
Setelah kasus teror yang menimpa Amanda dan Arshad mereda. Kardi, sebagai kepala desa di desa C, merasa lega. Sebenarnya Kardi tahu siapa dalang dibalik peristiwa teror itu, tapi karena Arshad meminta Kardi untuk tidak memperpanjang masalah itu, makanya sekarang semua orang bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Di sisi lain, Juragan Sodik yang sebenarnya masih menaruh dendam terhadap Arshad, ingin kembali membalas sakit hatinya karena sudah merasa di permalukan oleh dokter itu. Namun Juragan Sodik mengurungkan niatnya untuk kembali membalas perbuatan Arshad.
Juragan Sodik tahu jika Arshad bukanlah orang sembarangan. Keluarganya di kota tak bisa dianggap remeh. Dan Juragan Sodik tak ingin namanya semakin buruk di masyarakat desanya sendiri.
Kini yang merasa resah adalah Ardian, si anak kepala desa yang menyimpan perasaan terhadap Amanda. Sejak tahu jika Amanda bekerja di rumah Arshad, Ardian khawatir jika lama kelamaan timbul benih cinta di hati Amanda untuk Arshad. Begitu juga sebaliknya.
Makanya kini Ardian sedang membujuk sang ayah untuk segera melamar Amanda.
"Pak, kapan kita akan melamar Manda secara resmi?" tanya Ardian.
Kardi menatap putranya lekat. "Apa Amanda menerima perasaanmu, Nak? Bukankah selama ini Amanda selalu menolakmu? Bagaimana bisa kamu ingin melamarnya? Mau ditaruh dimana muka bapak kalau Amanda menolakmu lagi?"
Dengan tegas Kardi menolak permintaan Ardian. Baginya nama baik yang selama ini ia jaga lebih penting. Apalagi kini Amanda bekerja di rumah Arshad. Bisa saja Arshad membantu Amanda lagi untuk menyelesaikan masalahnya.
"Bapak tidak mau mengambil resiko, Nak. Sebaiknya urungkan niatmu untuk melamar Amanda ataupun mendekatinya."
Ardian tak terima dengan pernyataan ayahnya. "Tapi kenapa, Pak?"
"Sudahlah, Nak. Kamu tahu kan siapa yang membantu Amanda kemarin saat terkena masalah dengan juragan Sodik?"
"Tahu. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu kan? Dan sekarang Manda malah bekerja di rumah pria itu. Sepertinya pria itu sengaja mendekati Manda, Pak."
Kardi menggeleng pelan. "Kamu ini Bapak sekolahkan tinggi-tinggi di kota tapi pemikiranmu masih saja kampungan. Bapak tidak mau membahas soal ini lagi. Lupakan saja si Amanda. Carilah wanita yang sepadan denganmu, Nak. Yang berpendidikan tinggi juga. Jangan yang hanya lulusan SMP saja."
Ardian sungguh kesal dengan sikap ayahnya. Sampai kapanpun ia tidak akan rela jika Amanda dimiliki oleh orang lain.
Amanda bekerja seperti biasa di rumah Arshad. Jam kerjanya hingga sore hari atau sampai Arshad pulang ke rumah usai menilik pembangunan klinik. Sesekali Arshad juga membantu para warga yang membutuhkan tenaga medis. Arshad siap membantu tanpa meminta bayaran sepeserpun.
Namun hasil yang ia dapatkan sungguhlah luar biasa. Para penduduk desa menghargai kebaikan hati Arshad. Mereka sering mengirim hasil kebun mereka ke rumah Arshad. Alhasil, Amanda sering memasak makanan dari hasil bumi yang dikirimkan itu.
Sore itu Amanda hendak pulang ke rumahnya. Tak disangka Ardian datang ke rumah Arshad untuk menjemput Amanda.
"Eh, Mas Ardian. Mau kemana Mas?"
"Mau jemput kamu lah."
"Aduh, maaf Mas. Aku kan bawa sepeda. Jadi, aku tidak bisa ikut Mas Ardian naik motor."
Tak kehilangan akal, Ardian memilih untuk mensejajari Amanda yang sedang mengayuh sepedanya hingga tiba di rumah gadis itu.
"Terima kasih, Mas. Tapi lain kali jangan lakukan ini Mas. Aku gak enak kalau ada yang lihat. Mas ini kan anak kepala desa. Jadi, Mas selalu jadi sorotan." Amanda tak bermaksud menyakiti hati Ardian. Namun ia juga tak nyaman jika mendapat tatapan tak menyenangkan dari warga kampung.
"Jangan sungkan, Manda. Aku kan udah bilang, kalau aku akan berjuang sampai kamu menerima perasaanku."
Amanda tercengang. "Kok Mas Ardian ngomong begitu? Aku menghormati Mas Ardi sebagai anak Pak Kardi. Tapi, kalau untuk itu... Maaf Mas. Aku gak bisa. Aku belum memikirkan soal itu. Aku masih ingin mengabdi pada Bapak. Kalau tidak ada lagi yang ingin Mas Ardi bicarakan, aku masuk dulu ya, Mas. Permisi!"
Lagi dan lagi Ardian harus menelan pil kekecewaan. Ternyata Amanda bukanlah gadis yang mudah dirayu. Sangat berbeda dengan gadis kota yang pernah dikenalnya saat kuliah dulu.
"Sampai kapanpun aku gak akan melepaskan kamu, Manda. Meski aku harus bersaing dengan dokter itu!"
#tbc