
Arshad berhasil mengumpulkan bukti-bukti keterlibatan Shezi dan Rasya dalam kecelakaan mobil yang dialami Nola. Kini tekad Arshad sudah bulat untuk mengirim dua bersaudara Kalendra itu masuk ke dalam jeruji besi dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.
Sebelum bertindak, Arshad sudah membicarakan hal ini dengan kedua orang tuanya. Awalnya Faishal murka dengan tindakan Arshad yang secara sepihak membatalkan perjodohan dirinya dan Shezi.
Diana juga menyayangkan tindakan Arshad yang mengusut tuntas kasus kecelakaan Nola. Padahal Nola hanya melakukan hubungan satu malam dengannya.
"Seharusnya kau tidak perlu ikut campur masalah itu! Yang harus kau perjuangkan adalah soal hak asuh putrimu. Kita harus mendapatkan hak asuhnya!" kukuh Sinta. Sepertinya ia sangat menginginkan Naura agar bisa menjadi cucunya.
"Mama tenang saja! Aku akan pikirkan hal itu setelah aku memenjarakan mereka berdua."
Faishal menatap putranya yang bertekad kuat. Faishal tidak bisa menghalangi Arshad.
"Baiklah. Lakukan apa yang menurutmu benar, Nak."
Arshad pamit undur diri dan segera menghubungi pihak kepolisian yang akan bekerjasama dengannya.
...***...
Shady memberanikan diri untuk bicara dengan Nilam dan Dea. Sudah saatnya ia bicara mengenai kebenaran kecelakaan Nola.
"Aku dan Arshad sudah menemukan bukti-bukti keterlibatan Shezi dan Rasya dalam kecelakaan Nola. Aku harap kalian setuju untuk mengungkap kebenaran ini."
Sontak pernyataan Shady membuat Nilam dan Dea membelalakkan mata. Mereka tak percaya jika Rasya juga ikut terlibat dalam kecelakaan itu.
"Mas, apa kamu yakin akan mengusut pak Rasya juga? Lalu, bagaimana dengan mbak Clara?" tanya Dea dengan raut wajah cemas.
"Ini juga berat untukku, Dea. Tapi, Arshad sangat gigih untuk memenjarakan mereka berdua."
Nilam menutup mulutnya. "Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi begini? Ibu takut Clara pasti bersedih karena hal ini."
Shady mengangguk paham. "Aku tahu, Bu. Makanya aku bicara dengan kalian. Aku harus menyampaikan hal ini terlebih dulu sebelum Clara mengetahuinya."
Dea menggenggam tangan Nilam. "Bersabarlah, Bu. Aku yakin mbak Clara bisa menghadapi semua ini."
Di tempat berbeda, Arshad beserta para anggota kepolisian mendatangi rumah Doddy Kalendra. Kebetulan saat itu Doddy juga ada di rumah dan bertemu tatap dengan Arshad juga anggota polisi.
"Maaf, Om. Kedatangan saya kemari adalah untuk menangkap putri Om. Saya membawa surat perintah dan juga surat izin penggeledahan rumah ini," Ucap Arshad dengan tenang.
"Apa?! Memangnya apa yang dilakukan Shezi?" Doddy tentu saja tidak terima dengan tuduhan Arshad.
"Shezi adalah pengemudi mobil dalam kecelakaan dua tahun lalu yang menewaskan Nola Hutama. Shezi bahkan melakukan penipuan dengan mengkambinghitamkan sahabatnya sendiri."
Shezi menuruni anak tangga karena polisi meminta asisten rumah tangga untuk memanggil nona mudanya itu.
"Ada apa ini?" Tanya Shezi yang masih belum mengerti situasi.
"Ibu Polisi, tangkap dia!" Perintah Arshad.
Seketika Shezi bungkam dan tak bisa berkutik. "Tunggu! Apa-apaan ini?! Kenapa kau menangkapku?" Berontak Shezi dalam cengkeraman dua polisi wanita.
"Semuanya sudah berakhir, Shezi. Jangan kau kira kau bisa bebas selamanya dan lari dari kenyataan." Arshad tersenyum seringai.
Sebenarnya Shezi sudah memiliki rencana untuk kabur lagi ke luar negeri. Tapi ternyata sebelum itu terjadi, polisi sudah lebih dulu menangkapnya.
"Bawa dia!" titah Arshad lagi.
"Tidak! Lepaskan aku! Papa! Tolong aku!" Teriak Shezi.
Doddy hanya diam dan tak bisa berkata apapun. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa Arshad bisa melakukan ini pada keluarganya.
"Arshad, kau yakin akan melakukan ini? Bukankah Shezi adalah calon istrimu?" Doddy memcoba bernegosiasi.
Usai mengatakan apa yang diperlukan, Arshad segera pergi dari rumah Doddy.
...***...
Kondisi Vano sudah lebih baik. Vano sudah sadarkan diri dan bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Semua orang menyambut hal itu dengan kebahagiaan.
Diana dan Deddy meminta maaf pada Heri atas perbuatan mereka di masa lalu. Heri akhirnya membuka hatinya untuk menerima Rasya sebagai suami putrinya dan Vano adalah cucu yang ia kira sudah meninggal.
Namun hal berbeda di tunjukkan oleh Clara. Ia sendiri bingung bagaimana harus bersikap dengan kebahagiaan keluarga suaminya. Clara meratapi nasibnya yang entah akan bagaimana nantinya.
Mengerti dengan posisi Clara yang serba salah, Diana segera menghampiri Clara.
"Sayang, kau akan tetap jadi menantu kami. Kau sedang mengandung keturunan Kalendra. Mama harap, kau bisa menerima masa lalu Rasya yang kelam. Mama mendoakan kalian agar setelah ini kalian bisa hidup bahagia."
Rasya yang merasa bersalah pada Clara segera memeluk istrinya itu.
"Aku minta maaf karena banyak menorehkan luka untukmu. Aku janji aku akan memperbaiki segalanya. Kau percaya padaku kan?"
Clara hanya menjawab dengan seulas senyum dan sebuah anggukan.
"Sayang, sebaiknya kalian pulang saja. Biar mama yang menjaga Vano disini. Kasihan Clara, dia pasti butuh istirahat." Diana berucap dengan sangat lembut.
Heri merasa miris dengan perlakuan Diana yang sangat berbeda dengan putrinya dulu. Padahal kondisi mereka sama-sama sedang hamil. Tapi Hari sebisa mungkin memaafkan kesalahan Rasya dan ibunya. Saat ini yang terpenting ia bisa melihat cucunya tumbuh sehat dan hidup dipenuhi oleh cinta. Itu saja sudah cukup untuknya.
...***...
Rasya dan Clara kembali ke apartemen. Clara butuh istirahat karena sudah dua hari ia menginap di rumah sakit.
Baru saja Rasya tiba di apartemen, bel pintu apartemen mereka berbunyi. Rasya meminta Clara untuk beristirahat saja di kamar.
Rasya membuka pintu apartemennya. Ia terkejut mendapati Shady datang dengan beberapa anggota polisi.
"Ada apa ini?" tanya Rasya.
"Rasya, apa Clara ada di dalam?" Shady malah balik bertanya. Sepertinya ia mengkhawatirkan soal adiknya.
"Clara ada di dalam. Ada apa ini sebenarnya?" Rasya menatap Shady dan polisi yang ada di depannya.
"Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama saudara Rasya Kalendra atas tuduhan membantu kejahatan nona Shezi Kalendra dalam kecelakaan dua tahun lalu," Ucap petugas kepolisian.
Rasya membulatkan mata. Ia tersenyum sinis kearah Shady.
" Apa kalian punya bukti keterlibatanku?"
"Tentu saja!" Jawab Shady penuh percaya diri.
Rasya seketika panik. "Tunggu! Kau yakin akan melakukan ini, Shady? Kau sendiri tahu apa yang sudah dilakukan Nola saat dia menjadi istrimu! Untuk apa kau..."
"Aku tahu! Aku tahu Naura bukanlah putriku. Tapi meski begitu, kau tidak berhak untuk melenyapkan Nola yang saat itu sedang mengandung!" tegas Shady.
"Mari, Pak Rasya!" Seorang petugas polisi akan membawa Rasya.
"Tunggu!" Rasya menatap Shady. "Shady, kau yakin ingin memenjarakan aku? Bagaimana dengan nasib Clara? Dia sedang hamil! Kau tega membuat keponakanmu sendiri tidak memiliki ayah? Clara pasti akan sangat kecewa padamu! Kau lebih mementingkan Nola yang sudah mengkhianatimu ketimbang adik kandungmu sendiri!" Rasya memprovokasi pikiran Shady.
Shady terdiam. Ia sendiri masih dilema menghadapi situasi ini. Ia ingin Clara bahagia. Tapi ia juga ingin membersihkan nama Dea yang dijadikam kambing hitam oleh Rasya dan Shezi.
"Ada apa ini? Bang Shady? Kak Rasya?" Clara datang dan menatap kedua pria yang ada di depannya.