
Minggu pertama di desa C digunakan Arshad untuk meninjau lokasi yang akan dibangun sebuah klinik disana. Arshad ingin memastikan sendiri jika pembangunan klinik berjalan dengan lancar.
Sebenarnya ini kali pertama Arshad melakukan tugas mulia seperti ini. Biasanya Arshad hanya menempati klinik yang sudah ada di desa tempatnya bertugas.
Namun karena ada informasi jika ada desa tertinggal yang membutuhkan bantuannya, tentu saja Arshad dengan senang hati membantu. Apalagi jiwa sosial Arshad sangatlah tinggi.
"Selamat pagi, Pak Dokter. Saya tidak menyangka ternyata dokter sendiri yang akan meninjau lokasi disini," ucap seorang mandor bernama Oding.
"Ah, tidak apa, Mang. Saya memang senang berpetualang, hahaha."
"Wah, hebat ya pak dokter. Asalkan jangan berpetualang wanita saja, pak dokter, hehe. Maaf bercanda, pak dokter."
Arshad ikut tertawa. "Tidak apa, pak. Jangan tegang. Saya orangnya santai. Dan ya, sampai sekarang saya masih betah sendiri."
Rupanya pembicaraan Arshad dan Mang Oding didengar oleh seseorang yang sejak tadi menguping. Sejak mendengar rumor mengenai kedatangan dokter tampan di desanya, gadis bernama Karisa itu sudah sangat bersemangat ingin segera bertemu dengan pria bernama Arshad itu.
"Asyik! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata dokter tampan itu masih single. Aku tidak akan membiarkan gadis-gadis di desa ini mendekatinya," gumam Karisa dalam hati dengan gembira.
Dari pagi hingga siang hari, Arshad masih berada di lokasi pembangunan klinik. Arshad bahkan makan siang disana. Sesekali Arshad menerima telepon dari Naura yang mengatakan rindu dengan dirinya.
Mang Oding sampai geleng-geleng kepala karena melihat Arshad sedang bertelepon ria dengan seseorang yang ia kira adalah kekasih Arshad.
"Duh, pak dokter, sedang bertelepon dengan pacarnya ya? Mesra sekali!"
Arshad malah tertawa. "Bukan Mang. Ini anak saya. Dia bilang rindu sama saya."
Mang Oding malah bingung. Tadi pagi Arshad bilanh masih sendiri, sekarang malah sudah punya anak.
"Dia anak saya, Mang. Namanya Naura." Arshad menunjukkan foto Naura dan dirinya.
"Oh, maaf pak dokter. Saya kira pak dokter beneran masih sendiri. Tahunya tadi pagi hanya bercanda ya!" Mang Oding menggaruk tengkuknya.
"Saya memang masih sendiri, Mang. Lebih tepatnya duda."
Jawaban Arshad membuat Mang Oding tertegun. Sedang Arshad memilih untuk kembali ke rumahnya. Arshad tak suka jika ada orang yang mengungkit soal masalah pribadinya.
...****************...
Sore harinya, Arshad memilih untuk berkeliling desa setelah melakukan tidur siang sejenak. Biasanya ia tidak akan bisa bersantai jika masih bekerja di rumah sakit. Berada di desa ini membuat Arshad mengira jika dirinya sedang liburan dan menjauh dari hiruk pikuk kota.
Arshad ingin mengeksplor desa ini lebih jauh. Ia tidak ingin hanya membangun klinik di desa ini, tapi juga membangun sektor ekonomi yang bagus bagi para warganya.
"Kyaaaaa! Tolong, jangan juragan!"
Tiba-tiba Arshad mendengar suara seorang gadis berteriak. Arshad yang tahu jika gadis itu sedang tidak baik-baik saja segera mendekat.
Arshad melihat ada kerumunan warga di rumah salah satu penduduk desa.
"Ada apaan sih?" gumam Arshad lalu semakin mendekat.
Ternyata tak hanya mendengar suara seorang gadis saja, melainkan Arshad mendenngar suara pria paruh baya yang sedang berkoar-koar di depan kerumunan itu.
"Dengar ya kalian semua! Jika kalian tidak bisa melunasi hutang dan bunganya tepat waktu, maka nasib kalian akan sama seperti mereka! Masih untung aku mau memaafkanmu, pak tua. Karena anak gadismu ini masih perawan dan cantik." Pria paruh baya itu mencoel dagu si gadis, namun dengan cepat gadis itu melengos.
"Apa-apaan ini? Masih ada praktek lintah darat seperti ini disini?" kesal Arshad dalam hati.
"Tolong juragan! Beri saya waktu sebentar lagi. Saya janji pasti saya akan bayar hutang saya sama juragan." Kini pria tua bernama Rosid ikut bicara membela putrinya. Pastinya ia tak ingin nasib putrinya sama dengan gadis-gadis yang ada disana. Dijadikan istri oleh juragan Sodik, tapi hanya sebagai pemuas nappsu nya saja.
"Saya janji, juragan!" ucap Rosid lagi.
Juragan Sodik menggeleng. "Tidak! Kali ini saya tidak mau menunggu lagi. Anak kamu ini yang akan melunasi hutang-hutang kamu, mengerti?! Pengawal, bawa gadis itu ke mobil!" perintah Juragan Sodik pada anak buahnya.
"Baik, Juragan!" Dua orang pria bertubuh besar menghampiri si gadis muda yang terus bersembunyi di balik tubuh renta ayahnya.
"Jangan, juragan! Jangan bawa anak saya!" pinta Rosid memohon.
"Tidak! Bapak, aku tidak mau ikut, Pak! Tolong!" teriak gadis itu.
"Amanda! Jangan bawa dia, Juragan!" Rosid masih memohon hingga bersujud di kaki Juragan Sodik.
"Hentikan!"
Sebuah suara bariton membuat suasana mendadak sunyi. Arshad maju dan membantu Rosid untuk berdiri. Arshad lalu menatap juragan Sodik dengan tajam.
"Berapa hutang bapak ini?" tanya Arshad dengan suara tegasnya.
Juragan Sodik memindai penampilan Arshad dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tentu saja penampilan Arshad sangatlah berbeda dengan warga desa C itu meski Arshad hanya memakai kaus polo berkerah dan celana jeans panjang.
"Siapa kau? Berani sekali bicara lantang padaku?" tanya Juragan Sodik tak ingin kalah pamor dengan Arshad. Karena dari segi penampilan jelas Sodik kalah jauh dengan Arshad.
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Yang kamu harus lakukan adalah jawab pertanyaan saya! Berapa hutang bapak ini ke Anda?" tanya Arshad sekali lagi.
Juragan Sodik tertawa keras. "Kalau aku beritahu, memangnya kau ini mau apa? Kau mau melunasi hutang mereka?"
"Iya!" jawab Arshad tegas.
Juragan Sodik kembali tertawa. Begitu juga dengan anak buahnya.
"Saya serius!" seru Arshad hingga membuat tawa Juragan Sodik dan anak buahnya terhenti.
Juragan Sodik menelan salivanya. "Utangnya 50 juta! Kau bisa bayar?"
Dengan masih kesal Arshad kembali menjawab. "Tentu! Berikan nomor rekeningmu! Aku akan mengirimnya sekarang juga!"
Juragan Sodik kembali terperangah. Ia masih mengira-ngira apakah ini hanya mimpi atau nyata. Terlebih Rosid dan putrinya, Amanda. Mereka hanya melongo melihat aksi heroik Arshad.
Juragan Sodik nampak berpikir sejenak. "Hmmm, 50 juta ditambah dengan bunga dan juga dendanya, jadi 75 juta!"
Rosid dan Amanda melongo mendengar nominal yang disebutkan Sodik.
"Ini tidak adil! Kenapa jadi 75 juta? Bukankah tadi Juragan bilang hanya 60 juta?" Amanda tak terima Juragan Sodik ingin menipu Arshad.
Juragan Sodik tersenyum sinis. "Sial, gadis ini pintar juga rupanya! Sayang sekali aku tidak bisa mencicipi gurihnya gadis keras kepala ini!"
"Tidak apa! Saya akan bayar 75 juta! Sekarang mana nomor rekeningmu! Jangan bilang kau tidak punya rekening bank, hah?!" cibir Arshad.
"Enak saja! Tentu saja saya punya!" Juragan Sodik menunjukkan nomor rekeningnya kepada Arshad. Dan dengan cepat Arshad mentransfer uang kepada rekening Juragan Sodik.
"Ini, sudah saya kirim 75 juta! Lunas kan? Sekarang kalian pergi dari sini! Dan tolong semuanya bubar! Ini bukan tontonan!" Arshad meminta para warga untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Setelah membantu Amanda dan Rosid, Arshad segera pergi tanpa mengucap sepatah katapun lagi.
"Siapa dia? Sepertinya aku baru pertama kali melihatnya disini. Dan ya? Dia menolongku dan bapak!" batin Amanda bertanya-tanya.