Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
43 - Love Me Please, Mas Duda



Shady mematung tak percaya dengan apa yang dibacanya. Matanya memerah. Tangannya mengepal. Ia tak mampu lagi menghadapi kenyataan yang pahit ini.


"Ini tidak mungkin!" gumamnya berkali-kali.


Shady berjalan sempoyongan sambil membawa hasil tes DNA dirinya dan Naura. Pikirannya sedang tidak ditempat. Fokusnya juga bukan dengan situasi di depannya.


Dea yang baru saja menemui Arshad melihat Shady yang berjalan tak seimbang. Dea berlari menghampiri Shady.


"Mas Shady?" Dea memegangi tubuh Shady.


Dea mencari tempat duduk agar Shady bisa menenangkan diri.


"Ada apa, Mas?" tanya Dea yang cemas dengan kondisi Shady.


Shady tidak menjawab. Ia mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya.


"Ada apa denganmu, Mas?" tanya Dea sekali lagi.


Dea melirik selembar kertas yang sedari tadi dipegang Shady. Dea merebut kertas itu dari Shady tanpa adanya perlawanan.


Dea menutup mulutnya tak percaya. Ia membaca sebuah fakta yang mencengangkan disini.


Berdasarkan hasil tes yang sudah dilakukan, menyatakan bahwa 99,9% Shady Hutama bukanlah ayah biologis dari Naura Putri Hutama


"Mas..." Dea menatap suaminya dengan penuh gurat kekhawatiran.


Dea yang ingin meraih tubuh suaminya, tiba-tiba terkejut karena Shady malah pergi meninggalkan Dea.


"Mas! Kamu mau kemana, Mas? Mas!" Dea berlari mengejar Shady.


Sementara itu, Arshad sedari tadi melihat semua yang terjadi diantara Dea dan Shady. Ia mengernyitkan keningnya melihat Shady dan Dea yang berkejaran.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka?" gumam Arshad dengan menggeleng pelan.


Tiba di depan lobi rumah sakit, Dea tidak berhasil mengejar Shady yang langsung melajukan mobilnya dengan kencang. Bahkan Shady tidak menggubris teriakan Dea.


"Mas!" Dea terduduk lemas dan menangis. Hatinya sedih menghadapi kenyataan yang baru saja terjadi.


Setelah beberapa menit menangis, Dea menguatkan hatinya untuk masuk kembali ke dalam rumah sakit. Ia harus menemui Nilam dan Naura.


Dea berusaha menguatkan hatinya. Meski Naura terbukti bukan anak kandung Shady, namun baginya Naura adalah segalanya. Dea sangat menyayangi Naura.


Tiba di depan kamar Naura, Dea mengatur napasnya terlebih dulu sebelum masuk. Ia membuka pintu dengan mengulas senyum manisnya.


Dea terkejut karena ternyata Arshad ada disana juga.


"Dokter Arshad?" gumam Dea.


"Mama!" seru Naura yang gembira melihat kedatangan Dea.


"Sayang..." Dea menghampiri dan memeluk Naura.


"Mama, kata om doktel aku sudah boleh pulang. Benal kan, Om Doktel?" Naura bertanya dengan gaya lucunya.


Dea tersenyum lalu mengangguk. "Iya, sayang. Kamu sudah boleh pulang hari ini."


"Tapi Naura harus ingat, jangan makan yang bikin Naura sakit. Mengerti?" Arshad ikut menyahut.


"Iya, Om Doktel. Naula bakal nulut sama mama dan papa."


"Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Arshad.


Dea dan Nilam mengucapkan terima kasih pada Arshad. Sepeninggal Arshad, Dea mohon diri pada Nilam. Ia harus mengurus administrasi kepulangan Naura.


Tiba di luar kamar, ternyata Nilam mengikuti Dea.


"Tunggu sebentar, Dea!" cegat Nilam.


"Ada apa, Bu?"


"Dimana Shady?" tanya Nilam menyelidik.


"Umm, mas Shady ada urusan, Bu. Jadi, dia segera pergi ke kantor," jawab Dea lagi-lagi berbohong.


"Apa yang lebih penting dari pada putrinya sendiri?"


Dea hanya menunduk dan tak berani menatap Nilam.


"Ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku. Benar kan?"


Seketika Dea mendongak. "Tidak, Bu!"


"Sikap kalian aneh. Terlebih lagi Shady. Dia seakan tidak peduli pada Naura. Ada apa sebenarnya? Cepat katakan!" desak Nilam.


Dea meremas pakaiannya. Hatinya bimbang dan bingung.


"Bu, aku mohon kita bahas ini nanti saja ya. Biarkan mas Shady yang menjelaskan semuanya." Dea mencoba meyakinkan Nilam.


"Aku harus mengurus administrasi dulu. Aku permisi, Bu!" Dea berbalik badan dan melangkah maju meninggalkan Nilam.


Dea berdiri di depan meja administrasi dan membayar seluruh tagihan rumah sakit Naura. Meski hatinya masih sakit mengingat sikap Shady yang mengabaikannya.


"Dokter Arshad?"


"Bisa bicara sebentar?"


Dea dan Arshad menuju ke sebuah taman yang ada di rumah sakit. Dea merasa tidak enak hati pada Arshad karena saat itu tidak bisa berpamitan pada Arshad.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Arshad membuka percakapan.


Dea tersenyum. "Aku tidak tahu jika dokter adalah dokter anak."


"Staf klinik bilang, kamu pernah datang ke klinik setelah aku pindah. Apa itu benar?"


Dea mengangguk. "Aku ingin berpamitan pada dokter. Selama ini dokter sudah membantuku."


"Aku minta maaf karena aku tidak mengatakan apapun sebelum pindah. Aku takut jika aku tidak bisa berpamitan denganmu."


Dea mengulas senyum tipis. "Terima kasih atas bantuan dokter selama ini. Kurasa aku harus pergi. Naura pasti menungguku. Permisi, dokter."


Dea bangun dari duduknya dan bersiap pergi.


"Dea!"


"Iya?"


"Jika butuh bantuan, hubungi aku saja."


Dea mengangguk kemudian berlalu. Dea berjalan cepat menuju kamar Naura. Setibanya disana, ternyata Naura telah bersiap untuk pulang ke rumah. Begitu pula dengan Nilam yang telah selesai mengemasi barang-barang Naura.


"Hei sayang. Kau sudah siap untuk pulang?" tanya Dea dengan menggendong tubuh sang putri.


"Iya, Mama."


#


#


#


Shady turun dari mobilnya dan menuju ke sebuah tempat yang tidak asing baginya. Ya, Shady menuju ke makam Nola. Shady berjalan dengan penuh amarah menuju tempat peristirahatan Nola yang terakhir.


Shady menatap nisan yang bertuliskan nama Nola disana. Shady mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku?" teriak Shady.


"Bagaimana bisa kau membohongiku seperti ini? Aku sangat mencintaimu dan kau mengkhianati aku! Kenapa, Nola?"


Shady terduduk lemas bersimpuh di depan makam Nola. "Tega sekali kau melakukan ini padaku! Naura bukanlah putriku! Lalu siapa ayah kandungnya?" teriak Shady lagi.


Shady menangis meraung-raung di depan makam Nola. Sedih, kecewa dan marah melebur menjadi satu. Shady tak pernah menyangka istri yang selalu bersikap manis padanya ternyata mampu melukainya sedalam ini.


Sementara itu, Dea masih terjaga menunggu kepulangan Shady. Sudah hampir tengah malam tapi Shady belum juga kembali.


"Kemana kamu, Mas? Kamu juga tidak mengangkat teleponmu. Apa yang sedang kamu lakukan, Mas? Apa sebegitu pentingnya mempermasalahkan hal ini dari pada perasaan Naura?" Dea bermonolog sambil terus memandangi ponselnya.


Dari balkon kamarnya, Dea bisa melihat jika mobil Shady memasuki halaman rumah.


"Mas Shady!" Dea menghapus air matanya kemudian berlari keluar kamar. Dia ingin segera bertemu dengan suaminya.


Dea membuka pintu dan melihat Shady di papah oleh Roni, sang asisten.


"A-ada apa dengan mas Shady?" tanya Dea.


"Tuan Shady mabuk, Nona."


Tanpa bertanya apapun lagi, Dea mengizinkan Roni untuk membawa Shady ke kamar. Dea meminta Roni untuk merebahkan tubuh limbung Shady ke atas ranjang.


"Terima kasih, Roni. Katakan sebenarnya ada apa?"


Roni ragu untuk mengatakan kebenarannya.


"Katakan saja!" pinta Dea dengan suara tegas.


"Umm, saya menghubungi tuan Shady karena sejak pagi beliau tidak menjawab telepon dari saya. Karena saya khawatir, akhirnya saya melacak keberadaan tuan Shady melalui GPS ponselnya. Ternyata tuan Shady ada di sebuah klub malam. Tuan sudah mabuk ketika saya tiba di sana," jelas Roni.


Dea mengangguk paham. "Kau boleh pergi!"


Roni memberi hormat kemudian pergi dari kamar Shady. Tubuh Dea serasa lemas usai mendengar cerita Roni.


Dea menatap Shady yang masih tak sadarkan diri. Sayup-sayup terdengar suara Shady yang meracau.


"Nola! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau tega mengkhianati aku, Nola?"


Hati Dea seakan teriris mendengar Shady yang terus menggumamkan nama Nola.


Dea berlari menuju balkon dan menangis disana.


"Tidak bisakah kamu mencintai aku, Mas? Kamu bahkan sampai sekacau karena kesalahan orang yang telah meninggal. Apa kamu tidak menganggap aku berarti dalam hidupmu, Mas?"


Dea menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh siapapun. Cukup lama Dea menangis di balkon, hingga akhirnya ia memilih untuk kembali ke kamar dan menuju sofa. Dea merebahkan tubuh lelahnya di sofa. Saat ini ia tidak ingin berdekatan dengan Shady. Ia akan menjaga jarak terlebih dulu dengan suaminya itu.