
Satu hari telah dilalui oleh kedua orang itu. Tanpa berkata apapun dan saling mengerti tanpa perlu diperintah, itulah yang terjadi antara kedua orang itu. Keadaan berubah seakan-akan sesuatu yang buruk telah terjadi dan hal itu tak dapat diulang kembali, seperti waktu yang terus berputar.
Renne sendiri sudah mencoba untuk mencari tahu ataupun memaksa Zerra untuk membuka mulut, tetapi hal itu lantas memperparah keadaan. Disiksa beberapa kali pun, akibat Zerra menentang keinginan tuannya, ia tetap menyengap.
Akhirnya, gadis itu berhenti untuk mencoba. Memaksa kehendak kepada orang lain adalah sesuatu yang salah dan ia baru menyadari hal itu.
Dan tak terasa, setelah kejadian itu, Renne sudah menyelesaikan misi yang diberikan oleh Lany dan bertujuan untuk menemuinya sekarang juga.
“Zerra, aku akan pergi menemui seseorang. Apa kau mau ikut?” Renne membalikkan wajah untuk melihat kearah anak laki-laki yang memiliki rambut panjang tak terawat itu.
Namun, setelah beberapa saat ia menunggu jawaban yang memang mungkin mustahil untuk didengar, Renne akhirnya memutuskan untuk menyerah.
“Kalau begitu tunggulah aku di sini, jangan pergi kemana-mana.”
Renne akhirnya memutuskan untuk segera berduli ke tempat dimana Lany membuka sebuah toko alat musik. Tempat yang berada tak jauh dari penginapan karena memang sengaja ia lakukan agar tak terlalu banyak memakan tenaga. Ia juga dapat langsung pergi kembali ke penginapan jika terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap Zerra.
Sampailah Renne di depan toko itu, ia sudah lama menantikan kedatangan hari ini untuk mendapatkan mentor berkualitas tinggi seperti Lany.
“Aku sudah menyelesaikan quest yang kau berikan.” Renne mengatakannya dengan sedikit senyuman meskipun sesuatu telah lama membuku, memikirkan tentang masalah dengan Zerra.
“Eh, hanya dalam empat hari?” maido Lany.
“Aku mengatakan yang sejujurnya,” Renne meloya karena diremehkan.
“Aku tak bermaksud begitu. Jujur saja, akhir-akhir ini rumor tentang seorang Bard sedang ramai diperbincangkan. Dan seperti yang kau tahu, ciri-ciri orang yang menjadi buah bibir itu mirip denganmu.” perjelas Lany.
Sebuah notifikasi baru saja muncul dihadapan Renne untuk memberitahukan keberhasilan quest yang selama ini ia jalankan.
「Berhasil menyelesaikan misi.
Hadiah: - 50 koin perak.
- 1.000 poin pengalaman.
- Kepercayaan Lany meningkat.
- Mendapatkan julukan Froggie Fans.」
「Naik level 7.」
‘Sistem mengurangi EXP yang aku dapatkan ketika mencapai level 5, itulah mengapa ini menjadi sangat membosankan.‘ Renne mendongkol.
Lany lantas berdiri dari kursi dan lantas tersenyum seraya berkata, “Aku akan menjadi mentor seperti yang kau inginkan dan asalkan kau tahu saja, sebenarnya aku berharap jika kemarin-kemarin kau akan menyerah untuk menyelesaikan misi tak masuk akal yang aku berikan. Dan sepertinya, aku terlalu meremehkan dirimu.”
Renne sendiri sudah mengukuhkan hatinya untuk membalaskan dendam. Ia juga sudah memutuskan untuk tak terlalu menaruh banyak kepercayaan kepada orang lain, jika saja hal yang sama terjadi dua kali, maka dapat dipastikan ia adalah seekor keledai.
“Aku ingin menjadi kuat untuk membalaskan dendam,” pertegas Renne.
“Dendam, ya? Kupikir setiap orang memiliki masalahnya masing-masing dan aku tak berhak untuk mencampuri urusanmu. Tetapi, aku akan tetap mengajari segala sesuatu yang aku miliki. Setidaknya sampai masa liburanku berakhir.”
“Sampai kapan?”
“Tiga-empat hari lagi.”
“Ya, kau membuat hari-hari terakhir dari liburan ini menjadi membosankan.” Lany menghembuskan nafas dengan pelan, tetapi juga dengan sedikit kesal.
****
Sudah beberapa waktu Renne lalui dengan memainkan alat musik seperti yang Lany ajarkan. Sebagai seorang Bard Renne diharuskan untuk dapat menggunakan setidaknya tiga alat musik berbeda. Hal itu diperuntukkan agar memudahkannya dikala saat keadaan mendesak.
Dan sebagai pelajaran tambahan, Renne juga diminta untuk dapat bersiul. Sebagai seorang Bard yang menghasilkan kekuatan dari suara yang dihasilkan, tentu hal itu menjadi sesuatu yang amat penting untuk dilakukan.
Bersiul juga tak memerlukan alat musik, ia hanya perlu mengatur tempo dan irama sehingga menghasilkan sebuah perpaduan yang membentuk sebuah keterampilan baru.
Lalu, Renne juga telah mengetahui alasan kenapa Lany dapat mengetahui profesi Legendary Bard yang ia miliki. Berdasarkan apa yang diucapkan oleh gadis berambut merah itu, kakek Zou adalah gurunya sekaligus orang yang sangat ia kagumi.
Setelah hal itu, Lany juga menjelaskan alasan dibalik permainan alat musik yang tidak mempengaruhi tingkat kepercayaan saat Renne memanfaatkan profesi Legendary Bard. Hal itu dikarenakan sebuah aturan tak tertulis yaitu, tingkat kepercayaan penduduk hanya akan meningkat jika mereka adalah golongan satu dan menyukai musik. Dan setalah itu, Renne mengetahui segala hal tentang profesi yang ia miliki saat ini.
Hari pun berlalu dengan cepat. Renne semakin lihai saat memainkan alat musik. Ia juga sudah mendapatkan beberapa keterampilan yang dapat ia gunakan dengan sangat baik. Lalu, pelajaran dan berbagai macam pengetahuan lainnya yang sudah Lany berikan dalam jangka waktu yang sedikit itu.
Meski awalnya Lany terlihat seperti seorang pemalas yang cuek dan enggan untuk mengajarnya, tetapi sebenarnya tidaklah begitu. Lany hanya terlalu memilih untuk mencari seorang murid.
Semua itu dilakukan karena profesi Bard adalah profesi yang sulit untuk dipelajari sehingga menurunkan ketertarikan dan minat orang-orang. Apalagi Bard juga merupakan salah satu profesi langka dan sulit untuk didapatkan.
Hari ini adalah hari terakhir dimana Renne dan Lany bertemu, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.
“Hmm, aku kupikir kau sudah terlalu kuat untuk seukuran orang yang memiliki level 7 dan akan lebih baik jika kau mulai berpetualang untuk menjadi semakin kuat.”
“Tapi, aku harus membalaskan dendam terlebih dahulu.”
Lany menghembuskan nafas dengan kesal, “Kau selalu berkata tentang hal yang mengacu pada balas dendam. Lebih baik kau menjadi kuat terlebih dahulu. Itulah saran terakhir yang aku berikan.”
Renne sebetulnya juga berpikir demikian. Menjadi kuat memanglah tujuan utamanya saat ini. Tetapi, seiring waktu berjalan, Dyon juga pasti sudah bertambah kuat dan mengumpulkan pasukan-pasukan untuk menghentikan dirinya.
“Aku mengerti,” lirih Renne.
“Baguslah kalau begitu. Dan sebagai ucapan selamat dariku, aku akan memberikan beberapa alat musik yang berharga bagiku.”
「Menerima sebuah barang dari Lany.」
Barang-barang yang Lany berikan masuk ke dalam inventory secara instan. Hal itu lantas membuat Renne mengecek ruang penyimpanannya dengan segera dan mendapati beberapa alat musik serta beberapa keping emas yang dapat digunakan untuk melakukan perjalanan.
“Apa kau yakin?” Renne sendiri masih belum mempercayai hal itu.
“Tentu saja, anggap saja sebagai salam perpisahan.”
“Terima kasih.”
“Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan.”
“Apa itu?” Renne mengerutkan dahi.
“Aku menyarankan bagimu untuk melakukan perjalanan ke selatan. Di dalam hutan, terdapat beberapa tanaman obat yang dapat kau gunakan untuk meningkatkan keterampilan. Lalu, monster-monster di sana juga kuat dan akan memberikan EXP yang lumayan.”
Renne mengangguk. Saran yang diberikan oleh perempuan berambut merah dengan pakaian minim itu sangat membantu. Apalagi Renne belum memutuskan akan kemana ia pergi untuk melakukan petualangan.