
Mereka kini berjalan secara perlahan untuk keluar dari dalam hutan. Nathan sendiri sudah memberikan beberapa tanda pada batang pohon sehingga mereka tak perlu khawatir jika saja tersesat.
Walaupun begitu, meski tidak dapat tersesat, bukan berarti mereka akan terhindar oleh serangan monster-monster yang mengganas di malam hari. Dengan segera mereka berlomba-lomba untuk sampai di luar hutan terlebih dahulu.
Beberapa detik telah berlalu dan mereka berhasil keluar dengan selamat sebelum monster menyerang mereka. Nafas Renne memburu ketika menyadari ia sudah kalah melawan Nathan yang memiliki keunggulan dalam hal fisik.
“Kau sungguh curang, seharusnya kau mengalah pada seorang gadis!” kesal Renne, ia tidak menerima kekalahannya terhadap Nathan.
“Apa benar begitu? Padahal aku kira kau adalah gadis yang kuat.” Nathan terkekeh.
Mereka menyadari kehadiran Nathan dan Renne yang tiba-tiba muncul dari arah hutan seberang sungai itu. Wajah mereka terlihat khawatir juga tanpa alasan yang jelas mereka cengar-cengir.
Sedangkan Zerra terlihat langsung menghampiri Renne tanpa berkata apa pun, sepertinya anak itu memang benar-benar khawatir terhadap Renne.
Di malam harinya mereka membakar beberapa ikan yang sudah ditangkap oleh Artelis, semua orang terlihat begitu semangat karena perjalanan ini terasa begitu menyenangkan. Sedangkan di satu sisi, Renne terlihat memastikan tanaman obat dan racun yang ia miliki.
Dia bermaksud untuk memilah satu per satu tanaman itu. Hal itu dilakukan agar dia dapat meracik obat ataupun racun yang dapat digunakan untuk melawan monster di pegunungan itu.
Tanpa sengaja Renne menemukan Mysterious Box yang ia dapatkan dari mengalahkan Big Boar Emperor. Karena merasa penasaran dengan isinya, ia pun berniat untuk membukanya.
「Apakah Anda akan membuka Mysterious Box?」
「Ya.」
Renne semakin penasaran karena cahaya yang keluar berbeda dengan cahaya sebelumnya. Ia tahu apa arti dari cahaya itu, cahaya berwarna hijau akan memberikan item berupa mount yang dapat ditunggangi.
「Mendapatkan Flaming Phoenix.」
Sebuah kobaran api tiba-tiba muncul dari kejauhan menuju ke arah kumpulan orang itu. Semua orang menjadi bersiaga tak terkecuali Renne karena dia sendiri tidak tahu benda apa itu.
Saat api semakin mendekat, terlihat seekor burung yang di sekujur tubuhnya terdapat kobaran api yang menyala-nyala. Burung itu mendarat tanpa memberikan perlawanan sedikit pun, sedangkan akibat dari kepakkan sayapnya, kuda-kuda menjadi panik dan berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan.
Begitu pula dengan mereka, kepakkan sayap itu memaksa mereka untuk menutup mata karena debu dan angin yang sangat kuat.
Saat Renne sadari, burung itu sudah mendekatinya dan meminta kepalanya untuk dielus. Dia tahu bahwa apa yang sedang dilakukan oleh burung itu adalah untuk mengkonfirmasi kepemilikan.
“Ini ... burung yang benar-benar menakjubkan.” lirih Renne, ia terkagum-kagum karena burung itu.
Renne dengan segera mengelus kepala burung itu dan sebuah notifikasi muncul.
「Berhasil menjinakkan Flaming Phoenix.」
「Silakan berikan nama」
Renne memikirkannya sejenak, dia ingin memutuskan nama yang benar-benar bagus karena tidak mungkin untuk mengganti nama setelah ini. Kemudian sebuah nama terlintas di benaknya.
「Ash」
「Berhasil menamai Flaming Phoenix menjadi Ash.」
“Tidak panas.” tambah Violet.
Artelis dan Nathan juga terlihat tertarik dengan burung phoenix yang baru saja didapatkan oleh Renne. Mereka berpikir jika burung itu benar-benar keren untuk ditunggangi. Apalagi jika mengambil foto bersamanya.
“Burung ini memang benar-benar keren!” Artelis sama kagumnya.
“Aku tidak mengerti lagi dengan tingkat keberuntunganmu,” Nathan masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Jika berdasarkan tingkat kelangkaan, maka burung ini berada di kelas Legendary.
Renne tersenyum kecil, ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh mereka. Setelah merasa semua orang sudah cukup untuk melihat-lihat, Renne mengubah burung phoenix itu menjadi cincin.
「Ash Ring, Flaming Phoenix」
Sebuah cincin merah delima dengan beberapa efek api yang menyala-nyala. Terdapat kepala burung phoenix yang menjadi hiasan. Cincin itu terlihat begitu cocok dipakai oleh Renne.
“Aku menjadi iri!” Violet mengembungkan pipi.
“Ya, mungkin ini adalah akhir dari keberuntunganku.” Renne tertawa kecil.
Setelah beberapa percakapan mengenai mount yang baru saja Renne dapatkan, mereka melanjutkan dengan tidur dan patroli bergiliran. Karena kepakkan sayap dari burung itu, mereka harus kehilangan makan malam yang berharga.
Sedangkan Renne sendiri memutuskan untuk menjadi orang pertama yang menjaga. Dia bermaksud untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya karena besok mereka sudah pasti berada di pegunungan itu.
Ia sendiri ditemani oleh Zerra yang terus menatapnya dengan tatapan serius. Hal itu tentu saja membuat gadis itu merasa tidak nyaman, namun ia memilih untuk membiarkannya.
“Zerra, apa kau bisa membantu mengambil botol ramuan di kereta?” tanya Renne, sontak dengan segera anak itu pergi ke kereta untuk melaksanakan tugas.
Renne sendiri bermaksud untuk membuat racun yang mengakibatkan serangan jangka panjang dan beberapa debuff yang berguna. Jadi, ia menumbuk dan memeras seluruh tanaman beracun itu dalam waktu bersamaan. Tentu saja selama proses dia lakukan dengan sangat hati-hati karena tindakannya saat ini sangatlah berbahaya.
Tak lama Zerra kembali dengan mengangkat satu kotak penuh botol ramuan kosong. Ia juga langsung meletakkannya di samping Renne, namun setelah meletakkan kotak itu, kesadaran Zerra tiba-tiba saja menghilang.
Dia tersungkur ke tanah dan dengan panik Renne segera menolongnya. Untung saja saat itu Renne tidak melempar ataupun menjatuhkan racun itu, jika saya ia, entah apa yang terjadi.
Renne mencoba untuk mengecek suhu tubuh Zerra dan merasa jika anak ini demam tinggi.
“Apa mungkin penyakitnya kembali kambuh?” gumam Renne.
Renne tidak terlalu tahu tentang penyakit yang dimiliki oleh Zerra, tetapi ia dapat memberikan beberapa pertolongan pertama agar sedikit mengurangi rasa sakitnya.
Renne meminumkan Zerra sebuah ramuan yang ia ambil dari dalam inventory secara perlahan. Ia kemudian merebahkan tubuh Zerra pada sebuah kasur yang berada di dalam salah satu tenda.
Tak lupa pula Renne menutupi kepala Zerra dengan kain yang lembab, juga menyelimutinya dengan selimut hangat. Berharap jika anak itu akan kembali pulih di keesokan hari.
Setelah melakukan semua itu, ia kembali melanjutkan kegiatannya dengan meracik berbagai macam racun dan obat-obatan. Namun, saat sedang melakukan hal itu, dengan tiba-tiba api unggun itu mati.
Merasa tak ada yang dapat dia lakukan saat ini, Renne memutuskan untuk memanggil Ash dan menggunakannya sebagai penerangan. Ia juga melakukannya dengan hati-hati karena takut kepakkan sayap burung itu akan menyebabkan masalah lagi.