Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
41 - Naura Sakit



Dea dan Shady segera menyudahi bulan madu mereka ketika mendapat telepon jika Naura sakit. Ternyata firasat Dea tidaklah salah.


Dea memang bukan ibu kandung Naura, tapi Dea sudah merawat Naura sejak bocah kecil itu masih bayi. Ikatan batin diantara mereka tentu saja sangat kuat.


Tiba di bandara, Dea langsung meminta pak supir untuk menuju ke rumah sakit. Berkali-kali Shady menenangkan Dea.


"Ada Ibu dan juga Clara, aku yakin Naura baik-baik saja." Shady memeluk bahu Dea.


"Aku yakin firasatku tidak salah, Mas. Benar kan jika terjadi sesuatu dengan Naura. Ya Tuhan, aku jadi merasa bersalah karena sudah meninggalkannya."


"Jangan berkata begitu! Kamu tidak bersalah. Sudah ya, jangan berpikiran yang tidak-tidak."


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Dea langsung berlarian menuju kamar rawat Naura. Ia tak peduli dengan kondisi tubuhnya yang kelelahan akibat perjalanan jauh. Ia hanya ingin melihat kondisi Naura, putrinya.


Tiba di depan kamar rawat VVIP, Dea menetralkan degup jantungnya. Shady membuka pintu dan nampak Naura ditemani Nilam. Bocah kecil itu sedang terlelap.


"Bu..." Shady dan Dea menghampiri Nilam.


"Kalian sudah datang?" Nilam menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Bagaimana kondisi Naura?" tanya Dea tak ingin berbasa basi.


"Demamnya mulai turun. Tapi bintik merahnya masih muncul."


Dea segera mendekati Naura. "Sayang, maafkan mama ya. Mama meninggalkanmu dan kamu jadi sakit begini."


"Apa kata dokter, Bu?" Giliran Shady bertanya.


"Dokter masih menunggu hasil lab. Mungkin hari ini hasilnya keluar."


"Bu, ini bukan bintik ruam biasa. Apa yang Naura lakukan sampai jadi begini?" tanya Dea.


"Entahlah, Nak. Ibu merasa tidak ada yang aneh yang Naura lakukan. Ditambah lagi Clara dan Nana juga kan mengawasi Naura."


Dea menatap Shady. Dea yang sudah berpengalaman dengan adik-adiknya yang sering sakit, merasa aneh dengan kondisi yang dialami Naura.


"Sebaiknya aku tidak mengatakan apapun pada mas Shady dan Ibu sebelum dokter yang bicara. Aku takut salah mendiagnosa dan malah semua jadi runyam," batin Dea.


#


#


#


Hari itu juga, setelah dokter memeriksa kondisi Naura, dokter itu meminta izin untuk bicara dengan Shady dan Dea. Pasangan suami istri itu mengikuti langkah sang dokter yang masuk ke ruangannya.


Dea dan Shady duduk berhadapan dengan si dokter yang ternyata adalah Arshad. Ada sedikit kecanggungan yang terjadi saat Dea mengetahui jika dokter yang merawat Naura adalah Arshad.


"Apa yang terjadi dengan putriku?" tanya Shady tak ingin berbasa basi.


Arshad melirik Dea sekilas, lalu ia menatap Shady.


"Begini, kami sudah melakukan tes darah kepada Naura. Dan dari hasil lab di temukan bahwa Naura mengidap alergi terhadap protein yang dikonsumsinya dan itu berasal dari buah pisang," jelas Arshad.


"Buah pisang?" Shady menautkan kedua alisnya. "Itu tidak mungkin! Aku dan Nola tidak memiliki riwayat alergi buah pisang," ucap Shady.


Dea nampak menundukkan wajahnya. Sebenarnya Dea mengetahui hal ini sejak Naura masih berusia 6 bulan, ketika Naura mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping susu. Dea tidak pernah mengatakan apapun karena ia takut Shady akan marah padanya.


Naura pernah mengalami hal ini namun saat itu Dea langsung menanganinya dengan memberi obat anti alergi. Mungkin kemarin Nilam dan Clara yang tidak mengetahui alergi Naura tidak memberikan obat anti alergi apapun pada gadis kecil itu.


Shady menatap Dea yang hanya menunduk. Tatapannya tajam dan menunjukkan kemarahan disana.


"Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi!" Dea menyusul langkah Shady.


"Tunggu, Dea!" Arshad mencegah Dea.


"A-ada apa, Dokter?" tanya Dea dengan menunduk. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Arshad di situasi yang tidak menyenangkan ini.


"Aku tahu kau sudah mengetahui soal alergi Naura."


Dea mendongakkan kepalanya. "Bagaimana dokter tahu?"


"Sudahlah. Sekarang kamu harus tenangkan suamimu. Sepertinya dia marah karena kamu tidak memberitahunya."


"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih."


Dea langsung melenggang keluar dari ruangan Arshad. Ia mencari keberadaan Shady yang ternyata duduk di bangku taman rumah sakit.


Dea menghampiri Shady perlahan.


"Mas..." panggil Dea.


Shady masih bergeming dan tak ingin menatap Dea.


"Mas, maafkan aku karena..."


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun padaku? Kenapa?!" Suara Shady terdengar tegas dan lugas. Dan itu membuat Dea sedikit takut.


"Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar tidak bisa mengatakan hal ini padamu karena aku takut kamu akan menyalahkan aku soal ini."


Shady menatap Dea tajam. "Jadi, Naura bukan kali ini saja mengalami hal ini?"


Dea mengangguk. "Aku akan lebih mengawasi Naura mulai saat ini, Mas."


"Bukan itu masalahnya, Dea!" Shady nampak frustrasi.


"Lalu, apa masalahnya, Mas?" Dea duduk disamping Shady dan mengusap lengan suaminya itu.


Shady memegangi kepalanya lalu mengacak rambutnya.


"Baik aku maupun Nola tidak ada yang memiliki riwayat alergi seperti Naura."


"Maksud Mas bagaimana?" Dea tidak mengerti dengan maksud kalimat Shady.


"Hasil lab tadi menunjukkan jika alergi itu diturunkan dari gen orang tuanya. Tapi aku dan Nola tidak memiliki riwayat alergi buah pisang. Lalu, bagaimana Naura bisa mendapatkan alergi itu?"


Pertanyaan Shady membuat Dea mulai memahami perasaan sang suami. Dea tak ingin berpikir terlalu jauh. Dea juga tidak mungkin berpikiran buruk mengenai hal ini.


"Aku harus melakukan sesuatu!" ucap Shady kemudian bangkit dari duduknya.


"Apa yang akan Mas lakukan?" tanya Dea yang juga ikut berdiri.


"Aku akan melakukan tes DNA pada Naura!"


"Apa?! Mas, jangan gegabah!" Dea memegangi lengan Shady.


"Aku harus mengetahui kebenarannya, Dea! Dan aku juga harus membuktikan firasatku!" Shady langsung berjalan pergi meninggalkan Dea.


"Mas! Jangan lakukan itu!" teriak Dea namun Shady tidak mendengarnya.


#bersambung