
Clara terbangun di pagi hari dengan hati yang gembira. Badannya memang terasa nyeri dan remuk, tapi itu semua tidak ia hiraukan.
Clara bangun dan langsung membersihkan diri. Setelahnya ia menyiapkan sarapan untuknya dan sang suami.
Sementara itu di kamar, Rasya mulai membuka matanya. Kepalanya berdengung setelah mengalami malam panas bersama sang istri. Tapi Rasya masih belum menyadarinya.
Hingga matanya benar-benar terbuka dan menatap penampilannya yang tanpa busana.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidur tanpa memakai baju?" gumamnya sambil memegangi kepalanya yang masih berputar.
Rasya memperhatikan sekelilingnya. Tempat tidurnya sangat berantakan dan...
"Apa ini? Noda darah?" Rasya menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah Clara membawa sebuah nampan di tangannya.
"Selamat pagi, Kak. Kakak sudah bangun?"
Rasya menatap tajam Clara. "Apa yang kau lakukan padaku?"
Clara menelan salivanya. "A-apa maksud kakak?" tanyanya gugup.
"Katakan apa yang sudah kau lakukan padaku?!" Rasya berteriak. Ia sadar jika dirinya pasti dicekoki obat semalam.
"Ka-kakak..." Clara ketakutan.
"Berani sekali kau melakukan ini padaku, hah?!"
Clara menggeleng.
"Kau sengaja melakukan ini kan? Rendah sekali kelakuanmu, Clara!"
PRANG!
Clara melemparkan nampan ke lantai. Ia tak terima Rasya menyebutnya rendahan.
"Iya! Aku yang sudah melakukan semua ini pada kakak. Karena apa? Karena kakak tidak pernah mau menyentuhku! Bahkan menciumku pun hanya sekilas. Apa kakak pikir aku tidak menderita? Aku selalu mencintai kakak tapi kakak tidak pernah melihatku. Siapa yang sebenarnya kakak cintai? Kak Nola?"
Clara menjeda ucapannya. "Jangan salahkan aku karena harus melakukan hal serendah ini padamu. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri. Aku hanya tidak suka ibumu yang terus mendesak ingin segera memiliki cucu. Tapi kau tidak pernah mendengar keinginan ibumu itu."
Rasya mulai mengalah. "Tapi tidak dengan cara seperti ini, Clara."
"Lalu kau ingin aku bagaimana? Aku sudah lelah, Kak. Aku tidak mau jadi istri bodohmu lagi!" Clara memilih pergi dari kamar. Ia meninggalkan Rasya agar bisa mencerna semua yang terjadi dengan hubungan mereka.
#
#
#
Pagi itu, Shezi mulai bekerja di kantor milik ayahnya. Ia menempati posisi direktur keuangan yang akan mengelola pemasukan dan pengeluaran perusahaan.
Sebagai putri pemilik perusahaan, tentunya pekerjaan Shezi tidak begitu berat. Karena tentunya ia hanya mengandalkan para anak buah untuk bekerja.
Shezi yang merasa bosan berada di ruangannya, kemudian memilih untuk berjalan-jalan sejenak. Shezi menuju ke ruangan Rasya.
"Dimana kak Rasya?" tanya Shezi pada Eksa.
"Hari ini tuan Rasya tidak masuk, Nona."
Shezi mengerutkan keningnya. "Aneh! Tidak biasanya kak Rasya tidak masuk."
"Apa ada yang Nona butuhkan?" Eksa balik bertanya.
"Tidak ada. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Shezi melangkah pergi dari ruangan Rasya.
Di tengah perjalanan menuju ke ruangannya, Shezi melihat sosok yang membuat senyumnya mengembang lebar.
"Bang Shady?!" Shezi berjalan mendekat.
Tanpa malu-malu Shezi memeluk erat pria yang sudah beristri ini.
"Apa yang Abang lakukan disini?"
Shady yang terkejut karena di peluk oleh Shezi seketika diam dan berpikir.
"Umm, aku datang kesini ... ingin bertemu dengan ayahmu."
Shezi melepas pelukannya. "Apa Abang punya janji temu dengan papaku?"
Shady mengangguk. "Begitulah. Kalau begitu aku permisi."
Shezi tersenyum penuh kepuasan. "Jika papa memiliki hubungan bisnis dengan bang Shady, maka aku akan mudah untuk mendekati bang Shady. Lihat saja Dea! Apa yang akan aku lakukan dengan suamimu!"
#
#
#
"Maafkan aku, Mas. Karena aku belum sepenuhnya bisa mempercayai kamu. Aku harap kamu mengerti."
Dea telah selesai menata makanan di atas meja. Nilam menghampiri menantunya yang nampak bersemangat untuk menyiapkan makan malam kali ini.
"Wah, sepertinya malam ini adalah malam yang istimewa."
"Ah, tidak juga, Bu. Aku hanya memasak makanan biasa kok."
Dering ponsel membuat Dea segera berlari untuk mengambil ponselnya.
"Itu pasti Mas Shady. Aku ambil ponselku dulu ya, Bu."
Nilam mengangguk dan melihat kebahagiaan terpancar di wajah menantunya.
Raut wajah Dea seketika berubah kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Shezi? Mau apa dia menelepon?" gumam Dea.
Tangan Dea terkepal mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh Shezi. Diujung panggilan Shezi mengirimkan sebuah foto yang membuat Dea makin meradang.
"Apa ini?!" gumam Dea yang masih bisa didengar oleh Nilam.
"Ada apa, Nak?" Nilam menghampiri Dea.
Dea menatap Nilam. "Ibu... Mas Shady..."
"Ada apa dengan Shady?"
Dea menunjukkan foto di ponselnya kepada Nilam. Itu adalah foto Shady bersama dengan Shezi. Saat ini mereka sedang bersama.
"Ibu tidak percaya dengan semua itu. Sebaiknya kau tanyakan pada Shady saat dia pulang nanti. Jangan berpikir yang tidak-tidak." Nilam mengusap punggung Dea.
"Iya, Bu. Aku percaya pada Mas Shady."
"Ayo kita makan malam dulu! Sepertinya Shady tidak akan pulang sekarang."
Dea mengangguk. Ia mengikuti langkah Nilam menuju ke meja makan kembali.
#
#
#
Pukul sembilan malam Shady pulang ke rumah. Dea sudah menunggu di kamar dengan menyilangkan tangannya.
Shady tahu ada yang tidak beres dengan sikap istrinya.
"Sayang, kau belum tidur?" tanya Shady.
"Jelaskan soal ini, Mas!" Dea menunjukkan layar ponselnya.
"Oh, Shezi?" Shady menjawab dengan santai.
"Mas! Apa yang kau lalukan bersamanya?" Dea mulai emosi.
"Kami hanya makan malam. Itu saja!"
Dea menggeleng pelan. "Kenapa Mas tidak mengabariku? Kenapa malah Shezi yang menelpon?"
Shady memegangi kedua bahu Dea. "Sayang, jika kau marah karena Shezi, itu memang yang diinginkannya. Dia sengaja membuat kita bertengkar."
"Lalu kenapa Mas tidak menjelaskan apapun padaku?"
"Maaf, aku tidak mengatakan apapun padamu. Aku memang memiliki rencana ingin mendekati Shezi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bukti dalam keterlibatannya pada kecelakaan Nola."
Dea terdiam. Ia mulai paham kemana arah pembicaraan suaminya.
"Tapi harusnya kamu bilang sama aku, Mas! Aku mengkhawatirkanmu..."
"Kamu khawatir atau cemburu?" goda Shady.
"Mas!" Dea mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemas. Aku tidak akan terkecoh olehnya. Aku mohon kau percaya padaku. Jangan terpancing oleh omongan Shezi. Aku tahu dia menyukaiku. Maka dari itu aku akan memanfaatkan hal ini."
Dea bingung harus menjawab apa. Ingin ia menolak rencana suaminya. Tapi rasanya ia juga ingin masalah ini segera selesai.
"Baiklah. Aku setuju dengan rencana Mas. Tapi, tolong katakan semuanya padaku sekecil apapun hal itu."
Shady membawa Dea dalam dekapannya. "Percayalah padaku! Kita pasti bisa menghadapi ini bersama."
Malam itu Dea bisa bernapas lega, karena Shady sudah menceritakan semua rencananya. Sebenarnya Shady tidak ingin membuat Dea khawatir, tapi karena Shezi bersikap licik, maka Shady harus lebih berhati-hati dengan wanita itu.