
Pagi itu di rumah keluarga Hutama, semua orang nampak berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan pagi yang disiapkan oleh Dea. Tidak ada yang bicara ketika sarapan sedang berlangsung.
Rosi yang baru saja selesai dengan pekerjaannya menghampiri meja makan dan menanyakan apakah ada lagi yang dibutuhkan atau tidak.
"Sudah cukup, Ros," sahut Nilam.
Rosi mengernyit heran karena tidak melihat Clara ikut sarapan bersama.
"Apa nona Clara belum bangun?" tanya Rosi.
Nilam sontak melihat Rosi. "Apa maksud kamu, Ros?" Nilam tak mengerti.
"Maaf, Nyonya. Semalam non Clara datang kemari. Apa nyonya belum bertemu dengannya?"
Nilam menatap Shady dan Dea. Perasaan Nilam mengatakan jika ada yang tidak beres dengan putrinya. Nilam segera meninggalkan meja makan dan menuju kamar Clara.
Begitu juga dengan Dea dan Shady. Mereka mengekori langkah Nilam. Mereka juga merasa ada yang aneh dengan kedatangan Clara kali ini.
Nilam membuka pintu kamar Clara yang tak terkunci.
"Clara!" seru Nilam yang membuat Clara terbangun.
Clara memang sudah bangun sejak tadi namun masih meringkuk di tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Mendengar suara sang Ibu, Clara langsung bangkit dan memeluk sang ibu yang kini duduk di tepi ranjang.
"Ibu! Huaaaaa!" Clara memekik lalu menangis.
Nilam memeluk Clara dengan erat. Putrinya itu sepertinya sedang menghadapi tekanan yang berat.
"Tenanglah, Nak! Ibu disini!" Nilam berusaha menenangkan Clara.
"Ibu... Hiks hiks, aku harus bagaimana?" seru Clara dalam isak tangisnya.
Shady dan Dea yang berdiri di ambang pintu hanya bisa diam dan saling pandang.
"Sebaiknya kita pergi. Biarkan Clara bicara pada Ibu dulu," ajak Shady.
Dea pun mengangguk dan pergi bersama Shady menuju kamar mereka. Rasanya mereka sudah tidak berniat untuk melanjutkan sarapan mereka.
"Mas, sepertinya terjadi sesuatu diantara mbak Clara dan pak Rasya," terka Dea.
Shady mengangguk. "Kau benar! Sejak awal aku memang tidak setuju dengan hubungan mereka. Sekarang lihat akibatnya!" Shady menggeram kesal. Ia langsung meraih ponsel dan menghubungi Rasya.
"Sial! Nomornya tidak aktif!" Shady makin kesal.
"Sudahlah, Mas. Kita tunggu mbak Clara untuk bercerita saja ya! Jangan menduga-duga. Takutnya prasangka kita salah." Dea mengusap lengan sang suami.
Shady tersenyum. "Terima kasih, sayang. Kamu selalu berpikir positif dalam segala hal. Aku makin mencintaimu," goda Shady.
"Apaan sih, Mas?" Dea tersipu malu. Ia menundukkan kepala.
"Aku beruntung karena bisa menjadi suamimu."
Dea mendongak dan menatap suaminya lekat. "Aku lebih beruntung karena bisa bertemu denganmu."
"Aku lah!" Shady tak mau kalah.
"Aku dong, Mas!"
"Aku, sayang!"
"Aku!"
Mereka berdua malah berdebat tentang sesuatu yang tidak penting. Hingga akhirnya untuk menghentikan Dea, Shady harus membungkam bibir Dea. Dea menepuk pelan dada Shady karena tak siap mendapat serangan.
"Aku yang beruntung!" tutup Shady lalu mengusap bibir Dea yang basah.
"Aku dong!" Dea masih berlanjut lalu berganti membungkam bibir Shady. Suasana makin menghangat ketika Shady memeluk erat tubuh Dea. Tangannya mengusap lembut punggung Dea.
"Papa! Mama!" teriakan Naura membuat Shady dan Dea harus saling melepaskan diri.
"Naura!" seru Dea yang langsung menghampiri putri kecilnya.
"Mama, ayo kita belangkat sekolah!"
Dea sampai lupa jika sekarang harus pergi ke sekolah.
"Iya! Ayo!" Dea menggandeng tangan Naura.
Shady yang tak ingin ketinggalan, langsung membawa Naura dalam gendongan.
Sementara itu di tempat berbeda, Arshad sudah siap dengan setelah jasnya. Tinggal menambahkan dasi saja agar terlihat lebih rapi.
ketukan di pintu kamarnya membuat Arshad menyerukan kata masuk.
"Kau sudah mau pergi, Nak?" tanya Sinta yang melihat putranya telah rapi.
"Iya. Ada apa, Ma?"
Arshad menatap Sinta. "Soal apa?"
Sinta duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas sebelum berucap.
"Mama sudah tahu semuanya! Semua hal yang kau sembunyikan selama ini!" Sinta tak mau berbasa basi.
Arshad mengerutkan dahi. "Om Saif memberitahu mama?"
Sinta mengangguk. "Sebenarnya bukan dia yang bercerita, tapi mama yang mendesaknya."
Arshad memutar bola mata malas. "Sudah kuduga. Lalu, mama mau apa?"
"Arshad, jadi benar jika kau memiliki anak diluar sana?"
"Iya, lalu?"
"Kalau begitu cepat bawa dia kemari!"
Arshad bingung. "Maksud mama?"
"Dia adalah cucu mama! Darah dagingmu! Dia harus tinggal bersama kita, Arshad!"
Arshad memejamkan mata. Sudah bisa ditebak jika mamanya akan meminta hal ini.
"Haah! Ma, mengenai hal itu ... Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Aku ingin fokus mencari pembunuh Nola lebih dulu."
Sinta menatap putranya dengan tatapan bingung. "Kenapa kau malah mengurus itu? Bukankah lebih penting jika kita mengajukan hak asuh atas putrimu? Siapa namanya?"
"Naura, Ma."
Sinta masih merajuk agar Arshad bersedia membawa Naura masuk dalam keluarga Huda. Dan sekali lagi Arshad menegaskan jika ia akan menyelesaikan masalah kecelakaan Nola lebih dulu.
"Mama tenang saja! Setelah kasus ini terbongkar, aku akan bersiap untuk memgambil hak asuh Naura. Percayalah padaku, Ma!"
Sinta tersenyum dan memeluk putranya.
...***...
Di sebuah desa di daerah Bandung, Rasya yang terlihat lusuh turun dari mobilnya dan menuju ke sebuah rumah sederhana milik seorang pria tua. Rasya melangkah gontai menghampiri pria tua yang sedang memotong kayu bakar.
"Pak Heri..." Rasya memanggil nama si pria tua.
Betapa terkejutnya pria tua bernama Heri itu ketika melihat Rasya.
"Kau! Untuk apa kau datang kemari?" teriak Heri.
"Bapak, maafkan aku..." Rasya langsung berlutut di depan Heri.
Heri yang nampak geram sebisa mungkin meredam amarahnya agar tidak berbuat kasar pada Rasya.
"Dimana Ana, Pak?" tanya Rasya yang sudah ingin bertemu dengan wanita masa lalunya.
Heri mendorong tubuh Rasya hingga terjengkang.
"Untuk apa kau bertanya tentang Ana?! Sudah 7 tahun berlalu dan kau baru menanyakan tentang Ana?!"
Heri membuang kasar kapak yang ada ditangannya. Ia berlalu masuk ke dalam rumah. Rasya yang penasaran dengan Ana segera bangkit dan mengikuti langkah Heri.
"Ana! Ana! Dimana kau, Ana?" Rasya berteriak mencari keberadaan Ana.
Rasya bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Ia berlarian kesana kemari mencari sosok Ana. Namun sosok yang dicarinya tidak bisa ditemukan dimanapun.
"Dimana Ana, Pak?" Rasya kembali bertanya pada Heri.
Mata Heri memerah merasakan sebuah amarah yang sampai di ubun-ubun. Tanpa menjawab pertanyaan Rasya, Heri segera mengarahkan tamparan ke wajah Rasya.
Rasya yang sedari tadi meracau kini diam. Pipinya memerah karena tamparan yang dilayangkan Heri.
"Percuma saja kau mencari Ana! Dia tidak ada disini! Sebaiknya kau pergi dari sini!" usir Heri tegas. Ia tak ingin lebih marah dari ini.
Tak ingin mendapat amukan dari Heri, Rasya memilih pergi dari rumah itu. Namun Rasya tidak akan putus asa.
Keesokan harinya Rasya kembali ke rumah Heri. Dengan membawa pertanyaan yang sama yang ia ajukan pada Heri.
Sebenarnya Heri tak ingin peduli lagi dengan Rasya, pria yang sudah menghancurkan hidup putrinya. Heri sangat membenci Rasya karena sudah memberi janji palsu pada putrinya.
Namun melihat kondisi Rasya yang tampak acak-acakan, ditambah lagi pakaian yang dikenakan Rasya masih sama dengan kemarin, Heri menjadi tak tega.
Heri akhirnya buka suara,
"Ana yang kau cari ... Dia ... Sudah tidak ada. Dia sudah meninggal. Dia meninggal ketika melahirkan bayi kalian. Bahkan bayinya pun ikut meninggal."
Seketika tubuh Rasya luruh ke lantai. Sirna sudah semua harapannya untuk bertemu dengan Ana. Wanita yang menjadi pengobat laranya ketika patah hati, kini telah tiada.
Ya, Rasya mengenal Ana ketika ia baru saja patah hati dengan sahabatnya, Nola. Rasya yang sudah berteman lama dengan Nola, memendam perasaan khusus untuk wanita itu. Tapi tanpa disangka, Nola malah memilih Shady untuk menjadi kekasih hatinya. Saat itulah sosok Ana hadir dalam hidup Rasya. Mengisi kekosongan hatinya yang hampa, hingga akhirnya mereka menikah atas dasar cinta.