Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
56 - Kebenaran (5)



Diana sangat mencemaskan kondisi Rasya yang belum membaik. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya terus mengigaukan satu nama. Yaitu Ana.


Deddy yang melihat kondisi putranya kacau, meminta penjelasan pada Diana. Diana tak bisa berkutik selain menceritakan kisah yang sebenarnya.


Diana bercerita jika putranya memiliki istri lain sebelum menikahi Clara, tapi wanita itu sudah meninggal. Deddy sangat murka dengan sikap Diana di masa lalu yang mengusir Ana dari rumahnya.


"Maafkan mama, Pa. Semua itu sudah berlalu. Jadi, sebaiknya kita jangan mengungkit soal Ana lagi di depan Rasya." Diana berusaha tenang menghadapi amukan suaminya.


Deddy tak menyangka jika sang putra telah melakukan hal sebesar itu tanpa sepengetahuan dirinya.


"Sekarang dimana Clara? Apa dia sudah tahu tentang Ana?" tanya Deddy.


Diana mengangguk. "Sepertinya begitu."


"Kalau begitu kau temui Clara dan bawa dia kemari. Bagaimanapun juga Clara adalah istri Rasya. Tanyakan padanya apakah Clara menerima masa lalu Rasya atau tidak. Jika tidak..." Deddy tak berani melanjutkan.


"Sayang! Kenapa bicara begitu? Clara sedang hamil dan itu anak Rasya. Tentu saja mereka harus tetap bersama."


Diana bersikukuh ingin tetap menjadikan Clara sebagai menantunya. Apalagi saat ini Clara sedang mengandung cucunya.


Tak ingin masalah Rasya makin berlarut, Diana mendatangi rumah keluarga Hutama dan bermaksud ingin menjemput Clara.


Nilam yang sudah tahu permasalahan putri dan menantunya tak begitu saja mengizinkan Clara pergi dari rumahnya. Untuk saat ini tempat terbaik untuk Clara adalah rumahnya sendiri.


"Rasya sedang sakit. Kumohon izinkan Clara bertemu Rasya!" pinta Diana.


Clara yang semula tak ingin menemui Diana akhirnya luluh setelah mendengar kabar sakitnya Rasya.


"Bu, aku harus menemui kak Rasya. Dia sedang sakit." Clara memohon pada Nilam.


Nilam mendengus kasar. Rasanya ia tak mampu mencegah keinginan kuat putrinya. Nilam pun mengizinkannya.


"Baiklah. Kau boleh pergi dan temui suamimu. Saat seorang putri sudah menikah, maka orang tua sudah tidak berhak lagi atas dirinya. Dan ingat pesan ibu, selesaikan masalahmu baik-baik dengan Nak Rasya. Jangan gegabah mengambil keputusan. Kau harus memikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu." Nilam memberi nasehat panjang lebar.


Clara mengangguk kemudian berpamitan dan pergi bersama Diana.


...***...


Arshad yang sudah mengetahui kartu As milik Shezi, menghubungi gadis itu dan meminta bertemu. Arshad bermaksud membatalkan perjodohannya dengan Shezi.


Sungguh ia tak sanggup untuk hidup bersama dengan gadis yang sudah melenyapkan ibu dari putrinya. Arshad tak lupa membawa bukti-bukti yang sudah ia kumpulkan dari kecelakaan dua tahun lalu.


"Tumben sekali kau minta bertemu. Apa kau mulai merindukanku, hah?" ucap Shezi dengan percaya diri.


Arshad melempar berkas bukti-bukti ke hadapan Shezi. Gadis itu mengernyit bingung.


"Apa ini?" tanya Shezi.


"Sebaiknya kau jangan kabur lagi, Shezi Kalendra!" ucap Arshad dengan tatapan dingin.


"A-apa maksudmu bicara begitu padaku? Kabur apa?" Shezi mulai panik.


"Kau ini sudah tega menjadikan sahabatmu sendiri sebagai kambing hitam, dan kau malah kabur ke luar negeri. Kali ini kau tidak akan bisa melakukannya lagi, Shezi."


Shezi masih tak mengerti dengan ucapan Arshad. Satu hal yang bisa ia tangkap. Arshad sedang membicarakan tentang kecelakaan 2 tahun lalu.


Meski kabur ke luar negri, Shezi tetap tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu itu. Apalagi mengingat siapa orang yang sudah ia lenyapkan.


"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Jika tidak ada hal penting lagi, aku akan pergi!" Shezi bersiap untuk pergi meninggalkan Arshad.


"Aku ingin membatalkan perjodohan kita!" seru Arshad yang membuat Shezi kembali berbalik.


"Apa katamu?"


"Kau sudah cukup mendengarnya kan? Aku tidak bisa menikah dengan wanita kejam sepertimu!"


Mata Shezi membulat sempurna. Ia membuang muka.


"Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini, Shezi Kalendra!"


Arshad bangkit dari duduknya dan menghampiri Shezi.


Kata-kata Arshad membuat kaki Shezi lemas seakan tak bertulang. Tubuhnya limbung ke belakang. Ia menggeleng kuat.


"Untuk apa kau melakukan semua ini hah? Apa untuk Dea? Apa kau menyukainya?" Shezi masih memberanikan diri menolak semua tuduhan Arshad.


Arshad mengepalkan tangannya. "Wanita yang kau bunuh itu adalah ibu dari putriku!" seru Arshad.


Pernyataan Arshad membuat Shezi kembali menggeleng. Ia berpikir jika Arshad pasti sudah tidak waras.


"Baiklah! Kita batalkan pernikahan kita! Puas kau?!" Shezi segera pergi meninggalkan Arshad yang terus menatapnya dengan nyalang.


...***...


Rasya sudah mulai membaik setelah Clara dengan telaten merawatnya. Clara yang masih sangat mencintai Rasya bertekad ingin memperbaiki hubungan mereka.


Clara tidak ingin kehilangan Rasya. Ia ingin tinggal bersama Rasya dan juga buah hati mereka.


"Aku dengar dari mama, kau terus merawatku disini." Rasya duduk bersandar di kepala ranjang.


Clara mengangguk. "Bagaimana perasaan kakak? Apa sudah lebih baik?"


Rasya mengangguk. "Terima kasih, Clara. Maaf jika aku banyak menyakitimu."


Clara menggeleng. Ia merasa senang karena Rasya kini bicara lembut padanya. Hingga buliran-buliran bening jatuh ke pipinya.


"Bisakah kita memulai semuanya dari awal, Kak? Bisakah kakak mencintai aku meski hanya sedikit?" ucap Clara dengan suara bergetar.


"Aku ingin kita menjadi satu keluarga yang utuh, Kak. Kita akan menjaga anak kita sama-sama. Aku bisa menerima masa lalu kakak. Karena itu hanyalah masa lalu. Dan masa depan ada di tangan kita sendiri. Aku harap kakak bisa menerima perasaanku."


Rasya yang tak tega melihat air mata Clara, mengulur tangannya dan membawa tubuh Clara masuk kedalam pelukan.


"Baiklah. Kita akan memulai semuanya dari awal," ucap Rasya.


Ketika rasa bahagia mulai menyelimuti hati Rasya dan Clara, sebuah kabar mengejutkan datang dari Vano, keponakan Rasya. Diana datang dengan raut wajah cemas.


"Rasya, Vano mengalami kecelakaan!" ucap Diana.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Rasya dan Clara saling pandang.


"Mama tidak tahu detilnya. Sekarang sedang di bawa ke rumah sakit. Mama akan kesana bersama papamu."


"Aku ikut, Ma!" seru Rasya.


"Tapi, Nak. Kau baru saja sembuh."


"Tidak! Vano adalah keponakanku. Aku harus tahu bagaimana kondisinya." Rasya tidak mau dibantah.


Alhasil, Rasya dan Clara ikut bersama Deddy dan Diana menuju ke rumah sakit. Menurut berita yang didapat, sebuah truk besar menghantam ke bangunan sekolah Vano yang sedang mengadakan acara di halaman sekolah. Beberapa murid dikabarkan terluka akibat insiden itu, termasuk Vano yang kini terluka parah di bagian kepala.


Tiba di rumah sakit, Diana berlarian mencari keberadaan cucunya. Para wali murid juga mulai berdatangan karena merasa cemas dengan kondisi anak mereka.


"Keluarga Vano Kalendra!" Seorang perawat berseru menyebut nama Vano.


Sontak Rasya dan keluarganya segera menghampiri si perawat.


"Suster, bagaimana kondisi keponakan saya?" tanya Rasya dengan wajah cemas.


"Maaf, Pak. Kondisi pasien cukup parah. Ia kehilangan banyak darah, jadi harus melakukan transfusi darah. Apakah dari pihak keluarga ada yang bersedia mendonorkan darah untuk pasien?" tanya perawat.


"Saya, Suster." Rasya mengajukan diri.


"Rasya, kau baru saja sembuh. Apa tidak apa kau melakukan ini?" tanya Diana menatap Rasya.


"Aku baik-baik saja, Ma. Ini demi Vano!" kukuh Rasya.


"Bagaimana kalau kami sekeluarga di periksa dulu, Sus. Lalu, jika memang cocok, kami akan mendonorkan darah untuk Vano," usul Deddy.


"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya!"


Rasya, Diana dan Deddy mengikuti langkah si perawat. Sementara Clara menunggu di ruang tunggu. Saking paniknya, Clara lupa untuk menghubungi keluarganya yang kini sedang mencemaskan kondisinya.