Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
S2 - Teror



Karisa pulang ke rumah dengan wajah kesal dan terus mengumpat. Putri sulung juragan Sodik ini menggerutu kepada ayahnya.


"Kamu ini kenapa? Baru pulang wajahmu langsung cemberut begitu."


Juragan Sodik menyeruput kopi di cangkirnya dan meminta Karisa untuk duduk di sofa bersamanya.


"Pak, apa bapak tahu dokter yang baru datang di kampung ini?"


"Hmm, tahu. Dokter yang sok jadi pahlawan itu. Harusnya bapak sudah menikahi Amanda kalau saja dokter itu tidak datang membantu."


Karisa kesal karena ayahnya hanya memikirkan soal urusan ranjang saja.


"Pak, si Amanda itu sudah keterlaluan. Sepertinya dia sengaja mendekati dokter itu dan menggodanya. Buktinya tadi aku lihat si Amanda datang ke rumag dokter itu. Aku yakin mereka sengaja mau menjatuhkan bapak."


"APA?! Jadi si Amanda malah mendekati dokter sialan itu. Awas saja mereka! Mereka belum tahu siapa juragan Sodik sebenarnya!" Juragan Sodik menyeringai dan menyiapkan berbagai cara licik untuk mengganggu Arshad dan Amanda.


...***...


Di rumahnya, Arshad baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk beristirahat. Arshad mengingat kembali obrolannya bersama Amanda sore tadi.


Arshad tersenyum simpul mengingat kebersamaan singkat mereka. "Kenapa dia sangat mirip dengan Nola?"


Arshad merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya baru saja terpejam ketika mendengar suara pecahan kaca dari arah ruang depan rumahnya.


"Suara apa itu?" gumam Arshad lalu beranjak dari tempat tidur.


Arshad menuju sumber suara. Ternyata kaca jendela depan rumahnya pecah karena ada yang menimpuknya dengan batu.


"Malam-malam begini siapa yang melakukan hal ini?" Arshad menggeleng pelan.


Arshad mengambil batu sekepalan tangan itu dan mengamatinya. "Apa maksudnya mengirim ancaman kepadaku?"


Arshad menyeringai. Sepertinya ia tahu siapa dalang dari kejadian malam ini.


Keesokan paginya, Arshad meminta Oding untuk memperbaiki kaca rumahnya yang pecah dan rusak.


"Wah, siapa yang melakukan ini, pak dokter?"


Arshad menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku mencurigai seseorang."


"Oh ya? Siapa pak dokter? Sini biar Oding hadapi itu orang!" Oding bersiap mengeluarkan jurus kuda-kudanya.


Arshad malah tertawa. "Tidak perlu membalas, Mang. Nanti mereka juga kena batunya sendiri."


Arshad menepuk bahu Oding. Kemudian dengan santai pergi menuju ke lokasi proyek.


Di rumahnya, Amanda juga dikejutkan dengan bungkusan plastik hitam yang diletakkan di depan rumahnya.


"Pak, siapa yang meletakkan bungkusan itu? Baunya juga tidak enak. Apa kita buka saja isinya?" usul Amanda.


"Jangan, Nak! Bagaimana kalau isinya benda berbahaya?"


Amanda yang memang pemberani segera membuka bungkusan plastik hitam itu.


"Aaaa!" Amanda berteriak.


"Ada apa, Nak?" tanya Rosid ikut panik.


"I-itu... Isinya..." Amanda tak mampu mengatakan apapun.


Karena penasaran, Rosid ikut melihat isi dari bungkusan hitam itu. Rosid membelalakkan mata ketika melihat ayam yang sudah mati dan mengeluarkan aroma busuk dari sana.


"Bapak akan membuang bungkusan ini! Keterlaluan sekali mereka ini!"


Rosid membawa bungkusan plastik hitam ke temoat sampah. Namun belum sempat membuangnya, beberapa orang tetangga sudah curiga dengan apa yang akan dibuang oleh Rosid.


"Apa itu, Pak Rosid? Baunya busuk sekali!" ucap seorang ibu-ibu.


"Iya, bau apaan ini?" tanya warga yang lain.


"Saya tidak tahu. Anak saya menemukan ini di depan rumah saya. Baunya busuk sekali, ternyata setelah saya buka isinya bangkai ayam, Ibu-Ibu."


Kedua ibu itu langsung menggeleng dan berbisik-bisik.


"Jangan-jangan ada yang mengirim santet ke pak Rosid dan Amanda?"


Dugaan salah satu ibu itu membuat Rosid terkejut. Apakah benar jika ada yang berniat jahat kepada dirinya dan Amanda?


...***...


"Jadi, Amanda juga mengalami teror? Siapa sebenarnya yang melakukan ini?"


Saat Arshad pulang ke rumah, ia melihat Amanda sedang membersihkan rumahnya. Arshad malah lupa jika dirinya sudah mempekerjakan Amanda di rumahnya sebagai ART.


"Selamat siang, pak dokter? Sudah pulang ya?" sapa Amanda ramah.


"Hmm, kamu baik-baik saja?"


Amanda malah bingung dengan pertanyaan Arshad.


"Saya baik-baik saja, Pak Dokter. Memangnya kenapa?"


"Saya dengar kamu mendapat kiriman teror dari orang yang tidak dikenal."


"Oh yang itu. Itu sudah lewat, pak dokter. Saya dan bapak baik-baik saja. Sepertinya itu hanya kerjaan orang iseng saja."


Arshad mengangguk paham. "Sepertinya Amanda dan ayahnya tidak berpikiran seperti apa yang kupikirkan. Aku malah curiga pada si juragan tua bangka itu," batin Arshad.


"Oh iya, pak dokter. Saya sudah masak untuk makan siang pak dokter. Coba cicipi, pak!"


Arshad begitu bersemangat karena indera penciumannya merasai sebuah aroma lezat dari arah dapur.


"Jadi, kamu beneran bisa masak? Kayaknya kamu masih sangat muda." Arshad menatap beberapa menu sederhana terhidang diatas meja makan.


Amanda menggaruk tengkuknya. "Saya sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah, pak dokter."


Arshad duduk di kursi meja makan dan mengambil satu menu. Telor dadar yang hanya masakan biasa terasa menggugah selera karena Amanda memasaknya dengan tambahan sayuran dan cabai.


"Hmm, ini enak. Apa aku boleh langsung makan?"


Amanda malah tertawa kecil. "Ya boleh dong, pak dokter. Ini kan rumah pak dokter."


"Oh ya, Manda. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan pak dokter. Rasanya tidak enak didengar telingaku."


Amanda menunduk hormat. "Kalau begitu saya panggil apa dong?"


"Namaku Arshad, panggil saja begitu."


Amanda mengangguk mantap. "Baik, pak Arshad."


Setelahnya Arshad malah tertawa. Baginya kehadiran Amanda adalah sebuah hiburan tersendiri untuknya.


"Oh iya, Pak. Apa saya boleh membawakan makanan untuk para pekerja di lokasi proyek? Kebetulan saya memang masak banyak."


"Hmm tentu saja. Bawakan untuk Oding dan para pekerja disana. Tolong ya!"


"Baik, Pak. Kebetulan Mang Oding itu saudara dekat mendiang ibu saya."


Amanda membungkus beberapa menu makanan dengan daun pisang yang sudah ia ambil dari kebun milik ayahnya. Ternyata Rosid sangat senang karena Amanda bisa bekerja di rumah Arshad.


Amanda berpamitan pada Arshad sebelum pergi.


"Saya permisi dulu, Pak. Mau antar makanan untuk Mang Oding."


"Iya iya. Apa perlu kuantar?"


Amanda melambaikan tangannya. "Tidak perlu, Pak. Saya bawa sepeda kok! Kalau begitu permisi dulu, Pak."


Arshad menatap kepergian Amanda. Tak sadar ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Meski menyukai kepribadian Amanda yang menyenangkan, tapi Arshad tak memiliki maksud lain mempekerjakan gadis itu di rumahnya.


Di perjalanan, Amanda bertemu dengan Ardian, anak pak kepala desa yang tampan. Sudah lama Ardian menaruh hati pada Amanda tapi gadis itu masih belum membuka hati untuknya.


"Manda, kamu mau kemana?" tanya Ardian.


"Eh, Mas Ardian. Aku mau antar makanan untuk Mang Oding dan para pekerja di lapangan proyek situ, Mas."


"Oooh, proyek pembangunan klinik itu ya?"


"Iya, Mas."


"Kenapa kamu yang antar makanannya? Bukannya bapakku sudah suruh orang untuk masak ya?"


"Bi Surti lagi sakit, Mas. Tidak apa mulai sekarang aku yang bakal masak. Lagi pula Pak Arshad juga tidak keberatan jika aku ikut membantu. Permisi dulu ya, Mas. Kasihan para pekerjanya pasti sudah pada kelaparan."


Amanda meninggalkan Ardian yang masih diliputi berjuta tanya.


"Pak Arshad? Sejak kapan Amanda dekat dengan dokter dari kota itu?"