?"


Shady nampak menatap Dea dengan tatapan berbeda.


"Mas kemana saja? Aku telepon berkali-kali tapi Mas tidak menjawab. Apa Mas baik-baik saja?" Meski Dea kecewa dengan sikap Shady yang mengabaikannya, tapi Dea juga merasa cemas melihat kondisi Shady.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana Naura?"


"Tinggal menunggu visit dokter. Jika memang kondisinya sudah dinyatakan baik, maka Naura diperbolehkan pulang."


"Syukurlah. Ayo kita ke kamar Naura!" Shady mengajak Dea.


Dea hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengan Shady. Dea tidak berani bertanya tentang apa yang Shady lakukan di ruang laborat. Dea tidak ingin membuat situasi menjadi tidak kondusif.


#


#


#


Setelah 24 jam menunggu, Shady kembali ke ruang laborat untuk menerima hasil dari tes kemarin.


"Hasilnya ada di amplop ini, Tuan. Silakan Tuan bukan dan baca."


Shady mengangguk paham kemudian keluar dari ruang laborat. Shady duduk di salah satu bangku panjang rumah sakit.


Hatinya bergemuruh ketika mulai membuka isi amplop tersebut. Waktu tidak akan bisa terulang. Dan Shady harus siap menghadapi apapun isi yang ada di surat itu.


Shady mulai membaca isi surat yang kini dipegangnya.


"A-apa?! Tidak mungkin!" Hanya itu yang bisa shady ucapkan dengan tangan yang gemetar.


#bersambung