Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
58 - Jangan Salahkan Takdir



Setelah keheningan yang terjadi selama beberapa saat, akhirnya Rasya memberanikan diri untuk bersuara.


"Lalu, siapa orang tua kandung Vano?"


Pertanyaan Rasya membuat Vanessa menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu.


"Kalian benar-benar ingin tahu?" Tanya Vanessa.


Tidak ada jawaban yang keluar. Hanya raut wajah mereka sudah menjawab pertanyaan Vanessa.


"Baiklah. Akan kuberitahu." Vanessa bicara dengan pelan. Ia tahu emosinya kali ini pun tidak akan mengubah apapun. Semua rahasianya sudah terbongkar. Jadi akan lebih baik jika ia mengungkapkan semuanya.


"Saat aku tiba di rumah sakit, aku tidak tahu seperti apa kondisiku. Yang aku tahu, air ketubanku telah pecah dan aku akan segera melahirkan.


Dokter menolongku dengan cepat. Aku melahirkan dengan normal. Tapi, satu hal yang tidak pernah aku bayangkan terjadi.


Bayi yang kulahirkan sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Bayiku meninggal. Bahkan sudah beberapa jam sebelumnya dan aku tidak tahu."


Vanessa menatap semua orang. "Apa kalian bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Aku sendirian! Tidak ada seorang pun yang menghiburku. Bahkan ayah dari bayiku malah menemui wanita lain."


Meski nada suaranya tidak terdengar marah, tapi Rasya tahu jika Vanesa menyimpan kekecewaan yang dalam pada kakak dan keluarganya.


"Tapi ketika aku tengah terpuruk. Sebuah kejadian membuatku bangkit dari kegelapan. Wanita yang melahirkan disamping ranjangku, dia ternyata meninggal dunia. Tapi bayi yang dilahirkannya selamat.


Kalian pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi bukan? Ya! Aku menukar bayiku dan Raffa dengan bayi wanita itu. Aku menyuap perawat yang berjaga saat itu."


"Suster, perempuan ini sudah meninggal. Dia tidak bisa menjaga bayinya dengan baik. Berikan bayi itu padaku! Aku akan merawatnya. Aku juga akan berikan uang yang banyak sebagai gantinya."


"Tapi, Nona... Keluarga pasien sedang menunggu di depan."


"Katakan saja jika bayi dan ibunya tidak bisa di selamatkan. Sudah jelas jika ibunya meninggal. Pasti bayinya juga meninggal. Kau tenang saja! Tidak akan ada yang tahu rahasia ini! Cepat lakukan!"


"Akhirnya suster itu mengikuti arahan dariku. Ia mengabarkan pada keluarga pasien jika ibu dan bayinya meninggal. Aku mendengar suara teriakan dari seorang pria yang adalah ayah dari wanita itu, ibu kandung Vano.


Aku menjadikan Vano yang bukan siapa-siapa menjadi bagian dari keluarga kalian. Aku rasa ini adalah balas dendam yang sempurna untukku..." Vanessa mengakhiri ceritanya.


"Vanessa, aku tahu kau membenci kami. Kami akan terima itu. Tapi ... Vano tidak bersalah. Dan saat ini dia sedang butuh bantuan kita. Aku mohon ingat kembali tentang siapa keluarga kandung Vano." Deddy menurunkan egonya untuk membujuk Vanessa. Meski Vano bukan cucu kandungnya, tapi ia sudah menyayangi Vano seperti cucunya sendiri.


"Entahlah. Aku tidak begitu tahu siapa wanita itu. Tapi, saat ayahnya menangisi jasad anaknya, ayahnya menyebut nama Ana. Dan saat aku bertanya pada perawat, dia bilang nama wanita yang meninggal itu adalah Mariana."


Sontak Rasya langsung menatap tajam Vanessa. "Kau yakin, Kak? Nama wanita itu Ana?"


Vanessa mengedikkan bahu. "Kejadian itu sudah lama sekali. Tapi, aku masih ingat dengan nama wanita itu. Karena aku merasa jika dia sudah membantuku. Dan aku juga pernah mengunjungi makamnya di daerah Bandung."


Tangan Rasya mengepal sempurna. Matanya menatap sang mama yang terus tertunduk lesu.


"Mama! Katakan, Ma! Apa saat kak Vaness menelepon Mama, apakah Ana juga datang saat itu?" Desak Rasya.


"Ada apa ini, Rasya?" Deddy yang bingung dengan bentakan Rasya akhirnya bertanya.


"Katakan, Ma!" Seru Rasya.


Diana menggeleng lemah. Bagaimana bisa semuanya jadi kebetulan begini. Bagaimana bisa cucu yang pernah ia tolak justru menjadi cucu yang paling ia sayangi.


"MAMA!" Emosi Rasya tak tertahan lagi.


Diana akhirnya mengangguk. Ia mengakui jika setelah Ana datang ke rumahnya, malam itu juga Vanessa menghubungi dirinya meminta tolong. Bahkan Diana mengusir Heri dan Ana yang saat itu kondisinya akan melahirkan.


"Siapa Heri, Rasya?" Tanya Vanessa.


"Heri adalah ayah Ana. Kak, Ana adalah istriku. Dan Vano adalah anakku. Meski waktunya tidak tepat, tapi aku berterimakasih pada kakak karena sudah membawa Vano kedalam rumah kami."


Rasya segera pergi dari ruangan itu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagia yang terkumpul jadi satu.


"Kak Rasya!" Clara memanggil Rasya.


"Tenang saja, Nak. Papa akan minta Eksa untuk menemani Rasya." Deddy segera menghubungi asisten Rasya.


Sementara Vanessa kini terduduk lemas. Bagaimana bisa takdir begitu mempermainkan dirinya.


"Kau! Kau akan tetap disini hingga semuanya jelas. Jika terbukti Vano adalah anak Rasya, aku akan mengampunimu. Tapi jika ternyata bukan, maka bersiaplah membusuk di penjara," Tegas Deddy.


...***...


Beberapa jam telah berlalu. Dea akhirnya mendapat kabar dari Clara jika kondisi Vano sudah membaik karena mendapat donor dari anggota keluarganya.


Tentunya Clara tidak menceritakan tentang fakta jika Vano adalah anak kandung Rasya bersama dengan Ana. Clara tidak ingin membuat keluarganya khawatir.


"Bagaimana sayang?" Tanya Shady menghampiri Dea.


"Mbak Clara bilang kalau Vano sudah mendapatkan donor. Dan kondisinya mulai pulih."


"Ah, syukurlah!" Shady memeluk Dea.


Pikiran Shady tertuju pada rencananya untuk membongkar kejahatan Shezi dan Rasya.


"Apakah sekarang adalah waktu yang tepat?" Batin Shady.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Dea. Pastinya Dea tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya.


"Tidak ada apa-apa, sayang. Aku hanya lelah saja." Shady mengajak Dea untuk beristirahat.


"Maafkan aku, Dea. Aku belum bisa memberitahumu yang sebenarnya. Aku bingung dengan semua ini. Aku juga takut jika Clara terluka. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"


Sementara itu di rumah sakit,


Setelah mengetahui jika Vano memang benar adalah anak kandung Rasya, Deddy menindak tegas Vanessa yang sudah membohongi mereka selama bertahun-tahun.


"Mulai detik ini kau bukan lagi anggota keluarga Kalendra. Kau bukan lagi menantuku. Kemasi barangmu dan angkat kaki dari rumah kami. Kau beruntung karena aku tidak menuntutmu. Sekarang hiduplah untuk dirimu sendiri. Eksa! Antarkan dia keluar dari sini." Titah Deddy.


"Baik, Tuan. Mari, Nona!" Eksa memegangi lengan Vanessa yang terasa akan limbung.


Sungguh Vanessa tidak menyangka jika apa yang dilakukannya selama ini bukanlah sebuah balas dendam, tapi sebuah kebaikan karena membawa keturunan asli keluarga Kalendra.


"Kenapa takdirku buruk sekali?" Gumam Vanessa.


"Jangan menyalahkan takdir, Nona. Kau sendiri yang memilih jalan ini. Kau harus menerima akibat dari perbuatanmu sendiri. Kau beruntung karena Tuan Deddy mengampunimu."


Vanessa tersenyum getir. Kini semua harapannya telah musnah. Dulu ia pikir bisa menguasai harta keluarga Kalendra melalui Vano. Tapi ternyata Vano adalah anak Rasya dan Ana.


"Brengsek kalian semua!" Seru Vanessa.


Eksa hanya menggeleng pelan melihat tingkah Vanessa yang sepertinya mulai depresi.