
Renne meninggalkan kumpulan orang yang mengajaknya untuk membentuk kelompok itu dengan ekspresi dingin bagai di kutub selatan. Dia sangatlah membenci hal itu, apa lagi ketika mengingat tentang kenangan yang sudah dibuat oleh teman munafik, membuat Renne ingin mengeluarkan isi perutnya melalui mulut.
Ia masuk dengan tatapan tajam yang menusuk setiap insan yang memperhatikan. Berbeda dengan kelompok orang yang keluar itu, Renne menunjukkan ekspresi yang sangat mengintimidasi bagi orang yang mencoba untuk mendekati.
Ia melangkahkan kaki dengan berat disertai sebuah hantaman kaki yang berbunyi setiap kali menapakkan kaki di tanah. Gadis itu juga menarik perhatian, meskipun orang-orang yang melihat tak mengetahui wajahnya, mereka dapat dengan jelas mengetahui suasana hati orang berjubah itu sangatlah buruk.
Renne sudah masuk ke dalam pusat pelatihan, terlihat begitu banyak orang, teriakan dan suara pukulan dari sebilah pedang kayu yang dihantamkan ke boneka-boneka itu.
Ia kini menghampiri salah satu instruktur berbadan tegap disertai otot-otot dengan wajah garang nan ganas yang sedang melipat tangan di depan dada itu.
“Apa kau bisa melatih seorang Bard?” tanya Renne dengan sedikit ragu, sebenarnya ia tak ingin terlalu menarik perhatian karena profesi itu bukanlah hal yang mudah untuk didapatkan.
“Tidak. Aku hanya melatih orang untuk berpedang dan tidak membutuhkan seorang pemain alat musik,” jawab instruktur itu dengan kasar.
Renne kesal, ia lantas membuang nafas kuat-kuat untuk membuang rasa kekesalannya. Karena dulunya adalah seorang Healer ia tak pernah mengetahui tempat yang tepat untuk melakukan pelatihan.
“Apa kau mengetahui tempat di mana aku bisa melakukan pelatihan?” tanya Renne lagi.
“Tidak,” tegas instruktur itu.
Renne lantas membuka penutup kepala, ia berniat untuk memanfaatkan keuntungan dari Legendary Bard yang menambah tingkat kepercayaan dan menggunakan fame yang ia miliki untuk mendapatkan rasa hormat dan segan dari pria itu.
“Ah! Kenapa kau tidak bilang saja dari awal jika kau adalah Renne?”
Perubahan drastis yang ditunjukkan oleh instruktur itu mengalihkan pandangan pemain yang sedang berlatih, mereka tak pernah mengetahui jika orang yang terkenal keras dan mendedikasikan hidup untuk pedang memiliki sifat seperti itu, padahal lawan bicaranya hanyalah seorang pemain biasa.
“Jika kau memang benar ingin melakukan pelatihan, kau bisa langsung saja datang ke salah satu rumah temanku, dia juga seorang Bard handal di Kerajaan Vemore dan saat ini sedang libur dari tugas.”
Instruktur itu memberikan sebuah alamat yang tertulis di kertas putih. Untungnya, lokasi yang ditunjukkan oleh itu tidak terlalu jauh dan dapat dijangkau hanya dalam beberapa menit.
“Baiklah, terima kasih.”
Renne dengan cepat berlalu, tak ingin menarik keributan lebih jauh lagi. Ia juga kembali memakai penutup kepala itu dan hilang dari pandangan.
****
Sampailah gadis itu disalah satu toko dengan logo bergambar piano di atasnya, Renne memasuki ruangan itu dan dengan segera lonceng berdering, memberitahukan kedatangan pelanggan.
“Selamat datang...” lirih wanita itu dengan lesu.
Renne melirik ke arahnya, seorang wanita dengan pakaian serba kekurangan bahan berwarna ungu, berambut merah dan bertubuh langsing. Dan setelah cukup lama memperhatikan, saat menyadari wanita itu merasa terganggu dengan tatapannya, Renne mengalihkan pandangan.
“Apa ada yang kau inginkan?” tanya wanita itu sembari menatap lesu gadis yang berada beberapa meter darinya.
Sedangkan Renne sendiri, pandangannya benar-benar teralihkan dengan beberapa alat musik yang menarik perhatian. Sebagian besar alat musik itu terlihat menggoda untuk dimainkan. Meskipun, sudah sangat jelas suara yang dihasilkan akan sangat tidak enak didengar jika dimainkan olehnya.
“Oi!”
“Ah, maaf. Aku ingin berlatih alat musik karena memiliki profesi Bard, apa kau bisa melakukannya?”
“Tidak. Aku sedang ingin menikmati masa liburanku, pergilah sana!”
Renne lagi-lagi berpikir untuk memanfaatkan tingkat fame yang ia miliki agar mendapatkan rasa hormat dari wanita itu dan dengan segera menarik penutup kepala itu.
Tak ada yang terjadi, ‘Mungkin aku harus memainkan alat musik untuk mendapatkan tingkat kepercayaannya?’ pikir Renne seketika itu juga.
“Sleeping—,”
“Jika kau berniat untuk mendapatkan kepercayaan dariku dengan memainkan alat musik, maka kau salah besar, bocah.” sela wanita itu, terlihat sedikit amarah di wajahnya.
“Aku tak memiliki waktu untuk menjelaskannya.”
“Tolong, jadikan aku muridmu!” pinta Renne lagi, ia bersungguh-sungguh ingin mempelajari dan mendapatkan keterampilan baru.
“Tidak!”
“Kumohon!” Renne memelas, ia menyatukan tangan dan bersimpuh, berharap wanita itu luluh hatinya.
“Tidak. Pergilah sana, toko ini sebentar lagi akan tutup.” titah wanita itu lagi, ia tak bergerak sedikit pun dari kursi kerjanya dan terus menatap Renne dengan mata malas dan tangan yang menopang kepala.
Sampai akhirnya, Renne terpikirkan sesuatu jahat yang mungkin akan menghasilkan sebuah keributan tanpa melanggar peraturan.
“Baiklah, jika kau memang tak ingin mengajariku. Aku akan pergi ke alun-alun kota dan memainkan alat musik ini. Dengan begitu, seseorang yang memiliki kemampuan dan keterampilan akan tertarik denganku.”
Renne berdiri, ia membalikkan badan dan berniat untuk pergi. Meskipun saat ini ia menaruh kewaspadaan pada wanita di hadapannya, ia berpikir jika orang itu tak akan melukainya. Dan dengan tiba-tiba wanita itu menghantamkan kedua tangan di atas meja.
“Berhenti! Jika kau benar-benar melakukan itu, maka akan terjadi kekacauan! Belum lagi profesi Legendary Bard yang kau miliki itu sangatlah tidak adil dan mengacaukan keseimbangan.”
“Baiklah, baiklah! Aku akan mengajarimu!” tambahnya.
Renne tersenyum jahat, dalam hati ia berkata, ‘Kena kau!’
Menyadari hal itu, wanita itu menjadi pusing sendiri. Ia sudah terpancing dan terperangkap dengan ucapan yang keluar dari gadis di hadapannya.
Sedangkan Renne, ia memutuskan untuk terus mengangsu ilmu dari wanita ini hingga akhirnya ia menjadi seorang Bard yang kuat untuk dapat membalaskan dendam dan membunuh seluruh anggota guild White Pearl yang mengkhianati dirinya.
Satu hal yang masih menjanggalkan di pikiran, alasan kenapa wanita itu bisa tahu profesi Legendary Bard yang ia miliki dan alasan dibalik ucapan yang sebelumnya sudah dikatakan oleh wanita itu.
Wanita itu masih berpikir dan akhirnya menetapkan pilihan agar masih terdapat kemungkinan untuk tidak mengajari seseorang di waktu berliburnya yang berharga.
“Tetapi aku punya quest yang harus kau selesaikan,” ucap wanita itu.
“Baiklah, akan aku lakukan!”
Renne menjadi bersemangat, setidaknya jika ia mendapatkan kemungkinan untuk menjadi murid seorang Bard terbaik di Kerajaan Vemore sudah sangatlah cukup.
“Kalahkan 1.000 Froggie yang berada di luar kerajaan. Apa kau sanggup?”
「NPC Quest.
Level kesulitan: C.
Deskripsi: Akhir-akhir ini populasi Froggie meningkat karena petualang enggan untuk memburu mereka. Sebagian besar Froggie juga telah menginvasi daerah-daerah lainnya dan menyebabkan kekacauan yang berdampak pada menipisnya pasokan barang.
Tujuan: Kalahkan 1.000 Froggie.
Hadiah: - 50 koin perak.
- 1.000 poin pengalaman.
- Kepercayaan Lany meningkat.
- Mendapatkan julukan Froggie Fans.」
Mata Renne terbuka lebar-lebar, setidaknya seekor Froggie memiliki kekuatan yang setara dengan dua ekor Slime, membunuh satu saja akan sangat sulit, apa lagi ia diharuskan membunuh sekian banyak katak menjijikkan yang setiap saat mengeluarkan air liur yang sangat busuk.
Namun, karena Renne memang sangat membutuhkan seorang pelatih, ia akhirnya menerima dengan lapang dada dan akan menghabiskan sebagian besar waktu di ladang katak itu.