
Berwarna biru telur bebek yang rapuh, seperti sapuan kuas seorang pelukis handal. Merembes dan meliuk-liuk dengan lancar melewati semua rintangan. Terdapat batu-batu besar di pinggir sungai, ranting-ranting berputar di permukaannya yang mengalir, ranting kecil dari pohon gunung tempat mereka berasal.
Sungai itu mengalir di atas dasar tanah yang berkerikil. Gunung-gunung berdiri diam di latar belakang, kehadiran pagi hari melengkapi pemandangan itu. Salju menutupi puncak gunung, melingkari mereka bagaikan dilengkapi dengan karangan bunga putih indah.
Air terjun yang menangis mengalir dari luka di permukaan batu, tampak seperti selembar sutra biru yang mengalir menuruni gunung. Membawa muatan kristal es, yang tampak dikelilingi oleh perak berkilauan.
Suara gemuruh yang jauh muncul darinya, seperti gemuruh drum yang stabil, itu adalah pemandangan yang menakjubkan. Pandangan Renne kembali ke sungai yang berputar-putar. Air yang jernih dan permukaannya berkilau seolah-olah debu mimpi telah tersebar di atasnya.
Keanggunan sungai yang berair terasa ajaib bagi dirinya saat itu. Tepian sungai terdapat kacang polong liar. Buahnya hitam, tapi di dalamnya ada biji polong kecil dan segar. Renne mencoba untuk mencicipinya dan rasanya nikmat. Tidak pernah makanan yang dibungkus dengan jubah iblis terasa begitu enak.
Membungkuk, ia mengambil air melalui tangan dan minumnya. Itu memuaskan dahaganya. Renne menyandarkan punggung ke batu besar di sana dan menutup mata, menikmati kehangatan matahari yang semakin meninggi. Parfum manis hutan melayang ke lubang hidung saat ia merenungkan keindahan alam.
Tanah yang lembab dikombinasikan dengan dedaunan tua yang tumbang, memiliki efek yang menenangkan naluriah bagi manusia. Tercium juga beberapa bau pohon yang terkesan unik, memiliki aroma manis sedangkan yang lain hampir asam dan pahit.
Renne tersadarkan dari lamunan, saat ini yang harus ia lakukan adalah memasak sarapan sebelum Zerra terbangun dari tidurnya.
Ia lanjar berdiri dari tempat itu, mencoba untuk mengangkat lukah yang sebelumnya sudah ia siapkan dari kemarin, saat mereka hendak melakukan perjalanan panjang ini. Ketika ia mengangkat lukah tersebut, beberapa ikan telah terperangkap di dalamnya.
Tak ingin membuang banyak waktu, ia dengan segera menyiar ikan-ikan itu di atas bara api yang masih menyala.
****
Beberapa waktu setelahnya, ikan-ikan itu sudah matang dan Zerra juga telah bangun dari tidurnya. Karena ia beristirahat di atas tanah dengan alat sebuah tikar tipis, sebagian besar tubuhnya terasa sakit. Meskipun begitu, anak itu tak pernah sekalipun berniat untuk mengeluh.
“Aku sudah memanggang ikan untukmu, makanlah.” Renne memberikan satu potong ikan yang sudah ditusuk dengan ranting pohon.
“Ya,” balas Zerra singkat.
Zerra mencoba untuk menggigit makanan yang telah diberikan. Tak pernah sekalipun ia memakan makanan seperti ini sejak menjadi budak pedagang itu walaupun rasa dari ikan itu sendiri sedikit hambar.
“Te-tentang kemarin...” Zerra mencoba untuk membuka pembicaraan, sejak semalam, ia tak sempat sekalipun membicarakan hal yang terlintas di pikirannya itu.
Renne menyipitkan mata dan lantas membalas, “Apa?”
“Te-tentang pertanyaan itu...”
“Oh, maaf aku sudah memaksamu untuk menjawab beberapa waktu lalu.” Renne menundukkan muka, ia memang masih merasa bersalah karena hal itu.
“Ti-tidak, bukan ...” Zerra berhenti berbicara untuk mendengarkan balasan majikannya itu, tetapi karena Renne tak kunjung membalas, ia lanjut berbicara, “A-aku pernah dikhianati seseorang. Seseorang yang sangat aku percaya.”
Bisa dibilang, kasus yang mereka hadapi saat ini memanglah sama. Dikhianati oleh orang yang sangat dipercayai adalah sesuatu yang menyakitkan untuk dirasakan.
“Apa kau ingin membalaskan dendam?” Renne sedikit tersenyum pahit.
“Y-ya. Orang yang sudah membuat Ibu terbunuh serta orang yang membuatku menjadi budak seperti ini.” Zerra mengepal tangan dengan begitu kuat.
Gadis itu mengerti akan kebencian anak itu. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu, aura kebencian yang menyelimuti Zerra terasa sangatlah pekat. Tetapi, nampaknya ia tak terlalu menunjukkan perasaan hatinya di depan Renne.
“Siapa?” Renne mengerutkan kening.
Renne tersingahak, tak mengherankan alasan dibalik wajah yang terlihat masam itu. Hal yang dirasakan oleh Zerra sudah pasti adalah hal yang lebih menyakitkan dari apa yang ia rasakan.
Dengan tiba-tiba, sekawanan beruang datang menghampiri mereka berdua. Hal itu membuat Renne sedikit terkejut karena Wild Bear bukanlah hewan yang senang untuk hidup berkelompok.
Tetapi, dibalik keterkejutannya itu, Renne sebenarnya sudah memasangkan beberapa jebakan yang sudah disiapkan beberapa waktu lalu, lebih tepatnya sebelum dirinya tertidur semalam.
Renne sudah menyiapkan sebuah kedah, perangkap yang biasanya digunakan untuk menangkap gajah yang berada tepat di depan kaki kumpulan beruang itu.
Zerra sudah berkeledar, begitu juga dengan Renne. Mereka tak dapat terlalu mengandalkan jebakan karena jumlah musuh yang terbilang cukup banyak. Zerra beregang-regang kemudian mengambil rapier yang berada di sarungnya.
Beruang itu hendak menyerbu kedua orang itu, tetapi sebuah perangkap baru saja aktif dan menjebak salah satu kawannya. Mereka mengacuhkan hal itu dan lantas terkena jebakan lainnya.
Zerra meluncur ke arah salah satu beruang itu, disisi lain Renne mengaktifkan Sleeping Lullaby untuk mendukung dari belakang.
Beberapa beruang berhasil tumbang tetapi masih banyak beruang yang menyerempak tanpa terkena efek dari keterampilan yang dikeluarkan.
‘Aku pikir, aku harus menggunakan ini...’ batin Renne, kesal.
“Dance of Death!”
Sebuah keterampilan yang baru saja dipelajari oleh gadis itu. Setiap musuh yang mendengar lantunan lagu yang berasal dari keterampilan Renne maka ia akan bergerak untuk menyerang kelompoknya sendiri dalam batas waktu yang ditentukan, lebih tepatnya selama ia sanggup mempertahankan skill tersebut.
Pertarungan Zerra semakin sengit dengan beruang yang sebelumnya ia hadapi. Kini, anak itu melompat ke punggung beruang tersebut dan memberikan serangan yang berakibat fatal. Hal itu sontak membuat binatang itu jungkir balik karena kesakitan.
Sedangkan disisi lain, beberapa beruang mulai menyerang kawanannya sendiri. Mereka saling memberikan serangan dan menggigit satu sama lain. Pertarungan berlangsung lama hingga pada akhirnya mereka memenangkan pertarungan sengit tersebut.
「Berhasil mengalahkan Wild Bear.
Hadiah: - 6 koin perak.
- Poin pengalaman bertambah 3.172.
- Paralyzing Sword.
- Bear Tooth.
- Mendapatkan julukan Bear Lovers!」
「Naik level 8.」
“Kau berhasil, Zerra!” teriak Renne dengan semangat.
Zerra terengah-engah, nafas memburu dan detak jantung meningkat. Keringat juga mulai membanjiri tubuhnya. Hal itu juga merupakan sebuah pencapaian baginya karena tak pernah dapat bertahan selama ini. Biasanya, setelah 5 menit ia akan langsung merasakan dampak dari penyakitnya, tetapi kali ini berbeda. Ia dapat bertahan hingga 7 menit dan belum merasakan efek samping tersebut.
Renne lantas berlari ke arah anak itu dan memeluknya dengan erat. Ia juga mengelus rambut Zerra dengan belaian lembut menenangkan.