
Renne dan Zerra berhasil melepaskan tali yang mengikat gadis-gadis itu dan dengan segera pergi dari sana. Semakin lama mereka di sini, maka semakin besar pula ancaman yang menghampiri karena ini adalah markas musuh. Segala sesuatu yang tidak diinginkan dapat terjadi secara bersamaan.
Setelah lama berlari dengan terburu-buru, mereka berhasil keluar dengan selamat. Tak ada seekor Goblin ataupun monster yang lebih mengerikan terlihat di sana. Dan Renne sendiri telah menyimpulkan jika seluruh monster di dalam gua berhasil di musnahkan.
Sampailah mereka di desa tanpa hambatan sedikit pun. Beberapa gadis yang disekap mulai menangis dengan histeris di pelukan keluarga mereka sendiri. Kemudian, kepala desa mulai menghampiri kedua penyelamat itu.
“Terima kasih, Nak. Kau sudah benar-benar menolong kami.”
「Berhasil menyelesaikan misi.
Hadiah: - 25 koin perak.
- 1.500 poin pengalaman.
- Furious Sword.
- Mendapatkan julukan Licourt Hero!」
「Naik level 9.」
“Tetapi, kami tidak bisa menyelamatkan gadis-gadis lainnya.” Renne menungkul dengan raut wajah penyesalan, tetapi itu hanyalah sebuah akting belaka.
Hal itu membuat kepala desa terkelu. Memang benar terlihat beberapa orang tua yang tak kunjung menemukan putrinya setelah mata mereka berkeliling. Setelah mendengarkan ucapan Renne sebelumnya, hal itu sontak membuat mereka menangis.
“Maafkan aku,” lirih Renne.
“Ti-tidak Nak, jangan salahkan dirimu.” kepala desa mencoba untuk menenangkan. Bagi dirinya, hal itu memang mustahil untuk dihindari. Apa lagi, 「Goblin」 adalah ras yang serakah, sadis, dan bernafsu.
“Karena kamu telah menolong kami, maukah kau menginap untuk beberapa hari di desa ini?” tawar kepala desa.
Renne sedikit berpikir. Saat ini mereka memanglah butuh tempat untuk berteduh, beristirahat di alam liar hanya akan menyiksa tubuh. Belum lagi monster yang akan menyerang dan cuaca yang terkadang berubah-ubah.
“Apa boleh?”
“Ya, kebetulan di desa ini ada rumah kosong tak berpenghuni, kau bisa menempatinya jika mau.” kepala desa sedikit tersenyum pahit. Ia sebenarnya tidak bisa melakukan hal itu di depan orang-orang yang sedang mengalami musibah, tetapi demi memuaskan orang yang sudah menyelamatkan desa dan gadis-gadis itu, maka ia harus melakukannya.
****
Renne sendiri tak terlalu berharap dengan rumah yang akan ditempatinya dalam beberapa waktu ke depan karena kondisi desa ini yang sangat buruk untuk saat ini. Tetapi, ia dibuat terkejut oleh kepala desa itu.
Sebuah rumah yang terbuat dari beton dengan pagar yang mengelilingi sekitarnya. Lalu sebuah taman indah dan barung-barung yang berada di dekatnya. Rumah itu begitu besar dan tidak cocok untuk berada di perdesaan.
“Ini adalah rumah Viscount Aguestel,” tutur kepala desa.
“Bukankah akan masalah jika kau membiarkan orang lain masuk seenaknya?” Renne masih terheran-heran.
“Kau tak perlu khawatir tentang itu, Nak. Tuan Aguestel adalah orang yang baik. Bahkan, dia sendiri yang memperbolehkan pahlawan yang menyelamatkan desa ini untuk tinggal di rumah ini.” perjelas kepala desa.
‘Ah, selama aku bisa tidur enak, kenapa tidak?’ batin Renne, tertawa terbahak-bahak di dalam hati.
“Ada apa?” kepala desa terlihat menyadari ekspresi aneh Renne.
“Tidak ada apa-apa. Kalau begitu, terima kasih. Aku akan datang lagi ke desa setelah malam berlalu.” Renne sedikit tersenyum.
Kepala desa memberikannya sebuah kunci rumah dan berpamitan untuk pulang karena hari memang sudah benar-benar akan malam dalam waktu dekat.
“Ya,” balas Zerra.
“Setidaknya kita punya tempat berteduh sementara...”
Renne sudah menghidupkan lampu-lampu untuk menerangi setiap ruangan yang ada. Ia juga sudah membersihkan kamar tidur beserta ruangan yang digunakan untuk bersantai-santai.
Kini, Renne dan Zerra tengah berdiang dan menyibukkan diri dengan kegiatan mereka masing-masing. Tanpa disadari, hujan mulai turun dengan begitu lebat dan membuat udara semakin dingin.
“Zerra, bagaimana pendapatmu tentang rapier yang selama ini kau pakai?”
Zerra tak menjawabnya dengan segera, ia masih memikirkannya dalam-dalam dan lantas berkata setelah menetapkan, “Sulit,” jawabnya singkat.
Renne lantas membuka inventory dan mengeluarkan Furious Sword yang ia dapatkan dari misi yang baru saja diselesaikan. Ia lantas dengan segera mengidahkan pedang itu kepada Zerra.
“Bagaimana, apa kau suka?”
Zerra tak membalas dan malah mengumbut pedang itu dari sarungnya dengan segera. Sebuah pedang berduri yang cukup besar, ramping, dan terbuat dari mithril. Pegangannya dibungkus dengan kulit berwarna coklat tua yang elegan dengan bilah berwarna hitam yang terlihat begitu tajam.
Zerra melayam ke sana-kemari pedang tersebut. Wajahnya seakan-akan berubah dan terlihat senang, tetapi perubahan itu tak terlalu terlihat dengan begitu jelas.
Zerra berhenti dan kembali menyarungkan pedang itu di sarungnya, ia juga lantas mengaitkan pedang itu di samping pinggang dan melepaskan rapier itu.
Renne tersenyum tanpa berkata-kata lagi saat melihat Zerra yang tampak senang dengan senjata barunya. Kemudian anak itu lantas memberikan pedang yang sebelumnya telah ia pakai dalam jangka waktu yang lama kepada Renne.
“Hari sudah malam, aku mau tidur.” Renne beranjak dari sofa itu.
Setelah beberapa saat, Renne disadari dengan keberadaan Zerra yang mengikuti dari belakang.
“Ada apa? Bukankah kamarmu berlawanan arah?” Renne menyipitkan mata.
Zerra melengos, tanpa berkata-kata sedikit pun.
“Apa kau ketakutan dan ingin tidur bersamaku?” Renne menerka-nerka. Hal itu lantas ditanggapi dengan anggukan kepala.
Gadis itu mendengus, “Ya, tidak masalah.”
Renne memasuki kamar dibarengi oleh Zerra yang membuntut dari belakang. Kamar yang ditempati mereka kali ini sangatlah luas, ranjangnya juga cukup besar untuk ditempati oleh dua orang sehingga mereka tak perlu berdesak-desakan ketika tidur.
Mereka dengan segera merebahkan tubuh di atas kasur empuk itu. Rasanya sangatlah luar biasa bagi Renne karena kasur yang berada di dunia nyata tidaklah seempuk dan senyaman ini. Begitu pula bagi Zerra yang merupakan seorang budak, tidur di tempat senyaman ini adalah sebuah keberuntungan bagi dirinya.
“Zerra, lebih baik lepaskan pedang itu dan letakkan di samping nakas itu.”
Perkataannya tak ditanggapi oleh Zerra.
“Pedang itu akan mengganggu kenyamananmu saat tidur, akan lebih baik jika kau melepaskannya. Aku tak akan mengambil barang yang sudah aku berikan.” perjelas Renne dengan sebuah lengkungan kecil di bibir.
“Ya,” balas Zerra dengan singkat.
Zerra benar-benar melepaskan pedang itu dari pegangan dan menyenderkan benda itu di nakas.
“Kau harus segera tidur, besok kita akan mengambil misi dan mendapatkan informasi dari penduduk tentang keberadaan tanaman obat itu.” titah Renne.
Zerra mendengarkan tetapi tak membalas perkataan Renne. Ia dengan segera memejamkan mata dengan sebuah guling yang berada di pelukan. Sedangkan Renne mulai menyelimuti tubuhnya dan juga anak itu dengan selimut tebal yang berada tak jauh dari jangkauannya.