Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Crystal Gypsophila



Pencarian sudah berlanjut, kini mereka semakin masuk ke pedalaman hutan guna mencari bunga yang diminta oleh Violet dan tanpa terasa hari sudah semakin siang.


“Ahh, bagaimana ini? Kita belum menemukan bunga sama sekali. Aku ragu jika pekerjaan ini akan selesai dalam waktu singkat.” keluh Renne.


“Lebih baik kita istirahat saja sekarang. Lihatlah anak ini sepertinya sudah kelelahan.” ajak Artelis.


Renne menolehkan wajahnya, ia melihat jika Zerra memang benar-benar kelelahan. Mungkin efek penyakit yang semakin lama menggerogoti tubuh dan bertambah kuat.


Renne kemudian melihat ke area sekitar dan menemukan pohon dengan daun yang lebat dan rindang. Kini, mereka memutuskan untuk bernaung di bawahnya.


Renne mengeluarkan alas untuk mereka bertiga duduk. Setelah itu, ia juga mengeluarkan makanan yang diberikan oleh penduduk desa sebelumnya dan memberikannya kepada mereka berdua.


“Kau benar-benar punya segalanya di dalam inventory itu,” ucap Artelis kagum.


“Ya, aku hanya memasukkan barang-barang yang diperlukan.”


Artelis memasukkan sesendok makanan itu ke dalam mulut dan seketika wajahnya berubah, seakan-akan ia mengatakan bahwa makanan itu sangatlah enak. Renne juga begitu, wajahnya berubah ketika mengunyah makanan itu.


“Apa kau yang memasaknya?” tanya Artelis, matanya berbinar karena makanan itu.


“Aku tidak pandai memasak. Nathan lah yang sudah memasak makanan ini.” jawab Renne, ia ingin membagi makanan ini kepada Zerra, lantas melanjutkan, “Zerra, buka mulutmu.”


Zerra membukakan mulut seperti apa yang dikatakan oleh Renne, beberapa detik kemudian gadis itu menerbangkan sendok ke dalam mulut anak itu.


“Apa enak?” lanjut Renne.


“Ya,” balas Zerra.


Renne melengkungkan bibir membentuk sebuah senyuman. Artelis yang melihat kedua orang itu bermesraan lantas merasa iri.


“Renne, aku juga mau.” Artelis memperlihatkan wajah penuh harapan dengan sedikit memelas.


Renne benar-benar terlihat hendak menyuapi Artelis, tetapi di detik-detik terakhir gadis itu berubah pikiran dan memakan untuk dirinya sendiri.


“Kau benar-benar jahat!”


“Kau sudah besar, berhentilah bertingkah seperti anak-anak.” Renne tertawa kecil.


Setelah beberapa saat, mereka sudah selesai menikmati makanan dan duduk dengan santai di bawah pohon itu. Perut yang penuh membuat mereka mengantuk dan hampir terlelap karenanya.


“Kita harus segera pergi dari sini, beberapa monster mungkin sudah mengincar kita dari kejauhan dan kita tidak boleh membuang-buang waktu.”


Artelis menghembuskan nafas, memang saat ini mereka tidak boleh membuang-buang waktu. Begitu pula dengan Zerra, ia tak ingin merepotkan Renne dan akan berusaha sekuat tenaga agar dapat menyenangkannya.


“Ke mana kita akan pergi?” Artelis bingung, tanpa informasi yang jelas tentu akan sulit menemukan bunga yang dimaksud oleh Violet.


“Aku juga tidak tahu.”


Renne hanya berjalan terus ke depan tanpa tahu tempat yang hendak dituju, kedua orang yang berada di belakang hanya mengikuti sesuai jejak gadis itu.


Semakin jauh mereka melangkah, semakin menanjak pula jalan yang mereka lalui. Beberapa batu besar juga terlihat di sekeliling mereka. Di antara batu-batu besar itu, ada kumpulan bunga yang menarik perhatian Renne.


“Lihatlah itu,” Renne menunjuk ke arah bunga yang tumbuh di atas batu besar yang berada tak jauh dari tempat mereka saat ini.


Mata mereka mulai bergerak untuk memandangi benda yang menarik perhatian Renne. Seketika itu juga Renne berlari ke sana karena menganggap itu adalah kumpulan bunga yang cocok untuk dijadikan buket dari pada harus bersusah payah mencari bunga yang dikatakan oleh Violet.


“Renne, tunggu!” teriak Artelis.


Artelis sendiri sangat tahu jika daerah saat ini sangat berbahaya, apalagi jika berlarian di atasnya karena kemungkinan besar mereka akan tergelincir.


****


Beberapa waktu telah berlalu. Kaki Renne terkilir dan sangat sulit untuk digerakkan. Di saat bersamaan Zerra sudah berhasil mengambilkan sekumpulan bunga-bunga itu dan memberikannya kepada Renne.


Artelis sendiri sudah memberikan pertolongan pertama. Meskipun begitu, mereka membutuhkan pertolongan dari Healer untuk mengobati dirinya.


Renne yang bukan merupakan seorang Healer tentu tak dapat melakukan hal banyak. Bahkan, HP miliknya hampir terkuras habis ketika menggelinding ke bawah.


“Kau terlalu bersemangat,” Artelis menatap tajam Renne karena ia sebelumnya tak mendengarkan apa yang dikatakan.


“Maaf,” Renne sedikit tersenyum, hal itu lantas membuat hati seorang playboy seperti Artelis luluh.


“Aku belum mengetahui nama bunga ini, apa kau tahu sesuatu?” tambah Renne.


“Crystal Gypsophila. Hari sudah semakin sore, kita harus segera pulang.” Artelis berjongkok, kemudian ia membalikkan kepala, “Ayo naik!” perintahnya.


Renne menatap sinis Artelis, “Kau pasti ingin mengambil keuntungan, kan?”


Artelis berdiri dan mendekati Renne yang duduk dengan bersandar di pohon, ia lantas mengangkat tubuh Renne. Hal itu sontak membuat Renne terkejut sekali.


“Apa yang kau lakukan?!” Renne memukul-mukul Artelis.


“Kau ingin diperlakukan seperti tuan putri, bukan?” Artelis menghembuskan nafas.


Renne melengos, setidaknya ia tidak harus berada di punggung pria itu. Ia juga merasa malas untuk berjalan dan saat ini kakinya terasa begitu sakit. Setidaknya, ia bisa menerima perlakuan Artelis saat ini.


Mereka mulai berjalan untuk kembali ke desa. Zerra yang melihat hal itu hanya diam dan terus mengikuti sembari memperhatikan sekitar. Ia sebenarnya sangat cemburu karena melihat Renne digendong oleh orang lain, tetapi ini bukanlah saat yang tepat untuk itu.


****


Mereka berhasil kembali dengan selamat tanpa kehadiran monster yang mengganggu. Violet dan Nathan juga mulai terlihat dari kejauhan, membuat Renne melambaikan tangan dengan sebuah senyuman. Respons cepat atas lambaian tangan diberikan oleh kedua orang itu.


Violet berlarian ke arah Renne dan dengan segera memeluknya, “Kami berhasil menemukan bunganya.”


Violet kemudian melepaskan pelukan dan melanjutkannya dengan memeluk Zerra yang terlihat duduk di belakang Renne.


“Aku sudah sangat rindu dengan Zerra,” tambah Violet.


“Ada apa dengan kakimu?” Nathan dengan cepat menyadari perban yang melilit di kaki Renne, bahkan dari kejauhan ia sudah menyadarinya.


“Aku tadi terjatuh karena berlarian di tebing,” Renne mendengus kesal, kemudian melanjutkan, “Artelis sudah memberikan pertolongan pertama tetapi sepertinya aku membutuhkan bantuan Healer.”


“Ya, kita mungkin akan ke gereja untuk meminta bantuan. Aku dengar dari penduduk desa kalau di desa ini terdapat seorang Saint.”


Renne menjadi lega ketika mendengar perkataan Nathan. Jika dibiarkan seperti ini terus, butuh beberapa hari untuk pulih dan hal itu pasti akan sangat merepotkan jika berada di dalam keadaan berbahaya.


“Kami berhasil mendapatkan Crystal Gypsophila. Apa bunga ini bisa digunakan?” tanya Artelis.


Dengan tiba-tiba Violet memandangi Artelis dengan berapi-api, ia juga melepaskan pelukan dari Zerra dan menggapai tangan pria itu.


“Apa itu benar?! Itu tanaman yang sangat bagus dan langka!”


Mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba dari gadis secantik Violet membuat wajah Artelis memerah, ia juga memalingkan wajah karena wajah Violet terlalu dekat.


Renne tersenyum simpul melihat itu, hal yang membuat ia menyukai Artelis adalah karena dia juga orang yang pemalu ketika dihadapkan dengan gadis agresif.