
Pagi-pagi hari sekali, Renne sudah menyiapkan sarapan untuk Zerra seorang. Sama seperti sebelumnya, gadis itu memasak telur goreng yang dianggap enak oleh sebagian orang yang pernah mencicip.
Semalam, ia diam-diam logout dan kembali dalam jangka waktu dekat. Ia tak bisa berlama-lama di dunia nyata karena takut anak itu akan mengkhawatirkan dirinya, belum lagi jika memikirkan perbedaan waktu antara dunia permainan dan dunia nyata.
Zerra masih terlayang di atas kasur dengan begitu nyenyak dan gadis itu tak ingin membangunkannya. Kemarin, anak itu sudah berjuang dengan sangat keras sehingga Renne akan membiarkannya untuk beristirahat lebih lama lagi. Jika perlu, ia akan membiarkannya tidur seharian penuh.
Renne kini berniat untuk mencari keberadaan kepala desa. Saat ini, ia menganggap jika kepala desa adalah orang yang paling informatif di desa ini. Sehingga, Renne dapat menanyakan apa pun yang ia inginkan walaupun sebagian dari pertanyaan itu tak akan terjawab.
Gadis itu sudah meletakkan sebuah surat di atas nakas yang berisikan keberadaannya saat ini, jadi Zerra tak perlu bingung jika ia terbangun dari tidur.
Renne memutarkan mata dan menolehkan kepala ke segala arah, sejauh mata memandang, tak terlihat lagi seseorang yang mengurus sawah mereka. Sepertinya, serangan yang dilakukan oleh para Goblin berdampak sangat buruk bagi penduduk desa.
Ia melewati jalan setapak yang di pinggirnya terdapat sebuah jalan menurun dan rerumputan hijau yang lebat, tanpa sedikit pun pohon yang menghiasinya. Walaupun begitu, pemandangan yang diperlihatkan tidaklah begitu buruk.
Udara yang segar juga membuat suasana hati semakin membaik. Lalu, suara burung yang berkicau terdengar begitu merdu, beterbangan ke sana-kemari tanpa kenal lelah, mencari makanan untuk menghidupi anak-anaknya.
Renne mulai merenung, terlarut dalam pikirannya sendiri. Ia menyesal tak pernah menikmati keindahan dari dunia ini dan terlalu fokus untuk menjadi kuat dan dikenal banyak orang. Kerja keras itu memang membuahkan hasil yang diharapkan, ia benar-benar menjadi pemain paling terkenal di Love Live Online. Tetapi, pada akhirnya buah yang sempurna itu membusuk dan jatuh ke tanah.
Lamunan itu pecah saat seseorang menarik pakaian Renne dari belakang, seorang anak yang saat ini terengah-engah karena berlari dan keringat mulai mengucur dari badannya.
“Zerra, kau tak perlu berlari hanya untuk mengejarku.”
Renne menjadi khawatir karena keputusan yang ia ambil sebelumnya. Akibat hal itu, Zerra malah berlari untuk mengejar dengan tubuh ringkih itu.
Tak ada balasan dari Zerra kecuali nafas yang memburu itu. Ia kini menghadap ke tanah dengan posisi tangan yang ditekankan pada lutut.
“Apa aku perlu aku gendong?”
Zerra lantas dengan segera menggelengkan kepala. Ia tak ingin terlihat memalukan di depan Renne dan malah seenak-enaknya, setidaknya ia tahu posisinya saat ini.
“Kalau begitu, ayo kita segera pergi. Aku ingin bertemu dengan Kepala Desa.” Renne dengan segera membalikkan badan dan lanjut berjalan. Di belakangnya, Zerra mengikuti dan mencoba untuk menyeimbangi kecepatan Renne.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di salah satu rumah yang alamatnya sendiri berasal dari kepala desa itu sendiri. Sebuah rumah yang nampak tua tetapi cukup terurus dengan sebuah taman hijau di depannya.
Renne mengetuk pintu dengan pelan, “Permisi,” ia terus melanjutkan ketukan hingga tiga kali.
Tak lama dari itu seseorang membukakan pintu. Seorang pria paruh baya dengan sorban putih dan pakaian sederhana terusan berwarna hijau tua.
“Nak Renne, silakan masuk. Aku akan menyiapkan minuman.” Kepala desa mempersilakan masuk.
“Tidak perlu, Pak. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu.” Renne tak ingin menyia-nyiakan waktu hanya untuk berbasa-basi.
“Tanyakan saja, aku akan menjawab selama aku mengetahuinya.” Kepala desa menjadi serius.
“Tentang tanaman obat yang dapat menyembuhkan apa pun, apa kau mengetahui tentang itu?” Renne menilik kepala desa.
“Hmm, itu informasi yang sangat berharga. Aku hanya mengetahui lokasi kasarnya dan untuk mengetahui itu, kau harus menyelesaikan misi yang aku berikan.”
Sebuah notifikasi jendela tiba-tiba muncul.
「NPC Quest.
Level kesulitan: C
Tujuan: Selidiki hal itu di hutan dan kalahkan sebelum mereka menyerang desa.
Hadiah: - Kepercayaan Lao Hin meningkat
- Informasi tentang tanaman obat.」
Renne sangat ingin menghembuskan nafas dengan kesal saat itu juga. Padahal, ia adalah orang yang menyelamatkan desa ini dari para Goblin . Tetapi, Renne akhirnya sadar akan sesuatu, selama ia memainkan harpa itu, tak sekalipun sebuah notifikasi muncul untuk menyatakan peningkatan dari kepercayaan penduduk.
Renne teringat dengan apa yang dikatakan oleh Lany sebelumnya. Tingkat kepercayaan seseorang tidak akan meningkat jika mereka tidak menyukai musik.
‘Ah, jadi begitu ... tak satu pun dari mereka menyukai musik.’ batin Renne.
“Bagaimana, apa kau menyetujuinya?” Kepala desa akhirnya kembali berbicara setelah melihat Renne yang memikirkannya dalam-dalam.
Renne menekan sebuah tombol dengan hati yang dongkol dan sangat ingin menggasak pintu rumah itu.
「Terima.」
“Berjuanglah, berkatku akan selalu bersamamu.” Kepala desa tersenyum.
“Ya, aku akan berjuang.” Renne juga membalas dengan senyuman, senyuman pahit.
Beberapa hari yang lalu Renne ingat pernah menemui jejak kaki monster saat hendak ke desa ini. Oleh karena itu, ia kini berpikiran untuk kembali ke tempat kemarin dan menelusuri selarung itu.
Ia akan segera membaui dan kembali dengan selamat untuk mendapatkan informasi tentang tanaman obat yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun itu. Tak peduli sekecil apa pun informasi, itu akan sangat berguna.
Setelah beberapa menit berjalan menuju hutan, kedua orang itu berhasil menjumpai jejak kaki yang sebelumnya sudah pernah mereka lihat dan dengan segera menyelusuri.
Semakin mereka telusuri, semakin terlihat dengan jelas pula jejak kaki itu, detak jantung Renne juga meningkat karena ketidaktahuannya tentang monster tersebut. Jika ia adalah binatang yang kuat, maka ia akan segera meninggalkan tempat itu dan mempersiapkan rencana dengan matang.
Kini, Renne dikejutkan dengan keberadaan manusia setengah serigala yang sedang dikerumuni oleh puluhan ekor White Wolf. Mereka terlihat tengah beragah-agahan dan dalam waktu bersamaan semua White Wolf mengamuk.
Renne sendiri cukup bingung akan hal itu. Tak pernah sekali pun ia melihat Werewolf dan White Wolf bertarung satu sama lain. Ia juga menganggap jika mereka berada pada kubu yang sama, sama-sama serigala.
Renne tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini dan bermaksud untuk mengendalikan seluruh White Wolf menggunakan Dance of Death. Dia juga berpikir jika manusia setengah serigala itu adalah monster yang dimaksud oleh kepala desa meskipun tak terlalu yakin apakah dia adalah pemilik dari jejak kaki tersebut.
“Dance of Death!”
Seluruh serigala berhasil dikendalikan kecuali manusia serigala itu. Sedangkan disisi lain Zerra juga ikut bergerak untuk mengalahkan Werewolf agar pekerjaan tuannya dapat terselesaikan dengan cepat.
Namun, di tengah pertarungan manusia serigala itu malah berbicara dan meminta untuk menghentikan serangan.
“Tolong hentikan! Aku sudah tidak kuat lagi.”
Hal itu sontak membuat Renne menghentikan serangan.
“Kenapa kalian menyerangku? Bukan aku yang menyebabkan kekacauan di hutan ini!” manusia serigala itu kembali berteriak.
“Lantas siap—?”
Dengan tiba-tiba Zerra melompat untuk menyelamatkan Renne dari terkaman monster yang berada di belakangnya. Hal itu menyebabkan efek keterampilan Dance of Death terhenti dan para serigala putih mendapatkan kembali kesadaran mereka masing-masing.