Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
28 - Kekhawatiran Clara



"Abang!"


Clara segera menghalau Shady yang akan melayangkan bogem mentah kearah Rasya. Tak lama setelahnya, Nilam juga ikut datang karena mendengar suara tangisan Naura.


"Clara, sebaiknya kamu bawa Nak Rasya pergi dari sini!" titah Nilam.


Clara segera memegangi lengan Rasya dan membawanya keluar dari kamar Naura. Nilam menggendong cucunya dan berusaha menenangkan Naura yang masih menangis. Nilam menatap tak percaya pada putra sulungnya yang malah meluapkan emosi di kamar putrinya.


Di tempat berbeda, Clara memutuskan untuk mengantar Rasya kembali ke apartemennya. Clara mengobati luka benturan di lengan Rasya.


"Maafkan atas sikap Bang Shady ya," lirih Clara.


Rasya hanya tersenyum aneh. "Tidak apa. Sejak dulu dia memang tidak menyukaiku."


Clara terdiam sejenak. "Sebenanrnya ada masalah apa antara kakak dan bang Shady? Kenapa bang Shady sampai bersikap begini pada kakak? Tolong katakan padaku!" pinta Clara.


Rasya menatap Clara. Ia menghela napas sejenak. Bibirnya terlalu sulit untuk mengucap sebuah cerita yang sudah lama terkubur.


"Apa ini ada hubungannya dengan kak Nola? Tadi aku sempat mendengar jika bang Shady menyebut tentang kak Nola." Clara tak ingin berpikir terlalu jauh, tapi hatinya juga tak bisa berbohong. Ia tahu ada yang disembunyikan oleh Rasya.


"Apa kakak pernah memiliki hubungan dengan kak Nola?" terka Clara yang membuat Rasya tersenyum kikuk.


"Hubungan? Tidak ada! Aku dan Nola hanya berteman. Aku sudah mengenalnya sejak masih SMA. Dan kami hanya bersahabat, tidak lebih!"


Clara tahu jika dirinya tak bisa memaksa Rasya untuk bercerita tentang masa lalu. Apalagi ini mengenai seseorang yang telah tiada. Rasanya tidak pantas Clara menguak masa lalu mendiang kakak iparnya.


"Baiklah. Sekarang kita akan cari cara lain agar bang Shady memberikan restunya pada kita. Aku tidak ingin menikah tanpa restunya, Kak. Aku harap kakak mengerti."


Rasya mengulas senyumnya. "Iya, aku tahu. Aku akan berusaha lebih baik untuk bisa mendapatkan restu dari Shady." Rasya membawa Clara dalam pelukan. Tangannya mengusap lembut rambut panjang Clara. Matanya menatap menerawang dengan pikiran yang entah kemana berlabuh.


#


#


#


Shady tidak bisa fokus bekerja, entah itu di rumah maupun di kantor. Pikirannya tertuju kepada keluarga Dea terutama memang Dea. Memorinya terputar saat melihat tangis dan kemarahan di wajah Dea.


Ingatan bagaimana Dea mengusirnya membuat Shady sesak. Shady ingin menghapus air mata Dea. Namun Dea tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan tentang perasaannya.


Shady memegangi dadanya. "Ada apa denganku?" gumam Shady.


Nilam yang sedari tadi memperhatikan putranya, kini berdiri di samping putranya yang sedang menatap langit malam di teras belakang rumah.


"Belum tidur, Bang?" tanya Nilam sambil mengusap punggung putranya.


"Ibu? Kenapa ibu belum tidur juga?"


Nilam menghela napasnya. "Naura sering terbangun di tengah malam karena mencari Dea."


Shady memalingkan wajahnya.


"Bang, bisakah kamu jujur pada hatimu sendiri? Tentang perasaanmu pada Dea. Dan bagaimana kamu sudah menyakiti Naura karena sudah menjauhkannya dari ibunya."


Shady memejamkan mata sejenak. Ia tahu jika keputusannya untuk menikahi Dea 2 tahun lalu telah membuat lubang luka di hati semua orang terlebih Naura.


"Maafkan Abang, Bu. Abang sudah menyakiti kalian semua."


Nilam memeluk putranya. "Belum terlambat untuk memperbaiki keadaan, Bang. Jika kamu memang mencintai Dea, maka kejar dan perjuangkan dia. Dia adalah jodoh kedua yang dikirim Tuhan untukmu. Ibu yakin Dea adalah istri terbaik untukmu, Bang."


Usai bicara dengan sang ibu, hati Shady memang lebih tenang. Namun tentunya masih ada hal yang mengganjal dan itu mengenai Clara dan Rasya. Dirinya belum bisa memberi restu kepada Clara.


"Bang..." Shady merasakan sebuah pelukan dari belakang tubuhnya. Itu adalah Clara.


"Aku tahu Abang pasti memikirkan tentang aku dan kak Rasya. Maaf karena harus melakukan ini," lirih Clara dengan masih memeluk Shady.


Shady melepaskan pelukan Clara. Ia menatap adik semata wayangnya.


"Abang yang harusnya meminta maaf padamu."


Clara menggeleng. "Aku tahu ini sulit untuk abang. Dan ini juga sulit untukku dan kak Rasya. Kami saling mencintai, Bang. Dan kak Rasya serius ingin menikah denganku. Namun kak Rasya tidak akan melangkah lebih jauh jika belum mendapat restu dari abang. Maka dari itu..."


Clara menundukkan wajahnya. Shady masih diam. Shady tahu jika adiknya ingin mengatakan banyak hal.


"Aku tidak mau tahu apa yang terjadi diantara abang dan kak Rasya di masa lalu. Bahkan jika itu menyangkut kak Nola ... aku tidak peduli. Aku percaya pada kak Rasya. Dia bilang dia hanya berteman dengan kak Nola."


Shady masih diam. Clara melanjutkan kalimatnya.


"Katakanlah jika kak Rasya memang memiliki hubungan dengan kak Nola. Itu semua hanya masa lalu, Bang. Kak Nola juga sudah tiada. Jadi, aku mohon. Jangan terus membebani hati Abang dengan bayang-bayang masa lalu yang masih belum jelas."


Shady tetap terdiam. Namun sedetik kemudian ia mengulas senyumnya di depan Clara.


"Baiklah. Abang merestui kalian berdua."


Mata Clara membola. "Abang serius?"


Shady mengangguk. "Kau harus meraih kebahagiaanmu, Clara. Tidak pantas jika Abang menghalangi kebahagiaanmu. Abang akan lebih merasa bersalah jika kau tidak bisa bahagia."


Clara langsung memeluk Shady. "Terima kasih, Bang. Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikan hati Abang!"


Shady membalas pelukan Clara. "Sama-sama. Mulai sekarang kau harus bahagia."


#


#


#


Clara berjalan beriringan dengan Shady yang akan mengantarnya menuju altar pernikahannya bersama Rasya. Hatinya berdegup tak karuan karena hari ini adalah hari besar untuknya.


Clara menatap Rasya yang menunggunya di ujung altar dengan pakaian jas rapi sambil mengulas senyum. Clara sangat gugup. Banyak kekhawatiran yang menyelimuti hatinya.


"Setelah ini harusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Kak Rasya akan sepenuhnya jadi milikku!" batin Clara.


Shady menyerahkan tangan Clara dan diserahkan kepada Rasya.


"Jaga adikku baik-baik!" ucap Shady.


Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Kini pria yang selama ini ia benci akan sah menjadi adik iparnya. Mau tak mau Shady harus ikut berbahagia bersama sang adik.


Rasya mengucapkan janji pernikahan di depan dua keluarga yang kini bersatu. Hatinya memang masih gamang memikirkan pernikahannya dengan Clara. Namun ia sudah tak bisa mundur lagi.


"Hal yang harus terjadi, maka terjadilah. Aku harus melakukan ini. Aku tidak bisa mundur atau berubah pikiran! Meski cintaku pada Clara tak sebesar cintaku padanya ... aku harus menjalani ini." Rasya mengulas senyumnya yang paling manis didepan Clara.


"Untuk kedua mempelai, dengan ini kalian sudah resmi menjadi suami dan istri. Semoga rumah tangga kalian dipenuhi oleh cinta dan kebahagiaan."


Rasya mengecup kening Clara di depan semua tamu undangan yang hadir. Tentu saja hal itu membuat suasana menjadi riuh.


Shady hanya bertepuk tangan sambil menatap pasangan pengantin baru itu.


"Semoga saja apa yang kulakukan ini sudah benar, Clara. Semoga kau selalu bahagia, adikku," batinnya.