Love Me Please, Mas Duda

Love Me Please, Mas Duda
45 - Kesedihan dan Kebahagiaan Itu Beda Tipis



Dea dengan setia menemani Nilam yang masih tak sadarkan diri. Ia memijat pelan kaki Nilam.


Dea nampak khawatir. Namun Shady masih terlihat santai. Ia sendiri sudah frustrasi dengan kenyataan yang sedang ia hadapi.


"Papa..." Suara bocah kecil menghampiri Shady. Itu adalah Naura.


"Nenek kenapa, Pa?" tanya Naura yang ikut menuju ke tempat tidur.


"Mama, nenek kenapa?" Naura menatap Dea yang tampak menyeka air matanya.


"Mama nangis?" tanya Naura.


Gadis kecil itu menghampiri Dea dan menghapus air mata di pipi Dea.


"Mama jangan sedih. Nenek pasti bangun."


Dea mengangguk. Ia tak sanggup memikirkan jika Naura bukanlah anggota keluarga ini. Dea membawa Naura dalam dekapan.


Dea begitu menyayangi Naura. Dea tidak peduli meski Naura bukanlah bagian dari keluarga ini.


Shady tertegun melihat interaksi antara Dea dan Naura. Hatinya juga terluka saat mengingat jika Naura bukanlah putrinya.


Tak lama setelahnya, Nilam terbangun kemudian menangis. Nilam juga tidak sanggup untuk menerima kenyataan ini.


"Ibu!" Dea melihat Nilam sudah bangun dan segera mendekat padanya.


"Ibu..."


"Dea..." Nilam menangis terisak. Ia menatap Naura.


"Nenek sudah bangun. Apa nenek sakit? Yang mana yang sakit, Nek?" tanya Naura beruntun. Naura memiliki pemikiran dewasa di usianya yang masih kecil.


"Nenek tidak sakit, sayang. Kemarilah!" Nilam meminta Naura naik ke ranjangnya. Nilam segera memeluk Naura erat.


Mereka bertiga saling berpelukan dan sesenggukan. Shady hanya menatap dengan hati yang bergemuruh. Ia juga merasakan kesedihan sama seperti Dea dan Nilam. Namun bagi Shady, kesedihannya digambarkan dengan cara yang lain. Shady memilih keluar dari kamar dan mencari udara segar.


#


#


#


Clara menjemput Diana di rumah keluarga Kalendra. Wanita paruh baya itu ternyata sudah siap untuk pergi bersama sang menantu.


Clara bercipika cipiki dengan Diana. Ia menyapa sang keponakan yang ternyata ikut diajak oleh Diana.


Clara tidak keberatan. Karena ini bisa membuat rencananya berjalan lancar.


Mobil Clara mulai melaju meninggalkan kediaman Kalendra. Selama perjalanan, Vano banyak berceloteh kepada neneknya. Clara hanya tersenyum melihat keceriaan Vano.


"Kamu lihat saja, Kak. Jangan pernah bermain-main denganku!" batin Clara tersenyum seringai.


Tiba di sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak, Diana merasa bingung.


"Clara, untuk apa kita datang kesini?"


"Nanti juga mama tahu. Ayo masuk!"


Mereka bertiga memasuki rumah sakit itu. Clara mendaftarkan dirinya di resepsionis rumah sakit.


Diana makin bingung ketika melihat Clara mendaftar di poli kandungan.


"Clara, apa kamu..." Diana menjeda kalimatnya.


"Kita tunggu kabar dari dokter saja ya, Ma."


Ketika nama Clara di panggil, Clara beserta Diana dan Vano masuk ke dalam ruangan dokter.


Clara merebahkan diri untuk diperiksa. Mata Diana berbinar senang melihat sesuatu yang tumbuh di rahim Clara.


Diana memeluk Clara erat. "Ini harus dirayakan! Vano, kamu akan punya adik," seru Diana.


Clara tersenyum penuh kemenangan. "Dengan begini kak Rasya tidak bisa menolak anak ini dan juga diriku. Jika kamu macam-macam denganku, kamu akan berhadapan dengan keluargamu, Kak!" Clara menyeringai.


#


#


#


Nilam masih mengurung diri di kamar. Hatinya masih begitu sedih mengetahui kebenaran tentang putri yang selama ini dianggap sebagai cucunya.


Nilam memandangi foto Naura yang ada di ponselnya. Air mata yang sudah mengering kini kembali membasahi pipi Nilam.


"Ya Tuhan, cobaan apa lagi Engkau berikan kepada keluarga hamba? Bagaimana mungkin Naura bukan cucuku?"


Nilam memeluk ponselnya sambil terisak. Dea yang datang dengan membawa nampan berisi makanan, begitu iba ketika melihat Nilam menangis sesenggukan.


"Ibu..." Dea meletakkan nampan diatas nakas.


"Dea..." Nilam memeluk Dea.


"Aku tidak lapar, Dea. Aku hanya ingin mendapat jawaban atas semua ini. Apakah semua ini benar, Dea? Benarkah jika Naura bukan cucuku?"


"Ibu, ibu harus tetap makan. Aku tahu ini semua sulit untuk kita, Bu. Tapi..."


"Dimana Shady?" Belum sempat Dea melanjutkan kalimatnya, Nilam malah beranjak dari tempat tidur dan menanyakan tentang Shady.


"Dimana dia?" seru Nilam di depan Dea.


"Mas Shady pergi ke kantor, Bu."


Nilam terduduk lesu. "Apa kau yakin jika semua ini benar? Jika Naura..."


Dea mengangguk.


"Oh, Ya Tuhan! Apa ini? Kenapa ini harus menimpa pada keluarga kami?"


"Ibu... Jangan begini. Kita harus berusaha tegar untuk Naura. Jika Naura tahu kita bersedih, maka ... Dia akan jauh lebih sedih."


Nilam memejamkan matanya. Lalu ia menghapur air matanya.


"Kamu benar, Dea. Ini akan berpengaruh pada Naura."


Nilam memegangi kedua tangan Dea.


"Dengar! Kita harus bersikap seolah tidak terjadi apapun di keluarga ini. Kamu mengerti? Lupakan soal apakah itu anak kandung atau bukan. Naura adalah cucuku dan akan tetap menjadi cucuku. Dia juga putrimu dan Shady. Tolong jangan sampai ada yang berubah. Ya?" pinta Nilam.


"Iya, Bu. Aku juga sangat menyayangi Naura. Tapi, mas Shady..."


"Sudahlah, jangan pikirkan tentang dia. Biar ibu yang akan bicara dengannya."


Dea mengangguk paham dan tersenyum.


#


#


#


Malam harinya, Diana menyiapkan makan malam istimewa di kediaman keluarga Kalendra. Ini untuk merayakan kehamilan Clara.


Diana menghubungi Rasya untuk memintanya datang malam ini ke rumahnya. Tanpa curiga apapun Rasya menyetujui untuk datang.


Begitu tiba di rumahnya, Rasya amat terkejut karena melihat Clara ada disana. Tatapan mata tajam diarahkan Rasya untuk Clara.


"Rasya, kamu sudah datang? Ayo masuk, Nak!" Diana menyambut kedatangan putra tercintanya.


"Mama masakkan makanan favorit kamu. Ayo duduk!" Diana memaksa Rasya untuk duduk karena semua orang juga sudah berkumpul disana. Termasuk Vanessa dan Shezi yang sengaja diundang oleh Diana.


"Sebenarnya ada acara apa sih, Ma?" tanya Rasya bingung.


"Perhatian semuanya! Makan malam ini adalah perayaan untuk kebahagiaan Rasya dan Clara. Selamat untuk kalian berdua!" ucap Diana.


Rasya langsung melirik sang istri yang nampak tersenyum sumringah di depan semua orang.


"Selamat ya, Nak. Sebentar lagi kalian akan jadi orang tua," sahut Deddy, ayah Rasya.


Shezi dan Vanessa terlihat kaget mendengar berita yang cukup mengejutkan ini. Vanessa tersenyum seringai. Ia tahu jika saran darinya pasti akan dilakukan oleh Clara.


Usai makan malam meriah malam itu, Rasya menarik tangan Clara menuju kamarnya. Rasya terlihat marah dengan tindakan yang dilakukan Clara.


"Kenapa kau memberitahu mama tanpa bertanya lebih dulu padaku?"


"Kakak tanya kenapa? Keluarga ini berhak tahu jika aku sedang mengandung anak kakak!"


Rasya yang kesal menghempaskan tubuh Clara hingga terlentang di tempat tidur.


"Kau sengaja melakukan ini kan?" teriak Rasya. Beruntung kamarnya itu kedap suara.


Clara memejamkan mata mendengar teriakan Rasya.


"Baiklah. Jika ini yang kau inginkan! Jangan salahkan aku!"


Rasya membuka jas ditubuhnya kemudian melemparnya asal. Ia juga membuka kemejanya dan juga membuangnya asal.


Clara membelalak melihat Rasya yang melucuti pakaiannya.


"Kak! Apa yang kau lakukan?" Clara berusaha bangkit dari tempat tidur. Tapi Rasya membawanya lagi ke atas ranjang dan menghempas kasar.


"Akh!" Clara memekik.


"Ini kan yang kau inginkan?"


Clara menggeleng lemah ketika Rasya memaksa untuk melepas semua pakaian Clara.


"Jangan begini, Kak!"


Tangis Clara pecah ketika Rasya dengan kasar mengagahinya. Hatinya hancur melihat brutalnya Rasya menyakiti tubuh dan hatinya.


Kebahagiaan yang baru saja Clara rasakan, dalam sekejap hilang dan berubah menjadi kesedihan yang melukai hatinya.