Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
36 - Rencana Jebakan



Dea melepaskan pelukan Shady. Ia membalikkan badan dan menatap suaminya lekat.


"Mas, sekarang bukan saatnya untuk berbulan madu. Shezi sudah kembali. Itu artinya kita harus mengumpulkan bukti-bukti keterlibatan Shezi dalam kecelakaan itu, Mas."


Shady hanya mampu menghela napas mendengar penuturan Dea. Pastinya amat sulit tiba-tiba harus bertemu dengan Shezi yang dianggapnya sebagai sahabat tapi malah memfitnahnya.


"Maafkan aku, Dea. Aku tidak bermaksud untuk mengacaukan semua ini."


"Mas, aku ingin segera membuktikan padamu jika aku tidak bersalah. Aku ingin Mas percaya denganku!" Tatapan mata Dea menyiratkan kesungguhan yang dalam.


"Aku percaya padamu, Dea."


Jawaban Shady membuat Dea terdiam. Ingin sekali Dea bisa mempercayai Shady. Tapi entah kenapa hatinya mengatakan jika Shady tak benar-benar percaya padanya.


Meski begitu, Dea tetap menganggukkan kepalanya. Ia tak ingin Shady kecewa karena tak percaya pada suaminya sendiri.


"Baiklah! Sekarang kita istirahat saja. Kau pasti lelah kan? Ayo!" Shady merangkul bahu Dea dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar.


#


#


#


Langkah tegap seorang pria paruh baya memasuki mansion mewahnya dengan terburu-buru. Seorang pelayan yang sudah berumur menyambutnya dengan ramah.


"Dimana Shezi?" tanya sang tuan dengan nada geram menahan marah. Dia adalah Doddy Kalendra, ayah kandung Shezi.


"Nona Shezi ada di ruang mini bar, Tuan." Sang pelayan menunduk hormat. Dia sudah bekerja untuk keluarga ini selama puluhan tahun.


Tanpa memberi jawaban lagi, Doddy segera berjalan menuju ke mini bar. Tiba disana, Doddy melihat sang putri sedang memegang sebuah gelas kecil yang berisi minuman berwarna merah pekat.


Doddy menggeleng pelan. Ia menghampiri putrinya dan merebut gelas yang akan diminumnya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa meninggalkan pesta tanpa memberitahu Papa?"


Shezi menatap malas ayahnya. "Jangan menggangguku!" Shezi kembali merebut gelasnya.


"Apa-apaan kau ini?! Kau sudah membuat papa malu! Apa yang harus papa katakan pada keluarga Huda? Mereka tadi menunggumu, tapi kau malah ada disini dan mabuk!"


Doddy memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia sudah muak dengan putrinya yang selalu membuat ulah.


"Papa yang apa-apaan! Selama ini papa tidak pernah mengatakan jika orang yang aku tabrak adalah kak Nola!"


Doddy memicingkan mata. "Lalu apa masalahnya? Dia sudah meninggal dan tidak akan bisa hidup kembali." Sifat egois Doddy sepertinya menurun pada Shezi.


Shezi memutar bola matanya malas. "Aku bertemu dengan bang Shady. Kudengar dia sudah menikah lagi." Shezi kembali meneguk anggur merahnya. Saat ini pikirannya sedang kacau karena harus melihat Dea bersama dengan Shady.


"Papa juga dengar jika dia sudah menikah. Ada rumor yang berkata begitu. Tapi papa tidak tahu siapa istri barunya."


Shezi meletakkan gelas kecilnya dengan kasar. Ia menatap sang papa dengan tatapan horor.


"Istri bang Shady adalah gadis yang aku jadikan kambing hitam dalam kecelakaan waktu itu!" teriak Shezi.


Doddy amat terkejut. "A-apa kau bilang? Itu tidak mungkin!"


"Percaya atau tidak itulah kenyataannya! Dan papa tahu bukan jika aku mengagumi bang Shady sejak dulu."


Doddy menggeleng pelan. "Papa sudah menjodohkanmu dengan orang lain. Lagipula papa tidak akan pernah setuju jika kau berhubungan dengan Shady. Apa jadinya jika Shady tahu jika kaulah yang sudah membunuh istrinya? Harusnya kau bisa berpikir dengan jernih, Nak." Setelahnya Doddy pergi meninggalkan Shezi yang masih terdiam.


#


#


#


Hari ini Clara datang ke rumah orang tuanya untuk sekedar menjenguk sang ibunda. Meski sudah menikah, Clara merasa ingin di manja oleh Nilam.


Clara duduk bermanja bersama Nilam. Kemudian Dea datang membawakan camilan untuk mereka.


"Silakan dinikmati, Mbak, Bu." Lepas itu Dea langsung meninggalkan mereka berdua.


Dea menuju ke taman belakang untuk bermain bersama Naura. Tak lama berselang, ternyata Clara menyusul Dea ke taman belakang.


Dea mengulas senyum melihat kedatangan Clara. Clara menyapa keponakannya yang lucu dan menggemaskan.


Dea bisa melihat jika ada sebongkah kerinduan untuk bisa memiliki buah hati juga. Dea meminta pengasuh Naura membawa bocah kecil itu masuk.


"Bagaimana kabar Mbak Clara?" tanya Dea berbasa basi.


"Aku baik. Kau sendiri? Apa kau dan bang Shady sudah ada kemajuan?"


Dea mengerutkan dahinya. "Maksud Mbak Clara?"


"Maksudku hubunganmu dengan bang Shady. Apakah sudah..." Clara tidak melanjutkan kalimatnya namun hanya memberi kode saja.


Dea mulai paham apa maksud Clara. "Ah, aku dan mas Shady masih dalam tahap perkenalan, Mbak." Dea menjawab dengan malu-malu.


"Perkenalan? Jangan membuatku tertawa, De! Suami mana yang tahan jika tidak menyentuh istrinya? Hanya ada 1001 lelaki seperti itu." Clara tersenyum getir.


"Eh?!" Dea menatap Clara seksama. "Sepertinya ada hal yang Mbak Clara sembunyikan. Apa pernikahannya dengan Pak Rasya tidak baik-baik saja?" batin Dea.


Dering ponsel milik Clara memecah keheningan diantara mereka. Clara menjawab panggilan teleponnya yang ternyata dari Rasya.


"Dea, aku harus pergi. Kak Rasya sudah menunggu di depan. Kami akan makan malam di rumah mertuaku," pamit Clara.


Dea mengangguk dan menatap kepergian Clara. "Apa yang sebenarnya ingin mbak Clara katakan?" gumam Dea.


Malam harinya, Dea berdiri di tepi balkon dan memikirkan semua perkataan Clara sore tadi. Dea dilema dengan keputusannya yang menolak bulan madu bersama Shady.


Namun sebuah penyesalan juga menggelayuti hatinya. Hubungan suami istri yang sehat memang tidak hanya berhubungan secara emosional, tetap juga fisik. Bagaimanapun juga Dea masih belum memberikan hak Shady sebagai suaminya. Begitu juga sebaliknya, Dea belum bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Shady datang dan memeluk Dea dari belakang.


"Mas?! Kamu sudah pulang?"


"Hmm, apa yang sedang kamu pikirkan hingga tidak menyadari keberadaanku," bisik Shady tepat di telinga Dea hingga membuat gadis itu meremang.


"Mas..."


"Kenapa sayang?" Shady sengaja memancing Dea. Baginya tak masalah tak jadi berbulan madu. Asal bisa berbulan madu di rumah, itu juga sama.


Shady menyibak rambut panjang Dea yang tergerai dan menciumi tengkuk Dea yang jenjang dan mulus.


"Mas..." Suara Dea tertahan. Ia memejamkan mata ketika bibir Shady menempel di kulitnya.


"Sayang, bolehkah aku..."


"Mas! Kamu pasti lelah!" Dea segera berbalik badan dan menatap Shady.


"Aku akan siapkan air mandi untukmu!" Dea berjalan melewati tubuh Shady.


Namun Shady tak membiarkan Dea pergi.


"Aku tidak ingin apapun, aku hanya menginginkanmu!" ucap Shady.


Mata Dea membulat ketika tanpa aba-aba Shady sudah mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Shady menahan tengkuk Dea agar gadis itu tak bisa lepas darinya.


Dea ingin menolak, tapi semua sudah terlambat. Ia tak bisa menyangkal jika ia juga menyukai sentuhan Shady.


Shady membawa tubuh Dea masuk kembali dalam kamar. Dengan pelan Shady merebahkan tubuh Dea ke atas tempat tidur. Bibir mereka masih saling beradu tanpa saling menuntut.


Hingga akhirnya Shady merasa memiliki peluang untuk bisa melakukan hal yang lebih. Shady mulai beralih ke leher jenjang Dea yang terekspos bebas.


"Mas!" Dea menghentikan aksi Shady.


"Kenapa?"


"A-aku belum siap. Maaf, Mas..." Dea menatap suaminya yang sudah berada diatas tubuhnya.


Seketika Shady sadar jika dirinya tidak mungkin memaksa Dea.


"Aku yang harusnya minta maaf. Aku terlalu terburu-buru." Shady turun dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi. Sepertinya ia memang harus mandi atau juga ia perlu menuntaskan apa yang tidak bisa ia selesaikan.


#


#


#


Di rumah keluarga Rasya, Clara mengikuti jamuan makan malam yang disiapkan oleh ibunda Rasya. Diana sengaja mengundang anak dan menantunya untuk makan malam di rumah. Sudah lama Diana tidak bertemu dengan Rasya. Sekalian ia juga ingin bicara dengan kedua pasangan suami istri itu.


Tak ketinggalan Diana juga mengundang Vanessa yang masih dianggap menantunya. Tak ada ketegangan diantara Clara dan Vanessa. Meski sempat berselisih paham, tapi Clara tidak lagi membenci Vanessa, begitupun sebaliknya.


Saat makan malam masih berlangsung, tiba-tiba saja Diana menanyakan hal yang memang sengaja ia siapkan.


"Vano sayang, Oma mau tanya sama Vano. Apa Vano tidak ingin punya seorang adik?" ucap Diana.


"Tentu saja Vano mau, Oma." Bocah 7 tahun itu pun menjawab dengan suara lantang.


"Kalau begitu cepat bilang pada Om dan Tantemu untuk segera memberimu seorang adik," lanjut Diana.


Seketika Clara tersedak saat sedang mengunyah makanannya. Ia segera mengambil air minum.


"Apa yang mama katakan? Mama sampai membuat Clara tersedak!" ucap Rasya tak suka.


"Lho, mama hanya menanyakan hal yang wajar kok. Kalian sudah menikah hampir 3 bulan. Kenapa belum memberikan kabar bahagia untuk kami?" Diana masih mencecar Rasya dan Clara.


"Sudahlah, Ma! Jangan membebani Rasya dan Clara dengan pertanyaan seperti itu. Mungkin saja mereka sedang sibuk dengan pekerjaan," sahut Deddy Kalendra, ayah Rasya.


"Huft! Papa selalu saja membela mereka! Lihatlah usia kita, Pa. Mama ingin segera menimang cucu lagi karena Vano kan sudah besar."


Clara hanya diam mendengar perdebatan yang terjadi diantara keluarga suaminya. Sedang Vanesaa hanya mengulas senyum yang penuh misteri.


Usai makan malam, Clara masuk ke kamar Rasya untuk beristirahat. Malam ini mereka akan menginap di rumah itu karena permintaan Diana. Rasya tak kuasa menolak.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu di ruang kerja Papa. Kau tidurlah lebih dulu jika mengantuk," ucap Rasya kemudian akan keluar dari kamar.


"Kakak! Kenapa kakak melakukan ini padaku? Sampai kapan kakak akan bersikap seperti ini padaku?" Clara meluapkan semua kelemahannya.


"Apa maksudmu?" tanya Rasya balik tak suka.


"Kakak dengar sendiri apa yang dikatakan mama, tapi kenapa kakak terus menghindar jika malam tiba? Kakak punya segudang alasan untuk menghindariku! Kakak lebih memilih pekerjaan dari pada hubungan kita!" seru Clara yang sudah tidak kuat menahan sakit hatinya.


"Terserah kau saja!" Rasya segera meninggalkan Clara.


Clara terduduk lemas di tepi ranjang. Air matanya telah tumpah karena lagi-lagi Rasya menyakiti hatinya.


Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Clara menoleh. Ia segera menghapus sisa air matanya. Itu adalah Vanessa.


"Aku sudah menduga jika Rasya hanya mempermainkanmu saja."


"Maksud Kak Vaness?"


Vanessa duduk di samping Clara dan membisikkan sesuatu. Mata Clara membola.


"Apa kakak yakin?" tanya Clara yang masih tak percaya dengan rencana Vanessa.


"Kau tenang saja! Jika dengan cara halus kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita mau. Maka kau harus melakukan sedikit jebakan untuk Rasya," ucap Vaness lirih agar tidak di dengar oleh orang lain.


#bersambung...