Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Kewaspadaan



Dua kuda yang menarik kereta kuda itu mulai meligas, melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan sesuai arahan dari kusir. Semua orang juga sudah selesai melakukan persiapan dan sudah tak sabar lagi untuk segera sampai di pegunungan yang dimaksud itu.


Mereka sudah keluar dari hutan sebelumnya dan kini sedang melewati jalan yang penuh dengan rintangan dan kerikil. Akibatnya, kereta menjadi beroleng-oleng. Keempat orang yang berada di atasnya juga harus menjaga pegangan jika tidak ingin teserling dan jatuh dari kereta.


“Aku sudah tidak tahan lagi!” Renne membungkam mulutnya, ia menjadi mual akibat guncangan yang terus terjadi.


Renne melompat dari kereta itu dan melilah di pinggiran jalan kerikil itu. Semua orang hanya dapat memakluminya, guncangan yang terjadi memang benar-benar membuat dugal. Violet sama halnya, ia juga merasa medu ketika terus berada di atas kereta.


Nathan dan Zerra juga ikut turun dari kereta. Sepertinya kedua orang itu terlihat baik-baik saja. Nathan menghampiri Renne dan mulai mengelus-elus punggungnya.


“Apa kau sudah merasa baikkan?” tanya Nathan.


Renne meludah, kemudian ia menolehkan wajah untuk menjawab, “Apa kau lihat aku sedang baik-baik saja? Jujur, aku sangat membenci perjalanan penuh guncangan, apalagi jika itu laut.”


“Kau punya herbal, bukan? Kenapa tidak dipakai saja?” Nathan tersenyum tipis.


Apa yang dikatakan oleh Nathan membuat Renne tersadarkan. Selama ini, ia sudah mengumpulkan banyak tanaman obat yang digunakan untuk persiapan dalam perjalanan, jadi mungkin salah satu dari tanaman itu dapat membuatnya pulih.


Renne membuka Inventory dan mencari-cari keberadaan dari tanaman obat yang dimaksud. Tetapi setelah sekian lama mengutak-atik, ia tak kunjung menemukannya.


“Tidak ada...” Renne menunjukkan wajah keputusasaan, jalan yang dipenuhi dengan kerikil masih sangatlah panjang.


“Wah, aku tidak menyangka hal itu!” Violet angkat bicara. Dia benar-benar tidak menyangka jika sesuatu seperti ini berada di luar perkiraan gadis yang penuh perhitungan itu.


“Kau pikir aku bukan manusia, apa?” Renne cemberut.


Setelah beberapa saat, ia menemukan tanaman obat yang berada di sekitarnya. Memang tidak memiliki efek untuk menghilangkan rasa mual itu, tetapi uang yang dihasilkan sudah cukup untuk membuatnya kembali bersemangat.


“Whoa, ini benar-benar keberuntungan!” Renne tersenyum-senyum.


Kedua orang itu hanya dapat menghembuskan nafas dengan pelan, gadis yang berada di depannya sangat mudah berubah ketika melihat sesuatu yang ia sukai.


“Kami akan berangkat dengan perlahan, jika kau sudah selesai dengan urusanmu, kau harus menyusul kami.” Nathan berbalik, ia tahu jika tanaman obat yang berada di hadapan Renne tidak terlalu banyak dan memilih untuk lanjut berjalan.


“Tolong bawa Zerra juga,” pinta Renne.


Zerra melakukan penolakan dengan terus menggenggam pakaian Renne ketika Violet hendak menggendong dirinya.


“Zerra, aku akan menyusul.” Renne membalikkan wajah dan memperlihatkan senyuman, “Mereka juga adalah orang yang baik, kau tahu itu.”


Zerra mengangguk, yang dikatakan Renne itu memang demi kebaikan dirinya sendiri jika mengingat kondisi tubuh yang lemah dan ringkih. Dia juga memiliki stamina yang sedikit, tetapi terus memaksakan diri.


“Kakak akan menjagamu dengan baik!” Violet bersemangat hingga matanya berapi-api.


Setelah beberapa saat, mereka benar-benar sudah menjauh dari tempat Renne berada. Sebenarnya, Renne sengaja melakukan hal itu. Ia menaruh sebuah perekam suara yang sangat mahal di kereta tersebut. Alat perekam itu sendiri ia dapatkan dari fitur pembelian yang dapat digunakan di setiap tempat.


Lagi pula itu adalah hal yang mustahil untuk mereka pikirkan. Seorang pemain dilarang untuk memiliki seorang budak dan semua orang tahu akan hal itu.


‘Ya, jika itu terjadi... Aku hanya akan membuang-buang 100 keping emas.’ Renne menghembuskan nafas sembari terus menggerakkan tangannya.


‘Ah, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, apakah tidak ada item ataupun gacha di sini?!.’


Love Live Online bukanlah game dengan jenis permainan Pay To Win atau yang biasa dikenal dengan sebutan PTW. Perusahaan mereka tidak memerlukan uang dari pemain dan mereka juga tidak akan melakukan hal itu karena akan mengganggu keseimbangan dalam permainan.


Renne tahu akan hal itu, tetapi tetap saja dari dulu ia mendambakan hal itu. Fitur shop yang diberikan oleh sistem hanya menjual beberapa alat keperluan untuk melakukan siaran langsung ataupun membuat video dan mengambil gambar.


Beberapa puluh menit telah berlalu sejak Renne mulai mengambil tanaman-tanaman obat itu. Ia kini sadar jika sudah menghabiskan cukup banyak waktu dan memutuskan untuk segera berangkat, menyusuri jalan lurus ini.


****


Satu jam telah berlalu, Renne sampai di sebuah desa dengan rasa lelah yang menggerogoti tubuh. Ia juga langsung tepar ketika menemukan keberadaan Zerra dan yang lainnya.


Violet tertawa kecil, “Apa kau sudah selesai mengambil tanaman-tanaman itu?”


“Kau mengejekku?” Renne tak kuat untuk memperlihatkan wajah marah itu dan terus menelungkupkan muka ke bantal lembut yang diberikan oleh Nathan.


“Lihatlah anak itu, dia terus mengkhawatirkan dirimu.” Violet menggoda Zerra dan terus memeluknya dengan erat.


“Di mana Nathan?” Renne kali ini menggerakkan wajah dan melihat kedua orang yang sedang bermesraan itu.


“Dia tadi dapat misi buat masak makanan untuk seluruh penduduk. Sepertinya, akan ada pesta beberapa hari lagi.” Violet berapi-api kemudian melanjutkan, “Ayo kita menginap beberapa hari di sini untuk ikut pesta itu!”


Renne tersenyum, Violet memang benar-benar menyukai pesta seperti dirinya yang dulu. Dan dengan menetap di desa ini untuk beberapa saat, Renne dapat mendengar dan mengetahui isi dibalik rekaman suara itu.


Suara perut yang menuntut makanan mulai terdengar dari perut Zerra. Hal itu lantas membuat kedua gadis itu tersenyum dan tertawa dengan sedikit nada ejekan.


“Ayo kita cari Nathan dan meminta makanan darinya,” ajak Renne.


Renne mengangkat tubuhnya dan turun dari kereta, diikuti dengan kedua orang itu. Mereka mulai berjalan dengan keberadaan Violet yang menuntun di depan.


Setelah beberapa menit berlalu, mereka sampai di salah satu lapangan yang memperlihatkan begitu banyak penduduk desa yang saling bercengkerama satu sama lain. Tetapi, mereka tak melihat keberadaan pemain lain kecuali Nathan yang berada ditengah-tengah kerumunan orang itu.


“Aku tak menemukan seorang pun pemain di sini, bahkan saat perjalanan tadi juga...”


“Ini daerah terpencil yang berada di ujung wilayah Kerajaan Vemore dan Kekaisaran Azotis jadi itu wajar terjadi.” jawab Renne.


Nathan dari kejauhan terlihat melambai kepada mereka bertiga. Dengan segera mereka menghampirinya dan meminta makanan untuk mengisi perut mereka yang sedang dilanda kelaparan itu.


“Aku akan memberikan makanan yang banyak agar kalian menjadi gendut,” Nathan tertawa kecil.