Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
39. Kekalahan Hati



Shady melakukan kerjasama bisnis dengan Kalendra Grup. Sesuai kesepakatan, Shady sengaja mendekati Shezi untuk mendapat bukti keterlibatan Shezi dalam kecelakaan Nola.


Namun ternyata semua tak semudah yang Shady kira.


"Sepertinya Doddy Kalendra mencium niat kita, Ron," ucap Shady.


"Benar, Tuan. Dan lagi ternyata tuan Doddy sudah menjodohkan nona Shezi dengan pria lain."


Shady mengusap dagunya. "Kita tidak akan berhasil."


"Tuan, bukankah tuan sudah hidup bahagia dengan nyonya Dea? Sebaiknya lupakan saja soal kecelakaan itu. Maksud saya ... biarkan karma yang akan membalas perbuatan nona Shezi."


Shady terdiam. Apa yang dikatakan Roni ada benarnya juga. Bahkan jika Shady berhasil menemukan bukti, lantas apa yang akan ia lakukan? Toh Shezi tetap tidak bisa sembarangan di tuntut.


"Dea sendiri yang menginginkan agar aku mencari bukti-buktinya."


"Kalau begitu tuan harus meyakinkan nyonya Dea agar melupakan masalah kecelakaan itu. Kalian sudah hidup bahagia sekarang, jangan lagi menatap masa lalu."


"Huft! Andai saja semudah itu, Ron! Kau tidak tahu seperti apa Dea."


Di sisi lain, Doddy sudah mencium gelagat aneh ketika Shady mengajaknya bekerjasama. Ditambah lagi sikap Shezi yang dinilai berlebihan terhadap Shady. Pastinya Doddy tahu apa yang diinginkan kedua orang itu.


"Papa sudah memutuskan hubungan kerjasama dengan Shady."


"Apa?! Kenapa papa lakukan itu?" Shezi tak terima dengan keputusan Doddy.


"Kamu pikir papa tidak tahu apa rencana Shady terhadapmu? Jangan bodoh, Nak! Shady hanya ingin menguak kecelakaan istrinya dua tahun lalu. Dan kamu! Kamu ingin merebut Shady dari gadis itu bukan?"


Shezi memalingkan wajahnya.


"Sadarlah, Nak! Shady tidak serius denganmu. Dan papa sudah memiliki pria baik yang akan menikah denganmu."


"Papa! Aku tidak mau dijodohkan!" protes Shezi.


"Dan kamu akan mencari jodoh sendiri? Papa tidak percaya denganmu! Yang ada kamu akan dijadikan budak cinta oleh mereka. Bersiaplah! Nanti malam kita bertemu dengan keluarga Huda. Papa yakin kamu akan menyukai pria pilihan papa. Dia lebih tampan dibandingkan Shady."


Shezi masih menggerutu tapi Doddy sama sekali tidak peduli. Putrinya ini terlalu awam dalam mengenal cinta. Doddy tahu Shezi akan tersesat jika mengikuti egonya.


#


#


#


Shady memberitahu Dea jika dirinya sudah tidak bekerjasama lagi dengan perusahaan Kalendra. Ada kelegaan di hati Dea. Tapi secuil kekhawatiran juga menggelayuti hatinya.


"Aku rasa Doddy Kalendra mengendus rencanaku."


Dea menatap Shady. "Lalu kita harus bagaimana, Mas?"


Shady tersenyum penuh arti. "Itu artinya kita harus melupakan masa lalu, dan menatap masa depan."


Dea memicingkan matanya. "Entahlah, Mas. Aku masih takut jika..."


"Dea, aku mohon jangan takutkan apapun. Percaya saja padaku!"


Dea menatap lekat sang suami. Dea melihat sebuah cinta di mata Shady.


"Aku percaya padamu, Mas."


Shady tersenyum penuh kelegaan. "Kalau begitu sekarang saatnya kita memikirkan masa depan kita."


"Maksud Mas?"


"Kita pergi berbulan madu."


Dea menautkan kedua alisnya. Jujur Dea juga sangat ingin bisa berduaan dengan Shady tanpa adanya gangguan.


"Baiklah. Kita pergi berbulan madu."


Keesokan harinya, Shady dan Dea pergi berbulan madu ke luar negeri. Sebenarnya Dea ingin pergi ke tempat yang dekat saja. Tapi ternyata Shady sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk bulan madunya kali ini.


#


#


#


Doddy Kalendra tersenyum sumringah melihat putri cantiknya yang menurut dengan perintahnya. Malam ini Shezi akan bertemu dengan keluarga calon suaminya.


"Ayo, Nak. Keluarga Huda sudah menunggu kedatangan kita."


Shezi mengangguk pasrah. Sejak dulu ia memang tidak bisa menolak keinginan sang ayah.


Tiba di sebuah resto mewah, Shezi berjalan bersama sang ayah. Tangannya senantiasa ia tautkan dilengan sang ayah. Sejak kematian ibunya, Shezi hanya memiliki sang ayah di sisinya. Shezi tak ingin membuat sang ayah kecewa.


"Selamat malam, Pak Doddy!" sapa seorang pria paruh baya seusia Doddy.


"Selamat malam, Pak Huda. Maaf saya terlambat." Doddy dan Huda saling peluk.


"Ah tidak apa. Kami juga baru datang. Arshad! Kemarilah, Nak!" Huda memanggil sang putra.


Seorang pria tampan menghampiri Doddy dan Shezi. Pria bernama Arshad itu menyalami Doddy dengan ramah.


"Arshad, Om tidak menyangka jika kamu sudah dewasa." Doddy menepuk bahu Arshad.


Shezi memperhatikan pria dihadapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Hmm, lumayan juga dia!" batin Shezi.


"Arshad, kenalkan ini putri Om. Namanya Shezi. Selama ini dia tinggal di luar negeri. Tapi sekarang, dia akan hidup disini."


Arshad mengulurkan tangannya. Shezi menyambut uluran tangan Arshad.


Makan malam pun berlangsung dengan penuh keceriaan dari kedua ayah yang sangat senang dengan perjodohan putra putri mereka. Sedangkan dua orang yang dijodohkan hanya saling melempar senyum kecut.


Usai makan malam, Doddy sengaja meninggalkan Shezi bersama dengan Arshad. Kini mereka berdua berada dalam mobil yang sama.


"Kau ingin langsung pulang atau..." Pertanyaan Arshad menggantung karena Shezi yang tidak merespon dengan baik.


"Kita harus bicara, Pak Dokter."


Arshad mengerutkan keningnya.


"Papa bilang kau adalah seorang dokter. Tidak salah kan aku memanggilmu begitu?"


Arshad menarik sudut bibirnya. "Terserah kau saja, Nona."


"Dengar, pak dokter. Kurasa ada hal yang harus kita luruskan disini!"


Arshad menepikan mobilnya di sebuah taman. Ia meminta Shezi turun dan bicara.


Mereka duduk di bangku taman. Sepertinya baik Shezi maupun Arshad sama-sama tidak menyetujui perjodohan mereka.


"Aku tidak mau dijodohkan denganmu," ketus Shezi.


"Kau pikir aku menginginkan pernikahan ini?"


"Wah, baguslah kalau kau juga merasa begitu."


Shezi menatap tajam Arshad. "Kita akan membuat perjanjian pernikahan. Kau mengerti?"


"Oke, deal!" Arshad mengulurkan tangannya. Shezi menerima uluran tangan Arshad.


Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan telah dibuat.