Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Kejadian Tak Terduga



Pembicaraan semakin serius karena pria itu mengatakan jika seekor naga menjadi penjaga dari tanaman yang memiliki banyak khasiat itu. Hal itu membuat Renne sangat terkejut karena tak pernah mendengar hal itu di kehidupan sebelumnya.


“Lokasi tanaman itu berada di tengah-tengah kaldera. Jadi aku ragu kalian akan mendapatkannya dengan level rendah seperti saat ini.” pria itu menunjuk sebuah tempat yang berada di peta.


Renne juga sama ragu seperti pria itu. Itu adalah hal yang sangat berbahaya jika mereka tetap memutuskan untuk mendapatkan tanaman obat itu, tetapi ia kembali diingatkan dengan perkataan Saint yang mereka temui sebelumnya.


Umur anak ini tidak akan lebih dari 1 tahun lagi.


Begitulah ucapan yang diberikan oleh sang Saint kepada Renne. Tentu gadis itu akan sangat ke pikiran tentang Zerra yang memiliki umur pendek jika tidak diberikan tanaman yang memiliki banyak khasiat itu.


“Lantas ... apa ada cara untuk mendapatkannya?” Renne tak ingin berputus asa.


“Hmm, aku tidak terlalu tahu banyak kecuali lokasi dari tanaman itu.”


Mendengar ucapan pria itu membuat Renne menundukkan muka. Meskipun begitu, ia masih memiliki harapan dengan menanyakan hal itu langsung kepada Viscount Aguestel yang memiliki banyak sumber informasi sebagai bangsawan.


“Tidak apa-apa, aku pasti akan mendapatkannya apa pun yang terjadi.” Renne kembali tersenyum.


“Kau bisa memiliki peta ini jika mau, lagi pula kami sudah tidak terlalu membutuhkannya. Melawan monster lemah saja sudah membuat kami kewalahan, apalagi jika melawan naga.”


Renne menerima peta itu dan dengan segera menyimpannya ke dalam inventory. Di waktu bersamaan ia berpamitan untuk segera pergi dan mempersiapkan diri untuk mendatangi pesta pernikahan Viscount Aguestel.


****


Mereka sudah berada di kereta kuda dan Renne menyenderkan tubuh dengan sangat lesu. Wajahnya terlihat masam dan hal itu membuat teman-temannya khawatir, begitu pula dengan Zerra.


Zerra menarik pakaian Renne, gadis itu lantas menolehkan wajah dan menunjukkan senyuman agar anak itu dapat tenang tanpa harus memikirkan dirinya.


“Renne, bukankah itu sangat bagus karena kita bisa melawan naga secara langsung? Kau tahu, jika kita mengalahkannya, kita akan mengukir nama kita menjadi party pertama yang mengalahkan naga.” Artelis terlihat begitu bergelora.


“Itu benar, aku sangat tidak sabar menantikan hal itu!” Violet sama semangatnya.


“Ya, kita juga punya satu tahun untuk berlatih. Bukankah itu waktu yang cukup untuk dapat mengalahkan seekor naga?” tambah Nathan.


Mendengar ucapan yang dikeluarkan teman-temannya itu membuat Renne tambah tenang. Mereka memang memiliki waktu kurang-lebih satu tahun dan tentu itu cukup untuk mencapai level tinggi serta mengalahkan seekor naga.


“Ya, terima kasih.” Renne kembali menunjukkan senyuman.


****


Renne sudah memakai pakaian bagus yang diberikan secara langsung oleh Violet. Tentu saja hal itu terjadi karena tidak mungkin bagi mereka untuk memakai pakaian lusuh itu ketika menghadiri pesta yang diadakan oleh seorang bangsawan.


Pakaian-pakaian itu sendiri dibuat oleh Violet yang pandai membuat pakaian. Bahkan, ia juga mengembangkan skill Tailoring agar mendapatkan hasil yang lebih berkualitas lagi.


“Aku tidak menyangka jika gadis ini bisa membuat pakaian sebagus ini hanya dalam beberapa jam saja.” Nathan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Kau menghinaku, ya?” Violet cemberut.


Kini, mereka semua berkumpul dan masuk ke dalam kereta kuda itu karena mereka berniat untuk melanjutkan perjalanan di malam hari ketika selesai berpesta.


Beberapa waktu telah berlalu, mereka telah sampai di salah satu rumah mewah yang berada jauh dari desa itu. Terlihat beberapa penjaga berpakaian lengkap senang menjaga di bagian pagar dan bertugas untuk mendata seluruh tamu undangan yang datang.


“Renne, kami petualang.” ucap Renne.


“Ah, petualang? Silakan alirkan Mana pada bola kristal ini.” perintah penjaga itu.


Renne sendiri sangat tahu, ini adalah cara paling merepotkan untuk mengidentifikasi kejahatan seseorang. Karena tak pernah membunuh NPC ataupun pemain lainnya, tentu Renne sangat percaya diri.


Renne mengalirkan Mana yang ia miliki ke dalam bola kristal itu. Beberapa detik setelah itu, muncul sinar yang begitu menyilaukan sebagai pertanda bahwa Renne adalah orang baik dan melakukan banyak kebaikan serta ketenaran di beberapa desa lainnya.


“Silakan masuk,” lanjut penjaga itu.


Renne melangkahkan kaki untuk memasuki area sekitar rumah itu. Ia membalikkan wajah dan menghentikan langkah kaki guna menunggu teman-temannya agar tidak terpencar.


Semua berlangsung lancar hingga tiba giliran Zerra. Bola kristal itu tiba-tiba saja mengeluarkan kegelapan dan dengan segera para penjaga itu menangkapnya.


“Apa yang kalian lakukan?!” teriak Renne, ia sangat panik ketika Zerra dilumpuhkan.


“Anak ini pembunuh, kami tidak bisa membiarkannya memasuki rumah Viscount.” tutur penjaga itu sembari menggembok tangan Zerra dan menyita pedang itu.


Mereka tiba-tiba menjadi perhatian seluruh tamu undangan yang berada di sana. Di saat bersamaan, sang Viscount Aguestel datang karena menyadari keributan yang terjadi di luar.


Seorang pria berjas hitam dengan dasi berwarna biru dongker, memakai sarung tangan putih, dan anting yang menggantung di salah satu telinga. Memiliki wajah dingin dan kulit pucat. Rambutnya berwarna biru muda.


Pria itu berjalan dengan begitu elegan diiringi oleh kedua mempelai yang salah satu dari mereka merupakan anak dari Viscount Aguestel itu sendiri.


Renne sempat merinding ketika melihat tatapan tajam dari Viscount Aguestel, ia tak menyangka jika orang ini memiliki aura yang begitu menakutkan. Tentu saja hal itu hanya dapat dirasakan oleh Renne karena ia merupakan pemain profesional dan memiliki profesi Legendary Bard yang meningkatkan seluruh indera.


“Ada apa ini?” tanya Viscount Aguestel.


“Maaf, Tuan. Sepertinya anak pembunuh ini hendak masuk dengan kelompok dari petualang yang berada di hadapan Anda.” perjelas penjaga itu.


“Oh, apa itu benar? Kalau memang begitu, kita hanya perlu mengeksekusinya.” Viscount Aguestel menaikkan alisnya.


Mata Renne membelalang ketika mendengar ucapan yang keluar dari Viscount Aguestel. Di saat bersamaan teman-teman Renne juga mengeluarkan senjata untuk melakukan perlawanan.


Seluruh penjaga juga dengan segera berdatangan ke lokasi, hendak menangkap kelompok Renne yang mengacungkan senjata kepada sang Viscount.


‘Sialan, sialan, sialan!’ Renne mengumpat dalam hati. Ia benar-benar tidak menyangka jika kepribadian dari Viscount Aguestel berbeda dari apa yang ia pikirkan.


Setelah keheningan itu berlangsung, muncul seseorang yang Renne kenal keluar dari kerumunan. Sepertinya mereka baru saja mengetahui kejadian ini.


“Renne dan Artelis?” Lagier terkejut ketika mengetahui keberadaan mereka.


“Apa kau mengenal mereka?” Viscount Aguestel menolehkan wajahnya dan menatap tajam Lagier.


“Ya ... bisa dibilang dia pewaris Kakek. Mereka bukanlah orang jahat. Artelis sendiri juga merupakan anggota kami sebelumnya saat hendak mengirimkan bantuan ke desa ini.” perjelas Lagier.


Viscount Aguestel memutuskan untuk melepaskan Zerra dan membiarkannya masuk karena Lagier bersumpah untuk bertanggung jawab atas anak itu.