
Rasya terduduk lemas di sebuah gundukan tanah yang sudah mengering. Ada dua gundukan disana. Satu bertuliskan nama Mariana, dan satu bernama Zain.
Semenjak hamil, Ana memang sudah menyukai nama itu untuk dijadikan nama anaknya kelak. Begitulah cerita yang didapat Rasya dari Heri.
Kini semua penyesalan sudah tak ada guna. Menangis terisak pun tak mengubah takdir yang sudah terjadi. Rasya hanya bisa mengucap kata maaf.
Dulu dirinya masih sangat muda. Masih terlalu labil untuk menghadapi sebuah pernikahan. Apalagi dibekali tanggung jawab dengan adanya seorang bayi. Rasya tahu dirinya salah. Tidak seharusnya dia menjadikan Ana sebagai pelampiasan sakit hatinya.
Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Rasya mencintai Ana. Usai menangis tersedu di pusara Ana, Rasya berpamitan pada Heri. Rasya terus mengucap kata maaf. Ia bahkan menawarkan bantuan finansial untuk Heri, tapi pria tua itu tentu memiliki harga diri tinggi untuk tidak menerima bantuan dari Rasya.
Dengan perasaan hancur, Rasya pergi meninggalkan rumah Heri. Rasya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia ingin segera tiba di rumahnya.
Setelah berkendara selama dua jam, akhirnya Rasya tiba di rumahnya saat malam hari. Penampilan Rasya yang kacau membuat Diana cemas.
"Rasya, apa yang terjadi denganmu?" tanya Diana dengan memapah tubuh putranya menuju kamar.
Dengan kasar, Rasya menepis tangan Diana. Ia menatap ibunya dengan tatapan benci.
"Ini semua gara-gara mama!" seru Rasya.
"Rasya, wajahmu sangat pucat! Kau sakit, Nak! Sebaiknya kau istirahat!" Diana memilih tidak menggubris tuduhan putranya.
Rasya yang sudah tak kuat, memilih untuk merebahkan tubuhnya.
"Pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu!" usir Rasya.
Diana yang memahami sikap putranya, memilih untuk mengalah. Ia pun keluar dari kamar Rasya. Tak lupa ia meminta para pelayan untuk mengganti pakaian kotor Rasya dengan piyama tidur.
Sementara itu, Clara akhirnya menceritakan semuanya pada Nilam. Ia tak sanggup jika harus menanggung semuanya sendirian. Tentunya ja juga ingin mendengar saran dari sang ibu.
Nilam sendiri syok setelah mengetahui fakta tentang Rasya. Bahkan ketika Clara tidak kembali, Rasya tidak pernah mencari Clara ataupun menghubunginya. Nilam yang bersedih, membaginya dengan Dea.
Tapi apa yang bisa Dea lakukan? Dea juga hanya bisa menenangkan Nilam dan mendoakan yang terbaik untuk Clara.
"Jadi, bagaimana? Apa Clara bersedia cerita?" Shady bertanya pada Dea saat sudah berada di tempat tidur. Mereka sudah siap untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka.
"Iya, Mas. Ibu sangat syok mendengar jika pak Rasya sudah pernah menikah sebelumnya."
"Cih, jadi si Rasya itu juga duda?"
Dea mengernyit heran dengan kalimat Shady. "Mas sangat tidak menyukai pak Rasya ya?"
Shady menatap Dea yang selalu menampakkan wajah polosnya. Menurut Shady, itu sangat menggemaskan di matanya. Tanpa pikir panjang, Shady menarik Dea dalam pelukan.
"Sudahlah! Jangan bicarakan soal orang lain terus. Sekarang adalah waktu kita!" Shady mengecupi puncak kepala Dea berulang kali.
"Kita?" Dea mendongak menatap wajah suaminya.
"Huum, kita." Shady mendekatkan wajah dan menempelkan bibirnya ke bibir Dea.
Tadi pagi aktifitas mereka terganggu karena gangguan Naura. Sekarang, Shady tak bisa menunggu lagi. Tubuhnya sangat menginginkan Dea. Begitu juga sebaliknya.
Terlalu banyak masalah yang menimpa mereka hingga mereka lupa jika hubungan suami istri harus tetap terjaga meski di tengah konflik sekalipun.
"Kau siap?" tanya Shady. Ia terbiasa bertanya agar Dea merasa nyaman.
Mendapat sebuah anggukan kepala dari Dea, kemudian Shady melanjutkan aksinya. Mereka memadu kasih dengan hangat. Saling mengungkap rasa dengan sentuhan yang membuat tubuh mereka sama-sama melayang.
...***...
Pagi hari itu, Arshad mendatangi jalan raya yang menjadi saksi bisu terenggutnya nyawa Nola. Arshad memandangi jalanan aspal yang tampak lengang itu.
"Disinilah kau meregang nyawa, Nola. Malang sekali nasibmu," gumam Arshad.
Dari kejauhan, tampak seorang pria paruh baya berjalan sempoyongan ke arah Arshad. Pria itu tampak meracau tak jelas.
Arshad yang mendengar segera berbalik badan. Ia menggeleng pelan.
"Ck, ini masih pagi dan kau sudah mabuk, Pak Tua! Dasar tidak tahu malu!" umpat Arshad pelan.
Pria itu menuju sebuah trotoar dan seolah bicara dengan seseorang. Pria itu mengeluarkan kata-kata makian. Entah siapa yang dia maki.
Arshad yang sudah terlambat pergi ke rumah sakit, berencana untuk masuk ke dalam mobil. Namun ia urung ketika tiba-tiba pria itu berteriak keras.
"Andai saja dulu aku membantumu, Nona! Sekarang kau pasti masih hidup!"
Kalimat itu membuat Arshad menatap pria tua itu. "A-apa yang dia katakan tadi?"
"Maafkan aku, Nona! Aku terlalu pengecut. Aku mau saja dibayar oleh orang itu! Maafkan aku!" racau pria itu lagi.
GREB!
Arshad memegangi kedua pundak pria tua itu.
"Katakan apa yang kau ketahui tentang kecelakaan dua tahun lalu disini!" desak Arshad.
Mata pria tua membelalak. Ia kaget karena Arshad mengetahui insiden 2 tahun lalu. Arshad mencengkeram kerah baju pria tua itu dengan erat.
"Katakan! Kau pasti tahu sesuatu kan? Ada orang lain yang terlibat dalam kecelakaan itu. Benar kan? Katakan siapa orangnya!" Arshad berteriak. Ia tak mampu mengontrol emosinya.
Dengan sekuat tenaga pria tua itu melepaskan diri dari Arshad. Ia mendorong tubuh Arshad ke belakang hingga hampir terjengkang. Secepag kilat orang itu berlari dengan sangat kencang.
"Aarrgghh! Hampir saja aku menemukan jawabannya!" Arshad berteriak kesal. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia segera menghubungi Shady untuk meminta bantuan. Kini saatnya Shady yang bertindak. Karena saat Nola meninggal, statusnya masih sebagai istri Shady.
...***...
Tiga hari berlalu setelah insiden tak terduga Arshad dengan pria tua yang mabuk. Keyakinan Arshad sungguh tajam mengenai hal ini. Arshad bersikeras untuk membuat pria tua itu angkat suara.
Hingga akhirnya anak buah Shady berhasil menemukan pria tua itu. Arshad meminta pria itu mengaku. Karena ia tidak akan melepaskan pria tua itu sebelum ia bicara.
Pria tua yang mangaku bernama Ajun itu akhirnya mau bicara.
"Baiklah, aku akan bicara! Lagipula aku sudah kehilangan segalanya karena masalah kecelakaan itu."
Shady dan Arshad saling pandang lalu menatap pria yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Aku terus dihantui rasa bersalah karena kecelakaan 2 tahun lalu itu. Istri dan anakku juga meninggalkanku meski aku mendapatkan banyak uang dari hasil tutup mulut."
Arshad mendekat. "Katakan! Siapa yang membayarmu! Dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan hari itu!" seru Arshad.
Ajun menelan ludahnya sebelum bicara. Sejak hari itu, Ajun berusaha menghubungi orang yang sudah membayarnya, tapi orang itu tidak pernah menjawab panggilan darinya. Jadi sekarang Ajun memilih untuk berkata jujur saja. Dari pada ia harus mati di tangan dua pria di depannya.
"O-orang itu ... Bernama ... Rasya Kalendra. Dia yang sudah membayarku untuk tutup mulut! Andai saja aku bisa menolong wanita hamil itu ... Pasti saat ini dia masih hidup, hiks hiks." Ajun menangis. Ia tidak bisa melupakan bagaimana wajah Nola ketika meminta tolong padanya.
"Maafkan aku... Maafkan aku..."
Arshad dan Shady terdiam karena syok setelah mendengar pengakuan Ajun. Jika Arshad ingin langsung membuat perhitungan dengan Rasya, maka lain hal nya dengan Shady.
Shady bimbang karena di satu sisi, Rasya adalah suami dari adik kandungnya sendiri. Haruskah Shady membuat calon keponakannya menjadi bayi yatim karena kehilangan ayahnya?
Shady dilema. Ia memejamkan mata. Semua yang terjadi hari ini, sama sekali tidak pernah ia bayangkan.