Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
47 - Mencari Jawaban



Apartemen Rasya


Rasya keluar dari walk-in-closet dengan kondisi sudah rapi bersama setelan jasnya. Melihat istrinya telah siap, Rasya mengerutkan kening.


Rasya menghampiri Clara yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.


"Kau mau kemana?" tanya Rasya.


Clara menatap sang suami dari bayangan cermin di hadapannya.


"Aku ingin pergi ke rumah Ibu. Boleh kan, Kak?" Meski masih merasa takut dengan Rasya, tapi Clara berusaha menguatkan dirinya.


"Hmm, tentu saja boleh. Aku akan mengantarmu! Ayo cepat!" Rasya melenggang keluar dari kamar.


Clara masih melongo ketika mendengar Rasya akan mengantarnya. "Apa aku tidak salah dengar?" gumamnya.


Tak ingin Rasya kembali murka, Clara bergegas mengekori langkah Rasya. Tak lupa Clara mengambil tas tangan bermerk miliknya.


Selama perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Semua sibuk dengan pemikiran masing-masing. Meski saling diam, sesekali Clara melirik kearah Rasya yang sibuk menyetir.


Hingga akhirnya mobil Rasya memasuki halaman rumah keluarga Hutama. Sebelum keluar dari mobil, Clara mengucapkan terima kasih pada sang suami.


Rasya tidak membalas, tapi dia menekankan satu hal pada Clara.


"Jangan berpikir aku melakukan ini karenamu. Aku melakukannya agar kau bisa memberitahu keluargamu mengenai kehamilanmu. Bukankah kau sangat senang jika semua orang mengetahui hal ini?" Rasya masih berkata ketus pada Clara.


Clara melihat kepergian Rasya tanpa membukakan pintu mobil untuknya. Clara menghela napas. Rasanya perjuangannya masih panjang untuk bisa menaklukkan hati Rasya.


Memasuki rumah, Rasya dan Clara bertemu dengan Naura yang akan berangkat sekolah bersama Dea. Dengan ramah Rasya menyapa gadis kecil itu.


"Hai, cantik. Kau mau berangkat sekolah?" tanya Rasya sambil berjongkok menyamai tinggi badan Naura.


"Iya, Om. Naula mau sekolah. Bial jadi anak pintal." Naura menjawab dengan celoteh lucunya.


Rasya tersenyum lebar dan mengusap lembut puncak kepala Naura.


"Ayo, sayang. Nanti kita terlambat!" Dea menggandeng tangan Naura dan berpamitan pada Rasya dan Clara.


Tanpa sepengetahuan mereka, Nilam memperhatikan interaksi antara Naura dan Rasya. Hatinya bergemuruh melihat perhatian Rasya pada Naura.


"Kenapa aku tidak mencurigainya sejak dulu?" batin Nilam.


"Ibu!" Clara menyapa Nilam yang terlihat melamun.


"Eh? Clara? Kau datang?" Nilam segera memeluk putri bungsunya.


Nilam juga menyapa Rasya yang menghampirinya. Tak lama setelahnya, Rasya berpamitan karena harus berangkat kerja.


Clara membawa ibunya untuk bicara di ruang keluarga.


"Bu, ada yang ingin aku beritahukan pada Ibu." Clara berujar dengan mata berbinar.


"Bu!" Clara mengusap tangan sang ibu karena sedari tadi Nilam hanya diam.


"Eh? Kenapa?" tanya Nilam.


"Ibu kenapa? Kenapa terus melamun?"


Nilam tersenyum. "Ah, tidak kok. Oh ya, apa yang ingin kau katakan?"


"Hmm, aku hamil, Bu!"


Nilam menatap Clara tak percaya. "Benarkah? Kau hamil?"


Clara mengangguk mantap. Nilam segera memeluk putrinya itu. Ia mengusap pelan punggung Clara sambil pikirannya berkelana entah kemana.


"Aku harus memastikan kebenarannya! Apakah Rasya memang ayah biologis Naura atau bukan. Sejak dulu Nola berteman dengan Rasya. Bisa saja ada kemungkinan mereka menjalin hubungan, bukan?" batin Nilam.


Nilam melerai pelukannya. "Makan sianglah disini. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu. Nanti pulangnya ibu yang akan mengantarmu."


Clara tersenyum lebar. "Itu adalah tujuanku datang kesini, Bu. Aku sangat ingin makan masakan Ibu!" Clara bergelayut manja.


Nilam kembali mengusap lengan Clara lembut. "Jika benar Naura adalah anak Rasya..." Nilam memejamkan matanya. Ia tak berani memikirkan hal itu lebih jauh.


"Ya Tuhan! Kenapa semua ini harus terjadi pada keluargaku?" Nilam kembali membatin.


...***...


Kediaman Keluarga Kalendra


Vanessa baru terbangun dari tidurnya ketika semua orang hendak bersiap berangkat ke kantor. Vanessa keluar dari kamar dan bermaksud menemui putranya.


"Vano sayang..." panggil Vanessa.


Diana memutar bola mata jengah. Menantunya ini sama sekali tak memiliki sopan santun kepadanya.


"Mama!"


"Vano mau berangkat sekolah?" tanya Vanessa.


Vano mengangguk. Vanessa memeluk dan mencium bocah lelaki itu.


"Belajar yang rajin ya!" ucap Vanessa sambil mengusap kepala Vano.


"Iya, Ma."


"Ayo, Vano! Nanti kamu terlambat!" Diana segera membawa Vano pergi.


Vanessa menyilangkan tangan di depan dada. Ia mengulas senyum penuh misteri.


"Mama Diana begitu menyayangi Vano. Apa jadinya jika ia tahu yang sebenarnya? Dia pasti akan menangis darah!" batin Vanessa dengan senyum seringai penuh dendam.


...***...


Kediaman Keluarga Huda


Sinta duduk terdiam dengan menyilangkan kedua tangannya. Ia masih kesal dengan kata-kata Faishal yang menyalahkannya atas sikap Arshad.


Sinta berpikir keras bagaimana caranya menaklukkan sang putra semata wayang. Selama ini Arshad selalu melakukan hal sesuka hatinya dan tidak pernah mendengarkan dirinya maupun Faishal.


Arshad adalah anak yang tidak suka diatur. Terbukti dengan dirinya lebih memilih menjadi dokter daripada meneruskan perusahaan milik ayahnya.


"Aku harus bagaimana mengawasi Arshad?" gumam Sinta.


Secara tak terduga, Saif, adik Faishal datang ke rumah dan bertemu pandang dengan Sinta.


"Saif, ada apa?" Sinta segera menghampiri Saif.


"Ah, ini kakak ipar. Kak Faishal memintaku untuk mengambil berkas yang tertinggal di ruang kerjanya." Saif menunduk kemudian berlalu.


Saif adalah adik kandung Faishal sekaligus orang kepercayaan pria itu. Biasanya Saif melakukan hal-hal yang tidak hanya berhubungan dengan perusahaan tetapi juga pribadi.


Sinta yang mengingat akan hal itu segera berjalan menuju ruang kerja suaminya.


"Saif!" panggil Sinta. "Ada yang ingin kutanyakan padamu!" Sinta terlihat serius.


"Ada apa, Kak?" Pria paruh baya itu terlihat panik ketika Sinta menatapnya.


"Apa akhir-akhir ini Arshad meminta bantuan padamu?" selidik Sinta.


"Heh?!" Saif nampak gugup.


"Katakan! Apa Arshad memintamu melakukan sesuatu? Aku tahu ada yang tidak beres dengan putraku! Katakan!" desak Sinta.


Saif sangat gugup sekarang. Apalagi kakak iparnya ini suka mengancam jika ia tidak berkata jujur.


"Kak, sebenarnya..." Saif bingung apakah harus jujur atau tidak. Ia sudah berjanji pada Arshad untuk tidak membocorkan rahasianya kepada siapapun.


"Cepat katakan! Apa kau tidak ingat siapa yang membantu keluargamu ketika dalam kesulitan, hah?!" Selalu saja Sinta mengancam Saif yang memang secara finansial berbeda jauh dengan suaminya.


Saif yang dari kalangan biasa tidak bisa membantah sang kakak ipar. Bahkan Saif selalu melaporkan semua kegiatan Faishal di luar rumah selama puluhan tahun. Saif bagai mata-mata untuk Sinta, tapi asisten bagi Faishal dan Arshad.


"Aku akan menambah uang bulanan untuk anakmu!" bujuk Sinta dengan iming-iming uang. Biasanya ini berhasil.


Saif memejamkan mata. Ia juga terlihat menghela napas beberapa kali.


"Baiklah, Kak. Akan kukatakan! Tapi, tolong jangan bilang pada Arshad jika aku memberitahumu."


Sinta menepuk bahu Saif. "Kau tenang saja! Kau tidak percaya padaku, huh?!"


"Umm, sebenarnya ... Setelah Arshad kembali kemari, dia ... Memintaku untuk mencari tahu tentang seseorang." Saif menundukkan kepala.


"Seseorang? Siapa?!" Sinta sangat bersemangat.


"Arshad tidak bercerita dengan detil, dia hanya menyebutkan nama."


Mata Sinta makin membelalak. "Siapa namanya?" Sinta semakin tak sabar.


"Nola. Arshad memintaku mencari seorang gadis bernama Nola," jawab Saif dengan berkeringat dingin.