Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Kesenangan



Wajah mereka berubah menjadi wajah kegembiraan berkat kekalahan dari celeng sombong itu. Sebuah notifikasi yang dibarengi jendela pesan pada setiap orang yang berada di sana ikut muncul.


Zerra menarik ujung baju Renne dan berkata, “I-ini,” anak itu menunjuk ke arah jendela notifikasi yang berada di hadapannya.


Renne memiringkan kepala dan setelah itu ia lantas melihat dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Zerra. Renne dibuat terkejut karena hal itu, anak ini menerima sebuah barang dari notifikasi yang biasanya dilihat oleh para pemain.


「Berhasil menyelesaikan Event Big Boar Emperor.


Hadiah: - Dragon Armor.」


“Woah, kau mendapatkan barang yang bagus!” ucap Renne dengan penuh semangat dan mata yang menggelora.


Dengan tiba-tiba sebuah barang yang berada pada daftar hadiah Zerra turun dari langit dan mendarat tepat di depan mereka.


Renne sempat berpikir jika hal ini adalah sesuatu yang wajar. Mengingat sistem yang berbeda antara NPC dan Player.


“Kau mendapatkan barang bagus!” Violet ikut bersemangat.


Zerra mengambil armor yang menjadi hadiahnya itu. Sebuah armor yang memiliki kualitas tinggi dan terbuat dari seekor naga. Memiliki tingkat kelangkaan hingga Legendary, satu tingkat di bawah Harp of the Golden Lion.


Walaupun Renne sempat memperlihatkan ekspresi senang, ia sadar jika hadiah yang diberikan kepada Zerra sangatlah sedikit. Padahal Renne sendiri mendapatkan setidaknya tiga hadiah.


Violet juga memamerkan sebuah staff yang baru saja ia dapatkan. Sebuah tongkat dengan bahan yang berasal dari safir, memiliki pola bentuk seperti seekor Leviathan yang mengelilingi tiangnya dan kepala yang terbuka ke atas.


“Itu tongkat yang keren!” Renne ikut kagum karena tongkat yang berhasil didapatkan oleh Violet.


“Itu benar, aku jadi menyukai tongkat ini!” Violet tersenyum dan memeluk Zerra.


Nathan juga memperlihatkan dua buah belati berwarna emas dengan bilah yang sangat tajam dan bergerigi. Memiliki corak yang sangat unik dan sebuah tulisan kuno di beberapa bagian.


Tetapi dari seluruh wajah-wajah gembira itu, hanya wajah Artelis yang terlihat cemberut. Ia tak mengeluarkan sesuatu pun dari dalam inventory miliknya.


“Bagaimana denganmu?” tanya Renne.


“Aku ... aku tidak mendapatkan apa pun kecuali pedang dengan tingkat kelangkaan Rare ini,” Artelis memperlihatkan sebuah pedang biasa-biasa saja kepada keempat orang itu.


Renne tertawa dengan nada mengejek, hal itu sontak membuat suasana hati Artelis semakin memburuk. Karena menyadari hal itu, Renne berniat untuk menenangkan dan sedikit menghiburnya.


“Tenanglah, kau pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi ketika kita mengalahkan naga itu.” Renne tersenyum menghadap ke arah Artelis.


Wajah Artelis menjadi merah, tentu itu adalah sesuatu yang tak pernah dapat diharapkan dari seorang playboy. Bagaimana bisa dia memperlihatkan wajah seperti itu kepada seorang gadis?


“Itu benar, kita mungkin akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi ketika berada di pegunungan itu.” Nathan juga ikut mencoba untuk menghibur.


“Aku menjadi tidak sabar lagi!” tambah Violet.


“Teman-teman ... ya, terima kasih!” Artelis membalas ucapan mereka dengan sebuah senyuman, ini bukanlah akhir dari dunia jadi ia tak perlu merasa sedih secara terus-terusan.


Zerra memakai armor itu pada tubuhnya, sontak sebuah cahaya tiba-tiba muncul membentuk sesuatu. Anak itu mengalami sebuah perubahan yang membuat tubuhnya dipenuhi oleh sebuah armor keras dan keren.


Mata Violet berbinar ketika melihat hal itu, begitu pula dengan beberapa orang lainnya. Wajah mereka menjadi semakin bersemangat dan sontak Violet kembali memeluk dengan tiba-tiba.


Wajah Zerra memperlihatkan dua ekspresi di saat bersamaan. Ia merasa malu dan juga terganggu karena sikap Violet yang terus-terusan bertindak seperti itu, tetapi Zerra sendiri tak bisa mengatakan hal itu secara langsung karena ia takut akan membuat gadis itu membencinya.


Saat mereka sadari, hari sudah semakin siang dan sudah saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Mereka sudah tidak bisa berlama-lama di sana, kemungkinan serikat-serikat besar sudah pergi menuju ke sana. Jadi, sebelum semua monster habis dibabat, mereka harus terlebih dahulu melakukannya.


Mereka kembali ke tempat di mana kereta kuda itu ditempatkan. Mengambil air secukupnya dan membawa beberapa peralatan masak ke atas kereta kuda. Hal itu dilakukan agar mereka dapat memasak makanan sembari melakukan perjalanan.


Jalan yang mereka lewati juga tidak terlalu bergoyang, sehingga mereka dapat tenang tanpa harus khawatir memikirkan makanan yang akan tumpah. Renne juga tak perlu khawatir karena ia tak akan mengalami mual lagi.


Kali ini, Renne benar-benar duduk di samping Zerra. Ia terus mengelus-elus lembut rambut anak itu dan sesekali tersenyum sembari memandangi alam yang begitu indah. Sangat jarang sekali dapat ia nikmati sesuatu seperti ini di dunia nyata. Bahkan hanya berpikir untuk liburan saja tidak pernah.


“Zerra, kau jadi lebih tinggi, ya?” gumam Renne.


“Y-ya,” balas Zerra singkat.


“Apa kau rindu dengan aku yang mengelus lembut rambutmu?” Renne menengadah, melihat betapa indahnya langit siang hari itu meskipun terasa sangat menyilaukan.


“Ya.”


Renne kembali menatap lembut wajah Zerra dan kemudian memeluknya. Sontak membuat Violet cemberut dan Artelis menjadi iri karena hal itu.


“Bocah, beritahu aku bagaimana kau bisa memikat kedua gadis ini!” Artelis mengucapkannya dengan galak.


Violet sontak dengan segera memukul Artelis dan menatapnya dengan begitu tajam sebelum menjadi sangat mengerikan.


“Kau menakutinya, tahu!” teriak Violet.


“Ke-kenapa kau menamparku? Padahal aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun!” Artelis menjadi takut dengan perubahan sikap Violet yang tiba-tiba itu.


Renne tertawa kecil sembari menutup mulutnya, ia tahu benar jika Artelis tidak bermaksud untuk menakut-nakuti Zerra dan hanya berniat untuk melucu. Nathan sedikit menolehkan wajah sembari menyetir kuda, ia juga ikut tertawa ketika menyadari apa yang sedang terjadi.


“Ya, seseram apa pun Artelis, dia tidak mungkin bisa menakut-nakuti Zerra dengan wajah tampan itu.” Renne tersenyum kecil.


“Ya, itu sangat tidak mungkin.” tambah Nathan.


“Aku tidak mencoba untuk melakukan itu!” sangkal Artelis dengan sedikit amarah.


“Lantas apa?!” Violet kembali menatap dengan serius.


“Me-melucu,” ucap Artelis dengan terbata-bata.


Mengetahui hal itu membuat Violet tertawa. Ia tidak menyangka jika pria seperti Artelis berniat untuk melakukan hal itu.


“Kenapa kau tertawa?!” Artelis merasa terhina.


Air di dalam wadah mulai mendidih dan sepertinya makanan itu sudah masak. Jadi mereka memutuskan untuk berhenti dan menikmati resep makanan yang diajarkan oleh Nathan selama perjalanan ini.


Renne mengeluarkan beberapa perlengkapan makan dari bawah tempat duduk mereka saat ini. Karena beberapa hari yang lalu inventory miliknya sudah penuh sehingga ia terpaksa membuang beberapa item yang tidak diperlukan.