
Semua orang yang ada di depan pintu apartemen Rasya tidak ada yang menggubris pertanyaan Clara. Bahkan para petugas kepolisian dengan tegas tetap akan membawa Rasya ikut bersama mereka.
Para polisi tidak ingin melihat drama yang akan dimainkan oleh Clara. Tentunya mereka sudah memprediksikan seperti apa reaksi dari keluarga tersangka yang akan digelandang oleh polisi.
"Mari, Pak Rasya! Ikut kami!" tegas polisi itu dan memegangi kedua lengan Rasya.
"Tidak! Bang, katakan ada apa ini? Kenapa kalian menangkap suami saya?" bentak Clara.
Sungguh Clara baru saja mendapatkan kebahagiaan dengan menerima masa lalu Rasya. Dan kini semuanya harus sirna dalam satu malam.
Shady memegangi lengan Clara yang ingin menghalangi penangkapan Rasya. Clara berteriak histeris dan menangis. Clara memukuli dada Shady karena kesalnya.
Di tempat berbeda, Deddy Kalendra sangat terkejut dengan kabar yang baru saja di terimanya. Deddy langsung menuju ke kantor polisi untuk mencari informasi yang sebenarnya.
Tiba di kantor polisi, Deddy dan Diana tidak diperbolehkan bertemu dengan putra dan keponakannya. Tentu saja Deddy marah. Bahkan adiknya sendiri juga ikut terseret kasus kejahatan.
"Siapa yang sudah melakukan ini pada putraku?" seru Deddy.
"Aku!" Seorang pria muda menjawab dengan lantang. Dia adalah Arshad.
"Kau! Siapa kau?" tanya Deddy.
"Arshad Huda!" Arshad memperkenalkan dirinya.
"Huda? Kau putra Faishal Huda?" Deddy memicingkan matanya.
"Aku rasa sekarang tidak penting aku anak siapa. Yang terpenting adalah ... Putra dan keponakanmu sudah melakukan kejahatan. Jadi, mereka harus dihukum dengan hukuman yang setimpal."
Deddy naik pitam dengan pernyataan Arshad. "Aku akan menyewa pengacara untuk membebaskan mereka!"
Arshad tersenyum sinis. "Silakan saja! Tapi aku juga akan memastikan jika mereka tidak akan lepas dari jerat hukum. Jika dulu adikmu membantu putrinya dan anakmu, maka sekarang jangan harap ada yang bisa membantu kalian lagi!"
Arshad meninggalkan Deddy dan Diana yang masih terdiam tidak percaya. Kali ini kesalahan putranya tidak bisa ia toleransi lagi. Membantu Shezi dalam menyembunyikan kejahatan dan juga membiarkan korban meninggal dengan sengaja, itu tindakan yang tidak termaafkan.
Sementara itu di rumah Hutama,
Shady membawa Clara ke rumah utama Hutama agar bisa dijaga oleh Nilam dan Dea. Kondisi Clara masih syok setelah penangkapan Rasya.
Nilam meminta Clara untuk beristirahat lebih dulu. Pastinya ia lelah setelah menginap di rumah sakit untuk menjaga Vano.
"Bagaimana kondisi Clara, Bu?" tanya Shady. Bahkan Shady tidak berani menunjukkan dirinya di depan Clara. Ia merasa bersalah pada sang adik.
"Clara sudah tidur. Sepertinya dia sangat syok. Bagaimana ini, Bang? Dia sedang hamil dan harus mengalami semua ini." Wajah Nilam terlihat sendu.
"Cepat atau lambat semua harus terbongkar, Bu. Clara harus bisa melanjutkan hidupnya meski tanpa Rasya. Lagipula pria itu sudah banyak menyakiti hati Clara. Jika setelah bayinya lahir, Clara ingin bercerai dari Rasya, maka aku akan..."
"Tidak!"
Ucapan Shady terpotong oleh Clara. Ternyata Clara tidak benar-benar tidur. Bagaimana bisa ia tidur sementara sang suami sedang berada di jeruji besi?
"Clara! Kau tidak tidur, Nak?" tanya Nilam khawatir.
"Aku tidak akan berpisah dari kak Rasya. Aku akan menunggunya hingga ia selesai mempertanggungjawabkan perbuatannya." Clara melangkah menghampiri Dea.
"Dea, tolong maafkan kesalahan kak Rasya. Aku tahu meminta maaf saja tidak akan cukup. Tapi kak Rasya akan mendapat hukumannya. Maka, aku mohon maafkan dia." Clara menangkupkan kedua tangannya. Dia menangis dan memohon ampunan pada Dea.
Dea memeluk Clara. Sungguh Dea tidak tega melihat Clara begitu mencintai Rasya.
Clara mengangguk. Sungguh Dea adalah wanita yang baik. Clara menyesal dulu pernah meragukan kebaikan Dea.
...***...
Polisi melakukan penggeledahan di apartemen Rasya. Disana di temukan sebuah bukti yang selama ini disimpan oleh Rasya.
Sebuah kartu memori yang terpasang di blackbox mobil Clara dan mobilnya. Disana terlihat jelas bagaimana mobil Shezi bertabrakan dengan mobil Nola.
Juga terlihat saat Rasya datang dan membantu Shezi untuk memindahkan tubuh Dea yang pingsan ke kursi kemudi. Sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga.
Dua bulan kemudian, Rasya kini resmi menyandang gelar sebagai terdakwa dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara. Sedangkan Shezi yang menjadi pelaku utama mendapatkan hukuman 12 tahun penjara.
Hari ini, Rasya meminta Shady untuk datang ke rutan karena ada hal yang ingin dia bicarakan. Shady menuruti keinginan Rasya.
Kini Shady duduk berhadapan dengan Rasya. Pria yang dulu berpenampilan gagah dengan balutan jasi, kini hanya memakai baju tahanan berwarna oren.
Wajah Rasya juga tampak lebih tirus. Shady merasa iba dengan kondisi adik iparnya.
"Ada apa? Kenapa kau memintaku kemari?" tanya Shady.
"Aku ingin memberitahu satu hal padamu. Hal yang tidak pernah kukatakan pada siapapun. Kini aku akan mengatakannya."
Shady menghela napas panjang sebelum mendengar pengakuan Rasya.
"Benar! Jika saja saat itu aku membawa Nola ke rumah sakit, pasti nyawa Nola masih bisa tertolong. Dan Naura tidak akan kehilangan ibu kandungnya."
Shady hanya diam dan mendengarkan.
"Tapi, saat itu... Aku terlanjur marah pada Nola. Apa kau tahu? Hari itu dia mendatangiku dan mengatakan jika dia baru saja melakukan kesalahan fatal. Nola mabuk dan dia tidur dengan pria asing yang tidak dikenal.
Nola panik. Karena dia terlambat meminum pil KB yang biasanya ia minum. Ia takut jika dari hubungan satu malam itu, dia akan hamil."
Rasya menjeda ceritanya sejenak.
"Dan ternyata benar. Nola hamil. Dia kembali mendatangiku dengan wajah stres. Dia takut jika kau tahu anak dalam kandungannya bukanlah anakmu. Nola meminta saran dariku. Kami bahkan sedekat itu, Shady. Dan kau tidak tahu apapun tentangnya." Rasya tersenyum seringai seolah mengejek Shady.
"Bagaimana ini, Rasya? Jika Shady tahu anak ini bukan anaknya, aku harus bagaimana?" Nola berjalan mondar mandir.
"Tenanglah, Nola! Jika Shady tidak bersedia menerima anak itu, maka aku bersedia. Aku bersedia jadi ayah dari bayimu." Saat itu entah sadar atau tidak, Rasya mengucapkan hal yang sangat mengejutkan.
Nola menatap tajam Rasya. "Kau gila! Mana bisa aku melakukan itu! Itu sama saja aku mengaku jika aku berselingkuh! Aku tidak selingkuh, Rasya! Ini hanya kesalahan."
"Apa bedanya? Toh kau tetap bersalah di mata Shady meski bukan melakukannya denganku!"
"Tidak! Aku tidak akan melakukan ide gila darimu ini! Kau dan kakakmu sama saja! Kalian itu psycho! Kau psycho, Rasya!" teriak Nola kemudian pergi meninggalkan Rasya.
Rasya tertawa. Sungguh tinggal di dalam penjara pasti membuat otaknya bergeser.
"Saat kecelakaan itu, Nola mengenaliku. Dia memanggilku dan meminta tolong padaku. Sebenarnya aku bisa saja menolongnya, tapi ... Saat aku mengingat bagaimana dia mengataiku dan kakakku, aku tidak bisa membiarkan dia hidup. Biar saja aku menjadi pria pyscho sama seperti yang dia katakan padaku."
Shady sama sekali tidak menanggapi apapun yang dikatakan Rasya. Hingga petugas rutan menginterupsi dan membawa Rasya kembali ke dalam selnya.
Di tempat berbeda, Arshad memandangi gundukan yang berisikan tubuh kaku Nola. Arshad tersenyum lega karena sudah memberikan keadilan pada Nola.
"Sekarang kau bisa tenang disana, Nola. Aku sudah menghukum orang-orang yang membunuhmu. Sekarang, aku tinggal mengurus soal hak asuh anak kita. Aku akan mengambilnya dari Shady dan Dea. Mereka bukan orang tua Naura. Akulah ayah Naura!" ucap Arshad di depan pusara Nola. Meski Arshad tidak pernah mengenal Naura dengan dekat, tapi sepertinya Arshad telah jatuh cinta pada wanita yang telah meninggal itu.