
Renne terbangun pagi-pagi sekali karena beberapa penduduk datang menemuinya, tentu saja ini adalah berkat status kepercayaan warga yang meningkat hingga batas maksimal. Orang-orang itu menyambut Renne dengan perasaan gembira, lebih gembira dari sebelumnya.
Ia sendiri tidak tahu alasan kenapa mereka sebahagia itu, tetapi setelah dipikir-pikir mungkin ini ada kaitannya dengan para Justice Knight yang mengantarkan bantuan kepada mereka.
Beberapa orang itu juga memberikan Renne makanan yang baru saja dimasak atau mungkin dipanaskan. Tentu itu sangat membantu gadis itu, ia tidak perlu repot-repot meminta Nathan untuk memasak.
“Terima kasih, Pak, Bu!” Renne tersenyum tipis, ia masih terlihat mengantuk tetapi mencoba untuk membukakan mata lebar-lebar demi menghormati para orang-orang itu.
“Nak, hari ini adalah hari yang bahagia. Seorang bangsawan mengundang langsung seluruh penduduk desa ke pesta pernikahan anaknya dan kebetulan diadakan di desa ini.” ucap salah satu pria paruh baya.
Renne bingung akan hal itu. Bangsawan biasanya akan mengundang sesama bangsawan untuk merayakan pesta pernikahan. Pernikahan juga diadakan di kota-kota besar agar dapat menjalin hubungan baik dengan bangsawan-bangsawan lain dan membuat dirinya terkenal. Jika mereka mengadakan pesta di desa, tentu hal itu akan berdampak pada nama baik mereka sendiri, setidaknya itu yang diketahui Renne.
“Tetapi ... bukankah seorang bangsawan tidak akan mengundang penduduk dan pemain seperti kita?” gumam Renne.
“Ah, kau mengetahui banyak tentang bangsawan, ya? Mereka memang tidak akan mengundang penduduk desa terpencil seperti kami, tetapi hal itu tidak berlaku dengan Viscount Aguestel,” jawab pria sebelumnya.
“Ya, Beliau adalah orang yang baik.” tambah seorang wanita.
“Jadi, apa yang membawa kalian kemari, bukankah tujuan kalian bukan hanya untuk memberikanku makanan?” Renne tersenyum, mengharapkan misi yang mungkin akan diberikan.
“Ah, tidak begitu, Nak Renne. Kami datang tulus hanya untuk memberikanmu makanan ini. Tetapi karena sudah berada di sini, sekalian aku ingin meminta bantuan kepadamu.” tutur pria itu.
‘Bukankah itu sama saja?!’ Renne mengangkat alis kemudian berkata, “Katakan saja, aku pasti akan membantu.”
“Kami saat ini tengah bingung karena memikirkan hadiah yang bisa membuat Beliau senang, jadi apakah kau bisa memutuskannya? Kami sangat percaya denganmu!”
Sebuah notifikasi muncul di hadapan Renne.
「NPC Quest.
Level kesulitan: C.
Deskripsi: Penduduk desa sedang kebingungan memilih benda yang cocok untuk digunakan sebagai hadiah. Mereka takut jika Viscount Aguestel akan kecewa dengan pemberian yang mereka berikan.
Tujuan: Bantu penduduk desa memilihkan hadiah yang cocok untuk diberikan saat mendatangi pesta itu. Kamu diberikan kebebasan untuk berkreasi.
Hadiah: - 10 koin perak.
- Hubungan dengan Viscount Aguestel meningkat.
- Kemungkinan besar akan mendapatkan rekomendasi dari Viscount Aguestel.」
「Terima.」
Renne masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh jendela notifikasi itu dan bertanya, “Apa aku bisa membuat hadiah seperti yang aku inginkan kemudian memberikannya kepada kalian untuk diberikan kepada Viscount Aguestel? Apakah begitu?”
“Ya, kau boleh membuat hadiahnya. Jika itu sesuatu yang bagus, kami akan memikirkannya dan memberikan benda itu kepada Beliau dengan mengatasnamakan penduduk desa. Tetapi tenang saja, kami akan memberitahunya bahwa kau adalah orang yang membuat benda itu.” jawab pria itu.
“Kami akan menunggu sampai sore hari karena pesta akan diadakan pada malam hari di kediaman Viscount Aguestel yang berada beberapa puluh meter dari desa ini,” ucap pria itu lagi, kemudian ia melanjutkan, “Kalau begitu kami pamit dulu.”
****
Renne sangat bingung dengan misi yang diberikan. Meskipun hal itu sudah dijelaskan, tentu memilih sesuatu yang disukai oleh seseorang itu sangat sulit. Apalagi Renne tidak mengenal siapa itu Viscount Aguestel dan seperti apa hadiah yang mereka inginkan.
Renne juga tidak bisa membatalkannya karena hal itu akan berdampak pada tingkat kepercayaan warga desa dan akan sulit untuk kembali meningkatkannya meski Renne mencoba untuk memanfaatkan profesi Legendary Bard.
Setelah beberapa saat, Violet dan Nathan telah bangun dari tidurnya. Mereka memperhatikan Renne yang menyenderkan tubuh di kereta kuda dan nampaknya tengah termenung memikirkan sesuatu.
Violet mengendap-endap untuk mengejutkan Renne yang melamun itu, ia kemudian mengagetkan Renne dengan memeluknya dengan begitu erat.
Renne hampir terperanjat dan dengan spontan hendak memukul orang yang memeluknya karena menganggap dia adalah Artelis. Tetapi tangannya tiba-tiba terhenti karena mengetahui itu bukanlah pria yang ia maksud.
Violet menghembuskan nafas dengan lega, “Hampir saja wajah cantikku ini terluka...” ucapnya.
Renne membalas dengan senyuman, “Maaf, aku kira orang yang memelukku itu Artelis si Mesum.” gadis itu kemudian kembali memalingkan wajah.
Artelis juga sudah bangun dari tidur dan keluar dari tenda. Matanya membesar hingga terlihat ingin keluar dari tempatnya karena mendapati pemandangan dua gadis yang tengah berpelukan di pagi hari. Sontak Renne melemparnya menggunakan sepatu yang ia pakai dan mengenai tepat di muka pria itu.
‘Ah, bahkan dari dulu dia memang seperti itu dan tak pernah berubah. Aku bersyukur karena dia adalah pendengar yang baik dan juga orang yang selalu berada di sampingku.’ batin Renne.
“Siapa orang itu?” tanya Violet.
“Ah, iya. Aku juga baru sadar kalau semalam dia tidur di sampingku dan mendengkur dengan begitu keras.” tambah Nathan.
Artelis masih merasakan kesakitan di wajahnya, ia perlahan menghampiri ketiga orang itu dan menyodorkan tangan, “Aku Artelis, bukankah semalam kita sudah bertemu?” pria itu memiringkan kepala.
“Apa itu benar? Aku tidak tahu sama sekali. Kalau begitu, aku Violet.” Violet menjabat tangan Artelis.
Artelis tersenyum sembari memalingkan wajah agar Renne tak mengetahuinya. Pria itu sedang mengambil kesempatan untuk bersalaman dengan sangat lama bersama dengan gadis di hadapannya.
“Aku Nathan,” Nathan menyerobot tangan kedua orang itu dan menjabat tangan Artelis, ia kemudian melanjutkan, “Salam kenal!”
Perkenalan itu berlangsung lama karena Violet dengan begitu cepatnya akrab dengan Artelis. Hal itu wajar terjadi mengingat Violet adalah gadis yang pandai bergaul, selalu ceria, dan bersemangat.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau tadi melamun?” tanya Violet.
“Aku tadi baru saja mendapatkan misi dari penduduk desa. Aku diminta untuk memilihkan hadiah untuk Viscount Aguestel, jadi aku sangat bingung memikirkannya.” jawab Renne.
Violet tiba-tiba menjadi sangat bersemangat, “Kau bisa menyerahkan hal itu kepadaku! Begini-begini, aku punya toko bunga sekaligus toko kue ulang tahun. Aku tidak bermaksud sombong, tetapi aku juga pandai dalam memilihkan hadiah untuk orang lain.”
‘Ah ... kenapa aku bisa lupa akan hal itu? Padahal Violet adalah teman baikku dan ia selalu menceritakan kegiatannya di toko.’ batin Renne.
Renne kemudian menggapai tangan Violet dan menggenggamnya dengan begitu erat, wajahnya terlihat begitu penuh harapan.