
Selama berada di kereta kuda yang dikendalikan langsung oleh Nathan, Zerra terus mencekak ujung pakaian Renne dan enggan melepaskannya. Ia juga duduk berdekatan dengan gadis itu tanpa mengatakan alasan.
Renne sedikit bingung alasan dari perlakuan yang ditunjukkan oleh Zerra. Ia tak pernah berkata-kata, tetapi bukan berarti Renne risi dengan perlakuannya. Justru ia malah sedikit senang karena anak itu tak pernah seperti ini sebelumnya.
Sudah beberapa waktu telah terlewatkan, mereka melalui jalan sepi dengan hamparan padang rumput yang cukup aman untuk dilalui. Bukan hanya aman, pemandangan yang dipertontonkan juga terlihat begitu indah dengan semilir angin yang berembus dengan lembut.
Sembari berkereta, Nathan terlihat menikmati angin yang menyapu rambut setiap kali tersentuh. Bahkan sesekali ia memperlihatkan sebuah senyuman yang membuat Renne tengak secara terus-menerus.
‘Apa dia benar-benar Nathan yang aku kenal?’ Renne masih tak percaya dengan apa yang ia lihat menggunakan kedua matanya sendiri.
Setelah beberapa waktu, perjalanan semakin terasa melelahkan. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan rumput luas yang terlihat. Tak ada tanda-tanda keberadaan sebuah desa ataupun kereta lain yang akan lewat.
Renne juga bingung bagaimana cara mengatasi kebosanannya saat ini, mengajak Zerra berbicara juga percuma karena ia akan terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali.
“Nathan, apa yang akan kau lakukan di pegunungan itu?” Renne sedikit penasaran, ia juga berniat untuk menghilangkan keheningan ini.
Nathan sedikit menoleh lalu kembali membalikkan perhatian, “Bukan sesuatu yang penting. Aku hanya ingin menaikkan levelku dengan cepat. Di sana juga terdapat banyak monster dengan level yang tinggi.”
Renne akhirnya teringat. Seseorang yang pertama kali mencapai level tinggi hanya dalam hitungan bulan adalah Nathan sendiri. Ia juga adalah orang yang berada di peringkat pertama Leaderboard dalam jangka waktu yang cukup lama sebelum digantikan oleh seseorang.
“Dari mana kau mengetahui hal itu?” Renne penasaran, tetapi setelah berpikir dalam beberapa detik, ia menemukan jawabannya sendiri.
“Itu karena aku adalah orang yang pernah memainkan Love Live Online saat masih merupakan permainan komputer.”
“Jika tidak salah, bukankah developer sendiri mengatakan jika peta yang dipakai sangat berbeda dengan peta saat permainan ini masih sebuah game komputer?” Renne mengatakannya dengan sangat yakin.
Setahu Renne, developer dari game Love Live Online ini hanya menggunakan beberapa tempat yang sama sebelum permainan ini menjadi game virtual seperti kerajaan yang memiliki kesamaan pada nama serta tempat.
“Kau memang benar tentang tempat yang dibuat berbeda itu. Tetapi aku sendiri mengetahui jika tempat itu benar-benar ada dari seorang NPC yang memberikanku misi. Nama tempat itu memang berbeda tetapi itu adalah pegunungan yang sama.”
“Oh.. begitu, kah?” Renne berkata dengan lirih.
Tak lama setelah itu, beberapa orang bandit datang menghadang kereta yang saat ini mereka tumpangi. Dengan segera Nathan menghentikan laju kereta dan menyiapkan belati yang ia miliki.
Begitu pula dengan Zerra, ia melepaskan pegangan tangan yang melekat di baju Renne dan mengangkat pedang yang ia miliki.
“Serahkan barang-barang yang kalian miliki beserta gadis muda itu!”
Seorang pria dengan otot dan kepala botak serta wajah menyeramkan baru saja menodongkan senjata bersama kelima temannya.
Tak ada balasan sedikit pun dari ketiga orang itu. Mereka lantas menggeretang dan menyiapkan serangan yang akan dilepaskan secara bersamaan.
“Stealth.”
Nathan seketika menghilang dari pandangan, para bandit itu kemudian meningkatkan kewaspadaan mereka masing-masing. Mereka memutarkan mata ke segala arah dan meningkatkan pendengaran untuk mengetahui pergerakan dari Assassins itu.
Renne tak ingin berdiam diri dan terus menyaksikan saja. Ia menolehkan wajah ke arah Zerra dan mengangguk, lantas Zerra berlari ke arah para bandit dengan dilindungi oleh Renne yang menyerang dari belakang.
“Melody Arrow!”
Zerra meningkatkan kecepatannya dan menghindari serangan dari bandit tersebut. Ia melompat ke samping dan memberikan sayatan pada bagian perut salah satu korbannya. Dilanjuti dengan Renne yang melakukan penghabisan dari belakang.
Nathan juga ikut menyerang dengan terus menyelinap menggunakan keterampilan Stealth yang ia miliki. Beberapa bandit tumbang seketika dan tak dapat bergerak lagi karena racun yang berada pada belati itu.
Saat Zerra hendak menyerang musuh terakhirnya, tiba-tiba saja penyakit yang ia derita kambuh. Dengan segera bandit itu menyerang dan berhasil melukai lengan Zerra.
“Matilah!” pria itu berteriak dengan kencang serta mencoba untuk menusukkan pedang yang ia miliki kepada Zerra.
Renne sudah tak sempat lagi untuk menyerang, Melody Arrow yang ia miliki tak akan sempat menjangkau pria itu dalam waktu dekat. Dan dalam seketika ia menjadi bingung sekaligus ketakutan.
Tiba-tiba saja pedang bandit itu melayang ke udara dan terdampar jauh. Nathan tiba-tiba muncul dan mengeluarkan salah satu keterampilan yang ia miliki. pria berwajah dingin itu menyerang dengan sangat ganas dan cepat hingga tersisa cukup banyak sayatan.
「Anggota party berhasil mengalahkan penjahat, tingkat fame meningkat.」
Renne dengan segera berlari ke arah Zerra dan memberikan Health Potion kepadanya. Dalam beberapa detik, luka pada lengan itu menghilang tanpa menyisakan sedikit pun bekas. Anak itu harus segera beristirahat, yang pulih hanyalah luka dan bukan stamina.
Mereka telah kembali ke kereta kuda tanpa memedulikan mayat-mayat itu dan membiarkan mereka membusuk di jalan, tak ada waktu yang perlu dihabiskan untuk sekumpulan sampah seperti mereka.
“Kau terlalu memaksakan diri..." Renne sedikit tersenyum sembari mengelus lembut rambut Zerra yang berada di pangkuan paha.
Tanpa Renne sadari, anak itu sudah terlebih dahulu tertidur tanpa sempat memberikan balasan.
“Dari mana kau mendapatkan profesi Bard?” Nathan penasaran.
“Seorang NPC, saat berada di Kerajaan Vemore.” Renne menjawab dengan santai, ia terus melanjutkan elusan itu.
“Hmm, aku tak menyangka jika seseorang akan mengambilnya. Profesi itu sangatlah sulit untuk digunakan.”
Apa yang dikatakan oleh Nathan memanglah sebuah kebenaran. Bahkan Renne sendiri setuju dengan apa yang baru saja dikatakannya dengan menganggukkan kepala beberapa kali.
“Jika di komputer, kita tak perlu mengendalikan gerakannya secara langsung.” Nathan menambahkan.
“Aku hanya penasaran dan ingin mencobanya.” jawab Renne.
Tanpa mereka sadari, saat mata mulai tertuju lurus ke depan, terlihat sebuah perdesaan dan sebuah notifikasi mulai memperlihatkan diri.
「Memasuki kawasan Desa Willsden.」
Nathan kembali mempercepat laju kereta, ia berniat untuk segera beristirahat dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyak mungkin. Begitu pula dengan Renne, ia juga berniat untuk mengumpulkan informasi yang akan berguna di kemudian hari.