Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
35 - Bertemu Kembali



Siang harinya, Dea mendapatkan sebuah paket yang dikirimkan oleh Shady. Sebuah gaun malam berwarna hitam bertaburan kristal kecil yang membuatnya berkilau. Shady memilihkan gaun berlengan panjang dan dengan panjang dibawah lutut. Shady tak suka jika Dea tampil terlalu terbuka. Tentunya akan mengundang perhatian para pria tamu undangan nanti.


Dea mencoba gaun yang dikirim Shady. Gaun itu sangat pas di tubuh Dea. Nilam yang melihat itu segera memberi selamat padanya.


"Kamu sangat cantik, Nak. Nanti malam kamu pasti akan memukau semua orang."


"Terima kasih, Bu. Nanti malam titip Naura ya, Bu. Maaf karena kami tidak bisa mengajaknya."


"Tidak apa. Lagipula Clara dan Rasya akan datang nanti malam."


Dea mengulas senyumnya. Entah kenapa mendengar Clara dan Rasya akan datang membuatnya ingin sekedar mengobrol dengan Clara. Perasaan Dea mengatakan jika Clara tidak sebahagia yang dia tunjukkan ke orang-orang tentang pernikahannya dengan Rasya.


Waktu bergulir dengan cepat, malam pun tiba. Dea dan Shady sama-sama sedang bersiap untuk datang ke acara pesta besar yang pastinya banyak orang-orang penting disana.


Shady mengagumi kecantikan alami Dea yang hanya dipoles makeup natural.


"Sudah siap, sayang?" tanya Shady.


"Sudah, Mas."


"Kalau begitu kita berangkat ya!" Shady menggenggam tangan Dea lembut.


Darah Dea serasa berdesir kala tangan mereka saling bertautan. Rasa gugup mulai menggelayutinya. Pasalnya Dea sama sekali tidak pernah  datang ke pesta manapun. Apalagi pesta orang-orang kaya.


"Jangan gugup! Sampai disana tetaplah disampingku dan jangan kemana mana."


Dea tak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mereka tiba di Royale Hotel tempat dimana pesta malam ini diselenggarakan. Dea turun dari mobil diikuti Shady.


Shady melirik lengan tangan kirinya agar Dea melingkarkan tangannya disana. Mengerti dengan kode yang diberikan Shady, Dea pun segera melakukannya.


Mereka berdua berjalan memasuki hotel. Seorang petugas hotel mengarahkan mereka berdua ke ballroom hotel di lantai 5.


"Jangan gugup! Kau sangat cantik malam ini." Shady membisikkan kata-kata penyemangat untuk Dea yang membuat wajah gadis itu merona.


Dea mengangguk sebagai jawaban. Tiba di lantai lima, mereka segera memasuki ballroom hotel itu.


Suasana ramai riuh sudah terasa sejak memasuki depan ballroom. Semua orang berpakaian rapi dan tentunya berharga fantastis.


Shady mengajak Dea berkeliling dan menyapa semua orang. Dea selalu mengulas senyumnya. Ya meskipun ada beberapa orang yang mempertanyakan tentang siapakah dirinya. Kenapa dia bisa datang bersama Shady.


Shady selalu meyakinkan Dea untuk tidak mendengarkan omongan orang yang mencibir ataupun membicarakan di belakang. Tak ada gunanya juga menggubris mereka.


Dea menatap satu persatu tamu-tamu yang ada disana. Tentunya banyak orang yang tidak dikenalnya.


Namun ketika matanya tertuju ke sebuah sudut, Dea menangkap satu sosok yang ia kenali.


"Shezi?!" batin Dea kaget tak percaya.


Meski terkejut melihat sahabat yang sudah mengkhianatinya, sebisa mungkin Dea tetap tenang. Ia tak ingin menghindar ataupun melarikan diri. Baginya bertemu kembali dengan Shezi adalah hal baik. Dengan begitu Dea bisa segera menyelesaikan urusannya dengan Shezi.


Di arah berlawanan, seorang gadis cantik dengan gaun malam yang juga tak kalah memukau, kini tengah memandangi Dea dari jarak yang cukup jauh. Mata mereka saling beradu.


Tubuh Shezi seakan ingin jatuh ke lantai ketika melihat Dea tengah berdiri menatapnya dan menggandeng tangan seorang pria yang dikenali Shezi. Ekspresi wajahnya terlihat panik karena melihat sahabat yang sudah dijebaknya kini ada di depannya.


Tak ingin terus terlihat bodoh, Shezi pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Sementara Dea hanya bisa menghela napas. Malam ini adalah sebuah malam yang mengejutkan bagi Dea.


Di samping Dea, Shady tersenyum dalam hati ketika akhirnya Dea melihat sosok Shezi. Ia juga tersenyum senang melihat wajah pucat Shezi saat melihat Dea. Shady berpura seolah-olah dia tak melihat adegan tadi.


Di tempat berbeda, Shezi segera pergi dengan mobilnya. Ia menghubungi kakak sepupunya untuk bertemu.


"Aku? Aku di rumah Clara, ada apa?"


"Temui aku sekarang atau aku akan mengacau di rumah keluarga Hutama." Suara Shezi terdengar sangat menakutkan.


"Tu-tunggu! Apa yang terjadi?"


"Cepat kakak temui aku atau aku akan datang kesana!" teriak Shezi lalu memutus sambungan telepon.


Rasya berpamitan dengan Clara dan Nilam. Lalu kemudian menemui Shezi di sebuah taman yang sudah disepakati.


"Shezi, ada apa?" tanya Rasya yang melihat Shezi sedang duduk di bangku taman.


"Apa ini, Kak? Kenapa Dea bebas dari penjara?" tanya Shezi beranjak dari duduknya.


"Dea? Bagaimana kau..."


"Aku bertemu dengannya di pesta malam ini. Apa yang kakak sembunyikan dariku? Kenapa kakak tidak mengatakan apapun padaku?" Shezi yang sudah dikuasai amarah langsung memarahi Rasya.


"Aku juga tidak tahu. Menurut informasi pihak lapas, Dea masih terdaftar disana. Karena ancaman hukumannya 5 tahun."


"Lalu kenapa dia bisa bebas?" Shezi makin kesal.


"Ada yang sudah menjaminnya. Mungkin Shady. Atau juga orang lain."


Shezi memicingkan matanya. "Aku melihat Dea bersama bang Shady. Ada hubungan apa mereka berdua?"


Rasya menarik napas dan menghembuskannya kasar. "Shady menikahi Dea. Dea adalah istri Shady."


"What?! Apa kakak bilang? Bagaimana bisa bang Shady menikahi wanita yang sudah membunuh istrinya?"


"Aku tidak tahu! Clara tidak bercerita apapun padaku. Dia hanya bilang jika Shady mempekerjakan Dea sebagai pengasuh Naura. Lalu mereka mulai dekat dan muncul benih cinta lalu menikah."


Shezi menggeleng kuat. "Aku menyukai bang Shady, Kak. Dia tidak bisa menjadi milik orang lain, termasuk Dea."


Rasya memejamkan matanya. Rasanya percuma saja bicara dengan Shezi yang sedang dipenuhi amarah.


#


#


#


Di balkon kamar, Dea sedang berdiri termenung memikirkan pertemuannya dengan Shezi tadi. Dea tidak menyangka jika Shezi sudah kembali.


Dea ingin bicara dengan Shezi. Tapi gadis itu menghindar dari Dea.


"Jadi, kamu sudah kembali Shezi. Aku ingin bertanya langsung padamu kenapa kamu melakukan hal ini padaku? Kamu sudah memfitnahku dan membuat di penjara. Kenapa, Zi? Apa salahku padamu?" batin Dea dengan mata berkaca-kaca.


Saat sedang menahan kesedihannya, tiba-tiba saja dua buah tangan kekar memeluk Dea dari belakang. Itu adalah Shady.


"Aku tahu maksud Mas mengajakku ke pesta tadi. Agar aku bisa bertemu dengan Shezi kan? Apa aku salah?" ucap Dea.


Shady terdiam sejenak kemudian menjawab.


"Maaf... Aku pasti sudah menyakitimu ya?" sesal Shady.


"Tidak, Mas. Aku malah senang karena dia sudah kembali. Aku ingin bicara dengannya satu lawan satu. Tapi sepertinya dia menghindariku."


"Sayang, aku tahu ini berat untukmu. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu berbulan madu. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan merilekskan diri? Kita kan belum berbulan madu," ucap Shady mencoba meluluhkan hati Dea.