
Arshad kini duduk berhadapan dengan seorang wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai pengurus panti. Arshad menelisik sekilas bangunan panti yang terawat dengan baik.
Suara anak-anak panti juga ikut terdengar oleh pendengarannya.
"Mohon maaf sebelumnya, kalau boleh tahu Tuan ini siapa? Dan ada keperluan apa datang kemari?" tanya ibu panti bernama Nur itu.
Arshad berdehem terlebih dulu untuk menetralkan degup jantungnya. "Umm, begini Bu. Nama saya Arshad Huda. Saya ingin menanyakan tentang salah satu anak yang tinggal di panti ini. Namanya Nola. Ah ini saya punya fotonya, meski tidak terlalu jelas." Arshad mengeluarkan sebuah foto seorang wanita yang diambil dari rekaman kamera pengawas.
Nur nampak mengerutkan dahinya. "Kalau boleh tahu Tuan ini siapa?"
"Saya adalah kawan lama Nola." Arshad berusaha menampilkan ekspresi biasa meski tengah berbohong.
Nur memperhatikan gerak gerik Arshad. "Nola memang salah satu penghuni panti ini. Tapi setelah usianya menginjak 18 tahun, Nola memilih menjalani kehidupannya sendiri dan keluar dari panti. Dia hanya sesekali saja berkunjung kemari."
Arshad mengangguk paham. "Apa ibu tahu dimana Nola tinggal sekarang? Saya kehilangan kontaknya, Bu." Arshad ternyata mulai lihai berbohong.
"Eh?!" Nur tampak kaget dengan pertanyaan Arshad. "Tuan yakin tidak mengetahui apapun soal Nola? Jika Tuan adalah kawan lamanya, maka harusnya Tuan tahu yang terjadi."
Arshad memutar otaknya. "Saya baru saja kembali ke kota ini, Bu. Dan saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Memangnya ada apa, Bu?"
Nur terlihat menghela napas dalam. "Jadi, Tuan benar-benar tidak tahu?"
Arshad menggeleng.
"Nola sudah meninggal, Tuan," ucap Nur lirih.
Bagaikan mendengar bunyi petir di siang hari, Arshad terlihat syok dan tak percaya.
"Nola meninggal sekitar dua tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil," lanjut Nur.
Setelah berbincang dengan Nur, Arshad memilih berpamitan. Ia benar-benar tidak menyangka jika Saif hanya memberikan informasi setengah-setengah.
Arshad melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdengung.
Informasi yang baru saja dia dapatkan sangatlah mengejutkan. Arshad menghentikan mobilnya di sebuah tempat pemakaman umum yang disebutkan Nur tadi.
Entah apa maksud Saif tidak memberitahu dengan detil semua info tentang Nola. Saif menyuruh Arshad untuk mencari tahu sendiri dengan mendatangi panti asuhan tempat Nola dibesarkan.
Arshad berdiri menatap gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan 'Nola Hutama' itu. Arshad masih tak percaya jika wanita yang dicarinya ternyata telah tiada.
Getaran ponsel membuat Arshad harus segera pergi ke rumah sakit karena ada kondisi darurat. Arshad tenggelam dalam kesibukannya dan melupakan hal tentang Nola.
...***...
"Mama!" Suara seorang gadis kecil membuat Dea sadar dari lamunannya.
"Sayang! Kamu mengagetkan mama saja!" Dea mencium gemas pipi Naura.
"Mama kenapa? Mama melamun?" tanya Naura.
Dea menggeleng. "Tidak, sayang. Oh ya, sudah pamitan dengan ibu guru belum? Apa Naura mau pulang sekarang?"
Saat ini Dea sedang berada di sekolah Naura. Dea adalah salah satu pengajar di sekolah Naura.
Dea yang memiliki gelar guru tidak ingin ilmunya menghilang begitu saja. Ia meminta izin pada Shady untuk menjadi pengajar dan Shady menyetujuinya. Dea sudah mengajar hampir sebulan lamanya.
"Mama, Naula pengen jalan-jalan sama mama dan papa. Sudah lama kita nggak pelnah jalan-jalan ke taman, Ma," celoteh Naura dengan lucunya.
Dea tersenyum. "Iya, sayang. Nanti kita bilang papa ya. Yuk sekarang kita pulang dulu!"
Naura mengangguk. Dea menggenggam tangan putri kecilnya yang hangat. Dea tidak bisa membayangkan jika benar Shady akan memberikan Naura pada keluarga kandungnya. Mengingat Nola tidak memiliki lagi, sudah pasti hak asuh Naura akan jatuh ke ayah kandungnya.
Dea memejamkan mata sejenak. "Apa aku bisa kehilangan kamu, Nak? Kamu sudah mengisi hati dan hidupku sejak kamu lahir. Bagaimana aku bisa kehilangan kamu," batin Dea sendu.
"Aku harus bicara dengan mas Shady. Aku ingin mengambil hak asuh Naura. Dia adalah putriku! Dan akan tetap jadi putriku!"
...***...
Sinta masih memegangi kepalanya yang terasa pening. Memikirkan putra semata wayangnya membuat dirinya sering merasa sesak.
Sinta yang masih bersama Saif kini kembali bertanya pada adik iparnya itu.
"Maaf, Kak. Tapi menurut cerita Arshad..." Saif ragu untuk lanjut cerita.
"Katakan saja semuanya! Aku sudah pusing memikirkan anak itu! Sekarang kau jangan membelanya!" bentak Sinta.
Saif yang bernyali ciut akhirnya melanjutkan ceritanya. Ia merasa bersalah pada Arshad karena tak bisa menjaga rahasia.
"Kau yakin hubungan mereka hanya sebatas cinta satu malam?" selidik Sinta usai Saif selesai bercerita.
Saif mengangguk. Memang begitulah cerita yang diungkapkan Arshad.
Sinta makin pening. Entah apa yang akan terjadi dengan keluarganya kelak.
"Dengar! Selidiki semua tentang wanita itu dengan baik. Lalu, kau kabarkan padaku! Jangan sampai Faishal dan Arshad tahu mengenai hal ini. Kau mengerti?" titah Sinta.
"Baik, Kak. Aku mengerti," jawab Saif pasrah.
...***...
Malam harinya, Dea memberanikan diri untuk bicara dengan Shady. Ia tak ingin lagi masalah ini merenggangkan hubungan mereka.
"Mas, ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Dea sambil duduk di samping Shady yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Aku juga. Ada yang harus kusampaikan padamu." Shady menyudahi pekerjaannya dan menatap Dea.
Kini Dea menelan salivanya sendiri karena sepertinya Shady akan membicarakan hal yang pentinf dengannya.
"A-ada apa, Mas?" tanya Dea gugup.
Tatapan Shady sangat tajam dan serius.
"Aku akan mencari tahu siapa ayah kandung Naura," ucap Shady.
"Eh? Ayah kandung Naura?" Dea membisu. Ternyata Shady memang berniat menyerahkan Naura pada keluarga kandungnya. Dea tertunduk sedih.
"Aku memang kecewa. Tapi bukan berarti aku tidak peduli pada putriku. Aku mencari ayah kandungnya karena ingin menegaskan padanya jika Naura adalah putriku!"
Seketika Dea mendongak. Ia tak percaya dengan apa yang Shady katakan.
"Kamu serius, Mas?" Mata Dea berkaca-kaca.
"Iya!" Shady menatap menerawang. "Aku sadar jika aku menyayangi Naura sejak dia masih dalam kandungan. Sejak dia pertama kali menghembuskan napas di dunia ini. Aku ingin tetap menjadi ayahnya, dan kau menjadi ibunya." Shady menggenggam tangan Dea.
"Iya, Mas. Kita adalah orang tua Naura. Tidak peduli dia lahir dari rahimku atau tidak. Tapi, kamu akan cari kemana ayah kandung Naura?"
Shady menghela napas sejenak. "Aku akan mulai dari orang terdekat Nola."
Dea mengerutkan dahinya. "Maksudmu pak Rasya?" Dea terkejut.
Shady mengangguk.
"Tidak!" Sebuah suara membuat Dea dan Shady menoleh.
Pintu kamar yang tidak tertutup rapat membuat Nilam mendengar obrolan Dea dan Shady. Terlebih Nilam juga berniat ingin menemui mereka berdua.
"Apa maksud ibu?" tanya Shady.
Nilam menghampiri anak dan menantunya. "Jika kau curiga pada Rasya maka kau salah besar, Bang!"
Shady dan Dea menatap Nilam lekat.
"Rasya bukanlah ayah kandung Naura. Ibu punya buktinya!" Nilam segera memberikan surat hasil tes DNA kepada Shady dan Dea.
Shady dengan cepat membuka dan membacanya. Ia menatap Nilam tak percaya.
"Meski Rasya bukanlah ayah kandung Naura, aku yakin jika dia tahu sesuatu tentang ini. Dia dan Nola sangat dekat. Aku akan memaksanya untuk bicara!"
Shady langsung beranjak dari duduknya. Ia tak ingin menunda hal ini lebih lama lagi. Ia bahkan tak mengindahkan suara Dea yang terus memanggilnya.